Lelaki di depannya membuka pintu sebuah bilik di sisi kiri dan menyilakan Sayda masuk ke dalamnya. Kaki Sayda membatu. Pengawal itu menatap lama gadis yang terdiam di depan pintu.
" Nona.... Silahkan masuk. Nanti saya ambilkan makanan untuk anda." Sayda tetap diam, kepalanya berdenyut, kenangan masa kecilnya yang pernah disekap dalam gudang tetangga bagai film yang diputar ulang. Pengawal itu mendekat dan mendorongnya masuk ke dalam bilik kecil itu. Suara pintu tertutup terdengar, sejenak Sayda mereasa oksigen di sekitarnya menipis dia kesulitan bernafas. Telinganya mendengar suara yang cukup keras mengisi ruang kepalanya. Ya, suara-suara yang mengejeknya kalau dia adalah anak pungut, anak haram, lalu seorang anak lelaki mendorongnya masuk ke dalam gudang hingga dia terjatuh. Setelah itu mereka meninggalkan Sayda kecil di dalam gudang yang gelap, lembab. Marlin temannya pernah bercerita bahwa di gudang itu bersemayam ular besar. Itu membuat kuduknya berdiri. Dia berlari ke arah pintu dan menggedor pintu sembari berteriak dan menangis. Sayda merasa lehernya seperti tercekik, kepalanya seperti digodam dengan keras, matanya berkunang-kunang lama-lama rabun. Kakinya lemas seperti tiada tulang yang menyangga, Sayda luruh ke lantai dan seketika pandangannya menjadi gelap.
Pengawal yang membawa makanan terkejut seketika mendapati Sayda sudah tergeletak di lantai dengan wajah yang pucat. Dia menaruh makanan di atas meja dan membopong Sayda keluar bilik kembali ke ruang utama. Abisatya yang sedang bekerja dengan laptopnya kaget.
" Kenapa dia?"
" Saya tidak tahu Tuan." Jawab pengawal itu pada Abisatya. Abi mendekati gadis yang tampak pucat dan tak berdaya itu. Tangannya menepuk pipi Sayda seraya memanggil namanya.
" Sayda...Sayda...bangun Sayda. Sayda..." Gadis itu tidak bergeming.Abi meraba kepalanya, tidak panas. lalu dia menyentuh pipi dan telapak tangan Sayda yang terasa dingin. Perasaan sesal dan takut memenuhi batin Abisatya.
" Cepat panggil tim medis suruh ke sini secepat mungkin." Perintah Abi pada pengawalnya. Abi mulai menggosokkan tangannya pada pergelangan tangan Sayda supaya hangat. Ketika bibir Sayda sedikit membiru, Abisatya mulai panik. Dia sendiri juga tidak mengerti, mengapa takut sekali kehilangan gadis ini─ gadis yang diam-diam selalu diamati. Ya, bahkan Abi sampai menyewa seseorang untuk mengawasi dan mengikutinya dan melaporkannya secara berkala. Hingga sepuluh hari yang lalu, ketika orang suruhannya dipergoki dan ditangkap pengawal Alaric, maka ia mulai mengubah rencana.
Derap langkah orang berjalan dengan tergesa. Donny, dokter itu nampak sangat terkejut begitu melihat gadis yang tergolek lemah dalam pelukan Abisatya di sofa panjang merah itu.
“ Dia kenapa?” Tanya dokter itu.
“ Aku nggak tahu Lee menemukannya sudah tergeletak di lantai saat di bilik tidur tadi.” Donny memeriksa kondisi vital Sayda dan Abi mendekatkan botol minyak kayu putih ke dekat hidungnya. Desy memijit kaki Sayda.
“ Ya ampun Bi, kakinya dingin sekali. “ Raut wajah Abi menjadi pucat mendengar ucapan Desy.
“ Gimana Don, apa dia masih bisa ditolong?”
“ Sepertinya dia belum makan ya?” Tanya Donny yang membuat Desy dan Abi saling pandang. Abi menelan ludah dengan susah baru menyadari kesalahannya. Lelaki itu menggeleng.
“ Aku tidak tahu Don.” Jawab Abisatya pelan. Suara rintihan Sayda terdengar. Abi mengusap pipi Sayda.
“ Sayda...Sayda...kamu sudah sadar?” Tanya Abi antusias. Donny memeriksanya kembali.
“ Sayda, kamu bisa buka mata?” Tanya Donny. Suara rintihan yang terdengar. Lama kelamaan mata Sayda terbuka, matanya menangkap gambar beberapa orang yang tengah menatap wajahnya. Raut tertekanan dan takut terlukis di wajahnya. “Jangan bawa aku ke sana, sempit , gelap. Aku takut. Tolong jangan masukkan aku kesana, banyak ular, ada hantu.” Sayda mulai berteriak dan memegang kepalanya. Abisatya memeluknya erat berusaha menenangkannya.
“ Iya....Sayda kamu nggak akan balik ke sana lagi. Kamu di sini bersama aku, kamu aman Sayda. Aku akan menemanimu.” Abi mengelus punggungnya.
‘ Kamu aman Sayda, aman.... ada aku yang akan menjaga kamu.” Ucap Abi kembali. Akhirnya Sayda terdiam, dia bingung menatap Abisatya, Donny dan beberapa orang lainnya.
“ Kepalaku pusing.”
“ Tidurlah di sini, aku akan jaga kamu,” Ujar Abisatya lembut membantu Sayda tidur kembali pada sofa panjang. Donny memperhatikan interaksi di antara mereka dan membuat penilaian.
“ Don, bisa kamu berikan dia infus supaya tidak lemas?” Tanya Abi.
“ Sebentar lagi akan aku lakukan Bi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit begitu sampai di Benim.” Donny memberi saran. Abi menggelang.
“ Tidak...tidak...aku tidak mau beresiko di rumah sakit. Itulah gunanya kamu ikut Don. Rawat saja dia di villaku.” Helaan nafas berat dilakukan Donny sementara rahangnya mengeras, namun dia tidak punya kendali untuk mendebatnya. Setelah memastikan Sayda tertidur dan setelah Donny memasang infus, kedua pria itu beranjak menjauh,
“Claustrofobia,” ucap Donny sebelum Abi berkata seolah tahu apa yang akan ditanyakan Abi.
“ Apa?”
“ Fobia terhadap ruang sempit dan gelap.” Donny menjawab dengan santai.
“ Dia punya trauma di masa lalunya, entah itu sewaktu masih anak-anak atau saat remaja. Bantu dia untuk sembuh Bi.” Ucap Donny yang segera beranjak pergi.
Donny berjalan dengan langkah gontai. Ingatannya kembali ke masa lalu saat dia diseret oleh Bobby dan komplotannya untuk membantu mereka memasukkan Sayda ke dalam gudang milik tuan Maxwell. Sudah dua kali badannya babak belur karena menolak ajakan mereka. Kala itu dia sudah tidak bisa berkutik lagi, maka ia menuruti semua keinginan Bobby. Mengajak Sayda dan membuat gadis itu terperangkap bersama Bobby si setan cilik itu. Dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri Sayda dibully dan dipukul lalu diseret untuk masuk ke dalam gudang yang gelap. Masih terngiang dalam ingatannya jeritan gadis kecil yang sangat mengenaskan serta suara ketakutannya. Hati Donny seperti dikoyak ketika itu. Dia malu menyapa dan mengenalkan diri pada gadis yang dulu diam-diam dia sukai.
Dengan langkah mantap Donny menuju kantor polisi dan menceritakan apa yang terjadi pada Sayda. Sayda berhasil ditemukan tiga jam kemudian, namun kondisinya sangat lemah dan bibir membiru. Sayda sempat mengjalankan terapi dari psikiater untuk menyembuhkan mengalami trauma yang cukup mengerikan . Tak lama kemudian orang tua Sayda pindah ke lain kota dan Donny kehilangan jejak.
Melihat kondisi Sayda yang sekarang ini membuat rasa sayang dan bersalah yang dimiliki Donny kian menggunung. Trauma yang ditinggalkannya dan kecantikan Sayda bahkan ketika dia dalam keadaan pucat dan tak berdaya membuat hatinya bergetar hebat. Lintasan demi lintasan memori masa kecilnya berputar kembali dan muncul dalam ingatan seolah dipanggil. Sesak menggerogoti dadanya, dia adalah salah satu penyebab Sayda memiliki trauma kronis itu. Donny memejamkan matanya, mencoba mengatur nafasnya berulang kali sembari menetralkan detak jantungnya selama beberapa menit. Ketika dia membuka matanya, sebersit pertanyaan singgah di kepalanya. Jika kini mereka bertemu kembali, apakah ini takdir? Mungkin Tuhan mempertemukan mereka kembali untuk beberapa maksud. Tapi...diakah yang terpilih menjadi penyembuh bagi trauma yang dialami Sayda? Senyum samar muncul di bibir lelaki muda berkacamata itu.