BAB 10

2828 Kata
Mimpi, baru saja aku kembali bermimpi buruk. Mimpi yang sama seperti yang ku alami ketika kematian Siska, dan semalam aku memimpikan kematian Tina. Di dalam mimpiku, Tina dibunuh tidak kalah sadisnya dengan pembunuhan Siska. Pelakunya kuyakini adalah wanita yang tempo hari hadir di mimpiku. Wanita yang juga membunuh Siska, semalam dia pun membunuh Tina.  Tapi kenapa, kenapa untuk kedua kalinya aku memimpikan kejadian yang serupa? Kenapa aku juga harus memimpikan kematian Tina?  Cepat-cepat ku gelengkan kepalaku untuk menepis semua pemikiran bodohku ini. Mungkin semua yang terjadi padaku hanyalah sebuah kebetulan. Kebetulan aku bermimpi buruk tentang kematian Siska tempo hari. Hanya sebuah kebetulan mimpi burukku menjadi kenyataan, inilah yang harus ku yakini sekarang. Lagipula belum tentu mimpiku semalam tentang kematian Tina menjadi kenyataan. Tentu aku berharap mimpi burukku kali ini tidak pernah menjadi kenyataan. Aku tidak pernah berharap nasib Tina akan setragis seperti yang ku lihat di mimpiku.  Aku melanjutkan memijat keningku yang terasa berdenyut sakit sejak aku terbangun dari tidurku karena mimpi burukku. Ku lirik jam yang tergeletak manis di atas meja, waktu menunjukan pukul 6 pagi. Terlalu pagi untuk bersiap-siap berangkat ke kantor sekaligus waktu yang tidak tepat untuk kembali melanjutkan tidurku.  Dengan malas aku pun turun dari ranjang mungilku. Aku mengambil handuk yang ku gantung di belakang pintu. Aku keluar dari kamar dan melangkah menuju kamar mandi.  Sebenarnya sejak semalam aku sudah tidur di kost-an baruku. Setelah kemarin sore aku ditemani Rachel berkeliling mencari kost-an di dekat kantorku. Akhirnya aku menemukan kost-an yang ku rasa cocok untuk ku tempati. Letaknya sangat dekat dengan kantor, hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki.  Awalnya Rachel menentang keras keinginanku untuk pindah kemari, dia ingin agar aku tetap tinggal di rumahnya. Tentu tak mungkin aku menerimanya. Selain karena rumahnya yang cukup jauh dari kantorku, aku juga tidak ingin terus merepotkannya. Setelah membujuknya dengan berbagai kata-kata manis, akhirnya Rachel mengizinkanku pindah ke kost-an ini.  Kost-an baruku lebih mirip seperti sebuah asrama. Banyak kamar yang disewakan disini. Aku memang hanya menyewa sebuah kamar yang tidak terlalu luas namun cukup nyaman menurutku. Disini fasilitas seperti tempat tidur, lemari, satu meja dan satu kursi sudah disediakan oleh pemilik kost-an. Sesuai dengan keinginanku, mengingat aku hanya membawa pakaian saja di dalam koperku. Memang kost-an yang sudah menyediakan fisilitas lengkap seperti inilah yang ku cari karena itulah aku memilih kost-an ini.  Kekurangannya hanya kamar mandi yang terletak di luar kamar. Kamar mandi yang digunakan bersama-sama dengan penghuni kamar lain. Tak masalah bagiku.  Setiap kamar disini nyaris sudah dihuni, beruntung masih ada sisa satu kamar kosong ketika kemarin aku menemukan kost-an ini. Mungkin memang kamar kosong itu sudah ditakdirkan untuk menjadi tempat tinggalku selama aku menetap di Jakarta. Aku bersyukur karena pencarianku dan Rachel kemarin sore berjalan mulus.  Nilai plus lain yang membuatku memilih kost-an ini yaitu pemilik kost-an ini yang ramah dan baik. Keamanan disini pun terbilang cukup bagus, ada seorang satpam yang berjaga di pos keamanan yang dibangun tepat di dekat gerbang gedung kost-an ini. Membuatku merasa aman dan tak perlu mengkhawatirkan tingkat keamanannya.  “Hai, penghuni baru ya?” Aku tersentak dari lamunanku, salah satu penghuni kost-an ini berpapasan denganku, sepertinya dia baru saja menyelesaikan aktivitas mandinya. Aku mengangguk dengan senyuman yang tersungging tipis di bibirku menanggapi sapaannya.  “Kenalin namaku, Ria. Penghuni kamar no.10,” ucapnya seraya dia ulurkan tangan kanannya padaku. tanpa ragu ku terima uluran tangannya. “Nana. Penghuni kamar no.5,” jawabku. “Kapan mulai pindah ke sini?” “Baru semalam.” Dia mengangguk-anggukan kepalanya. “Kamu kerja atau mahasiswa?” “Aku kerja, kamu?” Tanyaku antusias. Sepertinya orang bernama Ria ini cukup ramah dan menyenangkan diajak mengobrol. “Aku juga kerja. Kamu kerja dimana?” Tanyanya antusias. “AA corp, kantornya tidak jauh dari sini.” Dia membulatkan matanya mendengar jawabanku, kentara sekali dia terkejut mendengarnya. “Serius kamu kerja di sana?” Dan kubalas hanya dengan anggukan. “Waah, keren dong. Perusahaan itu kan belum lama diresmikan belum nyampe 3 tahun. Terus aku denger agak susah bisa diterima di sana. CEO-nya terlalu pemilih. Berarti kamu hebat ya bisa diterima di sana.” Wajahnya berseri-seri dan tampak kagum ketika mengatakan ini. Aku tersenyum kecil, jadi begitukah pandangan orang luar tentang perusahaan tempatku bekerja. Sepertinya sosok Araya yang tegas sudah cukup tersohor di luar kantor. Diam-diam aku terkekeh geli mengetahuinya.  “Eh ... kenapa ketawa? Aku tahu soalnya aku pernah ngelamar juga disana. Sayang aku gak diterima. Ngomong-ngomong soal CEO, CEO perusahaan itu kan ganteng banget ya. Aku hampir lupa cara ngedip waktu diinterview sama dia. Malah gak bisa konsentrasi juga soalnya muka dia terlalu menyilaukan. Namanya Araya Addison kan? Sayang dia udah punya istri.” Dan aku pun tertawa lantang mendengar kata-kata Ria yang terlalu berlebihan menurutku.  “Dia sendiri kan yang nentuin siapa aja yang dia terima kerja di perusahaan dia? Dia tegas banget orangnya makanya kamu hebat bisa diterima di sana,” tambahnya. “Sebenarnya aku bisa diterima disana atas rekomendasi dari sahabatku. Dia sepupunya si CEO itu,” jawabku jujur. “Woow ... enak banget dong. Kamu kerja di bagian apa?” Untuk pertanyaan ini aku sempat ragu menjawabnya. Tapi karena tak ingin membohonginya akhirnya aku pun mengatakan yang sejujurnya.  “Hm, sekretaris pribadi CEO.” “Haah, serius? Enak banget tuh. Bisa liat kegantengan Araya tiap hari. Beruntung banget sih kamu.” Aku kembali tersenyum kecil. “Tapi pasti ada gak enaknya juga ya soalnya dia tegas dan disiplin banget.” “Iya, bener banget,” jawabku, menyetujui. “Ya udah deh kalau gitu, kapan-kapan kita lanjut lagi ya ngobrolnya. Kamu mau mandi, kan? Cepetan masuk sebelum dipake orang lain kamar mandinya. Bentar lagi pasti ngantri soalnya hampir semua penghuni kost-an ini karyawan kantoran. Mudah-mudahan kamu betah tinggal di sini ya,” tutupnya, aku mengangguk seraya tersenyum manis. Lalu bergegas masuk ke kamar mandi ketika dari arah lorong, ku lihat ada seseorang yang sedang berjalan menuju kamar mandi. Gedung kost-an ini terdiri dari dua lantai. Ada 3 kamar mandi di setiap lantainya.  Hanya membutuhkan waktu 15 menit, hingga aku menyelesaikan aktivitas mandiku. Pekaian kerjaku sudah membungkus rapi tubuhku. Aku sudah bersiap untuk berangkat kerja. Di sini aku tidak bisa memasak, mau tidak mau aku harus membeli makanan di luar jika ingin makan. Pagi ini ku putuskan untuk sarapan di kantin kantor saja.  Aku berjalan kaki dengan tenang, tidak terburu-buru mengingat waktu jam kerja masih tersisa sekitar satu jam lagi. Masih cukup lama dan aku masih memiliki banyak waktu untuk bersantai-santai sejenak.  Setibanya di kantin kantor, aku memesan sepiring bubur ayam yang kebetulan tersedia juga disini. Kedua mataku bergulir menatap seisi kantin, cukup banyak karyawan kantor yang memutuskan untuk sarapan di kantin ini sepertiku.  Aku menempati meja yang masih kosong, tersenyum sekilas pada dua pria yang duduk di dekat mejaku. Aku pun menyantap bubur di hadapanku dengan lahap hingga obrolan dua pria itu cukup menarik atensiku.  “Kamu lihat berita gak tadi pagi?” Tanya salah seorang pria. “Nggak, kenapa emangnya?” Sahut rekannya tampak heran dengan pertanyaan pria tadi. “Ada berita tentang kematian seorang wanita gitu. Tapi kayaknya aku kenal deh yang meninggal itu.” “Siapa emangnya? Kenalan kamu?” Si pria mengangguk, aku masih menyantap buburku dengan telinga yang ku pasang setajam mungkin mendengarkan pembicaraan mereka. “Wanita itu kayaknya Tina deh. Itu lho bagian marketing pemasaran yang ruangannya ada di lantai 10. Dia mengundurkan diri dua hari yang lalu kalau gak salah.” Aku terperanjat kaget mendengarnya hingga tanpa sadar aku bangun dari kursiku.  “Apa kamu bilang tadi? Tina meninggal?” Tanyaku tiba-tiba, membuat kedua pria itu saling berpandangan heran. “I-Iya, kayaknya wanita di berita itu, Tina.” “Dia kenapa bisa meninggal?” Tanyaku, semakin syok setelah meyakini aku tidak salah dengar tadi. “Mungkin kecelakaan soalnya dia meninggal tertimpa lampu hias di rumahnya. Tapi ngeri banget katanya kepalanya ampe belah gara-gara tertimpa lampu hias yang berukuran cukup besar di rumahnya.” Seketika aku merasa lututku menjadi lemas mendengarnya. Aku kembali terduduk di kursiku. Aku tidak mampu mengeluarkan suaraku, aku terlalu terkejut mengetahui apa yang ku lihat di mimpiku semalam kini kembali menjadi kenyataan.  Aku kehilangan selera makanku dan bergegas pergi menuju ruanganku di lantai 10. Di dalam ruangan, aku hanya menghabiskan waktu dengan melamum. Aku bahkan tidak menyadari jam sudah menunjukan pukul 8, yang mana artinya jam kerja telah dimulai.  Aku masih duduk termenung di kursiku hingga telingaku menangkap suara ketukan di sampingku. Cepat-cepat aku menoleh ke dinding kaca yang memisahkan ruanganku dengan ruangan Araya.  Aku terlonjak kaget ketika melihat Araya sedang berdiri sambil mengetuk-ngetuk dinding kaca tersebut. Dia memberikan isyarat dengan tangannya agar aku datang ke ruangannya. Tanpa membuang waktu, aku pun bergegas menuju ruangannya.  “Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?” Tanyaku sopan, setelah kini aku berdiri tepat di depan meja Araya. “Kau sedang melamun ya? Saya panggil dari tadi. Komputernya saja belum dinyalakan padahal sudah masuk jam kerja?” “Maaf, Pak. Tadi ada sesuatu yang sedang saya pikirkan.” “Jangan banyak melamun kalau sedang bekerja.” “Iya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf.” Aku menundukan pandanganku tak berani menatap kedua matanya. Sepertinya pagi ini lagi-lagi aku telah melakukan sebuah kesalahan, sialnya lagi Araya memergokiku sedang melamun.  “Kau masih ingat kan saya sudah pernah bilang, saya mau pergi ke luar kota untuk mengikuti pertemuan penting?” “Iya, Pak. Saya masih ingat,” jawabku cepat. “Tolong pesankan tiket pesawat untuk saya besok siang. Tujuan ke Medan.” “Baik, Pak.” “Kau juga periksa data keuangan untuk proyek pembangunan Mall di Medan. Serta tolong siapkan semua dokumen yang harus saya bawa besok.” “Baik, Pak.” Araya mendesah pelan seraya memijit pangkal hidungnya seolah dia sedang memiliki banyak beban. “Bapak baik-baik saja?” Tanyaku khawatir. “Ya, saya baik-baik saja. Kau bisa kembali ke ruanganmu.” Aku mengangguk, lalu melenggang pergi dari ruangannya.  Setibanya di ruanganku. Aku mendudukan diri di kursiku. Aku menoleh sebentar ke arah ruangan Araya. Cepat-cepat ku palingkan wajahku ketika tatapanku beradu pandang dengannya. Rupanya dia sedang menatap ke arahku juga.  Menyadari sepertinya bosku masih mengawasi gerak-gerikku, cepat-cepat aku mengerjakan tugas yang diberikannya padaku tadi.  Kunyalakan komputer, lalu memesankan tiket penerbangan ke Medan untuk bosku. Tak lupa aku memeriksa data keuangan proyek disana seperti yang diperintahkannya tadi. Meyakini tak menemukan masalah keuangan apa pun dalam proyek itu, aku pun mulai menyiapkan dokumen-dokumen yang harus dibawa Araya besok.  Tepat pukul 12 siang, aku telah menyelesaikan semua pekerjaanku. Semua yang diperintahkan Araya tadi telah ku kerjakan dengan baik. Seharusnya saat ini aku pergi ke kantin untuk makan siang, namun kejadian yang menimpa Tina tak luput sedikit pun dari ingatanku. Entah kenapa aku merasa harus bergegas pergi ke rumah Tina untuk memastikan kejadian yang menimpanya benarkah sama persis dengan yang ku lihat di dalam mimpiku.  Aku kembali memfokuskan pandanganku pada layar komputer. Aku mencari profil tentang Tina, lalu ku simpan alamat rumahnya di memo ponselku.  Ketika aku melirik ke arah ruangan Araya, ku lihat dia masih berada di dalam ruangannya. Dia sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen.  Aku tak bisa menahan lagi rasa penasaranku ini. Entah mendapatkan keberanian dari mana, aku pergi ke ruangan Araya membawa serta beberapa dokumen yang sudah ku siapkan untuk dibawa Araya besok.  Araya mendongak, mengalihkan tatapannya dari dokumen di atas meja ketika melihat aku sudah berdiri di hadapannya.  “Kau tidak pergi makan siang?” Tanyanya. “Tidak, Pak. Bapak juga belum makan siang? Perlu saya pesankan makanan untuk Bapak?” Tawarku, berbaik hati. “Tidak perlu, saya sudah memesannya tadi.” “Oh begitu. Hm ... Pak, ini dokumennya sudah saya siapkan. Dan tentang data keuangan, saya tidak menemukan masalah apa pun untuk proyek pembangunan Mall di Medan.” Aku meletakan setumpuk dokumen itu di atas mejanya. “Bagus kalau begitu,” jawabnya seraya kembali memfokuskan pandangannya pada dokumen yang tadi sedang dibacanya.  “Pak, jika Bapak mengizinkan, bolehkah saya izin pulang cepat hari ini? Saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan saya hari ini.” Dia kembali mendongak menatapku, kali ini aku tak menunduk. Sebaliknya aku balas menatapnya, bukan sok berani, aku hanya ingin menunjukan keseriusanku atas ucapanku tadi padanya. “Kenapa? Ada urusan penting?” Tanyanya dengan dahi mengernyit. “Bapak sudah mendengar berita kematian Tina?” Dan aku berani bersumpah, dia sedang terbelalak kaget sekarang. Seolah pertanyaanku ini merupakan sesuatu yang mustahil terjadi.  “Tina meninggal? Maksudnya Tina mantan karyawan saya yang mengundurkan diri kemarin?” Aku pun hanya mengangguk sebagai jawabanku. “Kenapa dia bisa meninggal?” “Saya dengar dia tertimpa lampu hias di rumahnya. Kondisinya sangat mengenaskan, tengkorak kepalanya belah. Jika anda tidak keberatan, saya bersedia melayat ke rumahnya sebagai perwakilan perusahaan ini untuk mengucapkan bela sungkawa pada keluarganya.” Araya terdiam, tertegun lebih tepatnya. Mungkin kabar yang baru didengarnya ini cukup membuatnya syok. Padahal belum genap satu minggu kematian Siska, Kini Tina pun meninggal secara tragis.  “Pergilah, saya mengizinkanmu pergi ke rumahnya untuk mewakili perusahaan. Tolong sampaikan bela sungkawa saya pada keluarganya.” “Baik, Pak. Terima kasih. Saya permisi.” Setelah aku melihat dia mengangguk dalam diam, aku pun melenggang pergi dari ruangannya.  Aku pergi ke rumah Tina dengan menaiki taksi. Di depan rumah Tina, kulihat kondisinya sangat ramai. Banyak mobil polisi terparkir disana. Banyak pula warga sekitar yang berkerumun untuk melihat penyelidikan yang dilakukan polisi.  Aku tidak masuk ke dalam rumah karena polisi memasang gadis kuning untuk mencegah kami masuk ke area TKP. Hanya saja di dekat pintu, ku lihat seorang wanita paruh baya sedang menangis dalam pelukan seorang polwan. Mungkin dia ibu kandung Tina.  Terlalu penasaran, aku pun mencoba mencari tahu dengan bertanya pada salah seorang warga. Aku bertanya pada seorang wanita muda yang berdiri tidak jauh dariku.  “Permisi, Mbak. Kalau boleh tahu apa yang terjadi di dalam? Apa benar Tina meninggal semalam?” Tanyaku, wanita itu menatap heran padaku. “Hmm ... saya teman Tina di kantor,” jawabku, menjelaskan hubunganku dengan Tina. Raut curiga yang sempat terpatri di wajahnya, hilang seketika. “Iya, benar. Tina meninggal semalam.” “Kenapa dia bisa meninggal?” “Mungkin karena kecelakaan karena tertimpa lampu hias. Semalam saya dan suami mendengar suara ribut di dalam rumahnya. Kami menemukan Tina sudah tergeletak bersimbah darah di lantai dekat tangga. Nyawanya sudah tidak tertolong.” Mendengar jawabannya aku semakin yakin bahwa yang menimpa Tina sama persis dengan yang ku lihat di dalam mimpiku.  “Ini bukan kecelakaan, dia dibunuh,” gumamku pelan, namun sepertinya wanita di sampingku ini masih bisa mendengar gumamanku. “Apa kamu bilang barusan? Tina dibunuh?” “Eh, Ng-Nggak. Maksud saya memangnya tidak ada kemungkinan dia dibunuh? Bisa jadi dia dibunuh, kan?” “Saya rasa Tina kecelakaan. Polisi tidak menemukan tanda-tanda ada orang lain di rumahnya, tidak juga menemukan tanda rumahnya dimasuki secara paksa. Hanya ada Tina di dalam rumahnya karena ibunya juga sedang tidak ada di rumah semalam. Dia sedang ke luar kota mengunjungi kerabatnya. Ibunya baru kembali barusan setelah mendengar kabar putrinya meninggal.” Aku tak mengatakan apa pun lagi karena aku tahu persis apa yang telah terjadi pada Tina. Sayang aku tidak bisa membuktikan bahwa Tina meninggal karena dibunuh bukan karena kecelakaan.  Aku tersenyum kecil pada wanita itu dan berjalan menjauh. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku sehingga lagi-lagi mimpiku menjadi kenyataan. Tapi ku rasa ada seseorang yang akan mengetahui penyebab keanehan ini. Seseorang yang akan mengetahui alasan mimpiku bisa menjadi kenyataan.  Aku berdiri di bawah sebuah pohon, setelah memastikan tak ada siapa pun di dekatku. Aku bergegas menelepon seseorang itu yang tidak lain merupakan nenekku sendiri.  “Hallo.” Aku mengembuskan napas lega ketika suara familiar di seberang telepon mengalun merdu di telingaku. “Nek, nenek, ” panggilku. “Nana, gimana kabar kamu?” Tanya Nenek antusias. Dia terdengar senang karena aku meneleponnya. “Aku baik, Nenek gimana?” “Nenek juga baik. Gimana kamu betah tinggal di Jakarta? Kerjaan kamu gimana?” Berbagai pertanyaan bertubi-tubi terlontar dari mulutnya. Aku memang sudah menceritakan semuanya pada nenek, termasuk kepindahanku ke Jakarta dan soal pekerjaan baruku juga. “Aku betah Nek di sini, kerjaanku juga lancar. Oh iya Nek, aku mau tanya sesuatu.” “Iya, kamu tanyain aja, Na,” jawab nenekku, tak kalah antusias. “Nek, kita berdua kan punya kemampuan bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk mistis. Apa mungkin kemampuan kita bisa berkembang lagi, Nek?” “Berkembang gimana maksud kamu, Na?” Aku menghela napas panjang sebelum aku melanjutkan ucapanku.  “Begini, Nek. Udah dua kali aku mimpi buruk. Di dalam mimpiku, aku ngeliat dua teman di tempat kerjaku dibunuh dengan sadis oleh seorang wanita yang sepertinya bukan manusia. Tapi anehnya mimpiku itu jadi kenyataan, kedua temanku itu benar-benar meninggal. Kejadiannya sama persis kayak di mimpi aku. Apa mungkin sekarang aku bisa liat nasib orang lain melalui mimpi aku, Nek?” Tak terdengar suara nenekku menyahuti, membuatku harus melihat layar ponselku untuk memastikan teleponnya masih tersambung.  “Nek,” panggilku, panik karena suara nenekku masih belum terdengar juga padahal teleponnya masih tersambung. “Itu bukan kemampuan kamu yang berkembang, Na. Tapi itu peringatan buat kamu dari wanita itu. Dia sengaja liatin perbuatan dia ke temen-temen kamu lewat mimpi.” “Peringatan?” “Ya, dia lagi coba ngasih kamu ancaman kalau kamu ikut campur urusannya maka dia bakalan bikin kamu bernasib sama kayak dua temen kamu itu. siapa pun wanita yang melakukan itu, dia itu berbahaya, Na. Kamu jangan coba-coba melibatkan diri dalam urusan dia. Kamu gak lagi nyembunyiin sesuatu dari nenek, kan? Kamu gak lagi ngelibatin diri sama seseorang yang berbahaya, kan, Na?” Aku terbelalak sempurna sekarang, aku tak menyangka itulah maksud di balik mimpi burukku. Tidak mungkin firasat nenekku salah, dia sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi makhluk gaib.  “Nana!” Teriak nenekku, di sebrang sana. Mungkin khawatir karena aku hanya diam saja. “Nggak kok, Nek. Nenek gak usah khawatir. Aku gak akan ngelibatin diri dalam urusan siapa pun.” “Iya, Na. Inget ya nasihat nenek ini. Wanita itu berbahaya, lebih baik kamu jauhi dia. Dia sedang mencoba mengancam kamu. Jangan melangkah lebih jauh lagi dari ini.” “Iya, Nek. Aku ngerti. Ya udah, Nek. Aku pulang dulu ya soalnya aku lagi di luar. Makasih ya, Nek. Nanti aku telepon lagi.” “Ya udah, kalau bisa kamu cepet pulang ke Indramayu ya. Udah lama kamu gak pulang ke sini?” “Iya, Nek. Nanti kalau libur kerja aku pulang ke sana.” Aku pun memutuskan sambungan telepon.  Jadi, siapa wanita yang membunuh Siska dan Tina di dalam mimpiku? Aku tidak bisa mengenali sosoknya. Mungkinkah dia benar-benar Mikayla? Mungkin memang dia, mengingat Siska dan Tina dibunuh setelah kepergok sedang membicarakan kejelekannya. Dan saat itu Mikayla memergoki aku juga sedang mengobrol bersama mereka. sangat wajar jika dia berpikir aku pun ikut menjelekannya.  Namun dari semua pertanyaan, satu pertanyaan terbesarku saat ini. Siapa sebenarnya Mikayla?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN