In The Right Hands

1477 Kata
Langit biru tanpa awan yang  berserak dipadu dengan hijaunya pepohanan benar- benar memukau mata. Di kejauhan suara tumpahan air mengenai batuan dan tanah menyatu dengan desau angin pegunungan yang merambat lewat celah ranting dan daun menciptakan simfoni alam yang indah. Sayda, Ramdan. dan Pruistin berdiri memandangnya dalam diam.  Sepanjang jalan tadi Pruistin sibuk mengomel karena keberadaan Ludwig yang selalu mengganggunya. Lelaki itu dengan sangat jelas berusaha menarik perhatian Pruistin, namun dia tidak bisa menolaknya meskipun mereka sempat berkelahi tadi dan Ramdan serta Alaric repot melerainya. Lebih tepatnya Pru yang selalu menyerang Ludwig. Sayda ikut kebagian menjadi pelampiasan wanita itu yang tak putus-putusnya mengomel karena keberadaan Ludwig  dalam rombongan mereka. Dia baru berhenti ketika mereka sampai di pelataran ini dimana panorama hutan dan tebing yang memagarinya bersatu dengan air terjun yang indah. Kebun mawar dan anggur serta olfaksatorium milik Alarick terlihat sangat kecil di kejauhan.  " Kalian mau tetap di sini atau turun bersama kami memancing. " Ucapan Ludwig menyadarkan ketiganya. " Aku ikut. Kita akan memancing di air terjun itu ?" Tanya Ramdan. " Tidak Dan, di sungai dekat sini. Kita hanya perlu menuruni bukit ini sebentar. Untuk sampai ke air terjun itu mesti menempuh tiga jam berjalan kaki. Besuk saja kalau mau ke sana. Kita berangkat pagi-pagi sekali." Ucap Alaric dengan nafas tersenggal membawa dua jerigen air bersih. " Kami di sini saja Al. Menunggu kalian pulang." Ucap Pru dan Sayda mengangguk tanda menyetujuinya. Lama Al terdiam terlihat seperti sedang mempertimbangkan. " Oke, ini ponsel satelit, pencet saja nomor 111 akan terhubung dengan punyaku. kalau ada apa-apa hubungi kami ya. " Sayda dan Pruistin mengangguk. " Deal" ucap Sayda. Setelah punggung Al menjauh dan terlihat kecil, Pruistin menatap lurus ke arah Sayda.  " Apa rasanya dikejar tiga lelaki keren?" Sayda sedikit terkejut, nampak benar kalau dia sedang melamun. “ Maksud kamu apa sih Pru?” “ Abangku, Alaric dan Benjamin Kobayashi yang matang...” “ Buah kali matang....” “  Gila kamu Da, Benjamin Kobayashi sang triyulner nomor tiga di dunia lho. Ngejar makan siang hampir tiap hari sama kamu. Pake pelet apa sih kamu?” “ Kamu kira aku ikan apa kok makan pelet?” Sayda cemberut. “ Maksud aku, kok bisa dia ikut-ikutan ngejar cinta kamu gitu loh. “ “ Aku juga bingung sama perasaanku, Pru. Bersama Ben itu rasanya nyaman, seperti ke orangtua sendiri. Aku jadi sayang sama dia, bukan sebagai kekasih, tapi lebih kapa ya.... mungkin seperti sahabat atau keluarga sendiri. Aku pikir Ben juga punya perasaan yang sama. Dia nggak pernah ngomong yang sifatnya merayu layaknya pria yang ingin si wanita jadi kekasihnya atau berbuat yang kurang ajar. Tanpa aku pernah bercerita tentang Kak Barry, sepertinya dia tahu aku pernah bertunangan tapi kandas dan aku tengah kecewa. Dia juga yang mendukung Alarik dekat denganku. Klau da punya maksud lain, kenapa juga dia seolah memberi sokongan besar agar aku bisa mempercayakan Alarik jadi kekasihku.” “ Dia bilang begitu?” “ Yah nggak secara eksplisit sih. Cuma dari beberapa kali pertemuan dia mengungkapkan kalimat yang sama kalau aku harus membuka hati dan Alaric adalah pria yang dapat dipercaya dan diandalkan.” " Alaric sendiri bagaimana perasaanmu terhadapnya?" Sayda mengangkat bahunya. " Biasa saja Pru. Nggak ada yang spesial, aku hanya menganggapnya teman saja. Aku menghormatinya dan kagum akan kejeniusannya. Tapi untuk menjadi kekasih, enggak deh." " Kalau begitu jangan memberi harapan Da." " Justru itu aku maunya menghindar, tapi kamu lihat sendiri kan dia seperti apa. memaksa untuk bertemu dengan dalih menawarkan proyek. Kalau ditolak, kita butuh pekerjaan kan?" Sayda menarik nafas panjang.  " Entahlah kadang aku merasa tidak percaya diri jika didekat Kak Barry atau Alaric. Kamu sudah tahu seperti apa kondisiku dan  keluargaku kan Pru. Wajahku juga biasa-biasa saja. Rasanya mereka terlalu tinggi untuku. " " Kamu nggak menyadari kalau kamu itu menarik, cantik dan tubuh kamu bagus. Justru karena kecerdasan , kesederhanaan, kebaikan hati yang kamu miliki maka pesona kamu semakin bersinar.Jangan under estimate dulu. Kamu berani tmapil apa adanya tanpa dibuat-buat yang membuat banyak pria ingin memiliki kamu." " Aku nggak pernah merencanakan agar mereka akan mengejar, Pru. Aku sendiri saja terkadang tidak percaya.  " Jadi karena kamu minder maka menolak abangku dan Al?" " Bukan begitu Pru, aku hanya tidak ingin terluka lagi. Aku hanya ingin mencapai apa yang sejak lama aku impikan dan cita-citakan juga membahagiakan kedua orang tuaku. Itu saja." Ucap Sayda sambil memukul kayu dengan batu. Dia sedang membuat bivak untuk persiapan memasak sekaligus api unggun untuk nanti malam. " Ehm...sebaiknya kita cepat selesaikan bivak ini dan mencari ranting kayu untuk nanti malam." ucap Pru.  " Nah selesai" Sayda mengakhiri dengan menaruh kayu panjang melintang di atas dua bilah kayu lainnya yang jadi penyangga.. “ Kalau kita cari kayu dan ranting kering, siapa yang akan menjaga barang-barang ini Da?” “ Yah nggak usah jauh-jauh lah Pru. “   “ Hai, selamat siang semua.” Sayda dan Pruistin menoleh. Fito bersama seorang pria tinggi berambut pirang dengan lesung pipi yang menawan. “ Kamu pasti Sayda yang terkenal itu dan kamu Pruistin Latief, putri semata wayang Dharmawan latief.” Pria itu menunjuk Sayda dan Pru membuat kedua wanita itu bertukar tatap. Pru mengedikkan bahunya. “ Oh ya kenalkan aku Samuel Argentum, teman Ludwig dan Alaric. Panggil aku Sam saja.” Pria itu tersenyum  mengulurkan tangannya untuk menjabat Sayda dan Pru yang disambut kedua gadis itu. “ Maaf aku aku baru tiba dari Kurbya dan dari bandara langsung meluncur ke sini. Kamu tahu Al bukan penunggu yang baik, jadi sudah pasti aku ditinggal. Untung ada Luke dan Irena yang mau memanduku ke sini.” “ Luke? Irena? Lalu mereka kemana sekarang?”Tanya Sayda. Pruistin menyenggol lengannya dan memberi kode “siapa?”.  “ Mereka ada di belakang, sibuk bertengkar sepanjang perjalanan jadi aku tinggalkan saja,” Samuel terkekeh. “ Oh, sepertinya aku harus mendirikan tenda. Bisa kalian membantuku?”  “ Dari mana kamu mengenal kami?” Tanya Pruistin dengan nada judes. “ Siapalah yang nggak kenal anaknya Dharmawan Lattief dan perempuan yang diselingkuhi tunangannya yang videonya sedang viral saat ini.” Sayda dan Pruistin saling berpandangan. Tampaknya pria yang di depan mereka ini salah satu pencinta acara gosip di televisi. ´ Apa maumu ?” Tantang Pruistin yang sudah berkacak pinggang. “ Ooh...jangan marah dulu Nona Latief, aku tidak ingin megganggumu. Aku diundang Alaric dan hanya ingin berlibur bersama kalian mengunjungi air terjun yang indah itu. “ Samuel menunjuk ke arah air terjun. “ Jadi, kalian mau membantu kan?” “ Tentu saja,” ucap Sayda cepat. Sengaja dia lakukan agar Pru tidak banyak protes. Dalam waktu lima belas menit kemudian sebuah tenda sudah bisa berdiri. Mereka bisa menarik nafas lega. Pru dan Sayda hendak beranjak meninggalkan Samuel ketika suara pertengkaran antara pria dan wanita lambat laun terdengar. “ Rupanya mereka sudah sampai. Kalian mau kemana?” “ Aku ikut ya. Pusing dengar suara mereka bertengkar,” Sam memohon pada Sayda. “ Oke” “ Sayda, kamu mau kemana?” Baru saja mereka berjalan sepuluh langkah sudah terhenti dengan suara yang menyapa Sayda. Mereka membalikkan badan. “ Ya ampuuunnn...Sayda, kamu kemana saja? Apa ini karena ulah si usil ini yang sering mangganggumu sehingga kamu marah dan tidak mau datang ke  Loze lagi? Irena berlari memeluk Sayda lalu mencebik ke arah Luke. “ Oh Irena tentu saja tidak. Aku sudah jatuh cinta dengan daerah ini, mana mungkin aku tidak kembali ke sini.” “ Nah, kau sudah dengar kan Irena, jangan terus-terusan memarahiku, buat kupingku panas saja. Lebih baik kau menyanyi saja menghiburku. Suaramu kan indah.”  Irena sudah melayangkan tatapan tajam pada Luke. “ Sebaiknya kalian menikah saja siapa tahu jodoh.” “APA?” Teriak keduanya. “ Mungkin kiamat sudah datang jika aku mau menikah dengannya.” Ucap Sayda penuh sinis. “ Kita lihat saja, sekarang kau bisa bilang seperti itu. Tapi besuk kau yang mencari dan mengejarku.” Luke menyeringai. “ Di dalam mimpimu....” Bentak Irena kepada Luke. “ Heh....sudah...sudah. Jangan bertengkar lagi, aku pusing,” Samuel berteriak. “ Luke, Irena kenalkan ini Pruistin Latief. Dia satu-satunya  putri dari keluarga Latief dari Argatan.” Ujar Samule kemudian. “ Keluarga Latief yang tersohor itu? Yang perusahaan minyak dan tambangnya menggurita?” “ Ah, Samuel terlalu berlebihan,  jangan terlalu percaya. Oh ya mari kita pergi Sam. ” balas Pruistin. “ Lebih baik Sayda dan Irena tinggal untuk memasak saja. Aku, Luke dan Pruistin akan mencari kayu kering. Ayo Pru kita berangkat agar tidak terlalu malam!”    " Kakimu kenapa Pru?" Sayda menghampiri Pruistin yang sudah banjir keringat.  " Aku nggak apa-apa Dida, tadi hanya terkena ranting pohon dan tanaman merambat saja." Ucap Pru santai. " Kamu pucat Pru, seperti keringat dingin." " Aku ingin mandi Dida. Antarkan aku ke sungai. " " Jangan, coba aku periksa kakimu Pru. Sepertinya kamu terkena racun serangga. " Ucap Ludwig mendekat. Di belakangnya ada Alaric dan Ramdan mengikuti.  " Eh...apa yang kamu lakukan? Turunkan aku. Kau bukan dokter El, jangan coba menipuku dengan dalih mau memeriksa." Ludwig mengangkat tubuh Pruistin dengan mudah.  " Kalian bisa siapkan air hangat satu baskom dan satu baskom kosong aja?" Ucap Ludwig pada Sayda dan Irena. " Aku yang akan mengambilnya, kamu bantu dia saja Sayda."  Sayda segera mengikuti El tapi ditahan oleh Ramdan. " Kenapa Pru?"  " Aku nggak tahu, sepertinya terkena racun serangga." Ramdan mengikuti langkah Ludwig yang masuk ke dalam tendanya. Pruistin masih berteriak marah pada Ludwig sehingga Ramdan dan Sayda perlu menenangkannya. Seolah tidak terpengaruh oleh ucapan kasar dan omelan Pruistin yang panjang, Ludwig bekerja dengan cekatan. Kaki Pru sudah membiru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN