The Stars

1395 Kata
Sayda tampak sibuk mengompres Pruistin yang tengah menggigil. Sayda baru saja selesai mengganti pakaian dan mengelap badan Pruistin. Pekerjaannya menjadi lebih mudah karena Irena turut membantu. meskipun sakit, Pru masih saja keras kepala. Dia tidak mau ditinggal berdua dengan Ludwig yang sangat perhatian dan sabar menghadapi caci maki dan omelan yang ditumpahkan Pruistin. Ludwig sama sekali tidak merasa jijik mengelap dan bekas muntahan Pruistin. Menyaksikan sendiri bagaimana interaksi antara Pru dan Ludwig, membuat Sayda iba terhadap lelaki bermata biru dan rambut keemasan itu. Suhu tubuhnya hampir mencapai empat puluh derajat. Baru saja Sayda mengukurnya dengan termometer dan  Ludwig baru saja menyuntikan cairan obat penurun panas.  Pruistin mulai meracau, Sayda menggenggam erat tangan sahabatnya dan mengelus kepalanya yang tidak terkena handuk basah. Lama kelamaan akhirnya Pru tertidur. " Kalian makan dulu dan beristirahatlah sejenak. Biar aku yang menunggui Pru. " Ramdan yang baru muncul dibalik pintu tenda.  " Oke, kita keluar dulu " Sayda mengangguk tanda menyetujui. " Bagaimana kondisi Pru?" Tanya Luke dan Sam. " Masih panas walau sudah tidak menggigil lagi. Aku sudah menyuntikkan obat dan memasang infus untuknya.  " Apakah kita harus membawanya turun,  El?" Tanya Sayda begitu mereka duduk di dekat bivak yang dia pasang tadi. " Kita lihat saja satu sampai dua jam ke depan." Jawab Ludwig.   " El apakah kamu dokter? Sepertinya kamu sudah sangat terlatih. " Ludwig terkekeh pelan. " Dulu sih iya, aku sempat buka praktek obgyn untuk beberapa tahun. Tapi sekarang tidak. " Ludwig seperti menrawang lalu berbalik menatap Sayda dan tersenyum. " Aku memilih banting stir untuk sekolah lagi dan menjadi ahli hukum.” “ Tampaknya hidupmu cukup ruwet, El.” “ Ya ... memang hidup ini kan seperti petualangan masuk ke dalam lorong keruwetan yang satu lalu keluar menghirup udara segar lalu dipaksa masuk kembali ke dalam lorong keruwetan lainnya. “ Sayda terkekeh pelan. “ Lucu sekali analogi yang kamu pakai El.”   “ Tapi benar kan?” “ Iya sih. “ Sayda duduk di sebelah El dan menerima piring berisi makanan yang dijulurkan Irena. Mereka makan dalam diam.  " Bagaimana denganmu Sayda? Keruwetan apa yang kamu hadapi?" Tanya Ludwig dan Sayda mengangkat bahunya. " Tidak ada  yang menarik dariku." " Keluargaku sederhana di Argatan, orangtuaku bukan orang penting. Aku sekolah normal dan selalu sekelas mulai SD sampai SMA dengan Pruistin dan Mona.  Kuliah normal dan aku dapat beasiswa di Universitas Nasional Lioness. Semua normal dan biasa saja." Ludwig melihat takjub pada Sayda. Perempuan itu cantik, pintar dan punya karier yang cemerlang tapi dia tidak pernah merasa dirinya menarik. Dia cukup tahu kalau Sayda sedang punya masalah besar dalam hidupnya, dikhianati tunangannya namun dia tampak begitu tegar.  Ada kecantikan lain yang terpancar dari dirinya , dan membuat "si gunung es" Alaric meleleh. Alaric, sahabatnya yang jenius dan tampan sebenarnya adalah seorang indigo yang terkadang mampu membaca pikiran orang. Dia bisa merasakan dan melihat apakah orang itu benar-benar bersih hatinya atau tidak.  Jika Alaric saja mampu terpikat bahkan kini agresif mengejarnya, berarti Sayda memang benar-benar perempuan baik. " Kamu kenapa El?" Ludwig tersentak.  " Tidak apa-apa. " " Kok kamu gitu banget lihat aku. apa ada yang salah ya?" Ludwig menggelengkan kepalanya.  " Aku ke dalam dulu melihat Pru." Ludwig berdiri. " El, kamu benar-benar mencintai Pruistin?" " Ya." " Kalau kamu memang benar mencintainya, tolong berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan dia. Tolong genggam terus tangannya. Pru mudah ditaklukan kalau tahu cara  pendekatan yang tepat. Kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi." " Makasih Sayda, karena itu aku butuh bantuanmu."  Malam yang tidak sepenuhnya gelap, kala itu langit cukup cerah menampakkan bulan separuh yang bersinar cemerlang dan bintang yang gemerlap berkelip indah. Suara gemuruh air terjun di kejauhan nampak terdengar jelas.  Sayda memejamkan mata dan menarik nafas panjang mencoba menghindu semua aroma alam yang menyegarkan jiwanya lalu menghembuskannya perlahan  selama beberapa kali.  Suara rumput dan batu yang bergesek dengan sepatu seseorang terdengar . Sayda menoleh ke samping.  Alaric sudah berada di sisinya. “ Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. “ “ Kemana? “ “ Ayo ikut aku.” Alaric menjulurkan tangannya dan Sayda menyambutnya. Alaric memakaikan senter di kepalanya dan tongkat berlampu untuk membantunya berjalan di tengah kegelapan. Alaric pun menggunakan drone otomatis yang memandu mereka dan menerangi dengan lampu penerang dari udara. Sayda mengikuti langkah Alaric dan menyalakan tongkatnya. Mereka berjalan dalam diam selama dua puluh menit hingga. Jalan yang dilalui cukup menanjak dan melewati hutan kecil, hingga penerangan dengan alat bantu itu sangat dibutuhkan sampai pada sebuah pelataran terbuka. Di sana sudah ada tikar besar dengan meja lipat kecil ada di tengahnya dan satu kompor portable yang tengah menyala dengan panic di atasnya.  Samuel dan Luke terlihat sedang serius  mengintip bintang menggunakan dua teleskop di sana. Alaric menangkap Drone dan mematikannya. Lalu meletakkannya di atas tikar. Tak jauh dari sana dia melihat dua kantung tidur. “ Kamu mau kopi Dida?” “ Hem…bolehlah. “ Alaric segera menyiapkan gelas dan menyedu kopi instan. Sayda mendekati Samuel. “ Apa yang kamu lihat Sam?” “ Hem…rasi bintang, Sayda. Kamu pernah belajar tentang penunjuk arah?” “ Tidak. Aku tidak tahu sama sekali.” “ Mintalah pada Al untuk mengajarimu. Dia guru yang sabar.” Ucap Samuel yang masih asyik mengintip dengan teleskopnya, seolah enggan mengalihkan perhatian. " Kamu mau mencoba Sayda?" Luke menawarkan " Boleh, ajari aku ya." Luke membuka sebuah peta terhampar di atas tikar  dan dia menunjuk ke salah satu titik.  " Kamu lihat empat titik ini, Sayda. Ini adalah rasi bintang orion. Rasi ini menunjukkan arah utara." Luke menjelaskan.   Alaric datang mendekatinya dan mengulurkan gelas kaleng bertangkai ke arah Sayda dan gadis itu menerimanya. " Ah, aku nggak bagus menjelaskan, biar Al saja." Luke menyingkir dan kembali pada teleskopnya. " Jadi rasi itu jika menarik garis imajiner di antara bintang-bintang terang sehingga terlihat seperti bentuk tertentu." Alaric mulai penjelasannya. Sayda mengetatkan jaketnya. " Kamu merasa apakah di sini terlalu dingin?" " Ah tak masalah Al, lanjutkan penjelasanmu. Aku terterik mendengarnya." " Kamu lihat ke sana. Tiga buah bintang di atas membentuk “kepala”, yang menunjukan arah utara. Dan arah yang ditunjukan “pedang” adalah menunjuk arah selatan. Dinamai Orion, yang artinya adalah pemburu, rasi bintang ini didedikasikan bagi Orion, putera Neptune, seorang pemburu terbaik di dunia. Orion ini mudah dikenali dengan adanya 3 bintang kembar yang berjajar membentuk sabuk Orion (Orion Belt). Satu lagi yang menarik bagi di rasi orion ini adalah adanya bintang Bellatrix dan Betelgeuse pada konstelasinya.  Nah Coba kamu menoleh ke sana, di sana ada rasi bintang Biduk/Great Bear/Beruang besar yang menunjukkan arah utara. Bentuknya seperti gayung, dan terdiri dari 7 buah bintang, karena itu juga terkadang rasi bintang ini disebut sebagai konstelasi bintang tujuh. Keistimeawan bintang ini, sekalipun gugusan bintang lainnya berputar di langit pada malam hari, tetapi bintang kutub tetap berada di utara. Rasi bintang ini terlihat sepanjang tahun di langit utara." Alaric menarik nafas sejenak. " Di sebelah sana juga ada rasi bintang ini berbentuk pari/layang-layang/salib dan bisa kita lihat pada langit malam dengan arah agak ke selatan. Rasi bintang ini terdiri dari empat bintang utama dan satu bintang bantu. Empat bintang utama membentuk layang-layang. Untuk mengetahui arah utaranya, perhatikan arah yang ditunjukan oleh posisi tiga buah bintang utama yang terdekat. Sedangkan satu utama yang terjauh menunjukan selatan. Yah, salah satu fungsi rasi bintang juga adalah sebagai petunjuk arah pada malam hari kalo tiba-tiba kita kehilangan arah. Pada setiap rasi bintang, ada satu bintang yang paling terang, dan di peta ini diberi kode alpha." Alalric melanjutkan pembicaraannya. " Dari tadi kamu cuma menjelaskan arah utara dan selatan Al, yang menunjukkan arah timur dan barat yang mana?" Alraic tersenyum dan menunjuk peta bintang yang terhampar di atas tikar. " Rasi bintang ini dikenali sebagai rasi bintang scorpio. Rasi bintang satu ini agak susah dicari, karena jumlah bintang yang membentuk konstelasinya cukup banyak. Rasi Scorpio ini menjadi petunjuk arah tenggara/timur langit. Dalam mitologi yunani kuno, Scorpio ini adalah utusan Apollo untuk membunuh sang Pemburu, Orion. Pada konstelasi ini juga terdapat bintang Antares, salah satu bintang paling terang yang pernah ditemukan. "  " Itu kan kalau di atas kertas. Yang mana Al yang menunjukkan rasi scorpio?" Tanya Sayda dengan antusias, Alaric tersenyum. " Coba kamu lihat ke belakang. Nah yang itu..." " Yang mana Al?" Alaric merengkuh bahu Sayda hingga rapat ke tubuhnya. Sayda bahkan bisa mencium aroma parfum yang digunakan dan entah mengapa hatinya tenang.  " Rasi scorpio itu memang agak susah Sayda, tapi kamu harus belajar. Siapa tahu ilmu ini nantinya sangat berharga dan bisa kamu gunakan di kemudian hari. Coba lihat beberapa bintang yang terang di sana. Satu...dua...tiga... " Alarik masih tampak menunjuk langit sementara tangan satunya merangkul Sayda. Mereka asyik mengobrol hingga menjelang pagi. Baru kali ini mereka benar-benar merasa dekat dan akrab. Sayda tidak merasa terintimidasai dengan kemampuan indigo Alaric. Dia benar-benar dapat menikmati kebersamaan bersama lelaki itu. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN