Rembulan tak tampak di langit mendung malam itu, bintang-bintang pun seolah enggan menampakan wujudnya. Kilatan petir yang saling bersahut-sahutan menjadi satu-satunya penghias langit.
Mengabaikan cuaca buruk malam itu, beberapa orang tetap sibuk dengan aktivitas mereka di luar rumah. Ada yang tengah berjalan kaki sekadar berjalan-jalan untuk membeli beberapa cemilan malam. Ada pula yang hanya sekadar berjalan-jalan untuk menghilangkan penat.
Hal serupa tengah dilakukan oleh seorang gadis bernama Tina. Dia tengah duduk di sebuah ayunan yang terpasang manis di halaman rumahnya. Tak ada seorang pun disana, selain dirinya sendiri. Dia menghentak-hentakan kakinya ke tanah agar ayunan yang didudukinya bisa terayun. Kedua kakinya berselonjor ke depan dengan tatapan matanya kosong mengarah kepada kedua kakinya yang menggantung.
Ayunan terus terayun perlahan membuat Tina yang duduk di atasnya merasa nyaman dan damai. Sejak dulu dia memang memiliki kebiasaan seperti ini. Dia akan duduk di ayunannya jika dirasa pikirannya penuh dengan masalah dan beban.
Semenjak kematian Siska, hidup Tina tak dapat setenang dulu lagi. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Siska sendirian malam itu. Seharusnya dia penuhi keinginan teman baiknya di kantor tersebut yaitu menemaninya hingga pekerjaannya selesai. Jika saja saat itu dia tidak pergi untuk membeli makanan, dia yakin Siska tidak akan bernasib seburuk itu. Rasa bersalah yang terus menghantuinyalah yang membuat hidupnya tak bisa lagi setenang dan sedamai dulu.
Alasan lain yang membuat hidupnya terpuruk adalah kecurigaannya terhadap istri Bosnya yaitu Mikayla. Entah kenapa dia merasa yakin bahwa yang membunuh Siska memanglah wanita itu.
Wajar saja dia berpikir demikian, walau bagaimana pun Siska meninggal setelah siangnya Mikayla memergokinya sedang membicarakan keburukannya. Di lubuk hatinya Tina merasakan ketakutan yang sangat besar saat ini. Meskipun dia tidak ikut ambil bagian dalam membicarakan keburukan Mikayla, tetap saja Mikayla memergoki Siska sedang mengobrol bersamanya dan juga Nana. Tina khawatir, Mikayla akan memburunya juga. Bagaimana jika dirinya akan bernasib buruk seperti Siska? Tina bergidik ngeri membayangkannya.
Dalam lamunannya Tina tersentak kaget ketika suara petir menggelegar di atas langit sana, terasa begitu dekat dengan dirinya. Rintik-rintik air hujan pun mulai turun. Tina hendak beranjak pergi menuju rumahnya. Pertama-tama dia harus menghentikan ayunannya yang masih terayun tenang. Dia menggeser duduknya ke ujung dudukan pada ayunannya, agar kedua kakinya bisa menyentuh tanah dan menghentikan laju ayunannya. Namun... sesuatu yang tak terduga terjadi menimpa dirinya.
Ayunan yang awalnya terayun teratur itu tiba-tiba terayun dengan kencang seolah ada seseorang yang sengaja mendorongnya. Siska terperanjat kaget sekaligus panik ketika merasakan ayunan yang didudukinya tiba-tiba terayun dengan kencangnya.
Dia memutar kepalanya ke samping untuk melihat mungkinkah ada seseorang yang berdiri di belakangnya dan sengaja mendorong ayunannya?
Kedua mata Tina membulat sempurna, ada seorang wanita berambut panjang dengan kepala tertunduk berdiri tepat di belakang ayunan. Wanita itulah yang mendorong ayunannya sehingga terayun begitu cepatnya.
Jantung Tina berdentum tak karuan seiring dengan semakin cepatnya ayunan itu terayun. Dia mengeratkan pegangannya pada tali ayunan, khawatir tubuhnya akan terlempar dan jatuh. Dia tak dapat membayangkan bagaimana kondisinya jika sampai terjatuh dari ayunan yang sedang terayun sekencang ini. Tina gemetar ketakutan saat ini.
“Tolong, hentikan. Siapa kau? Jangan ganggu aku,” ucap Tina seraya berangan-angan sosok wanita misterius itu akan menghentikan dorongan tangannya pada ayunan yang sedang dinaikinya setelah mendengar ucapannya.
Tapi tidak, wanita itu justru semakin mengencangkan dorongannya pada ayunan. Tina memejamkan kedua matanya serapat mungkin, sungguh dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Dia takut tubuhnya terpental jatuh jika ayunan itu semakin didorong kencang. Di sisi lain hujan rintik-rintik kini sudah berubah menjadi hujan deras yang mengguyur seisi bumi. Tubuh Tina basah kuyup, namun Tina masih belum bisa pergi berteduh karena ayunan yang dinaikinya masih terayun-ayun dengan kencangnya.
“Tolong, hentikan. Biarkan aku pergi. Aku mohon,” pinta Tina untuk kedua kalinya. Dia menoleh ke arah belakangnya lagi, sosok wanita itu masih betah berdiri disana dengan kedua tangannya yang masih medorong ayunan.
Tanpa Tina sadari, kini air mata sudah meluncur mulus membasahi wajahnya. Dia ingin pergi dari sana, tapi jika dia lepaskan pegangan tangannya pada tali ayunan maka sudah dapat dipastikan dirinya akan terlempar jauh dan dia sangsi tubuhnya akan baik-baik saja jika terjatuh dari ketinggian seperti itu.
Suara tangisan Tina terus mengencang seiring berjalannya waktu. Kedua matanya masih dia pejamkan serapat mungkin, dia tidak berani membuka matanya barang sedetik pun.
Awalnya tidak ada yang dilakukan Tina selain menangis dengan tubuh gemetar ketakutan, namun ketika bayangan ibunya muncul di kepalanya. Dia teringat pada nasihat ibunya di saat dia kanak-kanak dulu. Sang ibu yang saat ini tengah berada di kota yang berbeda dengannya, selalu menasihatinya untuk senantiasa memanjatkan doa jika dirinya sedang tertimpa masalah dan kesulitan apa pun. Dia turuti nasihat ibunya. Di dalam hatinya Tina mulai melafalkan beberapa doa yang dihafalnya.
Tina terus memanjatkan doa, mengabaikan sepenuhnya keadaan di sekitarnya, tentu termasuk keberadaan wanita misterius yang tak hentinya mendorong ayunannya.
Perlahan namun pasti, Tina merasakan ayunan itu mulai memelan hingga akhirnya benar-benar berhenti dengan sempurna. Tina membuka mata dan menoleh ke arah belakangnya, sosok wanita misterius itu sudah tak terlihat lagi. Cepat-cepat Tina turun dari ayunannya dan berlari terbirit-b***t menuju rumahnya.
Tina buka pintu rumahnya dengan tergesa-gesa, lalu bergegas dia kunci pintu itu dari dalam. Dengan napas terengah, dia mengintip dari jendela di sebelah pintu, menatap ke arah ayunan tadi. Sosok wanita itu tak terlihat disana. Tina mengedarkan tatapannya ke sekeliling halaman, mengantisipasi jika mungkin saja wanita itu sedang mengawasinya dari halaman rumahnya yang luas.
Tina hembuskan napasnya lega ketika tak mendapati sosok wanita misterius itu di mana pun. Dia mencoba berpikir positif dengan meyakini sosok itu telah pergi dari area sekitar rumahnya. Yang menjadi pertanyaan terbesarnya sekarang adalah siapa gerangan wanita misterius yang jelas-jelas berniat mencelakainya barusan?
Tina kembali mengingat-ingat penampilannya, sayang wajahnya yang menunduk serta rambut panjangnya yang menghalangi separuh wajahnya, membuat Tina tak dapat mengenali sosoknya. Meski pun sempat terlintas di benaknya, kemungkinan sosok itu adalah Mikayla.
“Tidak, tidak. Yang barusan itu gak mungkin Bu Mikayla. Aku kan lagi di rumahku bukan di kantor. Gak mungkin Bu Mikayla tahu alamat rumahku,” gumamnya, meyakinkan dirinya sendiri.
Tina pun beranjak pergi dari lantai satu menuju kamarnya di lantai dua. Dia ingin membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang basah kuyup karena terkena guyuran hujan.
Di rumahnya, Tina hanya tinggal bersama dengan ibunya. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Ibunya sedang pergi mengunjungi saudaranya di kota lain karena itulah saat ini Tina hanya sendirian di dalam rumahnya.
Semenjak mengundurkan diri dari perusahaan Araya dua hari yang lalu, Tina belum berminat untuk mencari pekerjaan lain. Dia ingin mengistirahatkan pikirannya terlebih dahulu dari semua beban dan masalah yang akhir-akhir ini mengganggunya. Setelah dirasa hatinya dan pikirannya kembali tenang, barulah Tina berencana untuk mencari pekerjaan baru.
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Tina kembali ke lantai satu. Dia mendengar suara perutnya yang terus meraung meminta diisi. Jika dipikir-pikir sejak tadi siang dia belum mengisi perutnya dengan makanan apa pun. Dia berpikir untuk membuat mie instan saja agar praktis dan cepat matang.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga mie instan yang dimasaknya kini sudah terhidang di depan matanya. Dalam keheningan, Tina mulai melahap mie-nya. Sesekali dia berhenti menyuapkan makanannya dan beralih memainkan ponselnya. Tidak ada yang dicemaskan Tina, dia tampak menikmati aktivitas makan malamnya. Hingga ketenangannya terusik di saat ekor matanya menangkap sesuatu berkelebat di belakangnya.
Secepat kilat Tina menoleh ke belakangnya, kedua matanya menelisik mencari sosok yang dia yakini barusan terlihat berkelebat cepat. Dia beranjak bangun dari kursinya dan melangkah menuju tempat dimana dia yakini sekelebat bayangan tadi tertangkap matanya.
Dengan jantungnya yang kembali berdegup kencang, Tina melangkah amat perlahan menuju dapurnya. Ya, dia yakin sekelebat bayangan tadi berasal dari dapurnya. Dia teguk salivanya ketika sudah mencapai dapur.
Tak ada sosok apa pun di dalam dapurnya. Dia sangat yakin tak ada apa pun karena kedua matanya sudah menelisik ke setiap sudut ruangan dapurnya. Dia berbalik badan, hendak kembali ke meja makan untuk melanjutkan menyantap mie-nya yang belum dia habiskan. Masih ada sisa setengah porsi lagi.
Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara aneh. Lebih tepatnya suara seseorang sedang menyalakan kompornya. Tina berbalik cepat menghadap ke arah kompor berada. Dan benar saja, kompor yang jelas-jelas dalam keadaan mati, kini apinya tengah menyala.
Tina berlari mendekati kompor dan bergegas mematikan apinya.
“Siapa di sana? Jangan ganggu aku!!” Teriak Tina dengan keringat dingin yang mulai bercucuran dari pelipisnya.
Belum sempat menenangkan deru napasnya yang terengah serta detak jantungnya yang menggila, Tina kembali dikejutkan dengan suara keran wastafelnya yang tiba-tiba menyala. Air mengucur dengan derasnya dari keran tersebut. Tina kini berlari menghampir wastafelnya dan memutar kerannya agar tertutup.
Untuk kesekian kalinya, Tina menggulirkan bola matanya menatap ke sekeliling dapur. Tak ada siapa pun disana, tapi Tina yakin ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumahnya. Lebih tepatnya dia yakin ada seseorang yang memang berniat mencelakainya.
Menghiraukan kemungkinan sosok itu bersembunyi di dalam dapurnya, Tina berjalan cepat menuju meja makan. Dia terbelalak sempurna ketika mendapati mangkuk mie-nya kini telah kosong. Bahkan dia yakin belum menghabiskan mie-nya. Masih ada setengah porsi mie-nya yang belum dia makan dan dia tinggalkan tadi. Tapi kini mangkuk itu kosong tak menyisakan apa pun. Bukan hanya mie-nya yang kosong, es teh manis yang belum diminum Tina pun kini lenyap entah kemana. Gelas itu kosong, tak menyisakan setetes air pun.
Tina semakin ketakutan. Dia berlari menuju tangga, menapaki satu demi satu anak tangga guna pergi menuju kamarnya.
Dia banting pintu kamarnya kencang ketika tiba di kamarnya. Dia kunci pintu kamarnya dan bergegas naik ke tempat tidur. Dia duduk bersender pada kepala ranjang dengan kedua kakinya yang terlipat. Lalu Tina memeluk kedua lututnya yang terasa lemas seketika. Tubuhnya juga bergetar hebat pertanda dia sedang begitu ketakutan saat ini.
“Apa mungkin wanita tadi masuk ke dalam rumah? Siapa dia? Kenapa dia ganggu aku?” Gumam Tina, entah pada siapa karena hanya ada dia seorang di dalam kamarnya.
“Aku harus minta bantuan.” Tina berniat menelepon seseorang yang sekiranya bisa membantunya. Mungkin menelepon polisi merupakan keputusan yang paling tepat. Namun, dia tepuk keningnya dramatis ketika menyadari kebodohan yang baru saja dilakukannya. Dia meninggalkan ponselnya di meja makan.
“Duuh, bego banget sih. Masa aku harus turun lagi ke bawah ngambil ponsel? Kenapa sih pake ketinggalan segala?” Gerutunya, merutuki kecerobohannya.
Tina turun dari ranjangnya dan berjalan ragu-ragu menuju pintu. Tetapi, belum sempat dia meraih kenop pintu, tiba-tiba kenop pintu itu bergerak turun naik seolah-olah ada seseorang di luar kamar yang bermaksud membuka pintu yang terkunci itu secara paksa.
Tina kembali geragapan. Dia ketakutan setengah mati. Tanpa sadar dirinya melompat naik kembali ke atas ranjangnya.
Air matanya meluncur mulus dari kedua matanya, tatapannya tak teralihkan sedikit pun dari arah kenop pintu yang masih bergerak-gerak dengan hebatnya.
“Pergi!! Jangan ganggu aku!!” Teriak Tina histeris. Demi apa pun, rasa takutnya tak main-main dia rasakan saat ini. Dia ingin siapa pun orang yang berniat mencelakainya itu pergi dari rumahnya.
Tina memejamkan matanya, kembali dia melafalkan doa di dalam hatinya. Ya ... hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan hidupnya. Meski Tina tidak tahu sosok wanita tadi manusia atau makhluk mistis, tapi dia percaya hanya dengan memanjatkan doa pada Tuhan maka hidupnya akan terselamatkan.
Dan benar saja, gerakan kenop pintu itu seketika terhenti.
“Apa dia udah pergi?” Tanya Tina pada dirinya sendiri.
“Aku harus ambil ponselku, terus telepon polisi. Cuma polisi yang bisa bantuin aku sekarang.” Tina bergumam meyakinkan dirinya bahwa dia harus meminta bantuan detik ini juga.
Tina berjalan mengendap-endap ke arah pintu. Dia tempelkan telinganya sejenak ke daun pintu, untuk memastikan tak ada suara apa pun dari balik daun pintu. Merasa hanya mendengar kehampaan, Tina pun memutar kunci dan membuka daun pintu dengan amat waspada.
Dia longokan kepalanya, kemudian menatap ke sekeliling lorong kamarnya. Dia harus memastikan kondisi aman saat ini. Jangan sampai dirinya tertangkap oleh sosok siapa pun yang sedang berada di dalam rumahnya itu.
Tina mengembuskan napas lega. Tak ada siapa pun di sekitar kamarnya, dia yakin situasinya aman sekarang.
Tina pun berlari menuruni satu demi satu anak tangga. Namun, baru menginjak anak tangga kelima, Tina menghentikan langkahnya. Padahal tadi dia yakin tak ada sosok siapa pun di bawah tangga, tapi sekarang sosok wanita di halaman rumahnya tadi tengah berdiri dengan kepala tertunduk di bawah tangga sana.
“S-Siapa kamu? Kenapa kamu ganggu aku?” Tanya Tina dengan volume suara tinggi. Sosok wanita itu perlahan mendongak, memperlihatkan wajah buruk rupanya. Kulit wajahnya penuh dengan bekas sayatan yang tak hentinya meneteskan darah segar. Kedua mata yang melotot sempurna penuh kebencian. Lingkaran hitam pekat yang mengelilingi kelopak matanya. Tina seketika merasa mual ketika melihat hewan-hewan kecil berwarna putih menggeliat-geliat di rambut gimbal wanita itu. Belatung-belatung yang bertengger menghiasi rambutnya mulai berjatuhan.
Tina balik badan, dia berniat kembali ke kamarnya. Naasnya... tiba-tiba sosok wanita yang jelas-jelas ada di bawah tangga, kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu harus mati,” ucap sang wanita seraya merentangkan kedua tangannya dan mendorong tubuh Tina tanpa aba-aba. Tubuh Tina pun berguling-guling di tangga.
“Akkkhhhh!!” Tina merintih kesakitan ketika tubuhnya mendarat di lantai satu. Dia merasa tulang-tulangnya ngilu. Jangankan untuk bangun, sekadar bergerak pun rasanya mustahil bisa dilakukannya.
Tina masih telentang di lantai dengan mulutnya yang tak hentinya meringis kesakitan. Awalnya Tina memejamkan matanya, akan tetapi ketika telinganya menangkap suara aneh. Dia pun membuka mata dan menatap intens ke arah sumber suara aneh itu berasal. Dia yakin suara itu berasal dari lampu hias yang terpasang cantik tepat di atasnya.
Tina terbelalak sempurna, lampu hias yang berukuran cukup besar di langit-langit sana kini sedang bergoyang-goyang. Baut-baut yang menyangganya tiba-tiba terlepas satu demi satu, hingga akhirnya terlepas seluruhnya.
Tina hanya mampu melotot tak percaya, tanpa mampu menghindar ketika lampu hias itu meluncur jatuh dan menimpa kepalanya hingga membuat kepalanya terbelah. Pecahan-pecahan lampu menancap di kulit wajahnya. Darah dari kepala Tina yang terbelah tak hentinya mengucur deras hingga menggenangi lantainya yang bersih.
Sedangkan tepat di depan jasad Tina yang mengenaskan, sosok wanita misterius tengah tertawa lantang. Sebuah tawa yang menyiratkan rasa puas karena telah berhasil melenyapkan targetnya.