Rooftop Buddies

1183 Kata
Suara ponsel berdering. Gadis berbaju salem itu memilih untuk membiarkannya membuat semua orang mengarahkan pandangan padanya. Bukan tanpa  alasan, dia tahu betul siapa penelepon yang tidak sabaran itu. Begitu bunyi berdenting dia menegakkan badannya lalu beberapa detik kemudian melangkah cepat meninggalkan kotak besi itu. Dering ponselnya berbunyi kembali, seperti yang sebelumnya terjadi-tidak digubrisnya hingga dering itu bernenti dengan sendirinya langkahnya penuh percaya diri keluar dari area crown lobby gedung perkantoran. Seorang pria yang berjalan hilir mudik sambil memegang ponselnya di depan mobil tiba-tiba melirik. Sedetik kemudian berbalik dan menegakkan badannya begitu melihat gadis bergaun salem selutut yang menampakkan kaki rampingnya berjalan ke arahnya. Dia menegakkan badannya, seolah perhatiannya tersedot pada sosok wanita yang membiarkan rambutnya terurai begitu saja. Semerbak parfum wanita itu terhindu penciumannya, membuat gairahnya terbit. " Maaf Kak aku memang sengaja tadi nggak angkat panggilanmu karena kan sebentar lagi juga bertemu kan?" Pria itu mengangkat kedua bahunya. Pria itu sudah tahu akan seperti itu alasannya. " Ya sudah, ayo .." " Tunggu, mana Pru? dia tidak ikut bersama kita?" Wanita itu menggeleng.  "Dia mau bawa mobil sendiri bersama Ramdan." Pria itu menggumam lalu membuka pintu mobil untuknya. " Jadi kita kemana dulu nih Kak?" ucap wanita itu ketika dirasakan mobil yang mereka tumpangi tidak juga dinyalakan mesinnya, dia menoleh ke sampingnya dan menemukan pria tengah menatapnya erat.  " Ada apa Kak? Apa ada yang aneh denganku?" Wanita itu seketika sibuk merapikan dandanannya dan tatanan rambutnya. Lelaki yang menatapnya itu tersenyum. " Sayda, kamu luar biasa." Wanita itu mengerutkan kening. " Penampilan kamu sangat pas, aroma kamu. Aku cuma mau bilang kalau..." Wanita itu menunggu, raut penuh tanya tergambar di  " Sayda kamu begitu istimewa, terlalu mempesona. Maafkan aku kalau harus melakukan ini padamu." Dia menarik lengan Sayda dengan cepat dan cup... Pria itu menempelkan bibirnya pada bibir Sayda dengan lembut dan mengulumnya. Sayda berusaha untuk bertahan namun pria itu mahir merayunya, dia mencengkram lengannya dengan kuat tak akan membebaskannya. Sisa akal sehatnya seolah berbicara, didorongnya d**a pria itu dengan nafas yang tersenggal. " Kak Barry kita ...kita tidak seharusnya begini?" "Sayda...aku belum selesai denganmu. " Barrium Latief menekan punggung Sayda ke arahnya, kembali bibirnya menempel pada bibir gadis itu dan melumatnya hingga akhirnya pertahanan Sayda melemah. Barrium melesakkan lidahnya masuk membuat Sayda mendesah mengikuti permainannya.  Sebuah ketukan di jendela mobil membuat kaitan lidah mereka terlepas. Sayda tergagap dan Barrium tersenyum. Barry menurunkan kaca mobilnya. Wajah Ramdan dan Pruistin terlihat di sana. " Aku cuma mau mrngingatkan kalau kita sedang diburu waktu. Ada dua acara setelah ini. Kalau kalian sibuk sendiri, kapan sampainya di tempat acara." Barrium terkekeh mengelus leher belakangnya. " Oke...oke...Nona cerewet," ledek Barrium pada Pruistin yang sudah melayangkan pandangan penuh cibiran padanya, sementara wajah Sayda sudah merah padam. " Kak, kita nggak boleh seperti itu lagi . " " Kalau tidak mau seperti ini lagi, maka cepatlah menikah denganku. Aku nggak bisa memberi jaminan kalau bisa menahan diri lagi kalau melihat kamu seperti ini." Sayda terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya dan terus mengganggu. Benarkah dia sudah memaafkan Barrium Latief?  ***** " WOW"   Sepatah kata singkat refleks dilontarkan Barrium Latief begitu melihat Sayda keluar dari ruangan ganti bersama adik sepupunya Pruistin. Ratih menyrnggol lengan Nisrina kakak iparnya. " Lihat tuh anakmu klepek-klepek lihat tunangannya. Sudahlah cepat dinikahkan saja mereka berdua biar nggak berantem terus." " Apa perlu pernikahan mereka dijadikan satu bersama Radi dan Mona ya?" Gumam Nisrina. " Boleh juga tuh idenya. Lumayan bisa ngirit biaya kan?" Ratih dan Nisrina terkekeh. Ratih berdehem keras menggoda keponakannya. " Mangapnya nggak usah lebar-lebar Bar. Nanti kemasukan lalat loh." Ratih menyubit lengan keponakannya. " Aduh sakit. Tante apaan sih, kok pakai cubit segala." " Kagum, terkesima sih sah-sah aja. Tapi nggak usah sampe segitunya kali Bar... Cepat lamar dia aja lah biar nggak keduluan sama orang lain." " Udah bolak-balik ngelamarnya Tante. Tapi dianya masih sibuk ngejar karier. Padahal umurku sudah kepala tiga, Mama juga udah cerewet nanya kapan nikah dan minta cucu." " Buat dong gimana caranya dia mau kamu nikahi. Di luar sana ribuan wanita antri lho mau jadi istrinya Barrium Latief."  " Kak, kok diem sih? Gimana, bagus nggak sih?" Tanya Sayda manja pada Barry.  " Apa sih yang nggak jadi bagus kalau kamu yang pakai?" Sayda memicingkan matanya. " Nggak sekalian coba gaun pengantinnya Da?" Tanya Ratih. " Masih lama Te. Nanti aja." " Ini Mamamu udah kepengen belikan gaun. Dipilih dulu aja lah gaun pengantinnya, jadi suatu saat kalau tiba-tiba mau nikah udah nggak bingung lagi. Gimana?" " Usul yang bagus Te. jawab Barry sambil tersenyum lebar. " Tante kok sepertinya menginginkan pernikahan paksa seperti ditangkap hansip ya."  " Habis kalau nggak dipaksa kamu nggak mau nikah sih." " Bukannya nggak mau kok Te, lagi tunggu waktu yang tepat aja." " Nunggu digerebek hansip sama pak RW Bu," ucap Ramdan menginterupsi pembicaraan mereka membuat yang lain tertawa. " Aku ganti baju dulu ya..."  Sayda membalikkan badannya menuju ruang ganti pakaian.  Tubuhnya langsung terdorong begitu membuka pintu. Belum selesai kagetnya, Barrium sudah mendorongnya rapat ke dinding. Baru saja gadis itu hendak bertanya ada apa, barry sudah menempelkan bibirnya pada bibir kenyal Sayda dan mengulumnya. Sayda seperti tersengat aliran listrik, kaget. Lama-lama ciuman Barry seperti menuntut, sekaligus merayu. Pertahanannya jebol, Barry berhasil melesakkan lidahnya masuk ke dalam membuat kaki Sayda lemas, dirangkulnya leher Barry dengan erat.  Sebuah deheman keras seolah menyadarkan Sayda. Dia berusaha mendorong d**a Barry namun justru Barry menambah tenaga untuk menekannya seperti disengaja. Lelaki itu memperdalam ciumannya dengan ganas. Sayda mencubit pinggang lelaki itu baru tautan mereka terlepas dengan nafas ngos-ngosan.  Barry mendelik protes pada Sayda. Dia sudah hendak maju lagi, namun suara berat papanya yang membuatnya terhenti. " Barry.." Barry membalikkan badannya. " Maaf Pa, aku nggak bisa tahan diri  lihat Dida bisa secantik ini. "Nisrina memukul dan menjewer ana kbungsunya. " Kamu ini ya... nggak malu apa?" Nisrina masih mengomel dan mencubit pinggang  Barry. " Ampunn Ma, maaf... iya Barry salah." " Udah nikahin aja mereka secepatnya Bang, daripada nambah-nambahin dosa aja." Suara Ratih mengompori. " Papa nggak mau tahu ya. Minggu depan kalian harus segera menikah. Papa nggak mau dengar alasan apapun. Sayda, besuk Papa akan mengutus orang untuk menjemput keluarga kamu. Kita buat acara sederhana saja dulu untuk akad nikahnya. Resepsinya bisa belakangan." " Siap pa," ucap Barry memberi dengan sikap hormat pada papanya. Wajahnya berseri-seri. Wajah Sayda merah padam. Bahkan telinganya pun merah menahan malu. Tidak ada alasan lagi untuk menolak. Dia hanya bisa pasrah. " Administrasinya sudah lengkap kan?" " Sudah dari dulu Pa." " Bagus, minggu depan kalian harus nikah." " YES!" Barrium menarik kepalannya ke bawah. Kerumunan itu bubar, namun Ramdan mendekati Sayda.  " Mulai malam ini Sayda kembali ke apartemennya. Papa takut kalau dia di rumah nanti malah pertahanannya jebol diserang Barry, " " Nggak bisa begitu dong Pa." Barry berusaha protes. " Tidak ada alasan Barry atau Papa membatalkan pernikahan ini?" " Eh iya deh pa. Iya, Barry ikut saran Papa aja." Nisrina memukul lengan putra bungsunya dengan gemas. " Dasar anak nakal." Nisrina, Pasya Latief dan Ratih segera meninggalkan ruangan itu. Sayda sudah melancarkan sorot mata tajam pada Barrium. " Makanya kalau ngomong tuh yang bener. Ucapan adalah doa." " Aku kalo ngomong kan selalu bener, Dan." Sayda berucap pelan. " Tadi kan kamu bilang nikah seperti digerebek hansip dan pak RW. Nah, kejadian kan? Digerebek keluarga Latief?" Sayda menatap Ramdan dengan tatapan seperti orang yang kalah perang. " Hei, buruan...kita masih harus ke acaranya Irwan." Pruistin datang memperingatakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN