Birthday's Girl

1305 Kata
Langit biru menghiasi langit Owensag. Pruistin dan Mona berjalan pelan menyusuri jalan masuk kampus yang cukup padat hari itu. Bangunan-bangunan kuno seperti kastil berdiri kokoh di kelilingi halaman berumput yang masih hijau di awal musim gugur yang cukup dingin. Angin yang bertiup menerbangkan sebagian dedaunan. Mereka bersyukur karena hari ini cukup cerah. Kemarin ketika mencoba menjalani city tour yang dipimpin Mona, mereka sempat kehujanan hingga malam harinya. Sayda yang sempat turun kondisi kesehatannya, merasa kembali meriang dan bersin berulangkali hingga memaksanya tidur lebih cepat. Di luar kamarnya, setelah makan malam, Pru, Ramdan dan Alex mendiskusikan proyek pembuatan jembatan di Manduras. Kedua gadis itu tersenyum ketika dari kejauhan terlihat Mona dan kedua orangtuanya sedang berfoto di kejauhan, merekan mempercepat langkah untuk mendekatinya. Mona dengan riasan tipis dan rambut yang disanggul keatas terlihat sangat cantik mengenakan toga. Senyuman sumringah senantiasa menghiasi wajahnya cantiknya. Begitupun kedua orang tua Mona yang terlihat sangat bahagia dan bangga menatap anak bungsunya. Mark, kakak Mona dan Radium tengah berbincang akrab dan tertawa. Melihat Radium, bayangan Barry terlintas dalam benaknya.  Ketika jarak semakin dekat, Mona dan mamanya menoleh lalu melambaikan tangannya pada Pru dan Sayda. Sayda dan Pruistin tertawa kecil dan bergegas memeluk perempuan cantik yang sudah resmi menyandang predikat dokter spesialis onkologi itu. “ Selamat ya Mon, aku bangga sekali sama kamu.” Peluk Sayda yang sudah memendaratkan ciuman di kedua pipi Mona. Begitu pula yang dilakukan Pruistin. Mama Mona memeluk erat Sayda. “ Mama kangen sekali Sayda, apa kabar ibumu? “ “ Ibu baik Ma, sehat-sehat saja. Bagaimana kabar Mama?”Rustina tersenyum. “ Mama baik dan sehat Dida,” jawab Rustina lalu memeluk gadis itu lagi. Sayda sudah seperti anaknya sendiri. Gadis itu sudah bersahabat dengan putri bungsunya mulai di bangku sekolah dasar. Hubungan antara Rustina-Alfian dengan orangtua Sayda pun sangat baik. Gadis itu sering menginap di rumahnya, karena itulah dia mengikuti Mona dan mark memanggilnya “Mama”. Rustina memandang gadis itu dengan terharu. Dia sudah mendengar kabar dari Radium dan Mona perihal kandasnya hubungan pertunangan antara Barrium dan Sayda. Wanita paruh baya itu merasa simpati dan ingin memberikan dukungan moralnya. “ Apa kabarmu Nak? Kamu betah di sini sayang?” “ Betah Ma, Dida ketemu banyak orang yang baik di sini. “ “ Syukurlah kalau begitu. Mama berdoa dan berharap kamu nyaman dan hidup senang di sini sayang.” “ Aamiinnn, makasih ya Ma,” jawa Sayda tersenyum. “ Kamu kok kelihatan kurus Dida?” Tanya Alfian, ayah dari Mona yang merangkul gadis itu. “ Banyak proyek Pa, jadi lembur terus.” Alfian sudah seperti ayahnya sendiri. Lelaki itu memegang bahunya. “ Kamu nggak boleh menyepelekan kesehatanmu Nak, uang dan materi bukan segala-galanya. Kalau ada apa-apa hubungi Mona dan Mark juga kami. Kami selalu ada untuk mendukungmu, Dida.” “ Makasih Pa. “ “  Kamu perlu tahu Dida, apapun yang terjadi, masih banyak orang yang mencintai dan sayang sama kamu. Kamu hanya perlu datang dan tangan kami terbuka lebar untukmu.” Mata Sayda berkaca-kaca, dia menubruk lelaki tua yang sudah seperti ayahnya sendiri dan memeluknya. Alfian tertawa haru dan mengelus kepala Sayda. Alfian sudah tahu cerita tentang pengkhianatan Barrium Latief dan diam-diam mendukung keputusan orangtua Sayda yang memutuskan pertunangan itu. Walaupun Sayda bukan anak kandung mereka, namun kesedihan Sayda juga membuat mereka terluka. Mark yang melihat Sayda pun memeluknya erat sekali bahkan  tubuh Sayda sampai terangkat karena eratnya Mark memeluk gadis itu. Mark kemudian menggoda Sayda yang membuat mereka semua tertawa. Pruistin yang melihat keakraban Sayda dengan keluarga Mona hanya bisa terdiam dan tersenyum. Siapapun yang dekat dengan gadis yang sebentar lagi akan berusia dua puluh lima tahun itu akan tahu kalau Sayda bukan hanya memiliki paras yang jelita, tapi hatinya juga sebening kristal. “ Hei, kalau sudah puas acara kangen-kangenannya, ayo kita foto dulu!” Suara Radium yang lantang membuat semuanya menoleh. “ Bang Radi….” Sayda berlari dan memeluknya. Radium tertawa. “ Aku pikir kamu melupakan dan tak mau menyapaku lagi Dida.” Sayda memukul lengannya. “ Ya nggak mungkin lah, Bang Radi ini ngomong apa sih, kayak nggak kenal aku saja.” Ucap Sayda pura-pura ngambek. Radi tertawa lepas dan mengacak-acak rambut Sayda. Walaupun tidak jadi menjadi adik ipar, Radium terlanjur sayang pada gadis itu dan menganggap seperti adiknya sendiri, apalagi dia adalah sahabat dari calon istrinya dan adik sepupunya, Mona dan Pruistin. “ Sudah sana kumpul dulu biar aku yang foto.” Mereka melakukan beberapa pemgambilan gambar, dari yang gaya resmi sampai gaya yang heboh. “ Udah gantian aku aja yang foto, “ Pruistin menawarkan jasa. Radium kemudian bergerak di samping Mona. Mereka sibuk mengambil beberapa foto lagi. Sayda bersam Pruistin dan Mark kemudian usil mengerjai Mona dan Radi dengan menjadi pengarah gaya bagi pasangan Mona dan Radi yang sedang mengambil gambar. Rustina dan Alfian dibuat sakit perut tertawa dengan tingkah anak-anak muda itu. “ Kamu ikut bersama kami kan Sayda?” “ Maaf Ma, sepertinya aku nggak bisa. Masih ada yang harus aku kerjakan.” “ Katanya kamu kangen sama Mama dan Papa, kenapa nggak mau menginap semalam sajalah bersama kami’” bujuk Rustina. Sayda nampak menimbang. “ Ayolah Da, kapan lagi kita liburan bersama?” Rayu Mona. “ Sebentar lagi Mona menikah Sayda, anggap saja ini untuk melepas masa gadisnya, Bagaimana?” “ Ehm…”Sayda melirik pada Pruistin yang mengangkat bahu dan meyerahkan semua keputusan pada Sayda. “ Mama butuh kamu untuk bantuin masak nih, Mona mana bisa diandalkan.  Kamu nggak kasihan apa lihat Mama sibuk sendiri?” Bisik Rustina di telinga Sayda.  Gadis itu terperangah dan menatap Rustina. Wanita separuh baya itu kemudian mengangguk. Sayda menelan ludah dengan sulit di akhiri dengan anggukan kecil kepalanya. “ Yeay..” Mona bersorak riang. “ Tapi aku nggak bawa baju ganti lho, dan aku belum beberes barang-barang di penginapan lho Ma.” “ Ya sudahlah, setelah ini Mama dan Papa langsung pulang, sementara Mona dan Radi biar belanja untuk keperluan besuk. Kamu tadi ke sini naik apa?” “ Naik taxi Ma.” “ Kalau begitu biar Mark yang antar kalian pulang dan ambil barang-barangmu. Biar besuk langsung berangkat ke stasiun setelah selesai acaranya Mona.” Rustina mulai mengatur rencana. “ Siap Ma,” Ucap Mark.   ******   Sayda memasukkan bumbu rawon ke dalam panci kemudian mengaduknya sebentar. Sembari menunggu panci rawon mendidih, Sayda memeriksa mixer yang berisi adonan cupcakes. Bunyi alarm terdengar tanda makanan yang ada di dalam oven selama dua puluh menit yang lalu harus dikeluarkan. Sayda menggunakan sarung tangan oven dan mulai membuka oven dan mengambil tiga loyang dan meletakkannya ke atas meja. “  Kamu bekerja sendiri? Mama dan Mona kemana?” Tanya Radium.  Sayda menoleh sebentar  dan tersenyum. “ Ada tamu Bang,” aku cicil ini biar nggak bingung  besuk. “ Kalau begitu aku bantu ya Dida. Aku harus apa nih? Tolong kasih petunjuk .” Sayda tertawa. “ Aduh... Pak Presdir nggak usah turun ke dapur lah, nanti tangannya lecet. Duduk di siti saja ya.” Sayda menunjuk kursi di dekat meja. “ Jangan begitulah Mama mendidik kedua putranya agar bisa masak di dapur juga lho. Dari kecil kami walaupun tidak setiap hari, sudah dibiasakan membantu Mama untuk urusan dapur walau ada banyak pelayan. Mama sengaja melakukan itu agar bisa dekat dengannya. Selain mengajarkan kemandirian juga memupuk keakraban dan membangun momen indah masa kecil juga remaja,” terang Radium. Sayda terdiam sejenak. Wajah Nisrina, ibunda Barrium dan Radium terlintas dalam ingatannya ─ betapa dia sangat mencintai wanita paruh baya itu seperti ia menyayangi ibunya sendiri. “ Sayda...” Radium menegur pelan membuat Sayda sedikit kaget.  Gadis itu membalikkan badan menghadap kompor dan memasukkan daging yang telah dipotong ke dalam panci. “ Apa kabarnya Mama Nisrina Bang?” “ Mama masih lemah, tapi sudah pulang dari rumah sakit setelah dirawat hampir dua bula di sana.” Sayda terpana dan berbalik menghadapnya. “ Mama Nis masuk rumah sakit? Kenapa Bang?” Sinar kekhawatiran berbalut cemas  terpasang di wajahnya. Radium menghela nafas berat. Dia berjalan mengambil gelas dan menuang air dalam dispenser lalu kembali duduk menghadap Sayda. Gadis itu menunggu jawabannya.  “ Pruistin tidak memberitahumu?” Sayda menggeleng. “ Mama kenapa Bang?” Barium meminum air dalam gelasnya. “ Mama terkena serangan jantung karena kaget melihat acara gosip selebriti yang menayangkan wawancara Ardilla yang mengumumkan mengandung anak Barry. Lalu rekaman video panas itu beredar,  juga rekaman CCTV ketika kamu menangis ketika memergoki mereka.” Radium menjelaskan dengan suara pelan. Sayda menutup wajahnya. “ Ya Tuhan....” Suara Sayda tercekat, sudut matanya berair. Radium menghela nafas berat. ******  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN