Keluarga Alfian Levitt memang menyewa rumah kerabat mereka di pinggiran kota Owensag untuk berlibur sekaligus menghadiri pengambilan sumpah dan wisuda Mona. Sebuah daerah di kaki gunung dengan ladang gandum yang luas dan lahan peternakan yang lengkap. Rumah bergaya cowboy dengan nuansa kayu yang mendominasi seluruh bangunan. Sayda baru turun dari kamarnya bersama Mona di lantai dua ketika melihat Mona yang sudah rapih berjalan melintasi ruang tengah ke arah rumah pavilliun yang letaknya sedikit ke belakang dari rumah besar ini. Sayda hendak mengikutinya ketika dihentikan oleh sapa ramah Rustina.
“ Dida bisa tolong Mama dulu?” Sayda berbalik ke arah dapur dan kembali membawa panci keramik berisi rawon yang masih hangat. Bersama Rustina membereskan dan menata meja makan. Tamu yang datang cukup banyak. Sekitar tiga puluh orang telah hadir di sana. Rombongan Ramdan, Alex dan Pruistin juga hadir. Sayda memicingkan matanya lebih lanjut melihat Ludwig menggandeng tangan Pruistin, kepalanya sudah berisibahan untuk menggoda sahabatnya itu.
“ Barangmu semua sudah di mobil, tak ada yang bersisa,” ucap Pru seolah hendak membungkam niatan Sayda untuk menggodanya.
“ Semalam aku mimpi apa ya, kok suasana hari ini cerah dan indah benget ya, Lex?”
“ Tentu saja, ada yang baru launching nih. “ Jawab Alex tepat sasaran sembari dagunya mengarah ke arah El dan Pru. Sayda dan Ramdan tertawa lebar.
“ Ada yang bisa aku bantu nggak? Bakar sate mungkin?” Tanya Ludwig berusaha mengalihkan perhatian.
“ Nggak ada. Kalau mau niat bantu tuh datangnya pagi dong, jangan pas waktu mau mulai acara.” jawab Sayda judes sambil berkacak pinggang..
“ Nggak ada. Kalau mau niat bantu tuh datangnya pagi dong, jangan pas waktu mau mulai acara.” jawab Sayda judes sambil berkacak pinggang. Pruistin langsung menggamit tangannya.
“Tempat ini jauh sekali Sayda dan kami sempat salah jalan tadi jadi harus berputar lagi,” ungkap Ludwig.
“ Dimana barang-barangmu?” Pruistin kemudian menimpali.
“ Masih di atas lah. Eh mau ngapain sih kamu tarik tangan aku?”
“ Sudah dirapikan belum? Ayo bawa turun sekalian. Kalau nggak mau ketinggalan kereta, kita harus bergegas.“ Pru menarik tangan Saydake lantai atas untuk mengemasi barangnya. Di sepanjang jalan dia terus berbicara dan tak memberi kesempatan Sayda membalas ucapannya. Sepertinya sebuah trik yang jitu untuk menghindari ledekan usil dari Sayda.
Di luar, pengeras suara sudah berbunyi tanda acara segera dimulai. Terdengar suara Mark membuka acara dan sambutan dari Alfian Levitt pun terdengar. Pruistin dan Sayda baru turun ketika Mona mulai berbicara. Tampaknya Mona mengundang beberapa teman seperjuangannya dan beberapa dosennya serta kerabatnya yang tinggal di Owensag. Suara ramai tepuk tanganpun bergema.
“ Kalian mau kemana? Kamu dicari dari tadi Sayda.” Tegur Rustina.
“ Kami harus bersiap Ma, kereta kembali ke Yukari jam dua siang nanti. Setelah ini kami pamit ya Ma,” ujar Sayda.
“ Ya, tapi makan dulu lho. Masih ada waktu dua jam lagi.” Ucap Rustina sambil mendorong Sayda yang sudah memakai tas ransel dan selempangnya menuju tempat Mona, Radium dan Alfian berdiri. Sayda sempat bengong karena tidak paham dengan apa yang terjadi.
“ Saya sangat berterima kasih untuk orang yang sangat spesial dalam menerima semua keluh kesahku, memberi semangat dan selalu ada dalam segala suka dan duka. Dia rela terbang jauh dan tabah diseret kesana dan kemari untuk menghibur dan membantu saya selama ini. “ Sayda menatap Mona. Mata Mona sudah berkaca-kaca dan suaranya menjadi serak, senyum tulusnya dipersembahkan untuk Sayda yang seolah terpaku.
“ Sahabat yang selalu mendukung saya, terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas persahabatan yang indah dan... Selamat ulang tahun sayang.” Sayda terpana, dia masih bertanya dalam hatinya dan belum “ngeh” dengan apa yang terjadi, Mona dan Pruistin memeluknya. Musik dan sebuah lagu ulang tahun dinyanyikan bersama seluruh tamu yang hadir. Alfian yang memandunya. Mark dan Ramdan membawa baki besar berisi tumpeng dan segala perniknya.
“ Kapan buatnya?” Bisik Sayda di telinga Mona.
“Tadi malam, saat kamu sibuk membuat cupcake bersama Mark dan Abang.” Mona tertawa menjawabnya.
“ Ya ampuunnn, niat banget sih Mon.”
“Semua sudah direncanakan matang-matang dari Moonlight Da. Bahan dan semua bumbu sudah disiapkan Mama. “ Mona menjelaskan bersamaan dengan berakhirnya lagu selamat ulang tahun. Seseorang menyeruak dari barisan belakang dan maju ke depan membawa kue taart dengan lilin menyala. Sayda kaget setengah mati.
“ Selamat ulang tahun Sayang, make a wish. Tiup lilinnya.” Ujar Barrium tertawa melihat Sayda yang terkejut. Ramai orang ,enggoda dan berteriak.
“ Tiup...Tiup...Tiup....” Sayda menuruti untuk meniup lilinnya dan semua berserok gembira.
“ Ayo tumpengnya dipotong.” Ucap Alfian.
“ Sayda memotong tumpengnya dan memberikannya pada Mona,” Semua bersorak gembira. Semua larut dalam kehangatan tuan rumah, kecuali Sayda. Kenangan masa lalu tentang pengkhianatan Barrium terusik kembali. Hatinya seolah membeku, Sayda menjadi dingin. Perubahan itu dengan cepat ditangkap oleh Ramdan, Alex dan Pruistin. Mereka pun segera pamit, namun Alfian menahannya. Barium seolah tak mau melepaskan Sayda hingga dia selalu mengikuti kemanapun Sayda pergi. Sebuan dentingan suara sendok yang beradu dengan gelas dan dipukul berulangkali meredakan suara riuh orang berbicara. Radium maju ke tengah kerumunan. Dia berdehem dengan keras.
“ Perhatian semuanya, bersama ini kami mau membuat pengumuman. Kalian tahu kalau kami berencana menikah pada dua bulan kemarin, namun karena ada susuatu dan lain hal maka pernikahan itu tidak dapat terjadi.” Radium menghentikan pidatonya. Dia memanggil Mona untuk berdiri di sampingnya dan memegang erat tangannya.
“ Saya dan Mona mengumumkan bahwa kami sudah menjadwalkan ulang akan menikah tahun depan, atau tujuh bulan dari sekarang. “ Lanjut Radi yang disambut sorak sorai orang yang hadir.
‘ Alex, barangku sudah dimasukkan ke mobil?” Tanya Sayda pada Alex yang baru selesai makan.
“ Sudah, kamu tenang saja Da. Kita pamit yuk. Lumayan jauh nih dari stasiun, jangan sampai kita ketinggalan kereta. “ Alex memberi usul. Sayda menghampiri Alfian dan Rustina untuk berpamitan. Mereka saling memeluk namun suara dari pengeras suara menghentikan langkahnya.
“ Mohon maaf jika mengganggu wkatu anda semua.” Semua orang berbalik dan mata tertuju pada Barrium Latief yang berjalan mendekati Sayda.
“ Beberapa kejadian pahit yang harus dilewati dan membuat kami terpisah beberapa waktu yang lalu, membuat saya semakin yakin kalau cinta dan hati saya hanya terpaut pada satu wanita. Sayda Arundati, maukah kau menerima aku kembali? Saya akan melakukan apa saja yang kamu minta.” Sayda tercengang, kakinya terasa berat. Gadis itu tidak menyangka sama sekali kalau Barry akan bertindak senekad itu dan sengaja mendesaknya untuk menerima kembali.
“ Kamu alasan kuat untuk aku melanjutkan hidupku Sayda. Please, kembalikah seperti dahulu. Aku minta maaf.” Ucap Barry lirih. Semua mata tertuju pada Sayda dan membuat gadis itu serba salah. Akhirnya dia berkata:
“ Saya sudah sejak dulu memaafkan Kak Barry. Dan kita tahu situasinya sekarang tidak memungkinkan untuk bersama. Mohon maaf, saya sudah punya kekasih dan sangat mencintainya. Saya pikir kita tetap bisa berhubungan baik dan menjaga silaturahmi sebagai sahabat dan keluarga saja. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf. Kami permisi dulu.” Sayda membungkuk dan segera berbalik menarik Alex yang masih terkesima dengan apa yang baru saja terjadi.
“ Sayda ...tunggu dulu... Sayda...” Barrium berusaha mengejar gadis itu.
“ Lex, dimana kamu parkir mobilnya? Cepetan...” Sayda cemas. Dia dan Alex sudah setengah berlari. Mereka masuk ke dalam mobil dengan gerakan cepat dan Alex langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kencang sehingga tak memungkinkan Barrium untuk mengejar.
“ Aduuh....gimana Ramdan dan Pruistin ya.” Sayda tampak panik karena dua temannya masih tertinggal di ranch yang disewa Alfian.
“ Nggak usah khawatir, El bawa mobil kok.”
“ Kamu nggak apa-apa Dida?”
“ Sejauh ini sih baik-baik saja.”
“ Jadi Barrium Latief itu mantan tunanganmu?” Tanya Alex lagi.
“ Ya kira-kira begitulah Lex.”
“ jadi yang kemarin viral diberitakan perempuan yang memergoki tunangannya yang berbuat m***m di sebuah kamar hotel itu kamu?”
“ Aku malas bahas itu Lex. Tanya aku hal lain saja ya.”
“ Maaf kalau begitu Dida. Nggak usah cerita kalau kamu nggak nyaman.”
Hening tercipta di antara mereka
“ Dida.... “ Sayda yang sudah memejamkan matanya menoleh ke arah Alex.
“ Dia memang nggak pantas dapatkan kamu. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik lagi.”
“ Makasih Lex “
“ Kamu bisa tidur Sayda, aku akan membangunkanmu nanti kalau kita sudah sampai di stasiun,” ujar Alex.
Decitan ban mobil ditambah dengan klakson yang dipencet berulangkali membuat Sayda terbangun. Kepalanya sedikit pusing karena kaget.
" Ada apa Lex?"
" Nggak tahu, ini kok ada banyak wanita yang seenaknya saja menyeberang nggak tolah toleh dan ngak lihat rambu pejalan kaki masih merah dan belum bunyi kok sudan main lari saja. Ngejar apa sih mereka?" Alex tampak kesal. Alex dan Sayda segera mengantri untuk check in pada petugas.
" Sayda..." Sebuah suara yang sangat dikenalnya. Barrium Latief telah mengikutinya sampai stasiun. Tanpa membalikkan badan, Sayda sudah berlari sambil menarik tas kopernya. Lelaki yang memanggilnya itu pun ikut berlari. tingkah mereka menjadi pusat perhatian banyak orang, tapi Sayda tidak peduli. Gadis itu berhasil masuk ruang tunggu yang hanya dikhususkan untuk penumpang. Sayda bisa bernafas lega karenanya. Gadis itu meneruskan langkahnya dan berdiri di peron sambil menunggu teman-temannya.
" Dida..." Suara Pruistin menggema membuat Sayda membalikkan badannya menanti keempat temannya menghampiri dirinya. Sebuah peluit menggema tanda kereta sebentar lagi akan berangkat. Sebuah tangan meraih bahunya lalu memutar tubuhnya kembali seperti semula. Belum sempat dia menyadari apa yang sedang terjadi, sebuah ciuman mendarat di bibirnya untuk beberapa saat. Setelah lepas dia baru bisa memperhatikan siapa lelaki yang sudah berbuat kurang ajar padanya. Sayda ingin menyentak dan menampar lelaki itu, namun tengannya digemnggam erat oleh lelaki itu.
" Ini tunanganku. Sekarang kamu percaya kan kalau saya sudah bertunangan?" Sayda baru akan berteriak untuk menghardik lelaki itu tapi kali ini dia kecolongan untuk kedua kalinya. Lelaki itu kembali memeluk erat dan menciumnya kembali dengan ganas.
" Ayo kita berangkat sekarang sayang," Ucap lelaki itu sembari menariknya untuk iktu berlari.
"Hei, apa yang kau lakukan. Kurang ajar, lepaskanaku lepaskan." Teriak Sayda yang beradu dengan bel kereta yang berbunyi.
" Ikuti saja perintahku atau aku harus membungkam bibirmu lagi, " ancam lelaki itu.
" Setan kamu, lepaskan aku b******k!"
" Kalau kamu kooperatif, kamu tidak akan sakit. Percayalah Nona," balas lelaki itu lagi. Sayda terkejut ketika dua orang lelaki lainnya yang tinggi dan sangat besar tubuhnya langsung mengangkatnya masuk ke dalam kereta. Beberapa detik kemudian Sayda tersadar dan mau melompat keluar, tapi pintu kereta telah tertutup. Sayda menggedor pintu dan berupaya memencet tombol untuk membukanya. Dia sudah berniat akan melompat dari kereta kalau tidak ditarik oleh salah satu pria yang tadi memasukkannya ke dalam kereta. Lelaki itu menarik tubuh Sayda yang terus memberontak dan memukulnya hingga akhirnya Sayda pun dibopong dan dijatuhkan pada sofa di samping pria yang sudah menciumnya tadi. Lelaki itu terkekeh puas berhasil menawan gadis yang tampak kalut itu.
BERSAMBUNG