Out of Control

1372 Kata
Lelaki itu tengah menatapnya sendu gadis yang ada di hadapannya. Wanita ini terlihat lembut dan kalem dari luar tapi siapa yang tahu kalau dia menyimpan sifat tegas dan keras kepala alias kepala batu.  Dia harus mengubah strategi dengan mengajak gadis ini untuk berdialog dari hati ke hati dan mengedepankan empati.  " Sayda..." " Abi..." Keduanya mengucapkan nama dalam waktu yang bersamaan. " Kamu duluan," ucap Abisatya " Nggak kamu aja," balas Sayda.   " Lady first..." Sayda menghela nafas dengan berat. Walaupun hatinya sudah sangat panas, kalau mengikuti nafsu maunya pukul dan tempeleng laki-laki ini sampai babak belur biar kapok. Tetapi dia sangat sadar kalau hal itu tidak bisa dilakukan dan tidak akan menyelesaikan masalah. Kepalanya harus tetap dingin. Dia harus berkonsentrasi, memikirkan strategi bisa memenangkan perang urat syaraf ini. " Sebenarnya maumu yang sebenarnya apa sih Bi? Tolong katakan sejujurnya padaku." Nada suara Sayda sudah diturunkan. Abi menyeringai. " Aku ingin dekat dan kita bisa menjadi kekasih lalu menikah. Sederhana kan?" " Kamu kan bisa datang padaku baik-baik dan melakukan pendekatan seperti pria pada umumnya?" " Benarkah kalau aku datang baik-baik dan mengajakmu makan siang atau makan malam, kamu mau menerimanya? Oh Sayda, aku tahu kalau makan malam dan siangmu selalu bersama Alaric Fleming atau Ben Kobayashi. Orang baru seperti aku mana dapat kesempatan lah." " Aku lebih dulu kenal kamu lho daripada mereka, Bi. Kamu saja yang tidak ada usaha." Abisatya terkekeh pelan.  " Aku tidak yakin seandainya datang lebih dahulu dan menempuh cara baik-baik akan kamu sambut dengan sukacita. Paling juga kamu akan menghindar." Sayda mengedikkan bahunya. " Ya tergantung pendekatannya lah. Kalau sekiranya menggangggu pekerjaanku ya terang aja akan aku tolak." " Kalau menikah denganku, kamu tidak perlu bekerja keras Sayda. Semua akan aku penuhi. Aku akan memperlakukan kamu seperti seorang putri." " Seorang putri? Temanku banyak lho yang bernama Putri, maksud kamu Putri yang mana nih?" Sayda sengaja membalas dengan kalimat bersayap dan tampang dibuat seolah-olah tak paham maksud alimat Abisatya. Pria kembali terkekeh dan tersenyum, dia memicingkan matanya kemudian. " Aku akan membuatmu seperti Cinderella, putri seperti yang terdapat dalam cerita dongeng," jawab Abisatya kemudian. Sayda tertawa dan membuat Abisatya tertegun. Wanita satu ini memang penuh kejutan. Menghadapinya seperti sesuatu yang menantang. Dimana pun dia berada, sebagian besar perempuan mengejar, mengelu-elukan dirinya, berharap dan bermimpi bisa hidup bersamanya. Tapi perempuan yang ada di hadapannya seolah tak peduli dengan kehadirannya. Semua pesona, daya tarik, kepopuleran dan kesuksesannya dalam bisnis dan karier keartisannya bagai menguap di mata seorang Sayda. Raut tersinggung terlihat dari sorot mata yang dilemparkan Abi pada Sayda.  “ Bukankah setiap wanita mendambakan bernasib baik seperti Cinderella?” Tanya Abisatya heran. Sayda tertawa geli. “ Bagi sebagian wanita itu mungkin jawabannya adalah ya, tapi sebagian lagi orang seperti aku menganggap itu adalah hal konyol dan terlalu muluk-muluk. Hidup itu memang keras dan menantang, tapi menaklukan tantangan itu adalah seninya hidup telah mencapai kepuasan serta kebanggaan.” Abi memandangnya dengan sorot tak terbaca. “ Oh Sorry....Sorry, no offense ya. Maksudku itu sama sekali nggak punya mimpi untuk menjadi Cinderella. Jangankan mimpi, lintasan pikiran aja nggak ada. Buatku kesuksesan yang diperjuangkan mulai kecil hingga besar dan bisa kita pertahankan itu jauh lebih keren ketimbang dapat rejeki nomplok dinikahin pria kaya dan ganteng yang tergila-gila sama aku.” Sayda tertawa kembali seolah hal itu benar-benar lucu. Abisatya menatapnya dengan tatapan tak terbaca.  “ Aku akan memberimu kepuasan dan kebanggan Sayda,” ujar Abisatya lagi. “ Jangan berpikir kerdil Abi,  kepuasan itu bukan hanya seks atau berlimpahnya materi semata.  Tapi mencapai kesuksesan yang kita inginkan dengan kreatifitas dan terus berinovasi dengan cara yang baik dan benar, tidak menyimpang dari aturan normatif  itulah kebanggaan dan kepuasan tersendiri. Aku ingin mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.” “ Sayda, aku mau mendukung mimpimu. Aku mau jadi orang yang selalu memberimu semangat dan membantumu bangkit ketika terjatuh. Aku mau selalu didekatmu dan menjaga kamu.” Ucap Abisatya menatap lekat manik mata Sayda. “ Kalau begitu lepaskan aku, Abisatya.” Sayda berkata dengan nada sendu. Abi menggeleng. “ Langkahi dulu mayatku, sayang.” “ Abi dengarkan aku...” “ Kamu yang harus dengarkan aku Sayda,” Lelaki itu menggenggam tangan wanita yang ada di hadapannya. “ Aku benar-benar tertarik padamu dan belum pernah punya perasaan sekuat ini. Kalau aku melepaskanmu, kamu akan pergi jauh dan akan semakin membenciku. Aku ingin dekat denganmu. Bisakan kita jadi kekasih? Kamu belum mengenalku Sayda, kamu akan seperti mereka nanti.”“ Mereka? Siapa? Mantan pacarmu? Setelah kamu pacari dan menaklukannya lalu kamu tinggalkan begitu?”   “ Sayda, jangan berpikir seperti itu. Mungkin aku sering dikabarkan dengan banyak wanita, tapi kami tidak memiliki hubungan sama sekali. Semua itu sebagai olahan strategi pemasaran managerku dan timku saja.” Sayda mengerutkan keningnya. “Bi, dengarkan aku ya. Menjalani hubungan itu tidak bisa dipaksakan. Semua terjadi alami, dan rela hati dengan prinsip saling menghargai dan menghormati. Kalau tidak itu semua akan kandas diterpa badai kehidupan. “Sayda menarik nafas panjang. “ Aku janji Bi, tidak akan mengabaikanmu. Kita bisa rutin bertemu asal tidak mengganggu pekerjaanku. Kalau kamu mendukung mimpiku, pasti tidak akan menuntut terlalu tinggi. Kita bisa mulai dari awal sebagai teman. Kita belum saling mengenal kan? Jalani dulu secara alamiah ya. Terus terang aku belum bisa menjalani suatu hubungan yang berkomitmen. Tolong mengertilah.” “ Oke, tapi kamu harus menemaniku selama seminggu, Sayda.” “ APA? Aku harus bekerja Bi. Mana kami sedang menangani banyak proyek lagi.” “ Kamu tidak perlu bekerja sekeras itu kalau jadi istriku nanti Sayda. Cukup duduk tenang di sampingku semua tercukupi dan kamu akan dilayani dengan baik.” “ Apa enaknya menjalani hidup seperti itu? Aku bukan Cinderella Bi! Aku justru menderita dan akan mati bosan kalau menjalani hidup begitu. Hidup apa yang sepi tantangan.” Abisatya melayangkan pandangan heran. “ Jangan mengungkungku jika kamu mau jalan denganku. Kamu belum kenal aku Bi. Aku nggak yakin kamu kuat bersamaku nanti setelah tahu siapa diriku yang sesungguhnya.” “ Aku sudah mengenalmu banyak Sayda, tanpa kamu sadari.” “ Abisatya, lepaskanlah aku.” Sayda memohon. “ Pilihannya cuma dua sayang, aku lepaskan kamu setelah tanda tangani kontrak itu atau tinggal seminggu bersamaku.” Sayda berdecak dengan kesal. “ Aku nggak mungkin menandatangani kontrak sinting itu. Kembalikan ponsel dan laptopku. Aku perlu menyelesaikan pekerjaanku dulu.” “ Oke, keinginanmu terkabul. Tapi sekarangaku ingin kamu berganti baju karena aku mau kamu menemani aku ke lokasi shooting. Tasmu akan diantar bersama dengan pakaian yang harus kamu pakai selama menemaniku.” “ Eh, kok lokasi shooting sih?” “ Iya, karena mereka perlu mengambil gambarku dalam beberapa adegan.” “ Maksudnya kamu artis? Pemain film? Bintang iklan gitu?” Sayda bertanya sambil memicingkan matanya, mencoba mengingat-ingat. Dia memang tidak pernah mengikuti perkembangan dunia hiburan, jadi mana kenal dengan para pelaku yang terjun di dunia itu.  Gadis itu bersenandika kalau rasanya seperti mengenal dan cukup akrab dengan wajah Abisatya. Mungkinkah dia artis pendatang baru?    Sayda berjalan di belakang Abisatya ketika turun dari mobil dengan tas ransel yang bertengger di belakangnya. Abi menarik  lengannya dan menggenggam tangannya masuk ke dalam pelataran sebuah musium kota tua yang baru Sayda tahu kalau kota dimana dia berada ini bernama Benim. “ Siapa wanita cantik di samping kamu ini Bi? Pacar baru?” Tanya seorang pria yang tampaknya adalah sesama aktor. “ Ya begitulah....” Jawab Abisatya tersenyum sumringah. “ Senyumnya cerah banget, kayaknya baru jadian nih” Seorang wanita paruh baya mendekati mereka. “ Tahu aja...” Jawab Abi sambil mengedipkan sebelah mata. “ Siapa namamu anak manis?” Wanita itu mengulurkan tangannya. “ Sayda” Ucap gadis itu tersenyum sambil menjabat erat wanita yang terlihat ramah. “ Ini mami Noorin dan ini Edward, kamu pasti sudah kenalkan karena mereka sudah berkecimpung di dunia ini lebih dulu dari aku.” Sayda mengangguk diiringi senyum, tapi sejujurnya dia hanya mengenal Noorin, yang memang sudah menjadi artis sejak dia masih kanak-kanak dahulu. “ Aku di sana saja ya Bi. “ “ Iya, jangan jauh-jauh dan kemana-mana ya,” ujar Abisatya. “ Ceileh...si Abi seumur-umur baru kali ini liat dia posesif sekali sama pacarnya.” Edward tampak meledek. Sayda terlihat tidak peduli dan sudah berbalik arah duduk di sebuah bangku dan kursi di pojok yang tidak terlihat mencolok di taman samping. Abi terlihat berlari dengan wajah cemas dan hampir menabrak Sayda. “ Kamu dari mana?” Suara Abisatya terdengar sangat keras. “ Dari toilet, tadi nyasar kemana-mana.” Abi memeluknya. “ Ya ampun Sayda, aku kira kamu pergi. Bikin  kalut saja. Aku kan sudah bilang jangan jauh-jauh dari aku.” “ Nggak jauh Bi, aku Cuma cari tempat yang bisa sembari ngecharge ponsel dan laptop. Semuanya batlow. Jadi aku ada di sana.” Sayda menunjuk sudut dimana laptop dan tasnya berada. Abisatya menarik nafas lega. “ Ya sudah, kamu bisa menyelesaikan pekerjaaanmu di sana. Sebentar lagi kerjaanku selesai. Kita bisa pulang.” Sayda mengangguk.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN