Sweety

1724 Kata
Sayda kembali ke tendanya menjelang dini hari. Gadis itu terkejut mendapati Ramdan dan Ludwig  sudah berada di kedua sisi Pruisin yang tertidur pulas. Kondisi Pruistin sudah membaik, namun karena cairan infusnya sudah hampir habis, gadis itu membangunkan Ludwig untuk menggantinya. Sayda kemudian memaksa Alaric untuk memanggil rescue team untuk membawa Pruistin kembali ke  Vin Fidéle  dan mengantarnya ke rumah sakit untuk pemulihan kesehatannya. Tepat ketika matahari terbit, tim rescue sudah sampai ke tempat mereka. Enam orang hadir termasuk sherif daerah tersebut. Setelah bersalaman dengan Alaric, Pruistin dikeluarkan dari dalam tenda. Namun si keras kepala itu menolak untuk dibawa turun karena dia mau menyaksikan matahari terbit terlebih dahulu. “ Kamu harus mendapat perawatan lebih lanjut Pru. Ini cairan infus terakhir yang ada di tas medis milik El, Pru.” Ucap Sayda memohon agar Pru mau segera dibawa turun. “ Tujuan kita ke sini untuk ke air terjun Sayda, namun aku mengacaukannya. Tolonglah...paling tidak aku bisa menikmati matahari terbit .” Sayda tidak bisa berkata lagi. “ Tunggu sebentar lagi saja Dida, aku pikir tidak mengapa toh mereka juga butuh istirahat sejenak setelah bersusah payah naik hingga ke tempat ini.” Ramdan menengahi perdebatan antara Sayda dan Pruistin. Setelahnya pun mereka masih terus berdebat. Pru melarang Ramdan dan Sayda untuk turun, karena tidak mau mengacaukan niat keduanya mengunjungi air terjun pagi ini. Namun Sayda dan Ramdan menolak dan bersikeras menemani Pruistin turun. Mereka tetap menemani Pruistin hingga ke rumah sakit. Ada satu kemajuan terhadap perubahan sikap Pruistin yang diamati Sayda dan Ramdan . Pruistin membiarkan Ludwig berada di dekatnya dan permisif terhadap apa yang dilakukan pemuda itu padanya.  " Sebentar lagi ada deklarasi cinta yang dramatis, Da." Ramdan berbisik di telinganya. " Biarin aja lah Dan, itu yang akan mendongkrak semangat Pru untuk cepat pulih." " Apa kita perlu memberitahu keluarganya di Argatan?" Bisik Ramdan. " Sayda....Ramdan ... jangan coba-coba beritahu Mama atau abang-abang sepupuku kalau aku sakit di sini ya. Aku nggak mau membuat mereka panik lalu berbondong-bondong datang ke sini." Pinta Pruistin dengan nadapelan namun masih terdengar judes itu. Sayda dan Ramdan saling memandang lalu tersenyum lucu. Meskipun demikian mereka sama sekali tidak marah dengan kelakuan Pru karena sudah sangat memahami karakternya.   Sayda masih memakai kaos longgar dan celana pendek selutut sambil menggosokkan  rambutnya dengan handuk ketika baru keluar dari kamarnya  dan terlonjak kaget begitu memasuki dapur dan menemukan Alaric sedang asyik memasak di dapur apartemennya. “ Apa yang kamu lakukan di sini Al? Aku pikir kamu tadi langsung pulang begitu mengantar dan menyuruh aku istirahat. Ini sudah tiga jam setelah dia masuk kamar dan tertidur dan kamu masih di sini?” Sayda otomatis merepet melihat kejanggalan sikap lelaki tampan di depannya yang masih menggunakan apron itu. Alarik tersenyum geli membuat ketampanannya bertambah dua kali lipat. Sayda meregut, kalau perempuan pada umumnya akan ge er dan terpukau dengan penampilan fisik Alaric ─  Hati Sayda justru merasa jengkel, perasaannya selalu hambar pada lawan jenis sejak pengkhianatan Barrium. Tapi hal itulah yang membuat Alaric jatuh cinta, tertantang  dan posesif ingin memilikinya. Posesif ? Bahkan Sayda saja belum menjadi kekasihnya, dia sudah dihinggapi perasaan itu.  Alaric mencoba mengusir perasaan yang baru dirasakannya itu, namun melihat Sayda mengenakan kaos longgar dan celana pendek selutut itu membuat dadanya berdebar.  Pakaian yang sangat biasa dan terlalu sederhana bahkan wajah tanpa riasan sedikitpun, mengapa justru membuat Alaric silau dengan pesona Sayda.   “ Jangan sewot dulu sayang , aku tahu kamu belum makan dan setelah ini pasti mengerjakan pekerjaan kantor yang banyak. Tidak ada salahnya kan aku sekali-kali membuatkan makanan untukmu. Tenang saja tidak ada racun dalam makanan ini. “ “ Apa kamu tidak ada pekerjaan penting lainnya  selain memperhatikanku Al?” “ Banyak sih, cuma prioritasku saat ini adalah kamu Sayda. Lagian kan ini masih hari minggu. “ Alaric menjawab santai. “ Kamu cerita kalau sedang banyak pekerjaan di laboratorium kampus lalu ada kunjungan ke luar negeri minggu ini. ” “ Ya benar. Bagaimana kalau kau menemaniku  ke kampus ?” “ Ah tidak Al. Masih banyak pekerjaan kantor juga rumah harus aku selesaikan. Mungkin lain waktu saja ya.” “ Kau bisa membawa berkas di meja kantor lalu mengerjakannya di labku. Tenang saja, ruang kerjaku cukup nyaman di kampus, kamu pasti akan suka. Mengenai pekerjaan rumah akan aku selesaikan sebentar lagi. Kamu dari pada berdiri di situ dan sibuk protes, lebih baik duduk di sini dan mari kita makan bersama.  “ Alaric  yang kini mulai banyak bicara dengan santai menuang makanan dalam wajan ke piring penyajian. Sayda heran mengapa dia yang tuan rumah menjadi seperti tamu dan Alaric bertingkah seolah dia adalah penguasa dapur. Sayda mendecak sambil menggelengkan kepalanya namun diturutinya duduk di depan Alaric. Pria itu masih sibuk mengetik pada  papan sentuh ponselnya, Sayda terus memperhatikannya. “ Ada apa?” Alaric bertanya begitu mengangkat mukanya dari ponselnya. “ Tidak apa-apa jawab Sayda lalu menyendok nasi goreng dan ditumpahkan pada piring makannya. “ Kamu menatapku seperti itu, pasti ada yang mau ditanyakan.” “ Kenapa aku yang merasa tamu dan kamu yang jadi tuan rumahnya ya Al?” Alaric terkejut lalu terkekeh pelan. “ Maafkan aku yang lancang, aku memeng berniat menunggumu hingga bangun karena mau mengajakmu ke lab. lalu ke rumah sakit mengunjungi Pru. Tapi ternyata kamu tidur lama juga, lalu perutku lapar. Jadi maaf aku berjalan membuka kulkasmu dan mulai memasak yang aku bisa. “ Sayda menarik nafas berat. “ Sudahlah nikmati saja dulu makanan ini, aku malas berdebat denganmu.” Ucap Alaric. Mereka makan dalam diam. “ Biar aku yang membereskan meja dan mencucinya, Al.” Ucap Sayda berdiri begitu mereka selesai sarapan. “ Sebaiknya kamu menyiapkan apa yang mau dibawa. Biarkan saja begini, nanti ada yang mengurusi. Coba cek ponsel kamu sepertinya ada pesan dari Ramdan. “ Kening Sayda berkerut, tapi belum sempat berucap, bel di pintu berbunyi. Kamu siapkan barang-barangmu dan apa kebutuhan Ramdan. Biar aku yang membuka pintu. Sayda menurutinya. Sayda tercengang begitu mengecek ponselnya ada beberapa pesan dari Ramdan dan Florina.  Seperi yang dikatakan oleh Alaric, Ramdan minta dibawakan beberapa pakaian dan laptopnya. Dia juga minta diantarkan mobil kantor. Sementara Florina juga mengabari bahwa kedatangannya tertunda karena putri semata wayangnya Titania sedang sakit. Sayda menarik nafas panjang. Sepertinya tinggal dia dan Ramdan yang akan menghandle dibantu kekuatan lokal yang harus dioptimalkan.   Keluar kamar dengan pakaian casual dan menenteng tas ransel dan sling bag berwarna biru Sayda kembali heran dengan dua orang yang sedang membersihkan dapur dan mengurusi pakaian kotor miliknya. “ Mereka aku suruh datang untuk membereskan kekacauan di sini. Kamu sudah siap ? Ayo kita berangkat.” “ Tunggu sebentar.” Sayda masuk ke kamar Ramdan dan mengambil ransel tas kerjanya serta beberapa berkas yang dia masukkan ke dalamnya. Semua pesanan lelaki itu sudah Sayda siapkan di dua tas.  Sayda melangkah kelaur kamar dan menutupnya. Alaric menghampiri untuk membawa tas milik Ramdan. “ Ayo kita pergi.” Sayda masih memperhatikan dua orang yang tengah mencuci dan menggunakan alat untuk membersihkan debu. “ Kamu nggak usah khawatir, mereka dapat dipercaya. Kalau sudah selesai, mereka akan titipkan kartu di resepsionis di lobby.” Ucap Alaric sambil berjalan santai keluar dari apartemen seolah tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Sayda. Gadis itu cuma bisa menarik nafas panjang.   *****  Mereka sampai di kampus Solis National University (Linus) hampir tengah hari. Sayda masih mengangumi bangunan universitas itu yang sangat memperhitungkan  konsep menyatu dengan alam. Struktur modern sekaligus menerapkan konsep-konsep alam yang ramah lingkungan benar-benar diterapkan di sini. Suasana hari minggu tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada civitas akademika kampus ini. Jika perkuliahan memang tidak ada, namun tampaknya banyak kegiatan mahasiswa, seperti ekstrakurikuler atau beberapa seminar dan kejuaraan lainnya yang berlangsung di hari ini, membuat suasana cukup ramai.  " Sayda, " Suara panggilan itu membuatnya hampir menabrak lelaki yang berjalan di depannya.  " Heh?" " Jangan berjalan di belakangku, kamu bukan asistenku." Alaric meraih tangan Sayda dan setengah menyeretnya untuk melanjutkan melangkah. " Kamu pendampingku, jadi berjalanlah di sisiku." Sayda memutar bola matanya. Gadis itu tidak bisa protes karena sepanjang koridor banyak mahasiswa yang sedang duduk menunggu dosennya atau berdiskusi sesama mahasiswa. Mereka mengangguk begitu melihat Al datang. Dari sudut matanya,  Sayda melihat bahwa beberapa mahasiswi memandang dengan tatapan iri padanya. " Hai Al, siapa wanita cantik yang kau bawa ini? Seumur-umur aku baru melihatmu menggandeng seorang wanita." " OH Rudy, perkenalkan ini Sayda dan Sayda ini rekan sejawatku Rudy." Sayda tersenyum dan menyambut jabatan tangan Rudy yang menjabat erat tangan Sayda lama, hingga Alaric memutuskannya. Terlihat sangat posesif. " Apakah dia kekasihmu Al?" " Ya, tentu saja Rud. " " Kamu beruntung telah mencairkan gunung es, Nona. Kalau tidak, aku menyangka dia seorang gay." Rudy berbisik lalu tertawa sesudahnya. Alaric cemberut melihatnya. " Ah kawan, kau sudah tak tertolong lagi. Tidak usah pasang wajah cemberutmu begitu, jelek sekali. Tenang saja aku tidak akan merebutnya darimu." Sepertinya Rudy senang sekali menggoda Al.  " Boleh aku minta nomor ponselmu Nona Sayda? Siapa tahu aku bisa membantumu suatu saat nanti jika pangeranmu ini sedang berhalangan?" Rudy terkekeh kembali. " Tidak usah pedulikan dia, kita pergi saja Sweety." Alaric kembali menarik tangan Sayda dan menyeretnya untuk segera masuk ke elevator. Suara tawa Rudy masih terdengar keras. Sepertinya dia benar-benar puas menggoda dan membuat Al marah. Kali ini Sayda yang protes, dia mencubit lengan Alaric membuat pria itu meringis. " Kenapa kau mencubitku, Dida?" " Apa maksudmu mengatakan kalau aku kekasihmu?" " Dia itu penakluk wanita, Sayda. Aku nggak mau kamu masuk ke dalam perangkapnya." " Sekali lagi kamu mengaku kekasihku Al, aku tidak akan pernah mau lagi jalan denganmu." Sayda  merengut, dan Alaric tersenyum. " Kalau begitu aku meminta saja, maukah kamu jadi kekasihku, Sayda?" " Nggak lucu Al." Sayda meghardik. " Aku serius. Apa jawabanmu?" " No, kita berteman saja. Aku malas terlibat ikatan apapun. Lagian aku nggak suka ditembak di dalam elevator." "Ck...ck..ck.. bisa nggak sih kamu sedikit basa basi memperhalus bahasa?" " Aku nggak mau memberimu harapan palsu Alaric." Sayda sudah melotot dan Alaric tertawa. Denting elevator berbunyi dan pintu terbuka, mereka melangkah keluar. " Ya Tuhan, mengapa bisa aku jatuh cinta sama perempuan acuh seperti ini?" Gumam Alaric pelan dengan suara yang masih bisa didengar Sayda. Ada beberapa mahasiswa sedang menunggunya. Alaric memandu Sayda untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Sayda duduk di sofa tamu di seberang meja kerja Alaric dan segera menggelar laptop di atas meja. Dua orang mahasiswi masuk, sepertinya mereka sudah membuat janji untuk bertemu dengan Al. Sayda tidak terlalu peduli dengan kegiatan Alaric. Dia fokus pada menyelesaikan tugasnya. " Kamu mau ice cream Sweety?" Sayda tak menggubrisnya. " Sayda, kamu mau es krim sayang?" Alaric mengeraskan suaranya membuat Sayda mengangkat wajanya dari depan laptop. " Heh, apa Al?" " Kamu suka es krim kan sayang. Aku pesankan ya?" " Hem...boleh." " Kamu suka rasa apa, Sweety?" " Terserah kamu saja Al. " Sayda mulai mengumpat dalam hati karena kedua mahasiswi itu sudah melayangkan tatapan tajam dan sinis kepadanya. Dia tidak ingin menambah musuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN