Pruistin dan Ramdan tampak cemas menatap jalan, hanya Ludwig yang tetap tenang dibalik kemudi menjalakan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ramdan yang biasanya kalem tampak sedikit emosi, apalagi mereka melihat Barrium terlihat geram mengejar Sayda menggunakan emocar keluaran terbaru ─ yaitu perpaduan mobil dan drone yang hanya memuat dua orang dan mampu melayang dengan laju hampir menyamai kecepatan suara. Intuisi Ramdan berkata akan terjadi hal yang tidak diinginkan namun dia masih bisa menahan diri, berbeda dengan Pruistin yang terlihat gelisah dan bolak balik menyuruh Ludwig menaikkan kecepatan mobil yang mereka tumpangi.
“ Aku nggak bisa lebih cepat lagi, Pru. Ini sudah kecepatan maksimal. Bahaya untuk kita nanti. Kamu tenang saja sayang, kita tidak akan tertinggal terlalu jauh. Tujuannya sama kan, stasiun utama Owensag? Kita memang perlu cepat sampai Pru, tapi ada yang lebih penting, keselamatan kita sendiri.” Ucap Ludwig kalem menenangkan Pruistin. Sebelah tangan Ludwig menggenggam tangan Pruistin erat yang membuat gadis itu terdiam.
Setelah mobil terparkir sempurna, pruistin segera membuka pintu dan berlari mengejar kakak sepupunya Barrium. Begitu pula dengan Ramdan yang dengan cepat membawa koper dan tas ranselnya langsung berlari mengejar Pruistin yang sudah mendahului. Ludwig yang masih terlihat santai mengecek keadaan mobilnya terlebih dahulu baru beranjak keluar membawa perlengkapannya dan koper milik Pruistin.
Dari jauh Pruistin bisa melihat sahabatnya yang berlari menjauh sambil menyeret koper, sementara Barrium di belakang mengejarnya sambil meneriakkan nama Sayda. Gadis itu akhirnya bisa memasuki ruang tunggu yang dikhususkan penumpang. Barrium tertahan. Pruistin memilih jalan memutar agar bisa tidak berpapasan dengan Barry. Kali ini karena situasi yang tidak memungkinkan dia menghampiri sepupunya itu.
“ Kok balik Pru?” Tanya Ramdan. Alex dan Ludwig ikut menghampirinya.
“ Dida sudah di ruang tunggu, Bang Barry gak bisa masuk─ ditahan sama petugas. Kita masuk dari pintu sebelah barat saja supaya nggak ketemu Abangku.” Ketiga laki-laki itu mengikuti langkah Pruistin.
“ Nah, itu Dida. Kita kesana yuk!” Ucap Pruistin sembari melangkah cepat menuju arah Sayda. Bunyi pluit panjang terdengar.
“ DIDA...DIDA...” Suara Pruistin seolah hendak menyamai lengkingan bel kereta. Ramdan ikut berteriak.
“ SAYDA....SAYDA...” Gadis itu berbalik ke belakang, dia melambaikan tangannya lalu memberi kode kalau mereka harus segera menyusulnya ke sana. Ramdan, Alex, Pruistin dan Ludwig bergegas menuju ke arahnya. Saat itu pun terjadi keramaian. Beberapa wanita mengejar seorang lelaki sambil memanggil sebuah nama. Tiga orang pria bertubuh kekar berupaya menahan laju para wanita itu. Namun dua orang wanita berhasil lolos dan tetap mengejar pria itu. Sebuah tanya mendarat dalam benak Pruistin; “ Siapa lelaki itu hingga dikejar oleh belasan perempuan yang histeris memanggil namanya?”
Lelaki itu berhenti dan dua wanita yang mengejarnya pun ikut berhenti. Lelaki itu berbalik ke belakang dan mereka terlihat sedang bercakap. Dalam hitungan menit, lelaki itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan menuju Sayda. Pria itu memegang bahu Sayda dan dalam satu kali hentakan dia membalikkan tubuh Sayda lalu merangkul pinggangnya dan mencium bibir Sayda lama. Sayda terlihat kaget dan ingin protes namun pria itu sudah menciumnya kembali. Sayda terperangah. Dua perempuan itu menutup mulut mereka. Pria itu berbalik dan mengucapkan sesuatu. Sayda mulai sadar dan akan memberontak namun beberapa detik kemudian pria itu memegang bahunya dan sedikit menyeretnya pergi. Sayda sempat melawan namun dua orang lelaki yang tampaknya adalah pengawal pria yang mencium Sayda segera memanggulnya dan membawanya masuk ke dalam gerbong kereta yang akan berangkat. Mereka sempat melihat Sayda memukul dan menendang bahkan berteriak meskipun kalah dengan suara peluit panjang dari kereta. Ramdan dan Alex segera berlari dan mengejar untuk memberi pertolongan. Ludwig dan Pruistin ikut menyusul, namun terlambat.
“ Pak, tolong hentikan kereta itu, tewman saya diculik Pak. Tolong Pak,” Teriak Ramdan panik dengan nafas tersenggal-senggal.
“ Bukankah mereka bertunangan? Jawab petugas keamanan di stasium.
“ Bukan Pak, pria itu orang asing. Saya temannya dan kami tidak kenal siapa pria itu,” lapor Ramdan.
“ Sepertinya lelaki itu bintang film deh. Itu perempuan yang di sana itu, adalah para fans pria itu. Siapa ya namanya? Ooh.... Abi, Saya dengar mereka memanggil Abi. Saya jadi ingat Abisatya. Ya, Abisatya. Dia baru dapat beberapa penghargaan minggu lalu kan?” Ludwig, Pruistin, Alex dan Ramdan melongo. Sama sekai tak terpikirkan oleh mereka kalau Sayda akan ditawan oleh seorang bintang filam ganteng yang terkenal.
“ Sepertinya kereta itu disewa untuk kepentingan pembuatan film. “ Petugas keamanan kembali menjelaskan.
“Mereka sedang menuju kemana Pak?” Tanya Ludwig.
“ Ke Benim.” Jawab petugas itu lagi.
“ Kira-kira, jam berapa kereta itu bisa sampai di stasiun Benim Pa?” Tanya Alex
“ Sekitar empat jam lagi,” jawab petugas itu.
“ Kalau kereta yang Yukari di sebelah mana Pak? “ Tanya Alex kembali.
“ Keretanya sebentar lagi masuk Dek.” Alex mengangguk.
“ Terima kasih Pak, “ ucap Alex kembali dan petugas itu berlalu dari hadapan mereka.
“ Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita harus menyelamatkan Sayda. Tapi paling tidak kita sekarang tahu kalau yang menculiknya adalah Abisatya,” lanjut Ramdan.
“ Begini saja, aku dan Pruistin akan mengejar dan menyelematkan Sayda. Intiuisiku berkata kalau Abisatya tidak akan melukai Sayda. Yah...mungkin dia hanya memanfaatkan situasi saja untuk menyelamatkan diri dari serbuan fansnya....” Ludwig memberi usul.
“ Tapi mengapa dia sampai mencium Sayda, dua kali lagi...” umpat Pruistin.
“ Nah, kalau yang itu aku sendiri belum tahu jawabannya. Jadi, Ramdan dan Alex sebaiknya kembali ke Yukari. Biarkan kami berdua yang mengejar Sayda.”
“ Ya, di kantor kita sedang menghadapi banyak proyek. Bu Florina tidak ada, Sayda menghilang dan aku dan El mengejarnya. Jadi harus ada yang stand by di kantor. Aku mengandalkan kalian berdua, “ ucap Pruistin. Ramdan dan Alex mengangguk.
" Kalian menunggu kereta yang akan ke Benim. Tapi kalian masih harus menunggu tiga jam lagi di sini." Ramdan menunjuk papan pengumuman di atas mereka. Ludwig dan Pruistin menengadah untuk mengeceknya.
" Kita harus melakukan sesuatu, El. Nggak mungkin kita naik kereta." Ucap Pruistin sangat cemas.
" Ya...ya...ya... aku akan menyewa emocar, sama seperti yang ditumpangi Barrium tadi. Kamu tenang saja Pru, kita akan segera sampai ke Benim." Ludwig menenangkan Pruistin. Tangannya sibuk memencet dan kemudian dia memandang Pru, Alex dan ramdan bergantian sembari mengacungkan ponselnya.
" Aku sudah dapat emocarnya. Kami pergi dulu. Ayo Pru kita keluar, sebentar lagi emocarnya akan tiba." Pruistin memeluk Ramdan dan Alex bergantian.
" Aku titip Pruistin ya El, tolong dijaga baik-baik. Kirim kami kamar segera begitu kalian tiba di Benim ya." Ludwig dan Pruistin mengangguk lalu beranjak pergi.
*******
Pada sebuah gerbong kereta eksklusif kelas VVIP yang megah dengan desain interior yang mengundang decak kagum. Sayda, gadis yang baru satu jam lalu dirayakan ulang tahunnya yang kedua puluh lima duduk tak berdaya di atas sofa merah yang empuk dengan tangan terikat , begitu pula kakinya dan mulut yang tertutup lakban silver. Sorot matanya menyiratkan kemarahan yang telah memuncak. Gadis itu sudah lelah memberontak, memukul, menendang bahkan menggigit namun semuanya sia-sia. Genangan air mengisi sudut matanya. Segenap rasa marah, takut, sedih dan kecewa membaur menjadi satu. Sayda mulai teringat dengan pria yang duduk di hadapannya. Dia pernah bertemu dengannya. Ya, dia pria yang duduk di sampingnya selama delapan belas jam di pesawat saat perjalanannya ke Solis waktu itu. Sayda tak menyangka kalau pria itu tergolong teroris, dilihat dari penampilannya yang bersih dan wajahnya yang cemerlang ─ benar-benar menipu.
“ Kalau kau sudah bisa tenang, saya akan memulai pembicaraan kita. “ Pria itu terus menatap erat ke arah Sayda semenjak tiga puluh menit yang lalu. Sayda menatap pria itu penuh kebencian. Pria itu menarik nafas panjang.
" Sayda, mohon maaf aku harus mengikat tangan dan kaki juga mulut kamu. Aku nggak punya niat buat sakiti kamu. Itu semua aku lakukan supaya kau dapat mendengarkan penjelasanku dengan baik. Enam bulan yang lalu kita pernah bertemu seelumnya kan. Aku harap kamu masih mengingatnya. Aku baru mengetahui apa yang terjadi pada kamu dua bulan terakhir ini, ya...sejak video itu beredar, dan menjawab semua keherananku selama ini. Aku tahu mantan tunanganmu masih mengejar kamu. Mungkin kamu nggak menyadari kalau beberapa kali aku memergoki kamu sedang berlari menghindari pengejaran baik Barry Latief atau Al Fleming. Kerutan di dahi Sayda tampak jelas. Setelah beberapa lama, akhirnya pria itu melanjutkan kembali.
“ Mungkin keadaan kita sama. Aku sering dipusingkan dengan ulah fans fanatik yang sudah keterlaluan dan mengganggu sekali. Karenanya aku mau mengusulkan sesuatu padamu. Kamu bisa menerima atau menolaknya. Aku tidak mau memaksamu, hanya aku mohon kamu memikirkan dan mempertimbangkan usul dariku. “ Pria itu sengaja mengulur waktu, melihat reaksi dari Sayda. Begitu terlihat gadis itu diam seolah menyimak, dia melanjutkan bicaranya.
“ Saya mengusulkan bagaimana kalau kita membuat sedikit sandiawara kalau kita sepasang kekasih dan akan bertunangan. Aku pikir dengan cara itu, fansku bisa sedikit sadar dan kamu juga akan menghentikan pengejaran Al dan Barry. Aku pikir ini bisa bersifat sementara saja dengan syarat kita harus merahasiakan ini dari publik maupun dari orangtua kita masing-masing. Bagaimana? Kita bisa membuat kontrak atas dasar win-win solution. Kita bisa menentukan kapan pengacara kita bisa bertemu.”
“ Sayda, please tolong kamu pertimbangkan hal ini. Apa saja hal yang tidak kamu inginkan bisa dimasukkan ke dalam larangan yang bisa kamu masukkan ke dalam perjanjian itu. Ada beberapa hal yang memang kita harus bicarakan untuk mencapai kesepakatan sebelum dimasukkan dalam perjanjian itu. “ Ucap pria itu serius setelah beberapa lama terdiam.
“ Setelah ini aku akan melepaskan ikatanmu dan kamu bisa menikmati makan malam, tapi maaf aku harus mengurungmu kembali dalam kamar hingga kamu mempertimbangkan dan memutuskan tentang usulku itu. Ini draf kontrak yang aku ajukan. Kamu boleh mengoreksinya. Kita dapat merundingkannya dengan baik besuk. Sekarang, istirahatlah dulu.”
“ Lepaskan dia!” Pria itu menyuruh salah satu pengawalnya yang langsung membuka ikatan pada kaki dan tangan Sayda serta lakban yang menutup mulutnya. Sayda mendekati pria itu lalu menamparnya keras sebanyak dua kali. Saat dia hendak melayangkan tamparannya, seorang pengawal pria itu menahan tangannya.
“ Biarkan dia melampiaskan marahnya. Aku memang sudah berbuat kurang ajar padanya tadi. ” Sayda terdiam tidak jadi melaksanakan niatnya.
“ Kamu, istirahat saja dahulu. Kami sudah menyiapkan bilik untuk kamu istirahat dan menyantap makan malam. Atau kau mau menemaniku makan malam yan romantis Tuan Putri?” Pria itu terkekeh pelan.
“ Dalam mimpimu, Brengsek.” Jawab Sayda. Gadis itu berbalik dan berjalan menjauhinya.
“ Sayda.... “ Sayda menghentikan langkahnya begitu namanya disebut, meskipun tanpa membalikkan badan.
“ Namaku Abisatya. Kamu bisa panggil namaku Abi,” ucap pria itu. Sayda memilih melanjutkan langkahnya.
********