Cinderella (Bukan?)

1402 Kata
Gadis mengenakan kemeja lengan panjang putih dengan setelan rok span selutut berwarna coklat muda dna rambut digulung ke atas tengah asyik menekuri layar monitor. Sesekali dia mengurai tumpukan berkas di sebelah kanannya, memberi tanda dan mengetik dengan seksama pada keyboard. Meskipun sudah siang, namun tak sedikitpun riasan sederhana membuat lusuh wajah cantiknya. Pruistin yang keluar dari ruangan divisinya tersenyum melihat aktivitas sahabatnya. Dulu Sayda berada di bagian keuangan bersama dirinya, namun baru dua minggu ini dia dipindahkan menjadi kepala divisi bagian marketing. Pru menghampiri Sayda yang tengah sibuk di meja kerjanya lalu mengetuk meja kerjanya. “ Udah waktunya makan siang Nona, ayo ke kantin.” “ Aku bawa bekel dari rumah Pru.” Pruistin mengerutkan keningnya. “ Tumben rajin.” “ Kak Barry minta aku masak, karenanya nggak sempat makan siang karena ada rapat maraton. Nanti sore kamu diundang juga kan ke acaranya Irwan?” Pruistin mengangguk dan tersenyum. Setelah melewati badai, akhirnya hubungan Barry dan Sayda berangsur membaik dan itu membuatnya bahagia. Meskipun dia mendukung penuh apapun keputusan Sayda, namun jauh di dalam lubuk hatinya memenag menginginkan adik tingkatnya yang cemerlang itu menjadi istri dari kakak sepupunya, Barrium Latief. “ Kamu tambah cerah aja deh hari ini Da. Diapain sih sama Bang Barry?” " Apaan sih?" " Apa kamu udah dapat...?" " Dapat apa? Jangan mikir yang aneh-aneh deh Pru. Aku memang tinggal satu atap dengannya tapi tidak sekamar ya. Ingat itu!" Sayda melemparkan kertas bekas yang sudah diremasnya membentuk bola kepada Pruistin. " Tapi kalian dulu kan pernah seranjang?" " Itu kondisi khusus, karena aku sakit dan tidak terjadi apa-apa dengan kami." Pruistin terkekeh, sudah lama gadis itu tidak menggoda sahabatnya. " Kamu dingin sih, mau dapat ciuman aja sulit, makanya Abangku lari nyari yang lebih muda dan bohay," Pruistin melirik ingin tahu reaksi Sayda. " Ooh begitu ya, nggak masalah buatku. Sejak kejadian kan memang aku yang mau pergi tapi Abangmu yang sok jagoan itu yang mengejarku. Masih ingat kan Nona?" Sayda memberi senyuman manisnya dan alis mata yang dinaik turunkan. “ Beneran nih nggak mau sama Abang aku lagi?” “ Aku masih belajar mengenali kembali Abang kamu itu. Aku masih belajar menata hati, karena sejauh ini aku nggak punya kesempatan buat lari. Dia minta diberi kesempatan kedua, ya sudahlah... aku coba saja, walau sebagian hatiku msaih berontak.” “ Dida, apakah kamu menyesal kembali pada Abangku?” “ Aku nggak tahu Pruistin, kalau aku memang ditakdirkan berjodoh dengannya biar dipisahkan banyak orang toh pasti akan menyatu kan? Sebaliknya jika bukan jodoh, mau didukung orang seluruh dunia pun pasti nggak akan bisa bersama. Biarkan saja seperti air mengalir.” “ Kalau gitu cepatlah terima lamaran Abangku, kalian menikahlah secepatnya supaya tidak ada orang ketiga yang masuk.” Sayda menghentikan kegiatannya ─ menghembuskan nafas dengan berat dan menatap Pru dengan tatapan tak terduga. “ Pru, kamu perlu tahu pada prinsipnya aku perlu meraih sesuatu dalam hidup yang bisa aku banggakan pada anak cucuku nanti. Aku ingin punya pencapaian kinerja dan prestasi baik. Aku masih ingin melakukan banyak hal dengan paripurna. Setelah itu baru memikirkan hal lain.” “ Ya ampuunn Dida, kalau kamu jadi istri abangku kan kamu nggak perlu kerja keras. Kamu tinggal ongkang-ongkang kaki aja sama hambur-hamburkan duitnya Abangku. Nggak usah takut, uangnya nggak bakalan habis. “ “ Dulu aku pernah bilang sama kamu, Mona dan Mama Nisrina kalau aku nggak pernah unya mimpi jadi Cinderella. Mimpiku dari kecil, aku sukses dengan kemampuan dan kerja kerasku. “ Pruistin tersenyum simpul berusaha menyembunyikan kesenangannya. Dia sudah tahu jawaban itu sebelumnya, tapi senang saja rasanya menguji Sayda lagi. Itulah yang membuat Abang dan keluarganya jatuh cinta pada Sayda. Sayda jauh dari predikat cewek matre. Gadis itu justru tampil memukau dengan apa adanya. Kesederhanaannya, kepribadian dan cemerlang otaknya merupakan daya pikat tersendiri. “ Mana makanan kamu? Aku lapar nih.” “ Untung aku bawa dua.” Sayda menjulurkan satu dari dua kotak makan yang dibawanya. “ “ Hei...aku bawa mie ayam pangsit kesukaan kamu Da.” Ramdan tiba-tiba datang. “ Yang diingat kamu Cuma Dida aja Dan? Kok aku nggak dibelikan?” “ Lha kamu kan beda divisi, Pru. Aku belikan yng punya anak-anak marketing yang lagi lembur aja.” “ Iya..iya ngerti kok. “ Segerombolan wanita lewat dan menyapa mereka. Mereka asyik bergosip, sepertinya ada cowok baru penghuni gedung yang ganteng sehingga menjadi trend topic para wanita di kantor. “ Dan, ada anak baru yang bening ya?” “ Ada. Dia sih nggak bening lagi, tapi kinclong.” “ Anak mana Dan?” “Anak sini.” Mata Pruistin berbinar. “ Masak sih? Asyik nih aku bisa cuci mata sekaligus nambah motivasi berangkat ke kantor. Siapa sih Dan? Yang mana ya anaknya?” Ramdan menjulurkan tangan untuk salaman ke depan Pruistin. “ Kenalkan nama saya Ramdan Fathoni” Tawa Sayda meledak dan Pruistin melotot sambil memukul tangan Ramdan dengan kuat. “ Gini nih nasibnya kalau jones.” “ Jones apaan tuh?” Tanya Sayda “ Jomblo ngenes,” cengir Ramdan terhias memamerkan deretan gigi putihnya. “ Halah kayak yang ngomong bukan jomblo aja.” “ Wah, pamor jomblo aku udah lepas Pru. Sorry ya aku punya pacar sekarang ─ Winny anak kantor sebelah yang bosnya ganteng kebangetan kayak dewa Yunani.” “ Iish...pamer. Aku tuh bukan jones ya Dan, tapi joker alias jomblo keren.” “Permisi Bu Sayda, ada titipan paket untuk anda.” Sayda mengucapkan terima kasih pada Inu yang setiap hari mengawalnya. “ Gila si Dida belum jadi Nyonya Latief aja ke kantor pakai pengawalan.” “ Buka Da.” “ Ah entar aja, aku malas.” “ Aku yang buka aja ya...” Belum sempat Sayda mengiakan, Pru sudah merebut dan membuka beberapa paperbag. “ Wuiiihh...Abang aku perhatian dan romantis banget. Iih..bajunya dan tasnya lucu lho Da. “ ******Fathoni” Tawa Sayda meledak dan Pruistin melotot sambil memukul tangan Ramdan dengan kuat. “ Gini nih nasibnya kalau jones.” “ Jones apaan tuh?” Tanya Sayda “ Jomblo ngenes,” cengir Ramdan terhias memamerkan deretan gigi putihnya. “ Halah kayak yang ngomong bukan jomblo aja.” “ Wah, pamor jomblo aku udah lepas Pru. Sorry ya aku punya pacar sekarang ─ Winny anak kantor sebelah yang bosnya ganteng kebangetan kayak dewa Yunani.” “ Iish...pamer. Aku tuh bukan jones ya Dan, tapi joker alias jomblo keren.” “Permisi Bu Sayda, ada titipan paket untuk anda.” Sayda mengucapkan terima kasih pada Inu yang setiap hari mengawalnya. “ Gila si Dida belum jadi Nyonya Latief aja ke kantor pakai pengawalan.” “ Buka Da.” “ Ah entar aja, aku malas.” “ Aku yang buka aja ya...” Belum sempat Sayda mengiakan, Pru sudah merebut dan membuka beberapa paperbag. “ Wuiiihh...Abang aku perhatian dan romantis banget. Iih..bajunya dan tasnya lucu lho Da. “ ****** Ponsel Sayda berdering. Gadis itu baru keluar dari kamar mandi lalu kembali ke balik meja kerjanya. Dia merapikan rambut dan memberi sentuhan pada riasannya. Sebuah siulan tak membuatnya bergeming. " Mau kemana Non?" Tanya Ramdan dari balik kubikelnya. " Ada deh...mau tahu aja." " Clubbing yuk nanti malam, kita kan belum merayakan kamu diijinkan bekerja lagi dan kembali sehat. " " Clubbing? Perayaan? Ah, kamu tahu itu bukan gayaku. Banyak yang harus aku selesaikan Dan. Lain waktu aja ya." " Ooh...kalian ada di sini rupanya. Bisa ke ikut saya sekarang?" Florina memandang mereka berdua. Sayda dan Ramdan bertukar tatap lalu Sayda mengangkat kedua bahunya. Keduanya berjalan mengikuti Florina. Di Dalam sudah ada Pruistin duduk dengan manis ditemani direktur utama mereka. " Kalian sudah tahu sebelumnya kalau perusahaan kita akan mengembangkan sayap di Terve. Rapat direksi memutuskan akan mengirim beberapa karyawan untuk membuka kantor perwakilan dan menjalankan roda bisnis di sana. Kalian bertiga yang terpilih. " Takeshi Fleming berbicara dengan suara berwibawa. " Kami sudah mengurus perijinan kalian tinggal di benua Kuovos. Paspor dan visa pun sudah kami urus. Kalian bisa berangkat tujuh hari ke depan,"terang Florina Morgan. " Kalian mau menerima tantangan ini?" " Iya Pak," jawab mereka serentak. Seolah disadarkan sesuatu, Pruistin dan Ramdan menoleh ke arah Sayda. " Kamu benar akan menerima tawaran itu Da? " " Ya Dan, aku yakin sekali." " Bagaimana dengan Bang Barry? Kalau sampai tahu tidak mungkin dia mengijinkannya kamu pergi. Kamu tahu dia seperti apa Dida." " Aku masih Manusia bebas, dia tidak berhak melarangku, Pru. Aku bukan istrinya." Pruistin dan Ramdan menatap Sayda dengan pandangan ragu. Ada kekhawatiran menghinggapi benak keduanya. Ramdan merasakan keganjilan, seperti firasat akan terjadi sesuatu—namun dia enggan mengatakannya. Ponsel Sayda berbunyi kembali. "Sepertinya Abang sudah dibawah deh Da. Udah cepat turun. " " Kamu nggak mau sama-sama Pru?" " Nggak lah, siapa juga mau jadi obat nyamuk?" " Dan, kamu ada acara nggak sore ini?". " Hem...nggak ada tuh. Ada apa?" " Temani aku ke cocktail party-nya Irwan yuk. " " Kencan nih kita?" Ramdan meledek Pru. " Jangan ge er ya..." " Oke deh. Lumayan makan gratis. " Ramdan terkekeh. Sore itu lembayung senja mulai menghiasi Moonlight. Pemandangan langit yang indah mengiri langkah ketiga sahabat itu keluar dari pelataran gedung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN