Alaric menjabat tangan Ramdan dan Pruistin tanda mereka sudah bersepakat untuk menyetujui pihak perusahaan vendor yang akan mengerjakan taman eduwisata dan observatorium itu. Sayda menarik nafas lega. Semenjak keberangkatannya dan sehari sebelum presentasi itu dilaksanakan, dia dan teman-temannya sudah menggodok konsep-konsep yang akan mereka ajukan dengan detail dan perhitungan yang seakurat mungkin. Bolak- balik harus mengkaji ulang, menghitung ulang, saling mendebat untuk tidak memberikan sedikitpun celah untuk kekeliruan yang akan berakibat fatal. Mereka harus membuang jauh keinginan untuk jalan-jalan menjelajah Owensag dan mencicipi beberapa kuliner khas yang terkenal. Itu semua demi kredibilitas perusahaan dan kinerja profesional yang harus selalu terjaga. Sayda membiarkan Pruistin, Alex dan Ramdan beramah tamah pada pihak pemberi jasa, dia membereskan beberapa peralatan milik timnya dan barang-barang pribadi ke dalam tas. Kepalanya sudah sangat penting, tubuhnya terasa lemas. Tadi pagi dia sudah tak berselera makan, namun dipaksanya karena presentasi hari ini butuh energi ekstra.
Dugaan Sayda tidak meleset, mereka digempur dengan aneka pertanyaan dengan kritis. Tak sia-sia mereka mempersiapkannya dengan sangat serius dan seksama. pruistin memimpin tim mereka dengan sangat hebat. Meskipun semua orang tahu kalau Benjamin Kobayashi sedang mendekatinya, dan Alaric sedang berjuang mendapatkan hatinya, namun pertemuan tadi benar-benar mereka bekerja dengan sangat profesional. Sayda merasa bahwa kedua lelaki itu sedang mengujinya, kredibilitas dan kecakapannya sedang diuji. Ben dan Al benar-benar memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan sulit bahkan terkesan menyudutkan, tapi Sayda memberikan jawaban dengan mantap dan meyakinkan berdasarkan data dan fakta yang ada. Dia mampu menunjukkan kreatifitas dan mempertahankan inovasi yang akan mereka gunakan untuk menyelesaikan persoalan yang ada membuat kedua pria itu terkesima dan yakin walau itu tidak ditunjukkan melalui ucapan, tapi lewat senyuman, mimik wajah dan bahasa tubuhnya sudah menyiratkan kalau mereka puas dan percaya.
" Kamu ada acara nanti sore?" Tanya Ben pada Sayda. Gadis itu mengangkat bahunya,
" Sepertinya sih tidak ada, tapi aku ingin istirahat Ben. Badanku sedikit lemas. Besuk kami ada janji dengan beberapa sahabat di sini. Aku pikir itu akan menghabiskan waktu seharian dan banyak energi. "
" Apa tadi pagi kamu nggak sarapan Da?"
" Sarapan kok, walau sedikit. Nggak usah terlalu khawatir Ben, aku akan baik-baik saja, hanya ingin tidur saja. Mulai minggu kemarin jam tidurku berkurang banyak. Aku yakin setelah tidur biasanya kondisiku akan jauh membaik."
" Okelah kalau begitu. Aku akan mengantarmu ke penginapan. "
“ Kamu pucat Sayda, apa kamu sakit?” Suara Alaric yang keras membuat semua yang hadir menoleh ke arah Sayda. Sayda meringis canggung.
“ Aku hanya sedikit meriang, Al. Tidak apa-apa, biasanya setelah tidur nanti akan baik kembali.”
“ Ah, padahal aku erniat mengajak kalian semua makan siang setelah ini.”
“ Kamu masih bisa pergi bersama Ramdan, Alex dan Pru. Aku minta maaf tidak bisa ikut bersama kalian ya.”
“ Aku yang akan mengantar Sayda ke penginapan Al, kamu tenang saja.” Al memandang Ben kemudian Sayda, mencoba menilai keadaan.
“ Kamu tidak apa-apa ditinggal sendiri?” Tanya Pruistin dengan wajah cemas. Ramdan dan Alex pun menatap dengan penuh kekhawatiran.
“ Tidak apa-apa, kalian pergi saja. Ini Cuma gejala ringan kok. “
“Bener nggak apa-apa nih? Tanya Ramdan lagi.
“ Iya nggak apa-apa Dan, lagian ada Ben yang jagain aku kok.” Seketika raut wajah Al berubah, dia mengirimkan tatapan yang tak terbaca pada Sayda. Ben mengulurkan tangannya kepada Sayda yang menyambutnya lalu bangkit.
“ Kami pergi dulu ya, “ ucap Ben lalu berlalu pada mereka semua, sebelah tangannya merangkul erat bahu Sayda dan tidak melepaskannya hingga mereka akhirnya masuk ke dalam mobil. Al berulangkali menghembuskan nafas dengan berat dengan tangan terkepal. Nampak sekali kegelisahan hatinya. Alex yang berada di sebelahnya menangkap ada yang tidak beres pada Alaric menoleh lalu berkata:
" Ada apa Al? Apa ada sesuatu yang membuatmu gusar?" Alaric menggeleng.
" Tidak apa-apa " jawab lelaki itu singkat.
" Lihatlah Sayda dan Ben berjalan beriringan itu seperti paman dan keponakannya ya," Ramdan berkata dengan suara sengaja dikeraskan. Alaric berdehem lalu berjalan agak cepat mendahului Ramdan dan Pruistin.
Sayda menutup matanya begitu sampai di mobil, kepalanya seperti berputar. Ben mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Begitu sampai di area parkir yang berada di lantai yang sama dengan apartemen Sayda, segera Ben memapah Sayda hingga masuk ke dalam kamarnya. Ben membantunya membuka sepatu dan membaringkan Sayda di kasur. Tangan gadis itu dingin sehingga Ben menaikkan suhu pemanas ruangan. Tanpa banyak komentar dan protes, Sayda menurut apa yang diperintahkan Ben.
“ Tidurlah, aku akan menjaga kamu. “ Sayda tak menanggapinya. Suara dering ponselnya menggugah kesadarannya. Tangan Sayda meraba atas nakas dan akhirnya menemukannya. Dia meraba dan menekan tombol bicara.
“ Ya hallo, “ ucapnya malas.
“ Dida aku ada di depan apartemenmu. Buka pintunya.” Suara Mona Switenia langsung bergema memenuhi liang telinganya.
“ Iya bentar Mon, kepalaku masih sakit.” Sayda mencoba duduk sebentar kemudian bangkit berdiri, membuka pintu dan berjalan keluar kamar meski sempoyongan. Ben yang sedang berada di dapur dan terkejut lalu mendekatinya.
“ Sayda, kamu sudah bangun? Ada apa? “ Tanya Ben yang langsung menghampirinya yang berdiri bersandar di pintu.
“ Ben, tolong bukakan pintu, ada temanku di luar.”
“ Ada teman kamu, kenapa tidak memencet belnya?” Baru saja selesai berbicara, bel sudah berdentang. Bel melihat wajah pengunjung menggunakan kamera CCTV di luar.
“Temanmu perempuan dan seorang laki-laki?”
“ Sayda, ini aku Mona.” Suara interkom di ruang tamu berbunyi.
“ Itu temanku Ben, bukakan saja pintunya.” Ben menuruti ucapan Sayda.
“ Dida? Kamu kenapa? Tangan kamu dingin sekali.“
“ Nggak tahu cuma pusing aja. “ Mona membantunya berdiri dan berjalan masuk ke kamar dan merebahkannya ke ranjang.
" Masuk angin kali Mon."
" Mau aku kerik dan pijat? Bawa minyak aku putih nggak? "
" Tentu aja mau, nggak cuma minyak kayu putih, minyak telon, citrun dan lavender juga aku bawa kok."
Suara lelaki berdehem.
“ Dia belum makan siang. Mungkin anda mau merayunya untuk makan, Nona?” Mona yang sejak tadi menyimpan tanya tentang pria itu mengirimkan sinyal lewat gerakan mata dan mulutnya yang tersemar.”
“ Oh, Ben kenalkan ini Mona Switenia sahabatku dan Mona, kenalkan ini Ben Kobayashi.”
“ Hallo” Ben mengulurkan tangan kanannya. Mona seperti tersedak.
|” Kamu....kamu...bukannya yang punya tambang berlian di Kaftala dan ladang minyak di Sofborne ya? Bulan kemarin masuk jadi cover majalah Oportunity bukan?” Mona memberondongnya dengan pertanyaan membuat Ben tertawa.
“ Senang bertemu dengan anda, Nona.” Monapun membalas senyum/
“ Bisa kenal Sayda dimana?”
“ Sayda rekanan bisnis perusahaan kami, Nona.”
“ Ah nggak usah formil gitu, panggil aku Mona saja. Rasanya itu lebih akrab.” Ben melirik ke arah Sayda yang sedang memegang kepalanya dan meringis.
“ Sebentar…” Ben keluar dan membawa semangkuk bubur ayam kesukaan Sayda.
“ Karena Sayda sudah ada yang menemani, saya mohon pamit dulu. Sayda, cepat pulih ya. Nanti aku kabari lagi.”
“ Oh ya makasih ya Ben.”
“ Oke”
Setelah Ben benar-benar meninggalkan apartemen, Mona meliriknya penuh selidik.
“ Jadi au terangkan padaku siapa dia?”
“ Aku lapar, sinikan buburnya. Nanti setelah perutku kenyang baru aku cerita. Tapi sambil pijat ya?”
“ Iya…iya…” ucap Mona.