Mendung pekat dan hujan lebat menaungi ibukota Argatan pagi ini. Cuaca buruk memang melanda Moonlight satu minggu belakangan ini membuat banyak jadwal penerbangan dibatalkan. Sebuah lubricant hitam keluaran terbaru memasuki pelataran lobby rumah sakit. Seorang pria berperawakan tinggi dan tampan baru saja memasukuki lobby. Semua orang yang berpapasan dengannya mengangguk hormat.
" Selamat pagi Dok." Seorang perawat menyapa .
" Selamat pagi Wati, Meli, cerah sekali ya hari ini, " balas Barrium Latief tersenyum lebar. Bukan hanya kedua perawat itu yang melongo dan saling bertukar tatap. Keduanya terkikik geli, mereka paham belakangan hubungan atasan mereka dengan tunangannya berangsur membaik. Mereka sering menjadi obat nyamuk ketika Barrium Latief melancarkan aksi romantisnya saat mereka merawat Sayda tunangannya di rumah.
" Dokter Barry lagi kenapa sih kok aneh begitu?” Tanya Desy kepala perawat.
“ Biasalah Bu, orang kalau sudah terserang virus cinta memang suka jadi aneh kelakuannya. “ Wati senyum-senyum menanggapi ucapan Meli.
“ Seperti apa sih tunangannya dokter Barry, Mel?”
” Cantik banget Des, ramah dan baik sekali. Mamanya dokter Barry aja sayang sekali sama Sayda.” Meli menjelaskan dengan mata berbinar. Beberapa perawat lainnya mendekati mereka.
“ Tunggu saja sampai kalian bertemu dengannya langsung, orangnya asyik. Sayda itu cantik luar dalam, makanya dokter Barry nggak mau melepaskannya walau kemarin mereka ada masalah,” terang Wati pada teman-temannya.
“ Wah, mereka ada masalah?” Tanya Tini yang baru bergabung dengan grup gosip itu.
“ Ya, kabarnya ada orang ketiga. Ada wanita yang mau mengganggu hubungan mereka. Sepertinya Sayda temakan fitnah dan mau meninggalkan dokter Barry. Dia sempat menghilang sekitar lima hari tapi dokter Barry berhasil menemukannya dalam keadaan sakit. Karenanya dia membawa Sayda ke rumahnya dan mengurungnya di sana. Yang aku tahu Sayda sudah beberapa kali mau melarikan diri dari rumah Barry, karena itu keluarganya menyewa pengawal pribadi untuk menjaganya.”
“ Ya ampuunnn... sebucin itu kah dokter Barry?” Tini nampak bersemangat menggali informasi.
“ Kamu nggak tahu betapa stress dan khawatirnya dokter Barry begitu melihat Sayda tidak ada di kamarnya. Padahal Sayda sedang masak bersama nyonya besar di dapur.” Wati tertawa pelan mengenang kejadian lucu itu. Seorang wanita datang dan menggebrak meja berkali-kali.
“ Hei...hei...hei... kerja...ayo kerja...jangan gosip aja.” Wati dan Meli tersentak lalu menatap dokter internship yang sudah berdiri di samping mereka.
“ Desy, dokter Barrium ada kan?”
“ Ada dok, tapi...”
“ Ya sudah lah aku masuk aja.” Wanita itu berlalu sembari mengibas tangannya menandakan pendapat para perawat dan sekretaris Barrium itu tidak penting untuk didengar.
“ Dia kenapa sih?” Tanya Wati.
“ Lebih parah ini kalau ini, kebanyakan halusinasi, makanya eror parah, “ ucap Desy.
“ Tingkahnya terlalu angkuh, mentang-mentang anaknya walikota.”
“ Ooh...dokter Ardila itu anaknya walikota to?”
“ Iya bupati Delf.” sahut Desy kembali.
“ Bukankah Sayda juga berasal dari Delf?” Wati bertanya.
“ Ya, itulah yang membuat Ardila besar kepala karena merasa lebih segalanya dari Sayda.” Meli menanggapi dengan sinis.
“ Tapi menurutku Sayda lebih cantik, lebih ramah dan periang. Dia bisa membuat orang-orang sekelilingnya menjadi lebih ceria dan tenang. Senyumnya itu loh seolah menular. Sayda bisa membuat orang yang susah senyum akan ikut tersenyum bersamanya. “
“ Ardila juga cantik sih tapi Sayda kecantikannya terlihat lebih alami.” Ungkap Wati dengan jujur, yang lain mengangguk mengiakan.
“ Ehem...hem..hem...maaf mengganggu.” Semua kepala menoleh tertuju pada gadis manis yang tengah tersenyum pada mereka.
“ Saya mau tanya, dokter Barry ada di dalam?”
“ Ada dokter Mona, tapi ada tamunya sih,” jawab Desy.
“ Oh ya sudah, kalau begitu nanti aja saya kembali lagi.”
“ Eh tunggu dulu, sebaiknya dokter Mona malah harus masuk menemui dokter Barry,” ucap Desy dengan nada cepat. Mona mengerutkan keningnya. Desy berdiri dan menuntun Mona menuju depan ruang kerja direktur utama. Setelah mengetuk pintu, Desy membukanya dan memberi kode pada Mona untuk segera masuk. Masih dengan tatapan tanya yang dilemparkan Mona pada Desy, dia memasuki ruangan itu. Desy kembali pada kerumunan teman-temannya yang tertawa dan memberi tanda “ yes” dengan tangannya.
Mona akhirnya mengerti mengapa sekretaris dan perawat-perawatitu memaksanya masuk, karena tugasnya kini adalah untuk mengusir monster cantik yang ada di depannya yang sudah memberikan tatapan kesal melihat kehadirannya. Posisi Ardila yang duduk menantang di atas meja Barrium dengan kancing kemeja yang hampir terlepas seluruhnya─ sementara Barry asyik mengetik di laptopnya, sungguh membuat Mona Switenia geram. Barry langsung bangkit dari duduknya dan gembira melihat kehadiran Mona. Pria itu menghampiri dan mencium pipi Mona.
“ Kamu cantik sekali hari ini Kak,” ledek Barry pada Mona yang akan menjadi kakak iparnya.
“ Nggak usah ngeledek begitu lah. Aku mau kasih tahu kamu kalau kita nanti akan fitting baju untuk pernikahanku. Aku sudah beritahu Sayda, jadi nanti kakak aja yang jemput Dida atau aku yang menjemputnya?”
“ Biar aku saja Mona. Oh ya, kamu nggak dapat undangan pesta ulang tahun dokter Irwan? Dia barusan meneleponku dan aku berjanji akan datang bersama Sayda. “ Mona melihat Ardila dengan pandangan jijik, melihat
“ Kamu ada urusan apa dengan adik iparku? Banyak pasien di bawah yang butuh kamu untuk ditangani tapi kenapa kamu malah disini menggoda adik iparku yang jelas-jelas sudah ada yang punya? Kalau urusanmu sudah selesai silahkan keluar. Oh ya kancing bajumu dengan rapi supaya orang-orang di luar sana tidak menyangka kamu jalang yang mengganggu kekasih orang. “ Mona mulai melancarkan serangan sengitnya. Ardila menatapnya dengan marah. Hatinya makin panas ketika melihat Barry yang mendukung ucapan Mona.
“ Pintunya di sana kalau kamu lupa,” tunjuk Barry. Ardila menatap Barry dan Mona bergantian. “ Aku belum selesai denganmu Barry.” Ardila menunjuk dan memberikan tatapan tajam pada Barry lalu keluar ruangan. Mona dan Barry menarik napas lega.
“ Kamu kenapa biarkan dia masuk ke sini sih? Nanti kalau sampai Dida tahu, dia lari lebih jauh dan kamu akan sulit menggapainya lagi.” Barry menarik nafas panjang.
“ Aku juga kaget tadi dia tiba-tiba masuk.”
“ Kamu harus hati-hati Kak, reputasi Ardila sangat buruk. Aku kenal banyak teman di kampus yang sama dengannya. Dia tipe wanita yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan, meskipun dengan menjual dirinya.” Barry menghela nafas berat.
“ Kok dia bisa masuk ke sini sih?” Barry mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Mona.
“ Dulu dalam waktu yang hampir bersamaan saat aku melamar Sayda di Delf, datang undangan sebagai pembicara di acara seminar yang diselenggarakan di sana. Saat itu aku mengambil cuti karena ingin berlibur bersama Dida dan hampir aku tolak undangan itu. Tapi Dida meyakinkanku untuk ikut berpartisipasi dalam acara itu. Di sana aku bertemu dengan walikota dan putrinya. Pak Walikota kemudian mengundang kami untuk makan siang bersama, dan aku menyanggupi. Sejak awal walikota dan putrinya sudah tahu kalau kami baru saja bertunangan dan akan menghabiskan liburan bersama di Delf. Walikota bahkan menawarkan jika aku akan mendirikan cabang rumah sakit di sana.”
“ Dan akhirnya kamu mendirikan rumah sakit di sana?” Barry mengangguk menanggapi pertanyaan Mona.
“ Lalu bagaimana dia bisa masuk ke rumah sakit ini.” Bari kembali mengangkat bahunya.
“ Aku tidak tahu. Masuk melalui jalur pada umumnya, seleksi, wawancara, dan lain-lain. Kamu tahu kalau urusanku sangat banyak, jadi mana sempat urusi yang beginian. Tenang saja aku bisa jaga diri, tidak akan terjebak dalam provokasinya.”
“ Tapi kamu sudah terlanjur terjebak dan sedang dalam masalah besar, Kak Barry.” Mona membalas sinis. Barry menatap lekat calon kakak iparnya.
“ Aku dijebak Mona. Aku bisa buktikan itu. Ada rekaman CCTV dan uji laboratorium sampel teh yang aku minum positif mengandung beberapa senyawa afrodisiak dengan konsentrasi cukup tinggi Mona. Apa itu belum cukup?” Barrium Latief mengusap wajahnya dna tertunduk lama lalu menatap Mona.
“ Kalau aku tahu dia menaruh sesuatu dalam tehku, aku pasti menolak Mon. Saat itu aku kelelahan karena kunjungan monitoring ke beberapa daerah, sekaligus menjadi pembicara di beberapa acara seminar. Rasanya memang kondisiku saat itu sedang drop makanya aku memilih tempat yang paling dekat dengan bandara adalah apartemen Barry. Awalnya biar tidak bolak balik karena kamu kan mengadakan surprise’s party untuk Radi. Ketika kemudian ada yang mengetuk pintu, aku pikir itu asisten rumah tangganya Radi, jadi aku bukakan. Walaupun akhirnya aku kaget kalau Dila yang muncul di balik pintu.“ Barrium mengucapkan kalimat terkahirnya dengan nada frustasi.
“ Kelanjutannya sudah aku bisa tebak. Tapi pertanyaanku itu mengapa Ardila bisa ada di tempat Radi?” Mona mulai melancarkan penyelidikannya, membuat Barry menghela nafas dengan berat.
“ Aku bertemu dengan Ardila di bandara─ dia sedang menjemput omanya. Aku berhasil menghindar saat itu. Namun sialnya, kami bertemu kembali di loby apartemen Radi. Dia mengantarkan oma ke rumah tantenya yang juga tinggal di gedung yang sama dan lantai yang berbeda. Aku sudah menghindarinya Mona, dia terus mengikutiku dan aku tidak pernah menggubrisnya. Aku segera masuk ke kamar dan mengunci lalu tidur selama hampir dua jam. Aku pikir dia akan pergi dengan sendirinya ketika diacuhkan, tapi ternyata aku salah. “ Barry tertunduk lunglai, diremas rambutnya kuat. Dia kembali mengusap wajahnya dan menghela nafas berat.
“ Sayangnya Sayda termakan fitnah itu.”
“ Itu bukan fitnah Kak barry. Itu nyata bahkan aku sendiri ada di sana ketika kalian sedang asyik masyuk menempel tanpa busana di sana.”
“ Oke, aku yang salah. Tapi kamu ingat aku tidak sadar sepenuhnya.” Barry berteriak pada Mona.
“ Sayda sangat terluka Kak, hatinya hancur lebur dan membuatnya trauma,” ucap Mona prihatin.
“ Ya aku tahu itu, Mon. Tapi apakah aku nggak layak mendapat kesempatan kedua? Aku benar-benar mencintainya Mona. Nggak ada perempuan lain di hati dan pikiran aku kecuali Sayda.” Barrium tampak frustasi dan Mona jatuh iba padanya.
“ Kalau kamu mau meraih hati Dida kembali, jangan kekang dia. Biarkan dia bebas dan tenang. Kalau kalian memang ditakdirkan bersama, dia tetap akan menjadi pendamping hidupmu Kak.”
“ APA? MELEPASKAN SAYDA PERGI SAMA SAJA MEMBIARKAN DIA DIMILIKI ORANG LAIN, MONA!”
“ Kalau memang itu jalan keluarnya dan satu-satunya yang bisa membuat dia bahagia, kenapa tidak.?”
“ Langkahi dulu mayatku, kalau begitu.”
“ Posesif banget, aku ngeri ngeliat kamu bucin seperti ini, Kak.”
“ Apa itu bucin?”
“ b***k cinta.”
“ Aku nggak peduli orang mau bilang aku posesif, bucin, arogan, atau apalah suka-suka hati mereka, yang penting Sayda tetap milikku.” Mona tertawa sinis.
“ Kamu benar-benar sudah tidak tertolong lagi Barrium Latief.” Barrium hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
“ Lalu sekarang setelah kamu tahu profilnya Ardila seperti ini, kamu tidak mengusirnya kak?”
“ Mona, memecat seseorang itu harus ada alasan dan bukti yang jelas tidak bisa sembarangan.”
“ Apakah kamu takut dengan kuasa dan pengaruh jaringan keluarga Ardila? Kamu sudah mengantongi bukti-bukti yang kuat kan?”
“ Sebagai calon istri seorang Radium Latief kamu nggak semstinya bocara seperti itu Mona Switenia. Kamu belum tahu betapa berpengaruh dan berkuasanya nama belakang Latief yang akan kamu sandang setelah resmi menjadi nyonya Radium nantinya. Jangan remehkan hal itu dan kamu bisa buktikan sendiri kelak. “ ujar Barrium tajam.
“ Satu hal lagi, aku harus bisa bersikap profesional. Kejadian itu terjadi di luar jam dinas dan wilayah kerja. Status kami juga masih lajang. Jadi itu bukan alasan yang tepat untuk memberhentikan seseorang dari pekerjaannya.”
“ Kalau begitu, cepat dong urus statusmu dan Sayda agar terikat.”
“ Aku mau Mona, kalau bisa detik ini juga aku nikah dengan Sayda. Tapi dia kan yang tidak mau? Kamu tahu watak Sayda seperti apa.” Ucap Barry penuh emosi.
“ Ya benar, Sayda memang keras kepala. Dia wanita yang terlalu mandiri.” Mona menghela nafas berat.
Tanpa mereka sadari, ada beberapa orang di luar sana yang ikut mendengar pembicaraan mereka lewat pintu yang tidak tertutup rapat. Direktur keuangan Irwansyah dan tiga orang lainnya saling bersitatap sebelum mengetuk pintu kemudian.
******
Wanita berstelan kemeja dan rok merah muda dengan jas putih di bagian luarnya itu tengah berjalan cepat dengan kaki menghentak sepanjang koridor rumah sakit. Terlihat jelas kalau dia dalam kondisi buruk. Dua orang perawat yang menyapanya tidak diindahkannya. Segera dia memasuki ruangannya dan menangkupkan wajahnya di atas meja. Pembicaraan beberapa karyawan dan perawat di rumah sakit ini yang masuk dalam pendengarannya membuatnya panas. Seperti kaset yang terus diputar di dalam kepalanya, selalu terngiang percakapan yang membuatnya tersudut bergema membuat emosinya tersulut. Dilemparkan semua benda yang ada di atas meja kerjanya, nafasnya memburu. Apapun yang terjadi, Barrium latief harus menjadi milikku. Aku berjanji, apapun akan kulakukan. Teriak Ardila dalam hati.
Pintu ruangan terbuka, Mila seorang perawat masuk dan terperanjat melihat kondisi Ardila.
“ Dokter, ada apa? Apakah dokter sakit, kenapa pucat dan terlihat kusut?” Tanya perawat muda itu. Ardila masih diam.
“ Apa saya batalkan saja ya janji empat pasien-pasien ini Dok? Mumpung yang datang juga masih dua orang.” Mila bertanya dengan wajah cemas.
“ Nggak usah Mil. Saya akan memeriksanya, sepuluh menit dari sekarang ya. “
“Baik Dok, biar saya saja yang merapikan meja ini,“ ucap Mila yang dengan cekatan mulai memunguti barang-barang yang berjatuhan dan Dila mulai menatanya kembali.
“ Dokter beneran nggak apa-apa?”
“ Nggak apa-apa Mil. Oh ya berapa pasien untuk hari ini?”
“ Yang buat janji sih ada tujuh orang, tapi yang sudh konfirmasi baru empat orang Dok.” Ardila mengangguk.
Pintu ruangan diketuk dan seseorang pria masuk dan tanpa disuruh dia sudah berada di depan meja Ardila, melemparkan surat begitu saja ke mejanya.
“ Baca nih dengan baik,” ujar pria itu dengan nada yang terlihat jengkel. Ardila cepat membuka sampul amplop itu dan membacanya dengan tergesa.
“ Hasil laboratorium itu mengatakan kalau kamu hamil masuk sembilan minggu, Dilla. Aku mau tahu apa tanggapan dan komentarmu sekarang,” ucap pria itu dengan tatapan mata tajam memperhatikan Ardila yang tengah membaca kertas yang dilemparkannya tadi.
“ Berhentilah bermain-main, Dila. Katakan padaku siapa ayah dari janin yang kamu kandung ini?”
“ Aku ayah dari janin yang dia kandung, Wan!” Suara tegas pria putih dan tampan dengan stelan jas abu-abu yang senada dengan celana panjang yang ipakainya tiba-tiba muncul di hadapan mereka membawa bunga dan bungkusan berisi makanan. Ardiwan dan Ardila terlonjak kaget. Ardila menatap kesal pada pria yang baru datang dan tiba-tiba masuk tanpa mengucapkan salam dan ijin terlebih dahulu itu.
“ Dia bukan anakmu Gus.” Ardila mengucap sengit dengan pandangan tajam ke arah pria yang baru tiba.
“ Kamu tidak perlu mangkir sayang, kita melakukannya berpuluh-puluh kali sejak empat bulan yang lalu kan? Silakan saja lakukan tes DNA, aku berani pastikan DNA kami memiliki kemiripan seratus persen, “ungkap Vanadian Bagus dengan suara mantap penuh percaya diri.
“ Ini untuk kamu. Aku bawakan makan siang sekalian. Aku nggak mau terjadi apa-apa pada anakku nanti.” Pria itu menyerahkan bunga dan meletakkan bungkusan di atas meja kerja Ardila.
“ Dahulu aku tidak percaya dengan semua gosip yang beredar, tapi ternyata memang benar-benar menjijikan kamu , Dil.” Ardiwan mengumpat lalu meninggalkan ruangan dengan penuh emosi.
Dua hari kemudian
Seseorang mengguncang bahu Ardila.
“ Dokter...dokter, ada apa? Apa dokter sakit? “ Ardila mengangkat wajahnya.
“ Ada apa Mil?”
“ Dokter menangis?” Ardila terhenyak.
“ Oh..eh..nggak kok. Saya pusing sekali Mil. Nggak tahu badan kok rasanya pegal semua. “ Ardilla berkata sambil menghapus jejak air mata di wajahnya.
“ Ada apa Mil?”
“ Ada tamu pria mau bertemu Bu Dokter bawa bunga dan kue Bu. Orangnya ganteng banget, sepertinya pernah beberapa kali ke sini.” Mila memberi kode menggoda Ardilla.
“ Suruh dia masuk, Mil.”
“ Cie...cie..cie..ehm uhuy... siap Bu.” Mila terkekeh dan memberi pandangan menggoda pada Ardila.
Pria itu masuk dengan senyum lebar menghias wajahnya. Tapi sebaliknya, wajah Ardila malah mejadi kaku.
“ Wajah kamu pucat sekali sayang. Apakah kamu sudah sarapan tadi pagi? Atau kamu mengalami morning sickness? “ Rahang Ardila semakin mengeras mendengar rentetan pertanyaan pria iru.
“ Aku kan sudah bilang Gus, jangan pernah kamu ke sini lagi atau tampil di hadapanku. Hubungan kita cukup sampai di sini.” Protes Ardila tegas. Lama mereka bersitatap.
“ Dilla, menikahlah denganku. Anak itu butuh ayah, aku akan memberikan jiwa dan ragaku untuknya.”
“ Jangan mimpi kamu Gus, harapan kamu terlalu tinggi. Sejak awal kita sudah berkomitmen tidak akan ada ikatan di antara kita.”
“ Tapi anak itu darah dagingku Ardila, dia butuh pengakuan. “
“ Seandainya dibutuhkan pengakuan, jelas bukan berasal darimu, Gus.”
“ Lalu, pengakuan siapa yang kamu inginkan? Dari Barrium Latief yang jelas-jelas tidak mencintaimu? Dia sudah berkali-kali mencampakkan kamu, tapi kamu masih terus mengemis cinta darinya? “ Ardilla terdiam.
“ Dilla, lihat aku! Aku benar-benar mencintaimu. Kita bisa bisa belajar dan mulai dari awal, membuka lembaran baru dan membesarkan anak kita sayang. Anak ini nggak salah Dilla, kamu tahu itu. Dia nggak minta dilahirkan, kita yang menyebabkannya ada.” Vanadian Bagus beranjak mendekati Dilla meraih bahunya, memeluknya dan mengecup puncak kepalanya. Lama Bagus merangkul, kemudian tangan Ardila melepasnya.
“ Pergilah Gus, aku butuh sendirian.” Suara Ardila lirih. Bagus memandangnya lama, kemudian mengecup kepala Ardila lagi sebelum beranjak keluar. Mila yang hendak memasuki ruangan dan tak sengaja mendengar percakapan kedua insan di dalam ruangan itu tampak membelalakkan matanya sambil meletakkan tangan menutupi mulutnya yang menganga dan satu tangan di depan d**a seolah hendak menenangkan jantungnya yang berdebar keras. Seolah tersadar, dengan cepat dia kembali ke mejanya dan pura-pura sibuk menulis.
******