Sayda baru saja meletakkan tasnya ke atas meja ketika seorang office boy mendekatinya.
" Bu Sayda, ada titipan paket untuk anda." Dia menyerahkan paket itu. Satu buket mawar merah dengan potnya dan satu kantong plastik bersar yang tampaknya berisi rantang bersusun yang elegan. Sayda melirik kartu yang bertuliskan :
Selamat Pagi semoga hari mu indah. Senyum saja tidak cukup untuk mengawali hari. Jaga kesehatan selalu dan jangan lupa sarapan. Aku tahu kamu belum sempat sarapan tadi kan? Masih ada waktu untuk menikmati bingkisan ini.
ACF
" Ehm... Billy, tolong buang saja bunga ini. Dan..."
" Eh tunggu dulu, bunganya jangan dibuang Bu, buat aku aja." Anak buahnya Lidya yang baru saja datang bergegas merebut buket mawar dari genggaman Billy.
" Dah kamu kerja yang lain aja dulu Bil." Rita teman Lidya yang baru datang mengusir Billy. Billy mengangguk dan beranjak pergi.
" Kayaknya bau makanan nih. Bu Sayda kalau nggak mau dimakan paket hadiahnya, biar kami saja yang habiskan ya. Kebetulan saya belum sarapan, he..he... " Rita tersenyum malu.
" Nih.." Sayda menjulurkan kantong berisi makanan itu pada Rita.
" Makasih Bu.." Mata Rita berbinar bahagia.
" ACF?" Tanya Lidya.
" Alaric Charles Fleming,"jawab Rita santai.
" Apakah dia ada hubungannya dengan bos besar?" Tanya Lidya lagi.
" Ya pasti lah. Alaric itu anak sulungnya bos besar." Jawab Rita sembari berjalan ke arah cubiclenya setelah mengambil dua roti croisant dan satu kroket kentang. Mata Lidya membesar, dia menutup mulutnya yang menganga. Pikirannya menuju pada pembicaraan seru rekan-rekannya dua hari yang lalu sibuk bergosip tentang dua anak laki-laki bos yang tampan dan mereka temui saat jamuan makan malam di rumah besar Fleming. Lidya jalan mendekati Sayda yang sudah asyik di depan laptopnya.
" Bu..."
" Hem...."
" Bagaimana rasanya dekat dengan Alaric Fleming?" Sayda menegakkan badan.
" Dekat bagaimana? Kami hanya berteman biasa."
" Berteman biasa kok setiap hari kirim bunga dan makanan sih Bu?" Lidya terkekeh.
" Saya tidak pernah minta." Sayda menjawab cuek.
" Itu namanya dia sedang PDKT ke Ibu. Bagaimana rasanya didekati oleh dua pria ganteng dan keren ya Bu?"
"Lidya, coba fokus kerjakan tugasmu saja. Skema electricity sudah kamu hitung nelum volumenya. Satu jam lagi harus siap mau saya input keseluruhan volume." Nada Sayda mulai meninggi,
" Baik Bu."Lidya langsung mengkeret lalu beranjak keluar ruangan menuju meja kerjanya berada.dan menatap Lidya tajam.
" Sudah saya kerjakan Bu kemarin ngelembur, ini masih dicek lagi."
" Ya sudah sana cepat kerjakan, kalau sudah segera lapor ke saya. "
Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja.
" Masuk." Ramdan membuka pintu dan menjulurkan sebagian badannya.
" Kita rapat tiga puluh menit dari sekarang." Ucap pemuda itu lalu menutup pintu. Sayda menghela nafas mengambil ponselnya dan membuat pengumuman di grup WA divisinya. Tak lama Sayda tenggelam dalam kesibukanya ketika pintunya diketuk kembali. Lidya dan Rita kembali masuk disertai Doni. "
" Kita masih punya waktu sekitar lima belas menit lagi untuk berdiskusi tentang beberapa proyek yang ditawarkan pada kita dan strategi pemenangannya. Doni, ada berapa penawaran yang kita terima bulan ini?"
" Ada enam Bu, eh tapi ada dua lagi yang baru masuk jadi total ada delapan dalam sepuluh hari ini. Yang terakhir baru masuk itu dari ICE Bu."
"ICE? " Kening Sayda berkerut/
" Indigo Continental Enterprise Bu, anak perusahaan baru hasil kongsi dengan Benjamin Kobayashi. Mereka melakukan penunjukan langsung untuk membangun observatorium dan wahana eduwisata. "
" Anak perusahaan kita? Kenapa aku baru tahu ya." Gumam Sayda.
" Pak Alaric Fleming yang memegang kendali. Ben Kobayashi memiliki saham empat puluh delapan persen di sana. Besuk kita dijadwalkan pertemuan dengan mereka. "
" Apa? Mana mungkin secepat itu membuat rancangan dan kalkulasinya. Ini sih gila namanya."
" Apa kita harus menyerah saja Bu?" Tanya doni lagi.
" Ya nggak lah Don. Tapi maksud aku kasih tenggang waktu yang cukup lah." Sayda mulai ngedumel. Mereka masih berdiskusi dan Sayda sudah mengentri file yang diserahkan Lidya dan Rita pada aplikasi di laptopnya.
Dalam waktu lima belas menit yang mereka berdiskusi cukup menguras pikiran dan konsentrasi. ketika berpindah pada rapat yang lebih besar, berdebatan karena selisih pendapat pun kerap terjadi. Florina Morgan memang bertangan dingin, dia mampu menyatukan kekuatan tiap-tiap anak buahnya menjadi kesatuan dan membuat mereka saling mengerti kekurangan satu sama lain dan mampu menerima menerima dengan legawa.
" Baik, dari beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil tadi, maka untuk ditinjaklanjuti selanjutnya Sayda harap bernegosiasi ulang dengan Tuan Fleming tentang pembangunan observatorium dan eduwisata. saya harap selesaikan malam ini juga Sayda."
" Siap Bu."
" Oke, rapat selesai, kalian bisa beristirahat dulu." Sayda bisa bernafas sedikit lega. Namun seorang office boy menghampirinya.
"Ada apa Billy?"
" Ada seseorang ingin bertemu dengan anda." Ramdan, Pru dan Florina saling bertukar tatap lalu mengarahkan pandangan yang tertuju pada Sayda. Seorang lelaki berkepala plontos dan badan tegap masuk, dia mengangguk. Sayda seperti pernah melihat pria tersebut, dia masih mencoba mengingatnya. Pria itu menghampiri Sayda.
" Selamat siang Nona Sayda, saya Fito membawakan bingkisan untuk anda. Tiga orang termasuk Billy membawa sebuah bungkusan yang sangat besar dan berat.
" Apa ini?"
" Silahkan Nona buka saja." Sayda menatap Florina, Pruistin, dan Ramdan. Mereka mendekat dan Florina memerintahkan Billy dan Ramdan untuk membukanya.
" Ehm...Nona, saya diperintahkan untuk menjemput anda untuk makan siang bersama Tuan Kobayashi. "
"Heh?" Sayda terkejut, Florina dan Pruistin menatap lekat padanya. Sayda mengangkat kedua bahunya.
" Dida, ini mesin pembuat kopi dan biji kopinya. Ramdan mengeluarkan tiga bungkus kopi dalam plastik. Kita taruh dimana nih, di rumah atau di kantor?" tanya Ramdan.
" Di kantor sajalah, lumayan buat yang butuh kopi kalau melembur." Tanpa sepengetahuan Sayda, di luar banyak orang yang berkumpul penasaran ingin tahu apa yang diberikan Tuan Kobayashi pada Sayda.
" Mari kita pergi Nona," ucap lelaki itu membungkuk. Sayda menatap Florina, Pruistin dan Ramdan.
" Terserah kalian saja mau meletakkan itu dimana. Saya pergi dulu ya." Pru dan Ramdan mengangguk.
" Hati-hati Sayda." Sayda mengangguk lalu pergi. Begitu keluar ruangan, ornag-orang yang tadi berkerumun langsung membubarkan diri. Beberapa di anatarnya menyalami dan mengucapkan terima kasih pada Sayda, dan dibalas dengan anggukan dan senyuman darinya.
Baru Sayda keluar dari ruangannya untuk mengambil tas, Billy tampak tergopoh-gopoh kembali menghampiri dirinya dengan buket bunga mawar pink dan dua bungkusan besar berisi makanan. rita mendekati Sayda.
" Mawarnya buat saya aja ya Bu."
" Ini kamu ambil, dan makanannya kalian bagi ya. Aku pergi dulu."
" Makasih ya Bu."
" Wah kalau begini terus uang tabunganku bisa banyak. Lumayan bisa hemat."
" Mbak, aku kan yang bawa, minta juga dong." Billy berucap.
"Iya...iya...ambil aja apa yang kamu mau, asal bunganya jangan ya," balas Rita.
" Duh, makanannya enak-enak lagi." Sayda tersenyum mendengar percakapan dia antara mereka.
" Bu Sayda, nggak pingin tahu ini kiriman dari siapa?" Sayda berhenti melangkah. Dia berbalik.
" Apa?" Sayda bertanya.
" Ini dari ACF." Lidya berteriak yang membuat orang-orang yang ada di selasar kantor menoleh ke arahnya. Sayda berbalik dan melambaikan tangan pada mereka dan segera masuk ke dalam elevator dimana Fito sudah menunggunya.
******
BERSAMBUNG.....