Sayda mengakhiri presentasinya dengan mengucapkan salam dan menunduk. Tepuk tangan bergema ke seluruh penjuru ruang rapat. Gadis itu tidak menyangka akan mendapat aplaus yang meriah untuk sesi tanya jawab terakhirnya. Satu jam lima belas menit yang dibutuhkan timnya untuk menaklukan proyek pembuatan tower eksentrik itu, seperti cerminan jiwa pemiliknya. Sayda tersenyum sumringah, Ramdan sudah berdiri di sebelahnya dan ikut membungkuk tanda mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepada mereka.
" Nona Sayda, kapan bisa dimulai penandatanganan kontraknya?"
" Kami menunggu surat pengumuman pemenang lelangnya Mr. Grab, lalu setelah itu baru kami proses persetujuan kontrak proyeknya. " Jawab Sayda sambil membereskan peralatan di mejanya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
" Baik, kalau begitu kita bisa makan siang dulu mungkin setelah ini?" Sebelah mata pria berusia awal empat puluh tahun itu megedip. Sayda menatap Ramdan yang memberi kode kedipan pada kedua matanya sekali. Gadis itu kemudian menoleh kepada Thomas Grab dan memberikan senyum manis.
" Oh sayang sekali Mr. Grab, saya sudah ada janji dengan seseorang. Setelah itu kami masih harus melakukan presentasi kembali di kantor walikota hingga sore nanti."
" Mungkin lain kali kau harus meluangkan waktu untuk makan malam denganku, Nona Sayda."
" Akan aku pikirkan Tuan. Maaf kami harus permisi. Terimakasih banyak." Sayda menjulurkan tangannya dan disambut Mr. Grab dengan genggaman yang cukup kuat dan lama, Ramdan sampai harus berdehem agar lelaki itu melepaskan tangan Sayda. Ramdan memeluk bahu Sayda untuk segera berbalik dan angkat kaki dari sana. Dia baru melepaskan rangkulannya begitu mereka sudah sampai di pelataran parkir.
" Mungkin langkah selanjutnya yang harus maju adalah Pru. Aku malas lagi berhubungan dengan orang itu Dan."
" Ok, noted." Sayda masih menghembuskan nafas panjang beberapa kali untuk menetralkan pikirannya.
" Sudah tenang?" Tanya Ramdan.
" Bersiap next challenge untuk hari ini ya Dan. " Sayda menarik nafas panjang kembali.
" Kenapa aku merasa seperti lepas dari mulut singa lalu masuk ke mulut buaya ya?" Sayda menggumam.
" Sabar...sabar, badai pasti berlalu. Tenang saja Non."
"Iya, tapi badai yang besar pasti akan datang."
" Ya begitulah kehidupan," timpal Ramdan dengan singkat.
“ Kali ini kan gilirannya Pru dan Alex yang presentasi. Kita hanya mengawasi dan meladeni pada sesi tanya jawab saja.”
“Iya, tapi kan masih dalam kondisi “darurat perang” Ramdan.”
“ Iya paling tidak kita masih punya waktu untuk tarik nafas panjang, Da. Tenang saja.”
" Aku lapar Dan, kita makan dimana nih?"
" Tumben ngomong lapar. Yang dekat dengan kantor walikota dan makannya enak yah mana lagi kalau bukan Summer Shine lah."
" Jangan di sana lah Dan. Itu punya Ben, aku lagi malas basa-basi nih. Cari tempat lain aja ya."
" Jadi lagi malas ditraktir nih ? Ok lah kalau begitu."
Denting notifikasi berurutan menyapa gendang telinga mereka. Sayda mengecek ponselnya.
Aku dan Alex udah SS sekarang. Kami dah reservasi. Kalian kalau udah selesai di Grab International Building segera meluncur kemari ya. (Pruistin)
Aku sudah menyiapkan makan siang istimewa untukmu cantik. Jangan kecewakan aku. ( Ben K)
Sayda menarik nafas panjang.
" Kenapa?" Ramdan menoleh ke arah Sayda.
" Mereka nunggu di SS," jawab Sayda lemas. Ramdan terkekeh.
"Nah kan...berarti kami memang sehati. Tiga versus satu, terima dengan ikhlas ya Nak." Ramdan mengusap kepala Sayda sembari cengengesan. Sayda segera menepis tangan Ramdan yang sduah tertawa girang.
" Nggak usah cemberut gitu, jelek tahu nggak." Ramdan mulai menggoda Sayda. Gadis itu sudah malas menanggapi karena akan buang-buang energi saja.
Pertempuran kedua hari ini telah berakhir, Sayda dan Ramdan yakin mereka akan memenangkan pertarungan itu. Signal kemenangan sudah teridentifikasi tujuh puluh persen, namun mereka tidak mau sesumbar. Tantangan tidak hanya berhenti di situ saja, mereka harus bersiap mengejar kereta ke kota Owensag memenuhi undangan dari Mona. Kurang dari tiga jam mereka harus sudah sampai di stasiun utama untuk mengkonfirmasi keberangkatan mereka. Yang sudah siap hanya Alex yang sudah membawa koper kecil. Namun hal itu tidak terjadi pada Sayda, Randan dan Pruistin. Mereka
“ Sayda, Pruistin cepetan, ini sudah jam delapan. Keretanya berangkat tepat jam sepuluh loh.” Ramdan mulai mengomel. Sayda keluar dari kamarnya lalu bergerak menuju dapur memasukkan beberapa botol air mineral dan jus buah juga roti kering, pizza dan lasagna yang tadi baru dihangatkannya.
“ Buat apa makanan-makanan itu?” Tanya Pruistin .
“ Ya buat bekal dibawa lah daripada jajan kan. Makanan di kereta kan mahal. Lumayanlah kita bisa berhemat sedikit.” Jawab Sayda sembari berlalu membawa semua bekal yang sudah dimasukkan dalam satu tas tenteng yang besar.
“ Ya sudahlah Pru, nanti aku yang habiskan.” Ramdan berkata santai lalu menutup pintu dan menekan tombon kunci.
“Lha tadi kita dibawakan makanan lumayan banyak lho sama Ben,” protes Pruistin.
“ Ben? Titip makanan? Kok aku tidak tahu ya?” Sayda tampak bingung.
“ Ooh iya, tadi dia titip sebelum kamu datang. Langsung dibawa Alex ke bagasi mobil.” Jawab Pru santai sembari memasuki elevator.
“ Kok kamu mau aja sih terima makanan itu?”
“ Terus kenapa harus ditolak? Dia kelihatannya tulus kok memberinya. Nggak mau kalau cewek yang diincarnya kelaparan di perjalanan.” Jawab Pruistin sambil melempar lirikan menggoda Sayda. Sayda hanya diam malas menanggapi godaan Pruistin.
“ Bukan takut kelaparan Pru, tapi takut diracun orang.” Ramdan dan Pruistin sama-sama terkekeh. Sayda tetap pada sikapnya yang pura-pura tidak peduli, dalam hatinya bersyukur membawa banyak makanan sehingga ada alasan untuk tidak memakan pemberian dari Ben. Gengsi wanita itu memang cukup besar.
******
Perjalanan enam jam yang ditempuh kereta cepat dari Yukari ke Owensag memang cukup melelahkan walaupun hanya duduk saja. Benar seperti kata Ramdan, semua makanan ludes habis tak bersisa. Mereka menggunakan waktu selama perjalan untuk bercerita dan bercanda, main scrable dan bermain kartu. Owensag bukan merupakan tempat tujuan akhir kereta cepat itu. Berdasarkan informasi yang mereka baca di internet, kereta itu hanya akan berhenti selama lima belas menit di sana. Karenanya mereka memutuskan untuk tidak tidur karena takut kebablasan. Kondisi yang nyaris tidak tidur dan waktu sampai di Owensag masih terlalu pagi, membuat perut mereka lapar kembali. Hanya ada satu kedai yang buka dan mereka langsung menuju ke sana untuk sarapan yang terlalu pagi. Tak mengapa, karena mereka yakin setelah sampai penginapan dan mandi, rasanya tidur adalah tujuan utama mereka semua.
Penginapan yang mereka sewa hingga hari minggu nanti merupakan sebuah apartemen yang cukup besar dengan tiga kamar tidur. Kamar yang paling besar dipakai Ramdan dan Alex, sedangkan dua lainnya ditinggali Sayda dan Pruistin. Mona beberapa kali menelepon mencoba membujuk mereka untuk mengikuti tur keliling kota Owensag yang telah disiapkannya. Namun rombongan empat orang itu menolak, karena kelelahan. Sejak musibah yang menimpa Pru membuat Sayda, Alex dan Ramdan berupaya lebih keras lagi bekerja menyelesaikan tunggakan pekerjaan yang berkasnya menggunung. Persiapan materi presentasi dan rapat-rapat maraton hampir membuat mereka tidak tidur berhari-hari demi performa presentasi yang prima dan memukau.
Owensag merupakan kota tua dengan begitu banyak arsitektur yang mengesankan. Kota ini sempat menjadi ibukota Solis pada abad ke empat belas hingga enam belas masehi. Terletak di tepi Sungai Burgundi, maka Owensag adalah kota besar keempat di negara Solis dengan banyak hal yang ditawarkan. Place de la Burgundi merupakan alaun-alaun tua yang cerah, indah dan sangat elegan. Pemerintah setempat berupaya mempertahankan keasliannya hingga berabad-abad. Di sekitar alun-alun tua yang tak berapa jauh dari stasiun kota tersebut dikelilingi oleh rumah-rumah mewah abad ke-17 yang berhimpitan dengan istana yang dekaden, serta sejumlah museum seni besar.
Di pinggiran kota ini juga berdiri beberapa universitas ternama seperti Owensag University yang berdiri mulai pada tahun 1490 dan Terve Medical School yang sudah berdiri pada tahun 1398. Kedua universitas ini adalah institusi pendidikan tinggi negeri nir-laba di Solis. Mona Switenia, Ludwig dan Steven adalah alumni yang pernah bersekolah di sini. Mona yang sedang mengambil pendidikan spesialisnya di institusi ini kini telah dinyatakan lulus. Dia akan diambil sumpahnya hari sabtu pagi dan hari minggunya dai menggelar perayaan kelulusan di rumah kerabatnya.
Mereka baru bangun pada sore harinya. Setelah membersihkan diri akhirnya berunding untuk berjalan kaki santai menikmati kota Owensag di malam hari sembari mencari kuliner khas untuk santap malam mereka di daerah Les Quais yang terkenal dengan taman lampion yang indah dan wisata kuliner atau menikmati perairan sungai Burgundi yang sudah bersolek luar biasa menghidupkan suasana romantis.