Ben vs Al (2)

2029 Kata
Berada di mobil mewah yang luas dengan pendingin udara yang dingin membuat Sayda memeluk kedua lengannya. Fito menoleh ke belakang.  " Anda kedinginan Nona?"  " Bisa tolong turunkan suhunya? Saya agak pusing," jawab Sayda. " Ada makanan kecil dan minuman jus buah atau mineral Nona, anda bisa memakannya terlebih dulu." Fito menyiapkan  beberapa kotak dan minuman pada meja kecil yang dapat ditarik ke depan Sayda.  " Aku sedang tidak berselera Fito, terima kasih."  " Tapi anda perlu mencobanya. " Merasa tidak enak akhirnya Sayda mengambil satu irisan kue dan memakannya. Dia sempat berhenti mengunyah sebentar. Memang benar-benar enak.  " Benar kan rasanya enak ? " ucap Fito tersenyum. " Kamu beli dimana kue ini Fito?"  " Tuan Kobayashi yang membuatnya  sendiri, Nona. Tadi pagi." Sayda mengerutkan keningnya. Tangannya mengambil satu irisan kue brownis lagi. " Dia itu pengusaha apa koki restaurant sih?" Fito terbahak mendengarungkapan spontan Sayda. " Anda kalau mengenalnya lebih dalam, pasti akan terkesima dengan bakatnya, Nona." Sayda mengangkat kedua bahunya.  " Ngomong-ngomong, apakah dia sengaja meletakkannya di sini?" " Iya untuk Nona. Karena dia memprediksi anda tadi pagi tidak sarapan."  " Prediksi apa itu?" Sayda mencemooh membuat Fito terkekeh. " Prediksi Tuan itu nyaris selalu benar. Anda bisa membuktikannya nanti." " Kamu sudah makan Fito?" Fito tampak kaget diberi pertanyaan yang sifatnya personal, dia masih diam ketika Sayda kembali berkata. " Belum juga kan? Ini habiskan saja, aku sudah cukup. Bagi dua dengan temanmu ya. Kalau ditanya bilang saja aku yang menghabiskannya." Fito dan supir saling berpandangan sebentar. Sang supir sempat melirik Sayda yang sedang mesem dan menaik-turunkan alisnya. " Sudah makan saja, kalau dia marah, bilang aku yang memaksa." Sayda tersenyum lebar.  Fito tampak mengangguk.  Dia mengambil kotak kue dan memakannya bersama dengan supir.  Sayda tertawa. " Nah gitu dong," ucap Sayda.   Sayda berjalan mengikuti Fito. Mereka bergerak terus dari ke bagian belakang pada lantai dua. Ruangan besar yang berfungsi sebagai kantor administrasi baru mereka masuki, namun Fito masih terus berjalan. Akhirnya langkah Sayda memasuki sebuah dapur besar dan mewah yang disekat dengan kaca. Ruangan yang tengah sangat besar dengan dua bar besar pada sisi kiri dan kanannya. Dapur basah dengan kompor berada pada sekat kanan dan kirinya. Semua tampak rapih, indah dan megah. Seorang pria tinggi besar sedang sibuk memotong bahan dengan cekatan dan cepat. Tampak sekali kalau dia sudah piawai menggunakan pisau dapur.   Pria itu berbalik dan tersenyum pada Sayda. Benjamin Kobayashi memasak dengan lihai? Bahkan Sayda yang perempuan saja yang punya hobi memasak memiliki kemampuan jauh di bawahnya. Melihat pria yang biasa tampil sangat macho dengan aura misterius itu menggunakan apron lalu tangannya yang cekatan mengiris semua bahan dan mengaduk bahan pada wajan benar-benar membuat Sayda terpana. " Kenapa bengong di situ? Kemarilah Sayda!" Sayda berjalan mendekat. " Saya tidak tahu kalau anda sangat piawai memasak." Ben tersenyum. " Kamu mau minum apa? Ada jus buah, green tea atau kopi atau es krim?" " Green tea boleh juga." " Sebentar aku ambilkan," ucap Ben. " Ah tidak, beri tahu saja tempatnya dimana, aku bisa ambil sendiri." Sayda berucap dan Ben mendecak merasa terganggu. " Oh Sayda, kamu tamuku jadi duduklah tenang di sana. Percayalah aku sudah biasa melakukan ini semua." Sayda diam dan menuruti keinginan Ben. Dalam waktu beberapa menit saja teh hijau sudah terhidang di depannya. Semua gerakan Benjamin tak lepas dari pengamatan Sayda. " Jadi anda yang memiliki restoran ini?" Benjamin menatap Sayda sejenak sebelum kembali fokus pada panci, wajan dan kompornya. Pria itu tersenyum. " Sepertinya sih begitu." " Kamu tamak Ben." Ben engerutkan keningnya.  " Hampir semua bidang kamu bisniskan, bahkan urusan perut pun kamu menjadi juaranya di sini. Restaurant dengan harga paling mahal dan tidak pernah sepi." Ben tertawa. " Itu hanya strategi pemasaran saja sayang." " Kalau begitu aku harus belajar banyak darimu." Ben sudah menatap Sayda penuh kekaguman. " Kamu buat aku ge er Sayda. " Sayda tertawa. " Kamu mau cicipi waffel atau burger sembari aku menyelesaikan ini?" " Ukurannya nggak besar kan?" Ben menyajikan dua piring berisi wafel dan burger." Sayda memilih waffel yang berukuran kecil dan sudah dipotong-potong lalu dimasukkannya ke mulut dan mengunyahnya.  " Bagimana rasanya? " Tanya Ben penasaran. " Rasanya pas, ini enak Ben.  Oh ya, yang warnanya keemasan bulat kecil-kecil ini apa sih?" Tanya Sayda. " Oh itu almas caviar, telur ikan sturgeon." " Huek...." Sayda menahan desakan perutnya yang langsung bergejolak dengan menutup mulutnya dengan kedua mulutnya, kepalanya pusing tiba-tiba. Benjamin kaget melihat wajah Sayda yang tiba-tiba pucat. " Maaf apa kamu alergi juga?" Sayda menggeleng rasanya sulit untuk menjawab pertanyaan Ben. Pria itu menjulurkan minuman hangat. " Ini ada air jahe dengan gula aren untuk menghilangkan mualnya." Sayda mengambil gelas berisi air jahe hangat dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Aliran hangat air jahe yang manis mampu meredakan  gejolak dalam perutnya. Disesapnya beberapa kali cairan hangat itu masuk dalam kerongkongannya lalau turun masuk ke dalam lambung. Sayda berusaha menikmati nya sampai memejamkan mata. Ben yang meliriknya sampai tersenyum. " Bagaimana, sudah enakan?" Suara Ben membuat Sayda membuka matanya lalu memalingkan kepalanya ke arah Ben, dia mengangguk. " Ayo kita makan, setelah ini kamu harus balik ke kantor kan?" Sayda kembali mengangguk,  melihat Ben menata meja di hadapannya dengan beberapa makanan. Semua tindakan Ben menjadi pusat perhatian Sayda. " Mengapa anda memasak di dapur ini?" Ucap Sayda sambil menerima piring yang diulurkan kepadanya. " Sebenarnya tempat ini dibuat untuk privasi dalam penciptaan menu-menu baru, atau pernah beberapa kali disewa oleh production house untuk acara kuliner beberapa stasiun televisi. Tidak semua orang aku ajak ke sini, Sayda. Kadang aku ingin makan dengan privasi khusus seperti ini dengan seseorang yang aku anggap special. " Sayda tersedak, dan Ben mengulurkan air putih ke arahnya. Pria itu berdiri dan menghampiri Sayda dan menepukpunggungnya perlahan. “ Kenapa kamu selalu tersedak dan ingin muntah jika ada di dekatku Sayda.” Sayda membelalak dan seakan ingin bicara tapi membuatnya kembali terbatuk.  Ben kembali menepuk pelan punggungnya. “ Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu Ben, maafkan aku.” Sayda msih tersenggal dan sedikit terbatuk. “ Makanlah dengan tenang, Aku tidak ingin mengajakmu berbicara lagi.” Mereka makan dengan diam.  “ Kau mau pudding mangga Sayda?” “ Ya, aku suka pudding. Ini enak sekali rasanya Ben. Lain waktu kau harus memberikan resepnya padaku.” “ Aku akan memberikan ke emailmu sekarang. Kalau kamu mau kapan saja aku bisa membuatkannya untukmu.” “Ah Ben, cukup resepnya saja. Hasil buatan sendiri jauh lebih memuaskan.” “ Boleh aku tahu alasan mengundang ke sini Ben? Apakah untuk memamerkan kebolehan memasakmu ?” Ben tertawa.  “ Aku sebenarnya mau mengundangmu berlibur ke pulau Luthan dan Moori. Aku punya cottage dan akan mengembangkan wisata laut di sana. Aku berencana membuat kamar di bawah laut juga restaurant bawah laut. Jadi kamu dan tim bisa ke sana melihat lokasi terlebih dahulu. Saya akan melakukan penunjukan langsung. Mohon segera dipersiapkan. “ “ Kamar bawah laut? Sepertinya asyik untuk pengantin baru.” Gumam Sayda. Ben meliriknya sambil tersenyum. Pulau Luthan dan pulau Moori terletak di negara kepulauan Kurbya terkenal dengan panorama pantai dan bawah laut yang indah.  Sayda tak menyangka kalau Ben memiliki aset juga di sana. Ternyata selentingan kabar yang menyatakan dia punya private island memang benar adanya.   “ Bagaimana Sayda, kamu menerimanya?” “ Ini tantangan yang menarik Ben, tentu saja tidak akan aku sia-siakan.” Sayda masih asyik melahap puding mangganya tanpa disadari Benjamin menatapnya lama.  “ Ada apa Ben?” Benjamin tersentak lalu tersenyum. “ Tidak apa-apa Sayda, kamu mengingatkan aku pada seseorang.” “ Ehm...ehm... Dia seorang wanita?” “ Ya, pasti.” “ Pasti sangat spesial. “ “ Tentu saja Sayda. Dan semua yang ada pada kamu... sangat mirip dengannya.” “ Wow, aku jadi penasaran. Mungkinkah aku bisa bertemu dengannya?” Benjamin menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia tersenyum getir lalu menggeleng. “ Dia sudah meninggal. Bertahun-tahun yang lalu.” “ Ooh...maafkan aku Ben.” “ Tidak apa Sayda, itu sudah lama berlalu,” ucap Ben mengambil gelas lalu meminumnya. “ Oh ya aku hampir lupa mengatakannya. Aku puas dengan pengerjaan konstruksi Megaland, sejauh ini semua tepat waktu. Tak salah aku memilih perusahaan yang bonafit seperti kalian.“ “ Terima kasih, tapi masih terlalu dini untuk menilai, Ben. Kami akan selalu berupaya keras untuk mewujudkan proyek ini sebaik mungkin. Semoga bisa terus lancar dan sukses.” “ Aku suka sikap optimis, semangat dan cara kerjamu Sayda.” Sayda tersenyum.   “ Tapi sebelumnya, datanglah ke Owensag bersama Alaric, dia akan menunjukkan padamu lokasi tempat observatorium dan eduwisata yang akan dibangun di sana minggu depan. Alaric akan menjelaskan konsepnya. Kalian ada janji nanti malam kan? “ Sayda menatap Ben lama.  “ Kamu juga perlu berlibur. Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri. Bersenang-senanglah sekali-kali bersama Al.” Sayda mengerutkan keningnya dan mengirimkan traut wajah bingung pada Ben. “ Sayda, Al pria yang baik. Dia bisa dipercaya,”  ujar Ben menatap lurus pada Sayda. “ Aku ingin kita sering menghabiskan waktu bersama, aku ingin mengenalmu lebih jauh. Tapi semua terserah padamu Sayda.”  Sayda menelan ludahnya dengan susah. Sepertinya dia sudah salah sangka dengan Ben. Pada awalnya mengira Lelaki itu jatuh hati pada dirinya, karena berulangkali Ben menyatakan ingin mengenalnya lebih jauh. Tapi mengapa kini dia seolah menjodohkan dirinya dengan Alaric. “ Ben... kalau pertemuan dengan Al atau denganmu berkaitan dengan urusan pekerjaan, aku mau menghadirinya. Tapi mohon maaf, aku tidak bisa mejanjikan hubungan yang lebih jauh dari itu. Aku hanya ingin fokus pada pekerjaanku saja.  “ Sayda menatap Ben dengan hati-hati dan mencoba menilai reaksinya. Sayda berdebar menanti jawaban Ben yang lama memandangnya. “ Sayda, terima kasih sudha berterus terang padaku. Tidak ada yang memaksamu harus dekat dan punya hubungan spesial dengan Al atau denganku.  Semua berjalan secara alamiah saja. Aku mau kamu nyaman dan aku berani jamin kamu aman bila disampingku atau Al. “ Sayda bernafas lega. ´Terima kasih Ben.” Benjamin tersenyum membuat Sayda senang melihatnya. Ada kehangatan menerpa hati Sayda, dia seperti menemukan pelindung ─ seperti menemukan rumah untuk pulang. “ Oh ya Sayda, kamu pasti butuh ini kan? “ Ben mengulurkan tiga buahpaperbag besar yang bersisi kotak besar. “ Apa ini?” “ Pekerjaanmu banyak, jadi kamu pasti tak sempat berganti untuk makan malam bersama Alaric kan? Jadi tolong diterima pakaian dan perlengkapannya untuk acaramu nanti malam.” Sayda menatap Ben. “ Ini tidak perlu Ben, aku...” “ Sudahlah aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Anggap saja ini hadiah dari saudara jauh.” Ben memberikan tatapan tidak ingin ditolak. Akhirnya sayda menghela nafas berat. “ Baiklah terima kasih. Kamu terlalu baik Ben. Aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya nanti.” “  Kalau ingin membalasnya mudah saja Sayda, bekerjalah yang baik, jaga kesehatan dan dirimu baik-baik. Cukup itu saja,” lanjut Ben dengan tersenyum. Matanya menyiratkan kegembiraan. “ Oh Ben...” “ Sudahlah,  waktu istirahat siangmu hampir berakhir. Kamu harus kembali ke kantor bukan? Fito dan Danny akan megantarmu balik ke kantor.” “ Aku pergi dulu,” Sayda mendekati Ben dan mencium pipinya. Benjamin terperangah dan tertawa kemudian.  " Sayda besuk makan siang bersamaku lagi bisa?" " Oke, aku akan mengamankan jadwalku." Sayda melambaikan tangannya ****** Menggunakan gaun hijau lumut hingga di bawah lutut dan asesoris kalung batu alam berwarna kuning dan hijau, Sayda melangkah dengan tergesa memasuki restoran sebuah hotel mewah di Yukari. Riasan wajah yang sederhana ditambah sepatu dan tas tangan yang dibawanya senada dengan gaun yang dipakainya membuat penampilannya terlihat elegan. Rambut sebahu yang dibiarkan tergerai dan hanya dihiasi jepit dengan motif bunga sederhana berwarna gold membuat siapapun yang berpapasan dengannya terkesima.  Sayda melihat berkeliling mencari keberadaan seseorang yang sudah menunggunya sejak tadi. Seorang pria melambaikan tangannya dan ke sanalah Sayda melangkah. Pria berjas abu-abu tua dengan dalaman kemeja biru muda itu sudah melepaskan dasinya. " Maaf aku terlambat Al, tadi masih ada rapat dan di jalan macet sekali." Alaric tersenyum. " Tidak apa-apa, kamu duduk dulu." Alaric yang sudah berdiri membukakan kursi dan membantu Sayda duduk di kursi kemudian baru dia kembali ke tempatnya. " Jadi, jika tidak disebutkan masalah proyek dan bisnis, kamu tidak mau menemuiku Sayda?" " Kerjaan sedang banyak-banyaknya Al. Aku lebih ngeri dimarahi ayahmu dari pada melihatmu ngambek." " Aku bukan ngambek Sayda, masak dalam waktu satu bulan lebih kamu tidak bisa ditemui. Apakah hari libur juga dipakai menggarap pekerjaan?"  Sayda mengangkat kedua bahunya. " Jadi kamu mau membicarakan tentang observatorium dan eduwisata itu?" Al menghela nafas panjang dan terlihat kesal. " Isi kepalamu hanya berisi pekerjaan, bisnis, income dan proyek." " Bukankah kita bertemu memang untuk itu Al?" kali ini Al terlihat menahan emosi yang hendak dia letupkan. " Makanlah dulu dengan tenang, aku malas berbicara masalah proyek atau bisnis lainnya." Sayda terdiam, " Kalau kamu mau membicarakan proyek, datanglah dengan tim hari kamis minggu depan ke Owensag. Aku akan mengirimkan alamatnya ke emailmu. Kita akan survey lokasi di sana." Sayda menatap lurus ke arah Alaric yang seolah tak acuh terhadapnya. Sayda mengangguk. " Tapi dengan syarat, kamu mau menghabiskan akhir minggu ini di Vin Fedele bersamaku." " Boleh aku mengajak teman ?" " Hanya dua orang yang aku ijinkan." " Makasih Al" Sayda memberikan senyum manisnya.  " Habiskan makanan ini Sayda. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." " Kemana Al?" " Nanti kamu tahu sendiri." Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN