Gadis itu lamat-lamat mendengar percakapan pelan antara dua pria. Dipaksakan kedua matanya terbuka. Gambar pertama yang dilihatnya adalah sebuah chandelier kristal yang besar tampak tergantung pada bagian langit-langit kamar yang luas. Sayda menatap berkeliing, ruangan yang terlihat klasik diberi wallpaper merah marun dan dipenuhi perabot vintage dengan nuansa putih gading dan keemasan ini. Dia mengerutkan keningnya, mencoba mengingat beberapa kejadian yang telah berlalu. Dia sedang berada di stasiun ketika laki-laki yang bernama Abisatya mencium dan menyekapnya dalam gerbong kereta mewah lalu dia dimasukkan dalam bilik kecil dan pingsan. Ini benar-benar kamar yang asing.
“Ah, kamu sudah bangun Nona?” Sayda menoleh ke arah suara. Lelaki berkacamata dan tinggi itu berjalan mengitari ranjang dan berdiri di sampingnya. Dia memeriksa cairan infus yang digantung pada tiang stainless yang ada di samping ranjangnya. Sayda lalu melihat lengan kiri dimana jarum infus itu tengah bersemayam. Dia mendecak.
“ Apa segitunya kalian sampai memberikan infus. Aku tidak apa-apa.”
“ Sekarang mungkin sedikit tidak apa-apa? Tapi kemarin, kamu membuat kami cemas Sayda.” Ucap Abi yang berdiri di belakang pria berkaca mata itu.
“ Kamu masih pusing ?” Tanya pria berkaca mata itu.
“ Sedikit. Mungkin karena aku lapar.”
“ Baik, aku akan menyuruh pelayan mengambil makanan untukmu,” seru Abisatya kembali.
“ Oh ya dokter, bisakah anda lepaskan saja infus ini? Toh aku juga sudah sembuh kan?” Dokter itu lama menatapnya.
“ Biarkan cairan ini habis dulu Nona, saya akan menunggunya di sini.”
“ Hem…bisakah saya mendapatkan ponsel dan barang-barang saya kembali?” Dokter itu mengarahkan pandangannya pada Abisatya.
“ Barang-barangmu ada, itu di sana.” Abi menunjuk pojok dekat meja riasdengan kaca yang besar.
“ Tapi mengenai ponselnya mohon maaf aku nggak bisa memberinya Sayda. Kita belum sepakat tentang beberapa hal.”
“ Maksud kamu apa?” Tanya Sayda. Abisatya menatapnya lama. Bersamaan dua orang pelayan datang membawa makanan.
“ Kamu makan saja dulu, nanti kalau sudah selesai baru kita bahas lagi, “ Ucap Abisatya lalu melangkah keluar kamar diikuti dokter berkaca mata itu. Sayda tak mau ambil pusing. Dia merasa sangat lapar sekali sehingga dengan segera menghabiskan makanan yang dihidangkan.
Dua pelayan itu baru beberapa menit yang lalu keluar dari ruangan, Abi dan dokter itu masuk kembali. Dokter berkaca mata itu kemudian membuka plester dan jarum yang ditanam di balik kulit tangannya dan memberi Sayda alkohol dan plester. Semua dikerjakan dengan cekatan dan tanpa banyak bicara, kemudian dia pamit pada Abi tanpa melihat Sayda.
“ Makasih ya Don…” Ucap Abisatya, dan dokter itu hanya mengangguk. Pandangan Abisatya beralih kembali pada Sayda.
“ Nah sekarang…” Tangan sayda terjulur ke depan memberi tanda kalau Abi harus menghentikan bicaranya.
“ Tunggu dulu, kita bicarakan nanti saja bisa? Aku mau mandi dulu. Kamu mau menunggu kan?” Abi terlihat menghembuskan nafas dengan berat.
“ Baik, aku beri kamu waktu lima belas menit untuk mandi lalu setelahnya kita selesaikan masalah kita. “
“ Masalah kita? Aku tidak pernah membuat masalah denganmu jadi itu masalahmu!” Balas Sayda sengit.
“ Mandilah dulu, aku akan kembali setelah lima belas menit Sayda.” Abisatya kembali membalikkan badan menuju pintu dan keluar.
Sepeninggal Abi, sayda dengan cepat membuka kopernya mengambil beberapa baju dan juga sebuah ponsel. Dengan cepat dia menyalakan dan mengetikkan pesan singkat, misscal juga chat di aplikasi percakapan. Segera dia membagikan koordinat lokasinya dan tulisan singkat : SOS. Sayda paham, ponsel cadangan itu tidak boleh sampai ketahuan Abisatya, karenanya segera dimatikan kembali ponsel tersebut lalu kembali dimasukkan ke dalam tempat tersembunyi di dalam kopernya. Dia segera menuju kamar mandi.
Tepat lima belas menit, Abisatya sudah kembali memasuki kamar itu. dia melihat Sayda sudah mengenakan pakaian rapi dan duduk di sofa sementara di hadapannya sebuah laptop sedang terbuka.
" Kamu sudah merasa enakan?" Tanya Abi berbasa-basi.
" Ya lumayan, pusing yang aku rasakan tadi mungkin efek dari lapar. Terima kasih makanannya enak." Abi mengangguk.
" Kamu nggak usah sungkan kalau menginginkan sesuatu, tinggal sebut saja. Aku akan berusaha memenuhinya." Sayda berdehem.
" Kalau aku inginnya pulang dan menjauh dari kamu bagaimana?" Abi menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Seringaian pada bibirnya terlihat licik dan melecehkan.
" Bacalah ini dulu, baru berkomentar kemudian," Tangan Abi sudah mengulurkan beberapa kertas yang dijilid menjadi seperti buku.
" Apa ini?" kening Sayda berkerut.
" Baca saja!" Perintah Abisatya. Kali ini benar-benar mengamati reaksi yang akan ditimbulkan oleh gadis itu. Benar saja baru beberapa menit saja membacanya dia sudah kembali menatapnya dengan pandangan siap meledak lalu membanting surat perjanjian itu ke lantai.
" AKU TIDAK MAU, INI GILA!" Ucap Sayda melotot.
" Kalau kamu tidak mau maka aku akan tetap mengurungmu di sini sampai kamu mau menandatanginya." Abi membalas teriakan Sayda dengan santai.
" Yang benar saja...perjanjian apa itu, selalu bersamamu dan mengaku jadi kekasihmu? Setiap saat kamu menginginkan bertemu maka aku harus menyetujuinya. KAMU PIKIR AKU PENGANGGURAN DAN TIDAK PUNYA KERJAAN HAH?" Bentak Sayda.
" Kenapa kamu setelah makan jadi makin ganas seperti ini? Tahu begitu nggak usah aku kasih makan tadi." Sayda menatapnya dengan geram.
" Oh please Abi, apa ada hal sinting lainnya yang menulis jika aku melanggar perjanjian, maka kamu akan menyelenggarakan pesta pertunangan besar-besaran dengan live straming di semua media elektronik, lalu jika aku masih melanggar kembali, maka kamu akan menyelenggarakan pernikahan kita?"
" Karena aku tahu kamu menginginkan pernikahan yang sempurna dengan orang yang sangat tepat kan? "
" Tapi itu bukan berarti denganmu, SETAN!"
" Lalu dengan siapa? Barrium Latief yang sudah mencampakkanmu?" Sayda menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam.
" Sampai kapanpun aku nggak mau menandatanganinya. Itu gila. "
" Tak masalah, mungkin lebih baik kau selalu di sampingku supaya bisa mengenalku lebih dalam."
Sayda menghela nafas berat, dia tidak mungkin selalu ada di samping Abi. Emosinya memuncak, tapi dia harus mendinginkan kepala agar bisa mencari strategi agar bisa keluar dari kungkungan Abi."