Jalanan yang yang cukup ramai di akhir minggu membuat mobil yang mereka kendarai bergerak melambat. Semenjak memulai perjalanan mereka tidak banyak bicara. Barrium berupaya memancing obrolan namun ditanggapi dingin oleh Sayda. Bosan dengan situasi yang ada,Barry menekan tombol untuk memualai audionya. Sebuah alunan lagu diputar dan dia mengikutinya. Suara Barry yang jauh dari fals semestinya terdengar seperti seorang pria yang jatuh hati dan memuja kekasihnya. Tapi hal lain yang dirasakan Sayda yang merasa kesal dengan ulah tunangannya yang sudah berhasil mempermalukan dirinya di depan keluarga besarnya. Merasa terganggu dengan suara dan irama lagu itu yang dianggapnya konyol, Sayda bergerak mematikannya. Barrium menoleh.
“ Kenapa sih Da? Marah boleh, ngambek boleh, tapi jangan merusak kesenangan orang dong.” Sayda cemberut.
“ Kakak tuh kenapa sih tadi nekad seperti itu. Malu kan...”
“ Tapi kamu nggak nolak kan? Menikmati juga kan?” Sayda melayangkan pukulannya di lengan Barrium yang membuat pria itu terkekeh.
“ Bagaimana ciumanku? Itu buat kamu selalu ingat padaku, Sayda.”
“ Nggak lucu tahu nggak Kak.”
“ Yang bilamg tadi aku ngelawak juga siapa sayang? Aku serius kok cium kamu dengan segenap cinta yang ada.”
“ Issh...” Sayda mendecak sebal.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran parkir, Barry menghentikannya tepat di depan lobby.
“ Kok banyak wartawan sih Kak?”
“ Aku nggak tahu sayang. Kenapa, kamu takut?”
“ Nggak sih, aku udah biasa menghadapi mereka. Cuma aneh aja...’
“ Ya sudah turun yuk. Kalau kamu cemas, pegang erat tangan aku.”
Begitu memasuki pintu masuk utama lobby, lampu kamera laksana petir yang menyambar dan mengelilingi mereka dengan cahaya. Sayda menyipitkan matanya namun senyum tetap menghiasi wajah ayunya. Barrium merangkulnya mesra. Beberapa wartawan menggoda mereka, dari wartawan bisnis sampai entertainment.
“ Pak Barry boleh tanya dong, siapa yang anda bawa ini?” Tanya seorang pria dari sebuah majalah.
“ Perkenalkan, ini Sayda calon istri saya.”
“ Sudah berapa lama berhubungan?” Masih tanya wartawan itu lagi
“ Kami bertunangan sudah empat tahun, doakan saja semoga segera bisa menikah.”
“ Pak Barrium, saya minta anda mengklasrifikasi tentang hubungan anda dengan host acara kesehatan yang terkenal di stasiun TV Diamond, dokter Ardila Manohara. Kabarnya anda juga sedang menjalin hubungan intim dengannya, bisa anda menjelaskan?” Seorang wanita memperkenalkan dirinya dari acara entertainment di sebuah stasiun televisi swasta.
“ Itu hanya gosip. Mohon pengertiannya. Tunangan saya hanya satu dan akan terus ada di hati saya. Cuma dia yang disamping saya ini yang akan bawa ke pelaminan.”
“ Jadi berita kalau Ardila hamil anak Bapak itu tidak benar ya?”
“ Sama sekali tidak benar. Permisi.” Barry merengkuh bahu Sayda amat kua lalu membawanya masuk ke dalam. Jantung Sayda berdetak sangat kuat. Ardilla hamil? Ardilla hamil anak Barrium? Lalu, mengapa dia ada di sini? Apa lagi yang dia tunggu? Beribu pertanyaan bagai menyerangnya, namun dia harus menyelamatkan performa Barry malam ini.
“ Jangan kamu dengarkan mereka Dida. Aku mau kamu percaya aku.” Bisik Barrium di telinganya. Demi melengkapi sandiwara mereka, Sayda mengangguk dan tersenyum. Beberapa kenalan Barry menahan langkah mereka. Barrium mengenalkan tunangannya. Mereka terlibat beberapa pembicaraan serius mengenai perkembangan bisnis. Sayda merasa jenuh dan memilih menyingkir begitu Barry terlibat pembicaraan yang sangat serius. Bukan karena gadis itu tidak paham tentang apa yang mereka bicarakan, tetapi pikirannya teralihkan oleh hal lain.
“ Bahaya kalau seorang wanita cantik sepertimu berkeliling seorang diri. “ Suara pria membuat Sayda menoleh.
“ Nampaknya Barry masih sangat sibuk ya. Boleh aku menemani?”
“ Tentu saja Pak.”
" Jangan panggil aku begitu, aku tampak tua sekali bagimu. padahal selisih umur kita paling hanya berkisar tiga sampai empat tahun saja. Panggil aku Bagus, Sayda."
" Jadi kamu bekerja di perusahaannya Takeshi fleming?"
" Ya, aku bagian dari marketing di sana. "
" Bersama Pru?"
" Ya tapi kami beda divisi, Pru di keuangan. "
" Kudengar perusahaanmu mengembangkan sayap ke Kuovos?"
" Rencananya begitu, minggu depan aku dan Pru akan mengurus itu."
" Berapa lama kalian di sana?"
"Mungkin setahun," jawab Sayda singkat.
" Barry sudah tahu?" Sayda menggeleng. " Nanti akan aku beritahu."
" Aku sangat yakin dia tidak akan membiarkanmu pergi, Sayda."
" Kita lihat saja nanti. Aku masih manusia bebas kan?" Sayda mengedikkan bahunya.
" Dia bisa gila kalau kamu tinggalkan."
" Bukan kali ini kami LDR, aku pikir kali ini kami pasti bisa mengatasinya sekali lagi."
" Apa kamu pikir dia masih mampu bertahan? Wanita yang menggoda Barrium sangat banyak Sayda. " Sayda memilih berjalan dan mengambil beberapa kudapan.
" Aku pikir kalau kamu menikah dengan Barry hidupmu sudah sangat terjamin. Untuk apa harus bekerja keras lagi?" Bagus mulai memberikan umpannya.
" Sayangnya aku bukan Cinderella Gus. Aku masih ingin mencapai sesuatu dalam karierku." Bagus tertawa.
" Aku pikir Barry benar tentangmu."
"Apa?" tanya Sayda.
" Tidak hanya sekedar cantik dan pintar tapi juga punya prinsip dan kelewat mandiri."
" Ini pujian atau sekedar cemooh belaka ya?"
" Aku pikir kamu suka jika diungkapkan dengan jujur kan?" Sayda tersenyum.
Pandangan Bagus melihat wanita bergaun merah di atsa lutut dengan bahu terbuka berjalan mendekati Barry. Dia tampak ikut nimbrung percakapan beberapa pria di sana. Bagus mengerutkan keningnya ketika wanita itu menyentuh tangan Barry.
" Sayda, kamu tidak mau menghampiri Barrium?" Pancing Bagus yang membuat Sayda membalikkan tubuhnya melihat beberapa kerumunan pria dan seorang wanita yang berdiri di sebelah Barry.
" Aku pikir dia masih serius membicarakan bisnis, jadi biarkan saja. lebih baik aku di sini saja. Eh, kamu lihat Pru kemana?"
" Tadi aku lihat dia ke atas bersama El."
" El?" Sayda mengernyit. Sepertinya Pru jarang sekali kencan dengan pria. Bukankah tadi dia bersama Ramdan?"
" Aku ke sana dulu aja ya Da, " ucap Bagus.
" Oke"
“ Mau kemana?” Sebuah tangan kekar sudah menggenggam tangannya. Sayda menoleh, dilihatnya Barrium sudah berada di sampingnya.
“ Ke atas sebentar cari Pru.”
“ Pru kan sudah bersama ramdan. Biarkan saja. “
“ Aku nggak ngeliat pru, Kak. Itu si Ramdan lagi ngobrol.”
“ Biarkan sajalah sayang, Pru sudah dewasa.”
“ Kenapa tadi kamu lari dari sisiku?”
“ Aku nggak lari kok. Aku cuma kepingin nyicipin kudapan aja, kayaknya menggoda selera.” Barrium menghela nafas dan memandang bola mata Sayda dengan lekat.
" Besuk jangan diulangi ya. Kamu bikin aku cemas tahu nggak."
" Iya Kak."
" Ayo aku mau kelain kamu ke beberapa orang." Barrium menggamit tangan Sayda namun Sayda tetap pada tempatnya. Barry menghentikan langkahnya dan berbalik.
" Ada apa Dida?"
" Kak, yang tadi diomongkan wartawan itu benar apa tidak?"
"Yang mana?"
" Ardilla hamil anak kamu."
" Ya ampuun Dida. Aku sudah minta maaf kan. Aku baru sekali itu melakukan bersamanya dna kamu tahu aku dalam pengaruh obat."
" Iya sekali yang ketahuan, ya nggak ketahuan?"
" Ya Tuhan Sayda.... ucapan wartawan itu tidak berdasar. Tidak ada buktinya kalau Dilla hamil. Percayalah padaku. Ayolah temani aku, please ..." Meskipun berat hati, Sayda menuruti kemauan Barrium. Dibiarkan tangan barry menggenggam erat tangannya ketika mereka jalan bersama.
" Cie...mesranya, lengket banget kaya perangko ," Bagus mulai meledek.
" Iya, bikin kita-kita yang masih jomblo iri aja." Seorang pria di sebelah Bagus menimpali. Ardila yang berdiri di sebelah Bagus melayangkan tatapan sinis.
" Kapan nih kalian menikah?" Ucap pria lain.
" Secepatnya. Doain ya kalau bisa malah minggu depan aja." Barrium terkekeh.
" Cepet banget Bar, udah ngebet banget kayaknya nih." Bagus menbimpali.
" Kalau nggak buru-buru aku takut Sayda direbut orang. Bisa berabe urusannya nanti." Suara tawa bergema di antara mereka.
" Oh ya Dida, kenalkan ini temanku Aldi dan ini Samuel, " ucap Barry mengenalkan teman-temannya.
" Aku nggak pernah menyangka, seorang Barrium Latief yang playboy akhirnya takluk sama Sayda," ucap Samuel tertawa.
" Tunggu aja sampai dia jatuh cinta . Aku nggak sabar melihat datangnya waktu ketika kamu keok di kaki perempuan, Sam." Barrium mendecak sebal pada Samuel yang masih mentertawakannya.
*****
Sayda baru saja muncul di tangga paling atas ketika dia mendengar suara berdebum dan barang-barang yang berjatuhan dan patah. Segera dia mempercepat lagkahnya memasuki pelataran rooftop. Pemandangan yang ada di depannya membuatnya tak percaya. Pruistin mengunci seorang pria yang sudah babak belur di lantai. Kening pipi dan bibirnya berdarah. Sayda menjerit.
“ Pru apa yang kamu lakukan? Lepaskan dia, Pru. Bisa mati orang itu. “ Mata Pruistin masih nyalang karena marah.
“ Dengar kau b******n, jangan main-main denganku. Kau boleh saja berbuat seenaknya dengan perempuan lain tapi tidak denganku. Kuperingatkan kamu ya jangan coba-coba kurang ajar lagi sama perempuan!” Pru mengancam seorang pria yang sudah tak berdaya di lantai.
“A ..aku berani jamin kalau besuk kau akan merindukan aku, Nona. Aku janji kelak kamu akan jadi milikku.” Pru berteriak dan memukul kepala pria itu membuat Sayda menjerit sekali lagi. Dihampirinya Pru yang sedang marah dan sekuat tenaga Sayda menarik sahabatnya itu.
“ Sudah Pru...sudah... kalau dia mati, urusannya bisa panjang. “
“Biarkan saja dia mati, Dida. Nggak layak lelaki kurang ajar itu hidup.” Ucap Pru dengan nada marah. Beberapa orang yang datang terpekik kaget dan berupaya membantu pria yang terkapar dihajar Pruistin. Sayda menarik tangan Pruistin untuk pergi dari sana. Lamat-lamat masih terdengar engan jelas rintihan dan gumaman pria itu memanggil Pruistin.
“ Pru..Pru...Pruistin Latief aku mencintaimu...aku mencintaimu Pru.” Ucap pria itu lirih.
“Kurang ajar ...” Pru yang hendak kembali ke atas dihalangi Sayda dengan sekuat tenaga.
“ Please Pru, aku ingin ke kamar mandi sebentar saja, tolong temani aku.” Terdengar decakan suara Pruistin. Sayda paham benar sahabatnya yang satu ini memang tomboy dan sikapnya sedikit arogan. Jika disa sudah mengeluarkan jurus silat dan judonya maka seseungguhnya lelaki tadi sudah bersikap kurang ajar padanya. Wajah ayunya an badannya yang ramping sungguh memperdaya lelaki. Sekilas Pruistin tampak seperti wanita kebanyakan yang lemah, namun jangan salah sangka kalau dia mahir bela diri.
“ Kamu tuh apa-apaan sih? Nggak usah kayak preman gitu lah Pru. Malu-maluin aja. “
“ Dida, kamu kalau malu punya teman seperti aku, sana pergi aja.”
“ Pru, bukan seperti itu maksudku. Kamu tahu kan kita ini diundang orang, jadi harus menghormati tuan rumah. Bukan malah bertindak bar-bar.”
“ Bukan aku yang mulai duluan, Dida. Kalau tadi dia nggak melecehkanku, nggak mungkin aku hajar.” Sayda memilih mengalah percuma adu debat saat ini.
“ Kamu benerin dulu baju dan rambut kamu. Aku mau ke kamar mandi dulu. “ Kala itu toilet yang mereka tempati sedang sepi dan hanya mereka berdua saja.
Sayda keluar dan segera mencuci tangannya. Dia memperhatikan wajahnya dan memeberi sedikit sentuhan pada riasan wajahnya.
“ Da, tungguin sebentar ya aku masuk kamar mandi dulu sebentar.”
“ Oke, “ jawab Sayda singkat.
“ Ah, di sini kamu rupanya Sayda.” Ardilla sudah berdiri menjulang di hadapan Sayda. Sejenak Sayda mengagumi paras cantik dan tubuh seksi milik Dilla.
“Ada yang mau aku sampaikan sama kamu Sayda.” Dilla menyerahkan selembar kertas pada Sayda.
“Apa ini Dilla?” Sayda tamoak mengerutkan keningnya ketika membaca kertas selembar itu.
“ Itu hasil uji laboratorium. Aku hamil Sayda. Aku hamil anak dari Barrium Latief. “
“ Nggak mungkin... nggak mungkin Dilla. Kalian baru satu kali melakukannya.”
“ Kata siapa cuma sekali? Kami sudah sering melakukannya Sayda. Hanya satu yang ketahuan dan digerebek oleh kamu. Kami tidak pernah memakai pengaman, jadi tak heran kalau aku hamil kan?” Sayda menggelengkan kepalanya. Dadanya bagai dipukul godam, berat dan sakit.
“ Aku minta tolong padamu Sayda. Tolong kamu jauhi Barrium, anak ini butuh pengakuan bapaknya. Aku mohon sekali padamu Sayda, anak ini tidak bersalah. Dia butuh bapaknya. Aku akan melakukan apa saja asal anak ini mendapat pengakuan dari Bapaknya.” Wajah Ardilla tampak memelas saat mengucapkan itu padanya. Dengan susah payah ditelannya ludah, pahit. Ardilla kemudian berlalu meninggalkan Sayda yang sudah bersimbah air mata. Dia menangis sesenggukan, Pruistin yang baru keluar dari kamar mandi segera mencuci tangan.
“ Dida...kamu nggak usah dengar ucapan dia. Percayalah pada kakakku.” Sayda menggeleng.
“ Kamu yang dulu mengatakan itu Pru, kamu juga yang iktu ketika memergoki mereka kan? Aku nggak melihat Ardilla berbohong. Aku minta maaf Pru, aku nggak bisa melanjutkan pertunangan ini. “ Sayda mengambil tasnya dan segera beranjak keluar. Dia berpapasan dengan karyawan hotel.
“Mbak, pintu keluar bagian belakangnya lewat mana ya?”
“ Oh mari saya antar Mbak.” Perempuan yang disapa Sayda berjalan memimpin.
Sayda membuka tasnya dan mengambil ponselnya dan mulai mendial nomor seseorang.
" Dan....Ramdan...aku tunggu kamu di pintu keluar bagian belakang. Antarkan aku pulang dan jangan sampai ketahuan Barry. Ayo cepat Dan."
" Sayda? Kenapa kamu kenapa menangis? Oke...oke...aku ke sana, tunggu dulu jangan menangis."
" Jadi, si kutil Dilla hamil anaknya Barry?" Tanya Ramdan prihatin. Sayda mengangguk dan sesenggukan. Ramdan meraih bahunya dan membiarkan Sayda menangis di dadanya.
" Sabar Da...sabar..."
" Kali ini jangan salahkan aku kalau mundur dari pertunangan ini Dan. Aku sudah kasih kesempatan kedua buat kak Barry, tapi malah seperti ini yang aku terima."
" Dida, jangan gegabah dulu sayang. Siapa tahu itu bukan anaknya Barrium. Coba tahan diri dulu, " rayu Ramdan.
" Nggak bisa Dan, kesabaranku sudah habis. Kak Barry nggak bisa menggunakan kesempatan yang aku berikan dengan baik."
" Aku mau senin besok kita berangkat ke Kuovos, jangan beritahu Barry. Aku juga ingin di kantor buat rumor seolah aku resign sehingga Barry tidak bisa melacakku."
" Dida, Barrium Latief itu bukan anak kecil. Dia bisa melacak kamu dari berbagai sumber informasi. Bukan hanya dari dalam lingkungan kantor saja. Dia bisa mengecek melalui maskapai penerbangan yang kita gunakan."
" Aku nggak mau tahu Dan, pokoknya segera kita pergi dari sini. Aku sumpek ada di sini." Sayda khawatir jika tetap di Moonlight, Barry pasti dengan cepat menemukannya dan memaksanya untuk kembali. Dia tidak sanggup lagi sekarang.R amdan hanya bisa memeluk dan berusaha meneneangkan Sayda.
******