Suara dering ponsel dan orang yang sedang bercakap membuat Pruistin terjaga. Suara itu lambat laun menjauh begitu suara pintu yang tertutup. Pruistin membuka matanya. Sejenak dia sadar kalau itu bukan kamarnya. Dia memejamkan matanya kembali mencoba memanggil memorinya tentang kejadian beberapa jam yang berlalu. Lalu gadis itu membuka matanya kembali. Dia baru bisa mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
“ Kamu sudah bangun Pru?” Pru melirik ke arah suara yang menyapanya.
“ El? Kamu nggak pulang?”
“ Kamu kan belum sembuh, ya aku di sini tunggu kamu hingga pulih.”
“ Mana Sayda dan Ramdan?”
“ Sayda tadi ke sini saat kamu masih tertidur pulas bersama Al. Dia membawa beberapa barangmu dan milik Ramdan. Lalu, Ramdan sedang menerima telepon di luar. Ada apa? Kamu kepingin sesuatu begitu?” Pru tampak bingung dan menggelengkan kepalanya.
" Oh ya kamu belum makan kan? Kata Ramdan kamu suka bubur ayam, ini aku bawakan bubur ayam terenak di Yukari. " Pruistin memperhatikan Ludwig dengan seksama. Pria itu meunag bubur di dalam mangkuk dan menyodorkannya ke depan Pruistin.
" Makan ya." Ucap Ludwig. Pruistin menggeleng.
"Aku nggak nafsu makan El." Ludwig tidak patah semangat.
" Kamu nggak kasihan Sayda dan Ramdan terpaksa melembur banyak kerjaan karena kamu sakit. Florina belum bisa kembali minggu ini. Dia memundurkan kepulangannya karena anaknya sakit. Kamu harus sehat Pru, aku suapin yah?" Pruistin menghela nafas namun ia mengangguk kemudian. Ludwig tersenyum.
" Kamu tahu Pru, aku bahagia sekali diijinkan dekat dengan kamu. Aku janji Pru, aku nggak akan macam-macam apalagi kurang ajar padamu. Kapok aku Pru. Soal yang kemarin itu aku minta maaf. Aku benar-benar membuka mata hati dan pikiranku, Pru. Walau yah...aku harus babak belur dulu. He..he..he.." Pruistin diam, malas menanggapi ucapan Ludwig. Tanpa terasa satu mangkok bubur telah ludes.
" Kamu mau puding mangga? Kata Sayda itu kesukaanmu. Tadi dia membawakannya ke sini."
" Nanti saja El. Kepalaku masih sedikit pusing." Pintu kamar perawatan terbuka. Ramdan masuk ke dalam kamar.
" Kamu sudah bangun Pru?"
" Sudah makan malahan Dan," ucap Ludwig menunjukkan mangkok yang sudah kosong.
" Hebat kamu El, berhasil menjinakkan macan. Apa karena macannya lagi ompong ya sekarang? He...he..he..."
" Ramdaaaannnn...." Protes Pruistin. Ramdan terbahak karena akhirnya bisa menggoda Pruistin.
Pintu kamar terbuka kembali. Ada dokter dan dua perawat masuk untuk memeriksa kondisi Pruistin.
" El?"
" Steve?" Kedua lelaki itu saling berpelukan dan tertawa.
" Apa kabar Bro, lama sekali kita tidak bertemu. Kamu sekarang sudah jadi orang terkenal ya El."
" Ah tidak juga, justru kamu yang terkenal Steve. Ah kamu terlihat keren dengan jas putih itu." Balas Ludwig sambil menepuk bahu Steven.
" Aku hanya terkenal sebatas rumah sakit ini El, sedangkan kamu tersohor sebagai pengacara nomor wahid se antero dunia. Bisnis advertising milikmu pun terdengar cukup populer dan laris manis." Ludwig tertawa. Mereka menyempatkan berbincang sebentar, seperti dua orang sahabat yang lama tidak bertemu.
" Kalian saling mengenal?" Tanya Pruistin menunjuk keduanya.
" Oh tentu saja Nona...Pruistin. El adalah teman seperjuanganku di fakultas kedokteran dulu. " Dokter yang disapa Steve oleh El itu tertawa.
" Tapi mengapa El menjadi pengacara sekarang?" Steve melirik Steve dan Pruistin bergantian. lelaki itu seperti mengirim sinyal tanya melalui gerak tubuhnya pada Ludwig dan pria itu hanya terkekeh lalu mengangguk dengan gerakan tersamar merespon sinyal Steve itu.
" Ehm Nona ...Pruistin, anda bisa menanyakannya langsung pada kekasih anda ini. Dia pasti akan menceritakannya panjang lebar. " Wajah Pruistin bersemu merah.
" Kenapa kau tidak menanganinya El? Kamu kan juga seorang dokter walau tidak praktek lagi sekarang."
" Dia tidak percaya kalau aku dokter Steve. Disangka aku hanya membual saja." Ludwig menggaruk kelpalanya yang tidak gatal.
" Mengapa anda tidak percaya pada kekasih anda, Nona?" Pruistin membelalak sementara pipi Pru semakin merah malah menjalar ke telinga dan hidungnya. Membuat Steven akhirnya ikut tertawa bersama Ramdan.
" Dia bukan kekasihku, Dok. Anda sudah salah sangka." Pruistin menimpali dengna ketus.
" Oh...masih proses to. Wah, sepertinya perjuanganmu kali ini berat Bro." Ucap Steven terkekeh.
" Doakan aku ya." Timpal Ludwig.
" Pastilah" Dua lelaki itu melakukan tos, membuat Pruistin mendecak kesal."
" Baiklah Pruistin, sekarang ijinkan saya memeriksamu ya." Steven mendekati ranjangnya, memeriksa menghubungkan dengan kabel usb dan tampil layar hologram. Steven membaca dengan cermat catatan medis milik Pruistin. Ramdan dan Ludwig menunggu sampai pemeriksaan itu selesai.
" Masih muntah?"
" Sudah nggak Dok." Jawab Pruistin. Sejak dalam ambulance dan di rumah sakit, Pruistin sudah tiga kali muntah.
" Kapan saya boleh pulang Dok?" Tanya Pruistin kembali.
" Apakah masih pusing dan terasa mual ?"
" Ya agak pusing sih Dok, kalau mualnya sudah nggak ada."
" Kalau besok pagi keadaanmu terus membaik, siang atau sorenya kamu boleh pulang. Tetapi kamu masih belum boleh bekerja ya."
" Dia harus diawasi dengan ketat ya. Harus banyak istirahat dulu."
"Siap Dok." Ucap Ludwig mantap.
" Dan, sebaiknya kamu pulang aja deh, kasihan Sayda sendirian di aparteman. "
" Sayda sedang bersama Al sekarang. Paling sampai malam baru pulang, " Balas Ramdan.
" Karena itu aku aku khawatir, karena Al terlihat sangat posesif dan otoriter pada Sayda. Dida lebih butuh untuk kamu jaga daripada aku. Di sini banyak perawat dan dokter yang jaga dan mengawasi aku terus. Besuk juga kamu harus ngantor kan? Kita sedang memgerjakan proyek jadi kamu butuh stamina yang prima juga. Jadi istirahat dulu, pulang dan tidurlah."
" Kamu nggak apa-apa ditinggal sendiri Pru?"
" Ada aku yang menjaganya Dan, kamu tenang saja."Jawab Ludwig santai.
" Apa? Aku nggak butuh bantuan kamu El. Kamu pulang saja sana, sama seperti Ramdan." Pruistin mulai judes dan memandang sinis pada Ludwig.
" Mau kamu ngomel, marah, usir bahkan gebukin aku sampai babak belur sekalipun, aku akan tetap di sini Pru." Pruistin menghembuskan nafas dengan jengkel. Ramdan terkekeh.
" Ya sudah aku pulang dulu ya Pru. Jadi maksud kamu usir aku itu supaya bisa berduaan dengan El to? Nggak usah malu gitu Pru, aku ngerti kok." Ramdan menyengir melihat mata Pru yang melotot dan bibirnya yang maju beberapa senti tanda siap meledak. Ramdan segera berjalan menuju pintu membuka dan keluar, tapi baru saja menutup pintu dia sudah kembali membukanya.
" Ada yang tertinggal?" Tanya Ludwig.
" Eh maaf aku lupa mengatakan sesuatu, El. Tadi Mona menelpon aku, kita diundang untuk menghadiri acara wisudanya sekaligus selamatan kecil-kecilan di ruamah kerabatnya di Owensag hari sabtu dan minggu pagi. Dia berharap kita bisa hadir. Dia berkali-kali menelpon Sayda dan kamu tapi tidak diangkat, jadi dia telpon aku "
" Ponselku di-charge, batlow. Paling punya Sayda juga sama keadaannya. Oh ya, kamu bilang nggak ke Mona kalau aku di rumah sakit?"
" Nggak."
" Bagus, minggu depan hari kamis kita presentasi di Owensag kan? Jadi sekalian kita menghadiri wisuda Mona hari sabtu dan selamatannya hari minggu. Yeay..." Ucap Pruistin kegirangan.
" Ya udah aku pulang ya Pru. Kalau udah boleh pulang, telpon aku. Nanti kami jemput."
" Oke, makasih ya Dan." Pruistin tersenyum.
*******
Sayda tengah asyik mencermati beberapa berkas dan memberi beberapa tanda dengan ballpoint di tangannya. Tak lama kemudian dia mulai mengetik di atas papan keyboard pada laptopnya. Asyik menyelesaikan pekerjaannyamembuat tangan kanan Sayda mengambil gelas es krim dan mulai meyuapnya hingga habis. Sayda masih asyik menekuri layar monitor LCD ketika suara Alaric menyapa gendang telinganya.
" Sayda, kamu sudah menghabiskan tiga gelas es krim. Aku nggak mau kamu sakit perut nantinya, Sweety."
" Hah?" Sayda mengangkat wajahnya dan Alaric mengulang ucapannya kembali membuat dua mahasiswi yang ada di hadapan Alaric menoleh ke belakarng. Rasa kagum bercampur iri hinggap di hati kedua mahasiswa itu. Betapa dosen idola yang mereka kagumi menaruh hati pada gadis yang tampak cuek dan tak peduli pada lelaki itu.
" Oke" Sayda menjawab singkat lalu mengambil kudapan yang ada di depannya. dipasangnya earphone dan mulai melanjutkan pekerjaannya.
" Sayda, aku mau ke lab di sebelah. Kalau kamu mau mencariku aku ada di lab. fisika material. " Sayda mengangkat wajahnya, rupanya dua mahasiswi itu telah menigngalkan ruangan.
" Oh ya, jika ingin ke toilet ada di ujung ruangan ini. " Alaric menunjukkan ruangan itu. Setelah berpamitan, Alaric keluar ruangan dan meninggalkan Sayda sendirian. Ruangan yang cukup hangat tidak terlalu dingin seperti di luar ditambah perut yang sudah kenyang dengan banyak camilan dan pekerjaan yang telah selesai membuat Sayda memilih menontong film. Lama kelamaan kegiatan ini malah membuat mata Sayda mengantuk. Gadis itu tertidur meringkuk di sofa tamu ruang kerja Alaric. Ketika Alaric menemukannya dua jam kemudian, dia tidak tega membangunkan sayda. Diambilnya selimut dan dibentangkannya menutupi tubuh Sayda hingga ke bahu.
Sayda baru saja masuk beberapa langkah ke dalam apartemennya ketika Ramdan menyapa.
" Kamu sudah pulang?"
" Lho kamu nggak nginap di rumah sakit menunggui Pruistin?"
" Ada Ludwig yang menunggui sekalian pedekate," Ramdan terkekeh.
" Kapan kita bisa membawanya pulang Dan?"
" Mungkin besuk."
" Ooh... kamu sudah makan?"
" Ehm...Dida kamu jangan marah ya?" Sayda menaikkan sebelah matanya.
" Tadi ada orang suruhan yang mengantarkan beberapa makanan ke sini. Dari Ben Kobayashi. Karena kamu lama dan aku kelaparan jadi makanan itu sudah aku makan sebagian. Maaf ya." Ucap Ramdan hati-hati.
" Nggak apa-apa Dan. Lagian aku tadi juga dipaksa makan malam sama Al. Nih aku bawakan martabak manis buat kamu." Sayda menunjukan bungkusan berisi martabak manis.
" Makasih ya da. Lumayan buat teman ngelembur sama kopi nanti." Sayda mengangguk lalu berlalu dari hadapannya.