ARAYA POV
Kulitku terasa terbakar ketika sinar matahari menerpa wajahku. Langit tampak terang dengan sinar matahari yang bagaikan mengeluarkan seluruh cahayanya sehingga bumi begitu terang benderang.
Meski panas siang hari ini membuat semua orang enggan untuk keluar dari gedung yang dingin dengan pendingin ruangan, hal tersebut tak menyurutkan niatku untuk keluar dari kantorku.
“Silakan, Pak,” ucap sopir yang bekerja di kantorku. Dia membukakan pintu belakang mobil untukku karena aku hendak pergi ke suatu tempat untuk melakukan pertemuan bisnis. Ku pandang gedung pencakar langit di belakangku yang berdiri dengan kokohnya. Gedung yang merupakan perusahaan yang kubangun dengan perjuangan dan keringatku sendiri. Aku merasa bangga pada keberhasilanku setiap kali ku pandang gedung itu. Namun, bukan berarti aku sudah puas dengan kesuksesan ini. Bagiku tak ada kata selesai untuk berjuang demi meraih kehidupan yang lebih baik.
Aku pun masuk ke dalam mobil, bersamaan dengan itu ku lihat Nana, sekretaris pribadiku ikut masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi depan samping sopir. Aku tak berkomentar apa pun, dia berhak melakukan apa pun yang dia inginkan. Sebenarnya aku tidak keberatan jika dia duduk di sampingku.
Mobil yang kami tumpangi mulai melaju meninggalkan area kantorku. Sebuah restoran mewah di daerah Jakarta pusat menjadi tempat tujuan kami. Sesuai rencana, siang ini aku akan mengadakan pertemuan penting dengan beberapa investor sekaligus makan siang bersama dengan mereka.
Sesampainya di restoran, seorang pelayan mengantar kami menuju ruangan VIP yang memang sudah sengaja aku pesan untuk mengadakan pertemuan ini.
Ruangan itu tampak masih sepi, belum ada satu pun investor yang sudah datang. Sesuatu yang wajar mengingat waktu pertemuan masih belum tiba. Tepatnya 30 menit lagi, pertemuan kami akan berlangsung.
Aku memang memiliki prinsif untuk datang lebih awal disaat aku sendiri yang mengajukan diadakan sebuah pertemuan. Bagiku, lebih baik menunggu daripada tamu-tamuku yang harus menungguku.
“Duduklah,” titahku pada Nana, memintanya untuk duduk di sampingku.
Jika dipikir-pikir, inilah pertama kalinya dia ikut bersamaku mengikuti pertemuan penting. Aku belum terlalu tahu kualitasnya dalam bekerja karena belum genap satu minggu dia bekerja di perusahaanku. Tapi dari cerita sepupuku, Rachel... menurutnya Nana adalah gadis yang cerdas. Ya, kuharap apa yang dikatakan Rachel memang benar, bukan sekadar promosi agar aku menerimanya sebagai sekretarisku.
“Maaf, Pak. Apa pertemuan hari ini akan membahas tentang proyek pembangunan hotel di Bali?” Tanyanya tiba-tiba. Sesuatu yang aneh menurutku, mengingat selama ini dia nyaris tak pernah mengajakku bicara duluan kecuali jika aku yang mengajaknya bicara.
“Iya,” jawabku singkat.
“Hm, begini, Pak. Saya sudah mempelajari dokumennya kemarin. Jika diizinkan, bolehkah saya mengutarakan pendapat saya?” Tanyanya dengan tatapannya menunduk ke bawah. Entah dia ini pemalu atau ada sesuatu di wajahku yang membuatnya enggan menatapku jika sedang bicara denganku. Aku sama sekali tidak memahami karakter wanita seperti Nana.
“Ya boleh, katakan saja,” sahutku. Dia pun akhirnya mendongak meski tatapannya dia tujukan ke arah lain, masih tak berani bertatapan langsung denganku.
“Menurut saya, konsep anda sudah bagus pak. Hotel yang dibangun di dekat pantai. Fasilitas-fasilitas yang ditawarkan juga menarik. Di lantai dasar akan ada Mall besar sehingga memudahkan pengunjung untuk berbelanja. Lalu ada arena bermain untuk anak-anak, itu konsep yang sangat bagus. Ada pula Ballroom luas dan indah yang bisa disewa untuk pernikahan maupun pesta serta ruangan VIP untuk pertemuan atau meeting. Saya setuju dengan konsep bapak, hanya saja saya kurang setuju dengan konsep restoran sky dining dan kolam renang yang akan dibangun di puncak gedung hotel, Pak,” ucapnya panjang lebar, mengutarakan pendapatnya tentang pembangunan hotel yang konsepnya sudah kuatur dengan tanganku sendiri. Aku mengernyitkan dahi mendengarnya. Memangnya apa yang salah dengan membangun restoran sky dining dan kolam renang di puncak gedung? Menurutku konsep yang kubuat ini sudah sangat sempurna.
“Kenapa kau tidak setuju?” Tanyaku, aku penasaran ingin mendengar alasannya tidak menyetujui konsep yang sudah ku buat ini.
“Saya mengerti mungkin Bapak berniat membangun hotel bintang lima yang mewah dan berkelas untuk kalangan atas. Tapi Pak, pengunjung di Bali tidak semuanya berasal dari kalangan atas. Ada pula kalangan menengah, bahkan mungkin kalangan biasa saja seperti remaja yang sedang berlibur ke sana. Jadi untuk mengundang minat para wisatawan agar menginap di hotel kita, kenapa kita tidak menyediakan fasilitas yang sebelumnya belum pernah disediakan hotel lain?” Dia menjeda ucapannya, dia teguk minuman yang terhidang di depannya. Sedangkan aku hanya terdiam, menunggu dengan sabar dia kembali melanjutkan perkataannya.
“Bukan berarti restoran sky dining dan kolam renang tidak diperlukan, hanya saja menurut saya kedua fasilitas itu tidak perlu dibangun di puncak gedung. Restoran Sky dining bisa dibangun di lantai kedua teratas. Bukankah di sana para pengunjung restoran masih tetap bisa menikmati indahnya pemandangan laut dari dinding restoran yang dibuat dari kaca? Saya yakin kalangan atas akan tetap menikmati menyantap hidangan mewah mereka sambil menyaksikan pemandangan laut dari sekeliling mereka. Sedangkan untuk kolam renang, bisa dibangun di lantai dasar, tepatnya di luar gedung hotel.” Untuk sesaat dia menatap tepat ke kedua mataku. Namun, cepat-cepat dia memutus kontak di antara kami.
“Lalu fasilitas apa yang harus dibangun di puncak gedung menurutmu?” Tanyaku.
“I-Itu, menurut saya, di puncak gedung kita bisa menyediakan food court yang menjual berbagai jenis makanan ringan dengan harga terjangkau sehingga seluruh pengunjung dari berbagai kalangan bisa membelinya. Lalu kita juga membuat taman yang romantis, sebuah jembatan dengan kolam ikan, menanam pohon-pohon agar terlihat asri dan indah. Selain untuk pasangan kekasih, taman itu juga bisa diperuntukan untuk keluarga yang ingin berkumpul bersama. Mereka pasti akan menikmatinya terlebih jika atap dan dindingnya terbuat dari kaca. Mereka bisa menikmati keindahan laut dan juga keindahan langit saat malam hari. Saya yakin hotel kita akan menjadi pilihan utama para wisatawan jika kita menyediakan fasilitas yang bisa membuat mereka bersantai dan menikmati keindahan alam. Lagi pula di zaman sekarang ini, hampir semua orang senang mengambil foto selfie, saya rasa taman di puncak gedung itu sangat cocok untuk tempat selfie.” Dia tersenyum di akhir ucapannya.
Sedangkan aku, entah mengapa di dalam pikiranku, aku bisa membayangkan fasilitas taman yang dimaksud Nana. Aku kagum padanya, tak pernah terlintas di pikiranku sebuah ide brilian seperti yang dikatakannya.
“Sky dining di puncak gedung sudah sering ditemukan di hotel lain begitu pun dengan kolam renang. Banyak juga hotel yang menyediakan kolam renang di puncak gedung. Lagi pula Bali itu identik dengan laut. Wisatawan pasti lebih senang menghabiskan waktu bermain dan berenang di pinggir laut dibandingkan di kolam renang. Walau pun ada juga pengunjung yang lebih senang berenang di kolam renang. Jadi kolam renang tetap diperlukan. Hanya saja kita bangun kolam renang di lantai dasar saja. Bukankah dengan begini semua kalangan bisa mendapatkan fasilitas yang mereka butuhkan di hotel kita tanpa perlu khawatir dengan biaya yang harus mereka keluarkan. Bagaimana menurut Bapak?” Tanyanya antusias. Aku tersenyum kecil mendengarnya.
“Ya, konsepmu sangat bagus. Memang tujuan utamaku, membuat hotel yang kubangun itu ramai pengunjung. Aku akan menawarkan konsepmu barusan pada para Investor.”
“Iya, Pak. Semoga pendapat saya bisa membantu,” sahutnya, kembali dengan senyuman kecil di bibirnya.
Tak lama kemudian, para investor yang ku undang, satu persatu mulai berdatangan.
Sebelum memulai meeting kami, kami menyantap makan siang terlebih dahulu. Tentu saja menu makanannya aku yang memesan dan membayarnya. Sesuatu yang sudah seharusnya aku lakukan mengingat aku lah yang mengundang mereka bertemu di restoran ini.
Setelah selesai dengan aktivitas makan siang kami, aku mulai menjelaskan konsep proyek yang ku tawarkan pada mereka. Di saat aku menjelaskan konsep yang dikatakan Nana tadi, Nana pun ikut membantuku menjelaskannya. Aku terkejut melihat cara dia melakukan presentasi di depan para investor. Dia terlihat luwes saat berbicara, sangat jauh berbeda ketika dia bicara berdua denganku yang selalu terlihat gugup. Sekarang aku percaya yang dikatakan Rachel. Nana memang gadis yang cerdas dan sangat cocok menjadi sekretarisku.
Hasil pertemuan ini sungguh di luar dugaanku. Awalnya ku pikir dari lima investor yang ku undang, mungkin hanya dua atau tiga investor saja yang berminat dengan proyek ini. Namun ternyata dugaanku salah besar. Berkat konsep yang Nana buat, kelima investor itu berminat untuk bergabung dengan proyek ini. Bahkan keputusan finalnya sudah dibuat, bulan depan hotel itu akan mulai melakukan proses pembangunan.
“Menurut saya, kau lebih cocok menjadi arsitek dibandingkan sekretaris,” ucapku pada Nana setelah semua investor undur diri. Kini hanya menyisakan aku dan Nana, berdua saja di dalam ruangan.
“T-Tidak, Pak. Bapak berlebihan. Saya hanya mengutarakan pemikiran saya saja.”
“Saya heran denganmu. Ketika presentasi tadi kau terlihat luwes saat berbicara tapi kenapa setiap berbicara dengan saya, kau terlihat gugup? Bisa jelaskan alasannya?” Aku bisa menangkap kepanikan menyerangnya. Kedua tangannya saling meremas dengan bola matanya yang bergulir kesana kemari seolah sedang berpikir untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaanku ini.
“S-Saya hanya belum terbiasa bicara dengan Bapak,” jawabnya kikuk.
“Memangnya kau sudah terbiasa bicara dengan para investor yang bisa saya pastikan baru kau temui hari ini kan? Sedangkan saya, kau sudah bertemu dengan saya setiap hari.” Nana tersentak kaget mendengar pertanyaanku. Kuteguk minumanku dengan kedua mataku yang tak lepas menatap ke arahnya yang kembali salah tingkah dalam duduknya.
“S-Saya, maksud saya ... s ... saya tidak.” Aku tertawa mendengar ucapannya yang terbata-bata. Baru pertama kali ini aku bertemu dengan gadis aneh sepertinya. Menurutku dia sangat lucu dan unik, mungkin kata menggemaskan lebih tepat. Lama-lama aku kasihan melihat kegugupannya karena itu cepat-cepat kualihkan pembicaraan kami.
“Sudahlah, tidak perlu dijawab. Semoga kau bisa cepat terbiasa bicara dengan saya.” Dia mengangguk sebagai responnya.
“Saya ucapkan terima kasih padamu, Nana. Berkat konsepmu itu pertemuan kita hari ini sangat sukses. Lain kali saya akan mentraktirmu makan sebagai bentuk ucapan terima kasih saya.”
“Tidak perlu, Pak. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai sekretaris Bapak,” tolaknya cepat.
“Maaf saja, tapi saya tidak menerima penolakan.” Dia mendesah lelah mendengar paksaanku, yang ku balas dengan senyuman kecil.
“Oh iya, tadi pagi saya lihat kau diantar Rachel ke kantor?” Tanyaku, ketika tiba-tiba aku mengingat kejadian tadi pagi.
“Iya, semalam saya menginap di rumah orangtua Rachel jadi tadi pagi Rachel mengantar saya ke kantor supaya tidak terlambat.”
“Bukankah kau tinggal di Apartemen Rachel?”
“Iya, tapi saya akan mencari kost-an yang dekat dengan kantor. Saya tidak ingin merepotkan Rachel terus selama di Jakarta.” Aku mengernyitkan dahiku mendengarnya. Padahal menurutku sudah bagus dia tinggal bersama Rachel di Apartemennya. Mulutku sudah terbuka siap menanyakan alasan dia memilih mencari kost-an, namun ku urungkan ketika Nana kembali berbicara.
“Lagi pula saya ingin mencari kost-an yang sangat dekat dengan kantor, supaya saya bisa berangkat ke kantor dengan berjalan kaki,” tambahnya, seperti biasa dengan kepala tertunduk. Ya, itu keputusannya. Aku tak punya hak untuk melarangnya. Jadi yang kulakukan hanya tersenyum kecil menanggapinya.
Setelah itu, aku mengizinkan Nana untuk pulang sedangkan aku tentu saja pulang menuju rumahku. Aku sangat merindukan istri tercintaku di rumah.
Namun, belum sempat aku meraih pintu rumah kami. Aku melihat seorang pria berdiri di depan pintu dengan sebuah keranjang penuh berbagai jenis bunga di tangannya. Cepat-cepat aku menghampirinya.
“Maaf, ada perlu apa ya?” Tanyaku pada pria itu. Pria yang jika kulihat dari penampilannya masihlah remaja, mungkin sekitar 18 tahunan usianya.
“Ini, Pak. Saya mau mengantarkan bunga pesanan Bu Mikayla,” jawabnya. Kutatap keranjang yang penuh dengan jenis bunga di tangannya.
“Mikayla memesan bunga sebanyak ini?” Tanyaku heran.
“Iya, Pak. Bu Mikayla setiap hari memesan bunga di toko kami. Beliau sudah menjadi langganan kami. Setiap jam segini saya mengantarkan bunga kemari.” Aku melirik jam tanganku, waktu saat ini menunjukan pukul 3 sore. Memang selama ini aku tidak pernah pulang ke rumah jam segini. Biasanya aku pulang sekitar pukul 5 sore. Baru sekarang aku tahu istriku selalu memesan bunga setiap harinya.
Bi Narsih keluar dari rumah, dia terkejut melihat keberadaanku. Lalu dengan cepat dia menerima keranjang bunga dari si pria dan membayarnya.
“Bi, benar Mikayla selalu memesan bunga setiap hari?” Tanyaku pada Bi Narsih.
“Benar, Tuan.”
“Sejak kapan dan untuk apa?”
“Saya juga kurang tahu, Tuan. Nyonya sudah memesan bunga sejak pindah ke rumah ini,” jawab Bi Narsih. Sejak pindah ke rumah ini Mikayla selalu memesan bunga katanya, artinya sejak kami menikah. Tapi untuk apa Mikayla memesan bunga setiap harinya, terlebih bunga-bunga itu terdiri dari beberapa jenis?
“Bunga apa saja yang dibelinya itu, Bi?” Tanyaku seraya kedua mataku kembali menatap ke arah keranjang bunga di tangan Bi Narsih.
“Hmm ... ini bunga sedap malam, kamboja dan kembang kantil.” Aku mengernyitkan dahiku. Bunga-bunga itu jelas bukanlah bunga yang disukai Mikayla. Setidaknya itulah yang aku tahu.
“Dimana Mikayla?” Tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
“Nyonya ada di kamar, Tuan.”
“Ya sudah, Bi. Biar saya yang berikan keranjang bunganya pada Mikayla.”
“Baik, Tuan.” Aku meraih keranjang yang diulurkan Bi Narsih padaku. Lalu melangkah mantap menuju kamar kami di lantai dua dengan pandangaku yang tertuju pada bunga-bunga di dalam keranjang.
Setibanya di kamar, kulihat Mikayla sedang merebahkan dirinya di kasur kami. Semua gorden dalam keadaan tertutup, hanya lampu tidur di nakas yang menyala redup.
Aku menghampiri istriku, namun sepertinya dia menyadari kehadiranku karena dengan cepat dia bangun dari tidurnya.
“Honey, tumben sudah pulang jam segini?” Tanyanya seraya mengulurkan kedua tangannya padaku. Aku menerima uluran tangannya dan mendudukan diriku di sampingnya.
“Tadi ada meeting di luar jadi aku pulang cepat. Oh iya, ini bunga pesananmu,” kataku seraya kuulurkan keranjang penuh bunga di tanganku. Dia menerimanya tanpa ragu dan tindakannya setelah itu, sungguh membuatku terkejut.
Dengan gesit dia mengambil bunga-bunga itu dan menghirup aromanya dengan rakus. Baru sekarang aku melihat dia bersikap seperti ini.
“Untuk apa kamu membeli bunga sebanyak ini, Kay? Katanya kamu membeli bunga setiap hari ya?” Dia menghentikan antivitasnya menghirup aroma bunga, dia mendongak dan tersenyum manis padaku setelahnya.
“Bukan untuk apa-apa, aku hanya suka aromanya. Sangat harum.”
“Hm ... tapi setahu aku, kamu suka bunga mawar merah dan bunga lily. Sejak kapan seleramu berubah?” Tanyaku, penuh selidik. Aku sudah lama menjalin hubungan dengannya. Aku sudah mengetahui semua hal tentangnya termasuk jenis bunga yang disukainya.
“Selera orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, Honey. Tidak ada yang perlu kau curigai.” Aku tersentak mendengar jawabannya. Entahlah, aku hanya merasa dia seperti menyadari kecurigaanku padanya seolah dia bisa membaca isi pikiranku.
“Aku tidak mencurigaimu kok sayang,” sahutku seraya kuelus puncak kepalanya penuh sayang. Dia meraih tanganku yang berada di atas kepalanya, lalu mengecupi tanganku dengan penuh gairah. Satu hal lagi perubahan Mikayla yang kusadari, entah kenapa sejak bangun dari komanya, dia jadi lebih agresif padaku.
“Oh iya, Kay, aku lupa menceritakan sesuatu padamu. Kemarin ada karyawanku yang mengundurkan diri, namanya Tina. Dari yang kutahu, dia itu sangat dekat dengan Siska. Karyawanku yang meninggal tertindih lift.”
“Hmm ... lalu?” Tanyanya, cuek sambil tetap mengecupi punggung tanganku. Sesekali dia mengelus punggung tanganku dengan pipi mulusnya.
“Dia memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya padamu.” Seketika dia menghentikan gerakannya. Dia lepaskan tanganku dan menatap tajam ke arahku.
“Meminta maaf padaku? Kenapa?”
“Dia bilang kamu memergoki dia sedang membicarakanmu. Apa itu benar?”
“Oh itu, iya aku ingat. Saat aku pergi ke kantormu. Dia dan beberapa temannya membicarakanku saat jam istirahat. Tanpa sengaja aku mendengarnya,” jawabnya seraya sibuk menata bunga dalam keranjang.
“Kenapa kamu tidak cerita padaku?” Dia tersenyum misterius, lalu tangan kanannya terulur padaku dan mengelus wajahku dengan lembut.
“Bukan sesuatu yang penting. Lagi pula aku tidak mendengar pembicaraan mereka. Aku hanya mendengar sekilas namaku disebut oleh mereka.”
“Tapi mereka tetap membicarakanmu di belakangmu. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi di kantorku. Enak saja mereka membicarakan tentang istriku. Mungkin saja mereka membicarakan hal-hal negatif tentangmu kan, Kay? Aku harus memperingatkan mereka.”
“Tidak perlu sayang, aku tidak peduli pendapat orang lain tentangku. Bagiku yang terpenting hanyalah pendapatmu. Jadi bagaimana pendapatmu tentangku?” Tanyanya dengan ekspresi menggoda di wajah jelitanya.
“Menurutku, kamu itu cantik, hebat, luar biasa. Aku bersyukur memiliki istri sepertimu,” jawabku, apa adanya. Bukan bermaksud menggombal, menurutku memang seperti itulah penilaianku untuknya.
“Apa kamu mencintaiku, Honey?”
“Hahaha ... kenapa sih kamu selalu nanyain ini terus padahal sudah tahu jawabannya?”
“Jawab saja!” Ucapnya sedikit membentak. Aku sempat terenyak kaget namun cepat-cepat ku pasang senyuman di bibirku untuknya.
“Tentu saja aku mencintaimu,” jawabku, tanpa keraguan. Mikayla memelukku erat, dia benamkan wajahnya di perpotongan leherku. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke telingaku hingga napas hangatnya bisa ku rasakan menerpa kulitku.
”Araya, tubuhmu dan hatimu hanyalah milikku. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu mengkhianatiku dan memberikan hatimu pada wanita lain,” bisiknya pelan di telingaku. Aku juga mendengar dia berdesis di akhir ucapannya, membuatku bergidik ngeri mendengarnya.
“Tidak mungkin aku menyerahkan hatiku pada wanita lain. Kamu berlebihan, Kay. Kamu kan tahu aku hanya cinta sama kamu?” Balasku cepat.
“Itu bagus, karena jika sampai kamu berkhianat, maka aku akan membuatmu menyesal sudah mengenalku.” Aku melepaskan pelukannya. Terus terang saja, aku tidak suka mendengar ancamannya ini.
“Kamu mengancamku, Kay?”
“Tidak, ini bukan sekadar ancaman. Tapi inilah yang akan terjadi jika kau meninggalkanku,” sahutnya. Aku tertegun dan tak bisa melakukan penolakan apa pun ketika tiba-tiba dia mencium bibirku dengan rakusnya.