Mengenakan celana jeans dan kemeja biru muda dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung bangirnya, Sayda melangkah mantap menuju pintu bandara. Dua buah koper besar dan satu tas tenteng dan satu ransel didorongnya. Dia mengambil barisan untuk diperiksa petugas.
" Weits...kopernya nggak kurang besar Bu?" Ramdan tampak di barisan belakang.
" Bu Florin dan Pruistin mana?"
" Bu Florin sepertinya sebentar lagi sampai bandara. Pru sudah aku hubungi nggak diangkat."
" Dan, jangan sampai bocor lho yah. Aku nggak mau ada drama di sini."
" Iya...iya.. kamu kan juga sudah ganti nomor ponsel kan?"
" Iya, aku ganti nomor Kuovos. Sesuai saran kamu. " " Good"
" Eh, surat resign aku udah kamu serahkan bu Ana HRD kan?"
" Surat pura-pura resign kamu itu? Sudah sih."
" Bu Ana bisa amanah dan aman kan?"
" Insya Alloh aman, karena hanya diperlihatkan pada Barrium jika terdesak. Pak Takeshi juga sudah ACC rencana kita ini. "
" Haaah...aku lega Dan."
" Kecuali kalau Pru yang membocorkan pada Barrium." Sayda merengut/
" Aahh....kamu nakut-nakutin aku aja deh."
" Eh Da, Pruistin WA nih. Katanya dia baru bisa berangkat dua tiga hari lagi. Ada urusan yang belum selesai dia kerjakan."
" Urusan ? Urusan apa sih?"
" Kok tanya aku sih Da, mana aku tahu lah." Berdua mereka melangkah beriringan setelah selesai urusan bagasi dan imigrasi.
" Aku belum sempat makan tadi, Da. Sarapan dulu yuk."
" Oke, sekalian nunggu Bu Florin dan Pak Takeshi."
" Pak Takeshi ikut?" Ramdan melotot.
" Iya, Pak Takeshi, Bu Dewi istrinya dan Angelica putrinya."
" Apa? Angelica ikut?" Wajah Ramdan berseri ceria seperti bunga-bunga yang bermekaran pada musim semi.
" Iiiihh... lihat deh muka kamu tuh, bikin geli. Kamu naksir Angelica, Dan? Ya ampuunnn.... dia baru lulus SMA Dan. Sadar wooyyy..itu anaknya Bos." Sayda tertawa melihat reaksi sahabatnya.
" Sadar banget aku Da. Apalah artinya diriku cuma remahan rempeyek." Sayda ngakak melihat Ramdan yang wajahnya kemerahan dan cemberut.
" Hei rame banget sih, ada apa?"
" Lho ibu cepat banget udah di sini," ucap Ramdan. " Kalian yang gerakannya lelet banget. Kita langsung masuk waiting room atau bagaimana? Pesawatnya masih lima puluh menit lagi.
" Ramdan ngajak sarapan Bu. Kebetulan saya juga belum sempat sarapan tadi."
" Ya sudah saya ikut saja. Sepertinya minum kopi juga enak nih." Florina tersenyum dan melangkah mendahului Ramdan dan Sayda. Ramdan menyikut Sayda.
" Cerah banget wajahnya Bu Florin ya Da. Padahal kan dia baru aja ninggalkan Titan. Biasanya golongan emak-emak kan kalau bepergian ninggalin anak suka baperan."
" Bukannya bersyukur kamu bu Florin cerah ceria. Jadi kamu nggak bakalan sering kena semprot." Ramdan terkekeh sambil melangkahkan kaki. Mereka memasuki restoran bandara yang ditunjuk Ramdan, Setelah memesan dua sandwich dan tambahan kentang goreng untuk Ramdan juga secangkir kopi serta biskuit kayu manis untuk Florina mereka duduk di meja melingkar persis di area tengah restorant. Baru beberapa menit menikmati sarapan, denting suara notifikasi dari ponsel Ramdan memaksanya membuka ponselnya mengecek pesan dan email. Dengan gerakan cepat ditelannya makanan yang ada di dalam mulut. Terlihat sedikit menyulitkan, maka Ramdan meraih botol kemasan air mineral untuk membantu melancarkan makanan yang akan masuk ke lambung. matanya sedikit mendelik.
" Sayda...gawat nih."
" Ada apa Dan?" Tanya Florina yang juga memperhatikan tingkahnya.
" Barrium Latief ada di sini."
" APA?" Sayda langsung berdiri, mengenakan ransel dan mengemasi sandwich yang bekum habis untuk dimasukkan ke dalam tas selempangnya lalu memasangnya di bahu.
" Kamu mau kemana?"
" Ke ruang tunggu Bu. Cuma di sana Barry kesulitan menemukan saya. Hanya penumpang yang boleh ada di sana kan?" Florina terlihat sedikit cemas dengan segera menghabiskan kopinya dan ikut membungkus sisa biskuit kayu manis kesukaannya.
" Ayolah kalau begitu. Tuh kebenaran nomor penerbangan kita sudah dipanggil." Tak perlu disuruh dua kali maka Sayda sudah setengah berlari meninggalkan restoran itu. Florina dan Ramdan tergesa beranjak mengikuti langkah Sayda yang sudah berlari.
" Dida ... nggak usah panik begitu, kamu malah terlihat menonjol kalau seperti itu, " ucap Ramdan mengingatkan begitu Ramdan dan Florina berhasil menjajari langkah Sayda. Benar saja, baru beberapa detik selesai Ramdan berkata demikian, sebuah suara memanggil Sayda membuat badannya menegang.
" Sayda...Sayda..." Sayda langsung berlari kencang tak peduli dia harus menyalip dan beberapa kali mengucapkan maaf karena menabrak beberapa orang. Ramdan dan Florina saling berpandangan, lalu berjalan menyelinap di antara rombongan besar dan berupaya menunduk dan memalingkan wajah agar tidak bertemu dengan Barrium. Mereka akhirnya sampai ruang tunggu dengan terengah-engah dan memilih tempat duduk yang memunggungi pintu masuk ruang tunggu. Sayda bernafas lega. Seandainya Barry masih bisa mengejar tidak mungkin diijinkan otoritas bandara sampai ke ruang tunggu ini.
" Aku kan sudah bilang, kalau bicara itu hati-hati. Tadi kamu bilang ada drama. Nah, kejadian kan? Lihat tadi Barrium lari seperti orang kesetanan ngejar kamu." Ramdan menghempaskan tubuhnya di tempat duduk di samping Sayda sambil berbicara dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.
"Ya ampuunnn Dan, tadi kan aku bilang jangan sampai, maksudnya supaya itu tidak terjadi. Eh, kenapa malah terjadi?" Sayda mengkonfirmasi.
"Sst...sudah....sudah, jangan berantem di sini. Malu dilihat orang." Florina menegur dua stafnya.
"Nah, itu penerbangan kita dipanggil lagi. Sudah saatnya kita masuk garbarata. Ayo!" Ucap Florina setelah beberapa saat mereka duduk di ruang tunggu. Wanita itu segera berdiri dari tempat duduknya diikuti Sayda dan Ramdan. Mereka masih mengantri untuk masuk dalam pesawat dan mencari kursi sesuai nomor tempat duduk. Sayda akhirnya menemukan tempat duduknya ada di mulut gang, padahal tempat favorinya adalah di dekat jendela. Setelah meletakkan tasnya di bagasi kabin dia menghempaskan tubuhnya di kursi dengan lega. Barrium sudah jauh tertinggal, tak mungkin mengejarnya jika sudah masuk pesawat. Aturan bandara sangat ketat. Sayda memejamkan mata sambil mengucapkan syukur.
" Permisi... " Sayda membuka mata lalu menoleh dan tersenyum pada pria tampan berkulit putih dengan dagu terbelah dan lesung di pipinya.
" Hei... Kamu tadi gadis yang menabrak saya tadi yah?" Sayda tersentak dan tersenyum malu.
" Benar kah? Oh..Bapak tadi yang saya tabrak ya? Aduh, maaf ya Pak. Erg...sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya, saya terburu-buru tadi. Sekali lagi mohon maaf." Sayda mengangguk dengan wajah penuh penyesalan. Lelaki itu kembali tersenyum yang memarkan lesung di kedua pipinya.
" Eh, Bapak duduk di sini ya?" Sayda memberi kode tempat duduk yang kosong dekat jendela. Pria itu mengangguk dan tertawa lagi.
" Kamu mau bertukar tempat duduk di sana?" Sayda menyengir kesenangan dan buru-buru mengangguk.
" Nggak apa-apa nih? "
"Kamu mau duduk dekat jendela kan?" Sayda menggaruk kepalanya tersenyum salah tingkah ketahuan maksud terselubungnya.
" Nggak usah sungkan begitu, biasanya wanita senang kalau dekat jendela. Bisa lihat pemandangan kan? Kalau saya sih biasanya sering tidur jadi nggak apa-apa kalau Nona mau duduk di sana." Sayda memberikan senyum manisnya lalu berdiri untuk bergeser memberi tempat pada pria itu.
" Habis berantem apa baru putus sama pacarnya ya?" Wajah Sayda bersemu merah.
" Eh, nggak apa-apa kok Pak. Tadi saya cuma menghindar dari orang iseng aja." Sayda menyengir. Dalam hatinya berkata, 'Orang yang cuma iseng masuk ke dalam kehidupanku.'
Mereka terlibat beberapa percakapan lagi sekedar basa-basi. Sayda sengaja menghindari pembicaraan lebih lanjut dengan pria yang di sebelahnya. Dia hendak memasang earphone, tapi pria di sampingnya itu berkata lagi.
" Sepertinya kita pernah ketemu sebelumnya deh. Tapi, dimana ya? Wajah Nona seperti nggak asing lagi buat saya..." Lelaki itu coba mengingat-ingat. Sayda tersenyum canggung lalu mengangkat bahu.
" Mungkin tadi Pak, saat saya gak sengaja menabrak Bapak. " Sayda tertawa pelan. Pria itu tersenyum.
" Nggak ah, sepertinya kita memang pernah bertemu sebelumnya deh. Oh ya kenalkan nama saya Abi." Pria itu menjulurkan tangannya. Sayda membalasnya. " Dida. "
Percakapan mereka terhenti ketika pengumuman dari crew cabin bahwa pesawat mereka akan segera mengudara. Kesempatan itu digunakan Sayda untuk memasang earphone dan memakai penutup mata. Tubuh dan jiwanya letih, dia ingin istirahat. Penerbangan yang akan mereka tempuh ini selama delapan belas jam dan satu kali transit merupakan waktu yang tepat untuk tidur. Sayda sangat memuji bosnya Florina yang sudah mengupayakan tiket kelas bisnis untuk mereka sehingga dia masih bisa nyaman untuk tidur. Meskipun tak senyaman dan semewah first class seperti yang dinikmati bos besar Takeshi Fleming dan keluarganya, tapi ini sudah sangat layak untuk dinikmati. Sayda mengatur tempat duduknya memanjang menjadi mode tempat tidur begitu pesawat sudah berada dalam kondisi stabil di udara, lalu memejamkan mata.
*****
" Hai Dida, ketemu lagi." Sayda menoleh dia melihat tetangga duduknya kini menghampirinya kembali, kemudian tersenyum. Gadis itu baru saja memasukkan sebagian barangnya ke bagasi cabin. Kali ini dia melanjutkan penerbangan setelah transit dan berganti pesawat.
" Bapak tujuannya ke Solis juga?"
" Yup. Nona mau ke Solis juga?"
" Iya Pak."
" Jangan panggil Pak lah, usia kita tidak jauh berbeda kok. Panggil Abi saja ya. " Sayda mengangguk dan langsung menuju tempat duduknya.
" Lho Nona duduk di 7F?"
" Iya, memangnya kenapa Pak?"
" Kan tadi saya sudah bilang jangan panggil Bapak. Panggil saya Abi. Ehm...nomor saya 7E. " Abi langsung duduk di samping Sayda.
" Sepertinya kita memang berjodoh ya?"
" Apa? " Sayda melihatnya aneh lalu tertawa geli.
" Buktinya, dua kali penerbangan duduknya berdampingan terus lho." Sayda tertawa sambil menggelengkan kepala.
" Itu cuma kebetulan Pak. Jangan panggil Nona, panggil nama saja, Dida."
" Kalau sampai satu kali lagi kita nggak sengaja bertemu, berarti kamu perempuan benar-benar yang ditakdirkan untuk saya, Dida. " Sayda tertawa, kemudian segera menutup mulutnya karena kelepasan tertawa keras.
" Bapak nih ada-ada saja. Tapi lumayan sudah menghibur saya. Terima kasih loh Pak." Pria itu tersenyum lebar matanya berbinar indah.
" Kamu kalau tertawa lepas seperti tadi cantik sekali Dida." Sayda memicingkan matanya dan melambaikan tangan di depan wajah Abi.
" Ya karena saya perempuan, tentu saja saya cantik." Sayda terkekeh. Suara pengumuman dari awak kabin membungkam pembicaraan mereka.
" Kamu mau tidur lagi Dida?" Tanya Abi ketika memperhatikan Sayda mulai merapikan kursinya dan mengubah mode tempat duduknya menjadi lurus seperti tempat tidur.
" Iya" Jawab Sayda singkat sembari menyiapkan peralatan tidurnya.
" Tapi tadi sepanjang perjalanan kamu belum makan lho. Nggak punya penyakit maag kan?" Sayda menggelengkan kepala.
" Tadi turun transit saya sempat makan kok. Cukup kenyang sekarang. Apa lagi yang harus dilakukan sekarang selain tidur. Saya capek sekali, dan saat tiba nanti banyak kerjaan sudah menanti untuk diselesaikan."
" Kamu berangkat sendirian, Dida?"
" Nggak saya bersama teman dan bos besar di first class." Sayda menunjuk Florina dan Ramdan yang tengah bercakap.
" Apakah mereka pasangan?" Sayda menggeleng.
" Berarti kamu belum punya pasangan ya?"
" Apa perempuan kalau terlihat bepergian sendiri berarti tidak punya pasangan?" Tanya Sayda menolehkan kepala pada pria tadi.
" Ya nggak juga sih."
" Bapak ke Solis dalam rangka kunjungan bisnis?"
" Kok Bapak lagi sih nyebutnya."
" Eh maaf, Mas Abi oh...Bang Abi, eh Kak Abi maksud saya. " Abi terkekeh.
" Ya saya ada beberapa kontrak pekerjaan di sana."
" Ooh..." Mereka masih melanjutkan beberapa perbincangan hingga pesanan makanan Abi datang dan Sayda pamit untuk tidur.
*****