Jamuan Malam

2005 Kata
Langit cerah dengan warna biru dan arakan awan putih yang menghiasinya. Sayda merasa badannya sangat segar untuk memulai aktivitas di benua Kuavos ini. " Bisa tidur nyenyak Sayda?" Tanya Dewi istrinya Takeshi. " Bisa banget Bu. Terima kasih Ibu dan Bapak berbaik hati memberikan tiket kelas bisnis sehingga saya bisa istirahat total selama perjalanan." Sayda tersenyum lebar. " Ya sudah, ayo kita ambil bagasinya lalu keluar, ini saya dapat notifikasi kalau mereka sudah menyiapkan penjemputan," Ujar Takeshi menyela.  " Kamu nggak apa-apa Dida? " Sayda menoleh ke sampingnya. Dewi, istri bosnya berusaha mensejajari langkahnya. Sayda memberikan senyum terbaik untuk wanita yang hampir seumur ibunya.  " Seperti yang ibu lihat, saya baik-baik saja kan?" Sayda memamerkan wajah cerianya kepada Dewi. Dewi tersenyum tapi matanya menampilkan keprihatinan yang tidak bisa ditutupi. Dia sudah tahu tentang berita itu, tentang tunangan Sayda yang berselingkuh dengan teman sejawatnya di rumah sakit. Dewi menahan tangan Sayda membuat gadis itu berhenti berjalan dan berpaling padanya.  Dewi menggiring Sayda kepinggir agar tidak menghalangi jalan. Diperhatikan wajah gadis itu dengan cermat. Sayda menunggu apa yang akan dikatakan  Dewi. Akhirnya Dewi tersenyum dan menepuk lengannya. “ Ibu ingin kamu bisa betah dan bahagia di sini Nak. Banyak orang yang sayang sama kamu, kamu bisa mengandalkan saya juga.” Sayda sedikit kaget. Mungkinkah dia juga mengetahui hubunganku dengan Barrium Latief yang kandas karena Ardilla?” Sayda tersenyum dan mengangguk. “ Terimakasih banyak atas perhatiannya Bu.” “ Nggak usah sungkan Nak, kamu sudah ibu anggap seperti anak Ibu sendiri.”  Ucap Dewi sambil melangkah dengan Sayda di sisinya. Mereka terlibat beberapa obrolan sembari menunggu bagasi mereka datang.   Sayda tampak kesulitan membawa banyak belanjaan yang dikeluarkan dari mobil yang dikemudikan Florina. Mereka berada pada car port yang berada pada lantai yang sama dengan apartemen mereka. Ramdan yang sudah turun ke tempat parkir sudah terlihat untuk membantu membawanya. “ Borong Bu, seisi pasar dibawa ke sini semua nih?” “ Nggak usah cerewet deh Dan. Nanti juga bakalan kamu yang nikmati.” Ramdan membuka pintu untuk masuk ke apartemen mereka. “ Masih banyak di mobil Dan. Tolong kamu Bu Florin aja.” “ Oke”   Mereka menyewa dua apartemen studio. Satu yang agak besar dengan tiga kamar tidur yang akan ditinggali Sayda dan Pruistin, sementara satu lagi yang akan ditempati Ramdan dengan dua kamar tidur. Apartemen yang mereka tinggali sementara ketika berada di Solis ini tidak terlalu tinggi hanya terdiri dari  lima lantai serta berada di pinggiran kota. Hanya butuh waktu dua puluh hingga tiga puluh menit ke pusat kota dimana kantor perwakilan perusahaan dimana mereka bekerja berada. Bos mereka, Takeshi Fleming dan keluarganya tinggal terpisah. Pengusaha handal itu memiliki banyak aset di negara ini, salah satunya adalah kediaman pribadi yang  cukup mewah yang sama-sama terletak di pinggir kota lokasi kampus ternama negara ini, tempat dimana putri semata wayang mereka akan menuntut ilmu. Fleming memiliki dua orang putra dan seorang putri. Jadi Angelica adalah putri kesayangan keluarga mereka.  Dua orang putranya yang tampan juga memegang usaha sendiri, bahkan anak keduanya yang seorang pilot mulai merintis maskapai penerbangan sendiri untuk daerah-daerah pedalaman di Argatan. “ Jam berapa nanti jemput Pru, Dan?” Sayda bertanya dengan tangan yang masih mengaduk masakan di atas wajan. Dia tampak sibuk di dapur menyiapkan makan siang untuk mereka, sementara Ramdan sedang mengambil air di dispenser. “ Pru?” Florina yang tengah memasukkan barang belanjaan mereka tadi ke dalam lemari tampak terkejut. “ Lho, ini sudah lewat tiga hari. Bukankah jadwal kedatangan Pru sekarang?” Florina dan Ramdan saling bertukar tatap. “ Pru nggak datang hari ini Da.” Ucap Ramdan dengan [elan. “ Oh ya? Dan dia tidak memberitahuku, atau kalian merahasiakan sesuatu dariku?” ucap Sayda curiga. Florina menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. .” Pru sedang aku tugaskan presentasi ke Grasberg.” Jawab Florin santai. “ Lho berubah acara lagi nih?” “ Kamu pikir untuk apa aku ikut kalian? Apa sanggup kalian mengatasi tugas ke beberapa negara dan lembaga yang ada di benua ini hanya berdua atau dibantu beberapa tenaga lokal yang belum berpengalaman?” Ucap Florina menatap Sayda yang masih terdiam namun raut wajahnya masih  menyisakan bingung. Ramdan sedang mengetukkan jemarinya pada gelas yang sedang dalam genggamannya. Setelah beberapa lama dia pun berdehem. “ Pru sedang dalam pantauan Barrium, Dida.” “ MAKSUDNYA?” “ Sehari sebelum kita berangkat, Pru ditawan mantan tunanganmu itu. Barry memaksanya untuk memberitahu dimana kamu berada. Dia marah sekali ketika Pru memberikan cincin pertunangan dan gelang pemberiannya yang kamu titipkan padanya. Kamu tahu nggak kenapa Barry marah?" Sayda menggeleng. ramdan kembali melanjutkan kalimatnya. " Di gelang dan cincin itu, Barry meletakkan chip pelacak lokasi. Begitu dia tahu tidak mampu memantau keberadaanmu maka itu menjadikannya frustasi. Pruistin bersikeras tidak mau memberi tahu dimana kamu berada saat itu. Pru hanya bilang bahwa kamu sudah resign. Barry benar-benar datang ke kantor dan menemui Bu Ana hanya untuk sekedar menguji ucapan Pru.” Ramdan menghela nafas. “ Aku pikir kalau memaksa Pru ke sini maka sebenarnya kita sedang memberi lokasi keberadaan kamu pada Barry. Aku yakin dia sedang menyebarkan orang untuk membuntuti speupunya itu. Makanya untuk satu atau dua bulan ke depan lebih baik Pru ditugaskan ke negara lain untuk mengecohnya. Dan Pak Fleming menyetujui ide ini. “ Florin menepuk bahu Sayda melihat gadis itu menampakkan raut sedih. Sayda sungguh tidak menyangka dibalik sifat keras, arogan dan perfeksionis bosnya itu untuk masalah pekerjaan, tersimpan besarnya empati dan perhatian untuk anak buah seperti dirinya. “ Oh ya kita diundang makan malam ya di kediaman pak Fleming nanti malam. Kalian harus mempersiapkan diri. Bu Dewi tadi meneleponku.”  “ Asyik...makan gratis. “ Mata Ramdan langsung berbinar. “ Makan gratisnya atau ketemu Angelica-nya yang bikin kamu kegirangan seperti itu Dan?” “ Dua-duanya Bu. Nggak menyangka ya, Pak Fleming itu memberi kita libur  tiga hari untuk menghilangkan jetlag dan adaptasi sebelum mulai kerja di kantor baru.” “ Empat hari Dan. Kamu lupa nggak memasukkan hari minggu untuk dihitung ya?” “ Oh iya Bu.” Ramdan mulai cengengesan nggak jelas kalau sudah menyangkut Angelica. Lelaki itu menyikut Sayda. “ Apa sih Dan?” Tanya Sayda sedikit sewot. “ Semangat sayang, siapa tahu kamu bertemu cinta sejati yang kelak ditakdirkan jadi jodohmu di negara ini.” Ramdan tersenyum sambil menaik-turunkan sebelah alisnya. “ Aamiinn. Kok nggak diaminkan sih Da?” Sindir Florina. “ Aamiiin.” Ucap Sayda pelan dengan ketidakyakinanan di hatinya.   *****   Sayda mematut dirinya di depan cermin besar di dalam kamar. Rok putih selutut dan atasan hitam dari rayon dengan sentuhan brokat sebagai pemanis dengan potongan sederhana ditambah dengan aksesoris kalung mutiara terlihat sangat elegan. Sayda memang tergolong pintar memadupadankan pakaian. Dia menata rambutnya yang dibiarkan tergerai dan hanya diblow pada ujung bawahnya. Suara ketukan pintu kamarnya terdengar.  Setelah mempersilakan masuk, tampak Florina dan Ramdan di depan pintunya. “ Udah rapi ya? Cantik...kok Da.” Ucap Ramdan ketika melihat Sayda masih mematutkan diri di depan cermin dan tak mengindahkan keberadaan mereka. “ Kalau udah siap, ayo kita berangkat.” Florina memberi perintah membuat Sayda pada akhirnya mengikuti langkah atasan dan temannya itu. Mereka segera bergegas meninggalkan apartemen menuju carport. Keberuntungan masih berpihak pada mereka. Selain diberi fasilitas apartemen,  perusahaan mereka juga memberi pinjaman kendaraan roda empat untuk memudahkan mobilitas mereka dalam bertugas. “ Mengapa Pru nggak menghubungi aku sejak kita meninggalkan pesta Irwan ya Dan? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Sayda begitu mereka ada di dalam mobil. “ Dia baik-baik saja kok.  Aku yakin Barrium telah menyadap ponselnya untuk mengetahui keberadaan kamu. Kalau kamu memang menghendaki kembali berhubungan dengan Barrium ya silahkan saja meneleponnya. Aku jamin satu kali dua puluh empat jam dia bakal menemukanmu dan menyeret paksa diri kamu seperti dulu untuk kembali ke Argatan.” “ Kami bahkan harus memberi kode khusus kalau mau menyebut kamu,” ucap Florina. “ Oh ya ? Apa kode yang kalian berikan padaku?” “ Moon Lee” “ Hah? Kok seperti nama artis sinetron negara tetangga sih?” “ Nggak lah, cuma mirip doang. Namanya, orangnya enggak.” Jawab Ramdan sekenanya. " Iyalah aku tahu kalau  aku cakepan dikit kan, tapi dia yang banyakan?" sindir Sayda. Ramdan terkekeh. “ Bu Florin kok hapal jalanan di Yukari ya?” “ Saya dulu pernah kuliah dan sempat bekerja di sini selama beberapa tahun, Dida.” “ Oh...pantes aja.” “ Atas dasar itulah,  saya yang dikirim membantu pembukaan perwakilan perusahaan di sini. Nah, kalian perhatikan dengan cermat jalanan kota ini karena waktu kalian akan banyak dihabiskan di kota ini.” Keduanya tampak manggut-manggut.   Malam itu Takeshi Fleming mengadakan semacam syukuran kecil rumah yang baru dibelinya sekaligus perkenalan pada beberapa teman dekat, relasi bisnisnya dan beberapa orang yang baru direkrutnya untuk pembukaan kantor baru. Sayda dan Ramdan merasa beruntung dia bisa mengenal lebih awal rekan-rekan yang akan bekerja bersamanya di kota itu dan ia merasa nyaman. Sayda tidak dapat menyembunyikan kegembiraan hatinya kembali menemukan suasana baru yang lebih segar dan orang-orang yang menyenangkan. Sebuah harapan baru terbit di hatinya. Tanpa disadarinya sepasang mata tengah mengamatinya dari jauh. Dia memilih tidak mendekati Sayda, hanya terus mencuri-curi pandangan pada wanita itu.   Sayda menoleh ketika tangannya ditepuk seseorang. “ Kamu menikmati acaranya?” Sayda tersenyum dan mengangguk. “ Iya Bu, terima kasih sudah mengundang kami.” “ Ibu bahagia lihat kamu sudah bisa tersenyum lebar dan tertawa Nak. Kamu pasti terguncang hebat melihat viralnya video m***m mantan tunangan kamu sama anak Walikota itu ya.” Sayda terpana. “ Video...video...  video apa ya Bu?” Kali ini Dewi yang terkejut menutup mulutnya. Sorot mata bersalah bercampur perasaan tidak enak mengaduk benaknya. Mengapa kelihatannya dia seperti wanita penggosip ya. Dewi menggelengkan matanya. “ Sudahlah itu nggak penting. Yang berlalu biarlah berlalu, ibu berdoa semoga untuk kebahagiaan kamu Nak. Semoga kamu betah di sini dan bisa bertemu dengan cinta sejatimu.” Sayda mengerutkan kening. Ada perasaan menggelitik dan penasaran berbaur dalam benaknya.  Dewi melambaikan tangannya pada seseorang . “ Oh ya Sayda, ada seseorang yang mau Ibu kenalkan." Seorang pemuda mendekati Sayda. "Ini Alaric anak sulung Ibu. Al kenalkan ini Sayda,” ucap Dewi tersenyum. Sayda menggeser sedikit badannya dan menemukan sosok lelaki tinggi berkacamata yang sedang menjulurkan tangan di depannya. “ Alaric, kamu bisa panggil Al saja.” Sayda tersenyum memperlihatkan guratan kecantikannya. “ Sayda, kamu bisa panggil saya Dida.” Sayda sedikit heran karena putra pertama bos besarnya ini jarang terekspos di Argatan. Rasanya putra pertama Takeshi Fleming ini juga jarang  terlihat saat perayaan yang diadakan berkaitan dengan perusahaan. Hanya Adrian putra keduanya yang  pilot dan Angelica yang menawan yang sering menemani orang tuanya. Dewi segera pamit dan meninggalkan keduanya. “ Sudah berapa lama  kerja di perusahaan Papa?”  “ Yah sekitar tiga tahun.” “ Sudah pernah ke Solis sebelumnya? “ “ Ini yang pertama. Saya hanya pernah magang di Turmen dan berlibur di Greenland.” “ Senang tempat yang romantis rupanya?” Sayda tertawa, saya hanya mengikuti polling terbanyak karena bersama teman-teman waktu itu.” “ Jadi anda yang menjadi direktur kami?” “ Oh tidak. Saya mengajar di Solisian University dan punya beberapa dealer dan bengkel mobil di sini.” “ Ooh.. maaf saya tidak tahu karena anda sepertinya jarang terlihat di setiap acara perusahaan.” “ Nggak apa-apa Sayda. Saya sibuk di sini dan memang jarang pulang ke Argatan. Saya lebih sering berkeliling di benua Kuovos saja.” Dewi Fleming mendekati Sayda dan Alaric kembali. “ Nah, sudah kenal kan? Besuk hari minggu, apa kamu bisa membantu Sayda untuk berkeliling agar dia tidak tersesat di sini nanti, Al? “ Alaric berdehem. “ Mama... Sayda mungkin ada acara sendiri.” Dewi berpaling pada Sayda. “ Sayda, kamu ada acara besuk?” Sayda nampak kaget dengan serangan dari Dewi Fleming ini. Dia mengangkat bahu dan memiringkan sedikit kepalanya. “ Nah, nggak ada kan?" Jawab dewi cepat.  " Kamu bisa buat janji bersama Sayda besuk siang,” ucap Dewi promotif. Alaric menggaruk kepalanya. “ Kalau aku jemput kamu besuk jam sepuluh pagi, kamu bisa?”  “ Hem...Oke.” “ Nah gitu dong.” Ucap dewi sambil menepuk lengan putranya. Keduanya melongo melihat Dewi yang tampak cerah wajahnya sebelum berlalu dari hadapan mereka.     ******  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN