Langit cerah dan matahari bersinar indah hari ini. Suara bel di pintu menandakan kalau mereka mendapat tamu. Florina bergerak menyalakan remote dan tertera wajah Ramdan pada layarnya, dia menekan tombol otomatis untuk membuka pintu apartemen.
" Hallo selamat pagi semua."
" Hai, " jawab Florina singkat dia tampak sedang menata meja makan sementara Sayda masih sibuk dengan adonan kue yang sedang dia tuang ke dalam loyang dan masukkan ke oven. Sayda segera berdiri dan mulai mengaduk masakan yang ada di panci dan memperhatikan bumbu pasta yang baru dia masukkan ke dalam sebuah wajan besar.
" Wah, makan besar kita nih."
" Itu tuan puteri lagi cerah ceria hari ini, apa saja dimasak," ucap Florin memberi kode dengan dagunya. Ramdan terkekeh senang
" Lumayan kestabilan perut cukup aman hingga nanti malam," ucap ramdan sambil mengelus perutnya. Sayda tidak begitu mempedulikannya, dia menyeka keringat yang keluar dari keningnya.
" Bu, kuenya sudah saya pasang timer. Titip dulu ya, saya mau mandi sebentar."
"Oke"
" Cie yang kencan. Baru pindah empat hari udah dapat gebetan baru." Ramdan mendekati gadis itu yang langsung di lempar serbet oleh Sayda.
" Kita orang baru di sini Dan. Aku nggak enak mau nolak permintaan Bu Dewi."
" Kentara banget kalau kalau Bu Dewi mau jodohkan Dida dengan anaknya."
" Trus kenapa, kamu cemburu?" tanya Florina.
" Ya nggak lah Bu. Rugi cemburu sama Dida. Maksud saya kok nanggung sih Bu Fleming cuma jodohkan satu anak, nggak sekalian semuanya gitu loh."
" Trus kamu berharap dijodohkan sama Angelica gitu?"
" He...he...he... bercanda Bu, tapi siapa tahu saya bernasib baik ya." Ramdan cengengesan.
" Angelica masih kecil Dan. Kamu nggak mau terlihat seperti ped*fil kan?" Sayda menyeletuk pembicaraan mereka.
Beberapa saat kemudian Sayda kembali dengan setelan jumpsuit biru dengan kedua puncak bahu yang sedikit terbuka dan riasan tipis di wajahnya. Rambutnya dikuncir satu ke belakang menyerupai ekor kuda. Penampilannya tampak segar dan Sayda terlihat layaknya sebaya dengan Angelica yang baru lulus SMA, terlihat manis dan menggemaskan. Ramdan bersiul melihat penampilannya, sedangkan Florina tersenyum.
" Kamu kencan sambil bawa berkas itu Da?"
" Ya nggak lah Bu. Ini hasil perhitungan volume dan harga yang sudah saya kerjakan tadi malam dari hasil racangan yang dibuat Ramdan dua hari yang lalu. Mungkin nanti ibu atau Ramdan bisa memeriksanya kembali."
" Ooh gitu, ya sudahlah ayo kita sarapan dulu."
" Tadi pagi-pagi banget Pru telpon aku dan dia titip salam buat kamu." Ucap Ramdan setelah mereka sudah duduk di meja makan.
" Beneran Pru nelpon? Iih jadi kangen deh. Dia baik-baik saja kan Dan?" Ramdan mengangguk.
" Sepertinya ada pria yang mengejarnya deh."
" El bukan?" Tebak Sayda kemudian memasukkan kue ke dalam mulutnya.
" Kok kamu tahu Da?" Sayda menelan makanan terlebih dahulu kemudian menjawabnya.
" Malam itu di acaranya Irwan, aku sempat menyusul Pru ke rooftop, ternyata di sana dia sedang membantai El."
" Membantai?" Florina menaikkan satu alisnya.
" Saya lihat pria itu, El babak belur digebukin Pru, Bu. Lalu saya dan beberapa orang memisahkannya. Di saat itu El berulang kali menyatakan cinta pada Pruistin."
" Mengerikan sekali anak itu, orang menyatakan cinta kok dibalas pukulan."
" Pruistin ngomong apa lagi Dan?" Tanya Sayda lalu melanjutkan makannya dengan santai. Ramdan diam, terlihat sedang mengulur waktu.
"Dan? " Ramdan menatap Sayda lama, mempertimbangkan sesuatu yang akan diucapkannya.
"Ada Apa?" Sayda mengernyit. Ramdan menghela nafas berat.
" Orang suruhan Barrium terus menguntitnya. Dia sempat pulang karena Barrium kecelakaan. "
" Kecelakaan?" Wajah cemas Sayda terpampang jelas.
" Ya, mobilnya rinsek jatuh dari jembatan layang. Meskipun Barry sempat tidak sadar dua hari tapi kondisinya berangsur pulih. Sebelum kecelakaan itu, dia sempat ke Delf mencari kamu dan berkunjung ke rumah orangtuamu, ayahmu sangat berang lalu langsung mengusirnya. Keluargamu sudah tahu kalau Barry berselingkuh dengan Ardilla dan mengkhianati kamu. Ayahmu langsung memutuskan hubungan pertunangan kalian lalu segera mengusirnya dari rumah. " Rona wajah Sayda berubah. Ramdan menarik nafas panjang, memperhatikan ekspresi wajah Sayda dan menilainya.
" Pru mengatakan setelah sadar dia memanggil nama kamu terus Da. Begitu mengetahui kondisi Barrium sudah membaik, orangtua Ardilla datang lalu menuntut Barry harus bertanggungjawab menikahi anaknya yang hamil. Kondisi Barry tambah terpuruk, depresi berat dan mengamuk. Ardilla beberapa kali menemuinya dan dia hampir mati dicekik Barry." Florina dan Ramdan memandang lekat Sayda, mencoba memperhitungkan ekspresi wajah gadis itu. Tapi boleh diakui keterampilan pengendalian diri Sayda cukup tinggi. Walau awal terlihat sedikit kalut, namun beberapa detik kemudian dia mampu mengatasinya. Sayda tak menampilkan ekspresi berlebihan, wajahnya datar menanggapinya, tapi Florina dan Ramdan yakin hatinya pasti sedang bergejolak. Perut Sayda seperti bereaksi,lambung dan ususnya bersepakat mengirim sinyal kenyang tiba-tiba. Tapi demi kesopanan, Sayda berjuang untuk tetap makan dan membuat piringnya kosong. Mereka menghabiskan sisa makanan dalam diam.
Sambil membereskan meja makan, kemudian Sayda memulai percakapan kembali.
" Oh ya Dan, kemarin Bu Flemming kok mengatakan video viral Ardilla dan Barry, maksudnya apa? Semalam aku belum sempat mencarinya, makanya aku tanya kamu sekarang. " Memori Sayda terlontar pada kejadian saat di pesta Irwan. Ardilla mengatakan bahwa dia memiliki bukti yang tidak bisa dipungkiri Barry. Apakah ini ada hubungannya dengan video viral tersebut?
Ramdan dan bu Florina saling bertukar tatap, seolah melalui tatapan mereka saling berbicara dan mengerti satu sama lain.
" Erg...kamu bisa lihat di mesin pencarian ponsel kamu tentang hal itu, tapi... kalau nggak kuat hati sebaiknya nggak usah." Ramdan memberi saran mencoba melempar umpan untuk mengetahui reaksi Sayda. Gadis itu tertawa pelan, sekedar kamuflase untuk menutupi susana hati yang amburadul. Jauh di lubuk hatinya dia sudah bisa menerkanya.
" Bikin penasaran kamu Dan." Sayda menyambar ponsel yang ada di dekatnya dan jemari lentiknya sibuk menekan layar sentuh. Beberapa menit kemudian, raut wajah sayda berubah , campuran antara tegang dan kaget. Gadis itu memandang Florina dan Ramdan bergantian yang sudah terlebih dahulu memberikan tatapan prihatin kepadanya. Tubuh Sayda gemetar dan bibirnya bergetar menyaksikan dua video yang baru diputarnya. Meskipun sudah mampu menerka apa isi video itu sebelumnya, namun ketika melihatnya langsung membuat shock juga. Walau bagaimana pun, dia pernah mencintai Barry sepenuh hati. Pengkhianatan yang membuat Sayda pergi dari sisinya. Florina dengan cepat meraih dan menggenggam erat tangannya.
“ Sayda...”
“ Bu, saya tak menyangka ini beredar dan menjadi viral... jijik melihat video ini. “ Florina memandang prihatin.
“ Aku nggak yakin itu Barrium, walau wajah Ardilla terlihat jelas, “ sambar Ramdan cepat.
“ Kenapa kamu seyakin itu?” Tanya Florina menyelidik.
“ Barry dan aku sering olahraga bersama, futsal, basket, renang atau sekedar main tennis. Aku cukup mengenal badannya saat kamisalin pakaian di ruang ganti. Beberapa kali juga kami mandi sauna bersama beberapa teman yang lain. Wajah lelaki dalam video itu samar, namun ada yang aneh. Gambar tubuh lelaki itu dengan jelas menampilkan kalau ada tatto di lengan , d**a dan paha lelaki itu. Barrium Latief sama sekali tidak punya tatto. Jadi, aku yakin lelaki yang bermain dengan Ardilla dalam video itu bukan Barrium. “ Ramdan berucap jelas membuat Sayda menganga. Dia yang bertunangan dengan Barrium sama sekali tidak pernah memperhatikan itu.
“ Tapi Dan, aku melihat jelas mereka sedang nempel dan berhubungan intim di kamar Radium. Dan aku punya rekamannya. Yang menyaksikan tidak hanya aku, tapi Mona dan Pru. “
“ Tapi video itu tidak ada kan? Yang ada hanya rekaman CCTV saat kamu keluar dan menangis,” ujar Florina.
"Ya nggak mungkin lah video itu yang keluar beredar di internet. Rekamannya hanya ada di ponsel milik Pruistin karena dia yang merekamnya saat itu. Sangat tidak mungkin Pru yang menyebarkan kebobrokan perilaku kakak yang sangat disayanginya. Pru langsung mengganti ponselnya lalu ponsel lamanya dia menaruhnya di dalam brankas di kamarnya. Aku tahu betul itu." Florina menghembuskan nafas panjang sambil menepuk bahu Sayda.
“ Netijen sejagad maya bersimpati pada kamu Sayda. Mereka semua memberikan support yang besar untuk kamu. Ada kemungkinan orangtua dan keluarga kamu mengetahuinya dari dunia maya . “ Ramdan memberitakannya dengan penuh simpati. Mereka terdiam beberapa saat.
“ Aku malu sekali terkenal sebagai gadis yang dipecundangi. Semoga heboh dan viralnya video itu hanya sebentar dan cukup di Argatan saja, nggak usah sampai ke Solis.” Sayda tersenyum miris.
“ Selain untuk urusan pekerjaan, kami di sini memang ada untuk mendukung kamu bangkit kembali, Dida.” Mata Sayda berkaca-kaca menatap Florina dan Ramdan bergantian.
“ Terima kasih ya Bu Florina dan Ramdan, kalian ikhlas jauh dari keluarga untuk menemani dan support aku. Keduanya tersenyum dan menggenggam lengannya seolah memberi kekuatan.
“ Udah, kamu siap-siap saja dulu. Biar yang lain aku dan Ramdan yang bereskan.” Florina memberi kode dengan dagunya. Sayda mengangguk dan berlalu. Tepat ketika Sayda masuk ke dalam kamar, bel apartemen mereka berbunyi.
“ Tuh pangeran kamu udah datang. “
“ Iiih Ibu, kok pangeran sih? Saya dan Al baru berteman.”
“ Ya kan dari temen jadi demen nantinya.” Florina mengedipkan sebelah matanya. Ramdan membuka pintu dan tampil wajah ceria Alaric di sana. Sayda menghampiri mereka.“ Aku berangkat dulu ya Bu, Ramdan,” ucapnya sambil meraih tas selempangnya.
“ Oke, selamat bersenang-senang.”
******
" Kamu keberatan kita naik sepeda motor?" Tanya Alaric yang disambut dengan gelengan kepala Sayda.
" Nggak sama sekali. Aku suka naik motor. " Wajah Alaric langsung berbinar begitu mendengar jawaban Sayda. Dia mengulurkan helm untuk digunakan sayda melindungi wajahnya. Pagi itu seolah telah mendapat firasat, maka Sayda mengenakan jumpsuit yang casual namun masih terlihat manis dan feminin untuk mengakomodasi aktivitasnya.
“ Pegang pinggangku yang kuat Dida.”
“ Siap Pak.” Alaric tersenyum lebar mendengar jawaban Sayda dan merasakan hangat pada lingkar pinggangnya. Alaric mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Ketika pemandangan yang berubah dari suasana kota ke nuansa pedesaan membuat Sayda sangat antusias.
“ Al, berhenti sebentar boleh nggak. Aku mau foto di tempat itu. Lucu banget sih bunganya.” Sayda berteriak mengalahkan suara angin dan deru kendaraan.
“ Nanti saja, aku tahu tempat yang lebih bagus dari ini,” balas Alaric.
“ Oke.”
Sayda tampak puas berada di sana. Dia mengeluarkan ponselnya dan sibuk mengklik gambar panorama kemudian selfi dengan berbagai gaya.
“ Al tolong fotokan aku dong.” Alaric dengan sigap mengambil ponsel Sayda dan meladeni semua keinginan Sayda menjadi fotografer dadakan. Dia geli melihat tingkah Sayda. Kalau sudah seperti itu gayanya seperti masih remaja, wajahnya yang imut seolah meyokong pendapat itu.
“ Sudah cukup fotonya Da, perjalanan kita masih jauh.” Al mengingatkan dan Sayda menuruti perintahnya.
Mereka sampai di sebuah kebun anggur yang luas. Di puncak sebuah bukit terdapat pabrik anggur dengan rumah tua yaang masih terawat dengan baik. Alaric menghentikan motornya dan Sayda turun dari sepeda motor.
“ Al, ini indah sekali. Aku mau foto lagi dong.”
“ Nggak mau masuk dulu?”
“ Nanti aja Al.” Sayda berlari menyusuri ladang anggur yang ada di kaki bukit. Sayda masuk ke sana dan mengambil beberapa gambar lagi. Alaric mengikutinya sambil tersenyum.
“ Mau aku bantu ambil beberapa foto lagi Da?”
“ Tentu saja.” Mereka asyik bercanda dan selfi hingga akhirnya sampai agak ke tengah kebun. Kaki Sayda terpaku melihat pemandangan di depannya. Sepasang sejoli tengah melakukan sesi foto pre wedding, mereka tampak serasi dan begitu bahagia. Air bergulir dari ujung matanya tanpa bisa dicegah dan itu tak luput dari pengamatan Alaric yang baru sampai di sisinya.
“ Kamu kenapa Da? “ Sayda berjengit kaget dengan kedatangan Alaric.
“ Eh, nggak apa-apa.” Alaric mengikuti ke mana tatapan mata Sayda tertuju dan menemukan pasangan yang melakukan sesi foto pra nikah itu. Lelaki itu paham.
“ Kamu habis putus cinta ya?”
“ Bu Flemming yang memberitahumu?”
“ Nggak. Tebak aja. Apa yang aku katakan tadi benar?" Sayda terdiam dan berlalu hingga menemukan sebuah bangku dan duduk di sana. Alaric mengikutinya. Setelah menghela nafas berulang kali, dia kembali berbicara.
“ Kami baru putus sebulan yang lalu.”
“ Owh..”
“ Gagal nikah karena dia selingkuh di belakangku dan menyebabkan partner selingkuhannya hamil.”
“ Karena itu kamu memutuskan hubungan dengannya?” Sayda mengangguk.
“ Ya begitulah, Al.”
“ Kamu masih kecewa dan marah saat ini?”
“ Iya. Walaupun aku sudah berusaha melupakan dan memaafkan mereka tapi aku nggak bisa bohong kalau masih sakit sih rasanya.”
"Manusiawi sih. Waktu dan kesibukan nanti yang bisa menguburnya. Juga cari pasangan baru, pacar baru. Siapa tahu jodoh kamu ketemu di sini."
" Maunya sih gitu. Tapi aku masih malas saja berhubungan dengan laki-laki selain pertemanan biasa." Alaric tersenyum penuh arti.
“ Tapi aku senang mendengarnya Da.”
“Hah?”
“ Artinya kamu ditakdirkan untuk mendapat pria yang lebih baik darinya.” Alaric mengatakan dengan memandang ke arah lain. Sayda menarik nafas panjang.
“ Yuk kita masuk dulu.”Al menggandeng tangan Sayda kembali ke rumah tua. Alaric tampak tengah sibuk menceritakan tentang perkebunan dan pabrik anggur yang dikelolanya yang sudah berdiri sejak zaman feodal dahulu. Mereka menamai rumah tua itu Vin Fidéle.
“ Anggur Setia? Kesetiaan anggur?” Tanya Sayda.
“ Ya, kamu tahu anggur yang disimpan puluhan sampai ratusan tahun itu menanti tuan yang tepat untuk datang mengambil dan mencicipinya.”
“ Ooh...”
“ Waktunya makan siang Sayda, kokiku sudah membuat santapan istimewa untuk kita. Ayo !” Alaric kembali menarik tangannya dan Sayda setengah berlari mengikuti langkah Alaric yang panjang. Sayda bertanya dalam hati, mengapa lelaki ini kok senang sekali menarik dan menggenggam tangannya.
**********