BAB 7

2348 Kata
Tepat pukul 4 sore, aku membereskan meja kerjaku. Merapikan tumpukan dokumen yang hari ini aku periksa. Lalu melenggang pergi dari ruanganku karena jam kerja sudah selesai, aku ingin segera pergi ke tempat yang harus ku datangi hari ini.  Aku berjalan cepat sambil menundukan pandanganku ke bawah. Pikiranku melayang pada pembicaraanku dengan Tina tadi siang. Dia menyarankanku untuk melihat rekaman CCTV, itulah yang akan ku lakukan sekarang. Pergi ke ruang Security untuk melihat rekamannya.  Aku harus mengambil jalan memutar karena lift yang paling dekat dengan ruanganku belum selesai diperbaiki akibat jatuh menimpa Siska kemarin. Aku masih berjalan dengan tergesa-gesa hingga langkahku terpaksa ku hentikan ketika ku rasakan seseorang mencekal tanganku. Sontak aku menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Araya lah yang sedang mencekal tanganku. “P-Pak Araya,” panggilku dengan suara pelan, dia pun melepaskan tanganku. “Saya memanggilmu dari tadi,” sahutnya dengan raut wajah datar. “M-Maafkan saya, Pak. Saya tidak mendengar suara Bapak. Ada apa ya, Pak?” Aku bicara sesopan mungkin padanya, jujur saja aku masih merasa canggung jika sedang bicara dengannya. Meski sudah tiga hari bekerja sebagai sekretaris pribadinya, tapi aku belum terbiasa berbicara di depannya. Padahal di perusahaanku yang dulu, aku tidak merasa seperti ini ketika bicara dengan bos ku. Entahlah, sepertinya memang terjadi sesuatu padaku.  “Kau sudah memeriksa dokumen yang saya berikan tadi?” “Sudah, Pak,” jawabku cepat. “Bagus kalau begitu. Besok siang kau ikut saya, kita ada pertemuan dengan beberapa investor untuk membahas proyek pada dokumen tadi.” “Baik, Pak,” ucapku seraya mengangguk.  Setelah itu, tanpa kata dia melenggang meninggalkanku. Dari arah yang dilaluinya sepertinya dia hendak menuju lift sama sepertiku. Awalnya aku ingin menunggu sampai dia menjauh, tapi aku khawatir dia berpikir aku sengaja menghindarinya. Jadi meski enggan, aku berjalan mengikutinya dari belakang.  Beberapa karyawan yang berpapasan dengan kami, menyapa Araya sopan. Mereka juga tersenyum padaku, meski setelahnya samar-samar aku bisa mendengar mereka membicarakan sesuatu. Aku tebak, pasti mereka membicarakanku dan Araya. Apa salah jika aku berjalan di belakangnya? Menurutku tidak ada yang salah. Aku benci situasi seperti ini, dimana aku menjadi pusat perhatian dan orang lain membicarakanku di belakangku.  Kami akhirnya tiba di depan lift, Araya masuk ke dalam begitu pintu lift terbuka. Sedangkan aku masih berdiri mematung di tempatku berdiri.  “Ayo masuk!” Aku terenyak sesaat ketika ku dengar dia mengajakku masuk ke dalam lift bersamanya. Aku tersenyum kecil padanya sebelum benar-benar kulangkahkan kaki, ikut masuk ke dalam lift. Entah ini keberuntungan atau sebuah kesialan untukku, di dalam lift ini hanya ada kami berdua. Padahal ini jam pulang kerja, kenapa tidak ada satu pun karyawan dari lantai 10 yang menggunakan lift ini?  “Kau tinggal dimana?” Aku terperanjat kaget karena tiba-tiba keheningan di dalam lift ini hilang seketika hanya karena suara baritone Araya yang tiba-tiba memulai pembicaraan denganku. Dan bodohnya aku, entah kenapa tiba-tiba aku merasa gugup seperti ini. Sepertinya sesuatu yang tidak biasa memang terjadi padaku.  “Saya tinggal di Apartemen Rachel,” jawabku, apa adanya. “Hm, begitu. Apartemen Rachel memang cukup dekat dari sini,” katanya lagi. Membuatku berpikir, mungkin dulu dia sering main ke Apartemen Rachel. Lagi pula mereka itu saudara sepupu jadi rasanya wajar jika Araya sering mengunjungi Rachel. Selain itu sebagai saudara, hubungan mereka juga tampak sangat dekat.  Tak ada pembicaraan lain di antara kami setelahnya, hingga lift ini pun mengantarkan kami ke lantai dasar.  “Jangan lupa besok siang kita makan di luar bersama para Investor ya,” ucapnya, mengingatkanku dengan kegiatan kami besok, sebelum dia melangkah keluar dari lift. “Baik, Pak.” “Sampai jumpa besok.” Dia tersenyum tipis di akhir ucapannya, membuatku terpaku untuk sesaat. Aku kembali tersadar ketika pintu lift nyaris tertutup. Cepat-cepat aku keluar dari lift, menatap sosok Araya yang sudah melangkah jauh meninggalkanku.  Aku pun melanjutkan niat awalku untuk pergi ke ruang Security yang memang terletak di lantai dasar.  Sesampainya di ruang Security. Ku lihat seorang security bernama Pak Rudy jika kulihat dari name tag-nya, tengah duduk di depan komputer memperhatikan rekaman CCTV.  Aku mengutarakan maksud kedatanganku padanya, aku meminta untuk melihat rekaman CCTV ketika tragedi kecelakaan Siska terjadi kemarin malam. Awalnya, Pak Rudy tampak enggan memperlihatkan rekamannya padaku. Dia melontarkan beberapa pertanyaan padaku seperti alasanku ingin melihat rekaman itu. Namun, setelah aku mengatakan bahwa aku teman dekat Siska, akhirnya dia pun mengizinkanku untuk melihatnya.  Aku memperhatikan isi rekaman itu dengan seksama ketika Pak Rudy memutarkannya untukku. Sungguh kedua mataku tak hentinya melotot, nyaris tak berkedip ketika menyaksikannya.  Apa yang terlihat di rekaman itu sama persis dengan yang ku lihat di dalam mimpiku. Seperti di mimpiku, ada seorang wanita yang menemani Siska malam itu. Wanita itu pula yang menyerang dan menyiksa Siska. Sekarang keraguanku hilang sepenuhnya. Apa yang terjadi pada Siska memang sama persis dengan yang kulihat di mimpiku. Dia tidak kecelakaan melainkan sengaja dibunuh.  Sayangnya baik di dalam mimpi maupun di rekaman itu, aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita misterius itu. Selain karena dia yang terus menunduk, wajahnya pun penuh dengan bekas luka sehingga tak bisa kukenali dengan jelas. “Pak, apa polisi sudah melihat rekaman ini juga?” Tanyaku pada Pak Rudy. “Sudah, kerana rekaman ini juga polisi sempat berpikir mungkin Siska memiliki masalah kejiwaan,” sahut Pak Rudy, yang membuatku mengernyit heran. “Masalah kejiwaan? Kok bisa begitu, Pak?” Aku kembali bertanya meminta penjelasan. “Ya, coba lihat baik-baik. Siska seperti sedang bicara sendirian, kan? Dia juga meronta-ronta, lalu berteriak-teriak sendirian. Wajar jika orang lain berpikir dia tidak waras.” Aku tertegun diam mendengar penjelasan Pak Rudy. Jawabannya itu cukup menjelaskan semuanya. Sepertinya hanya aku yang bisa melihat wanita itu, sedangkan yang dilihat orang lain dalam rekaman ini, Siska sedang bicara sendirian dan berteriak tanpa sebab. Yang mereka lihat di dalam rekaman ini, tidak ada siapa pun yang menemani Siska di dalam ruangan, hanya ada Siska seorang diri.  “Tapi saya sempat berpikir mungkin ini ulah makhluk gaib,” kata Pak Rudy lagi, membuat atensiku sepenuhnya tertuju padanya. “Kenapa bapak pikir begitu?” “Ya, soalnya coba lihat, Siska seperti ketakutan. Seperti dia melihat sesuatu yang membuatnya takut. Terus dia juga seperti diseret sesuatu, lihat ini ....” Dia menjeda perkataannya seraya memutar ulang adegan dimana tubuh Siska diseret di lantai lalu dilempar hingga punggungnya membentur dinding dengan kerasnya.  “Seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menyeret dan membantingnya, kan?” Aku mengangguk, mengiyakan. Faktanya memang pemikirannya benar adanya. Kematian Siska bukan karena kecelakaan, melainkan karena ulah makhluk gaib.  Wanita misterius itu, jelas dia bukan manusia karena sosoknya tak bisa dilihat oleh orang lain. Tentu saja kecuali aku dan Siska yang menjadi korbannya. Makhluk halus memang bisa menampakan dirinya di depan seseorang yang dia kehendaki agar bisa melihatnya. Sejak awal sepertinya makhluk itu memang mengincar Siska karena itu dia menampakan sosoknya di depan Siska.   “Sayangnya polisi pasti tidak percaya hal-hal mistis, mereka lebih mengedepankan logika,” kata Pak Rudy, memecah keheningan. Lagi-lagi aku mengangguk menyetujui ucapannya.  Aku sudah membuka mulutku bermaksud untuk menyahutinya, namun ku urungkan ketika ku rasakan ponselku bergetar. Bergegas aku mengambil ponsel yang ku selipkan di saku rokku. Nama Rachel terpampang jelas di layar ponselku. Rupanya dia lah yang meneleponku. Tanpa ragu, aku pun menerimanya.  “Iya, Ra,” kataku. “Na, kamu masih di kantor?” Tanyanya dengan suara bergetar. “Iya, bentar lagi aku pulang kok. Kamu kenapa, Ra?” Dari suaranya aku tahu sesuatu yang tidak beres terjadi padanya, sontak aku mulai mengkhawatirkannya. “Cepet pulang, Na.” Kini suaranya terdengar sedang menahan tangis, sukses membuatku semakin mengkhawatirkannya. “Emangnya ada apa, Ra? Kamu baik-baik aja, kan?” “Nanti aku ceritain, yang penting sekarang kamu cepetan pulang ke Apartemen.” “Iya, iya, aku pulang sekarang.” Aku pun segera memutus sambungan teleponnya. Mengucapkan terima kasih pada Pak Rudy, lalu bergegas pulang ke Apartemen.  Setelah membayar ongkos taksi yang ku tumpangi, aku berlari masuk ke dalam gedung Apartemen. Aku terkejut ketika melihat Rachel sedang duduk di sofa dekat pintu masuk gedung. Aku pun bergegas menghampirinya. “Ra, kamu kenapa? Kok kamu duduk di sini bukannya di dalam Apartemen?” Tanyaku heran karena penampilan Rachel pun terlihat mengenakan pakaian santai, pakaian yang biasa dia kenakan ketika di dalam rumah bukan untuk duduk-duduk di luar seperti ini.  “Na, aku takut banget,” ujarnya seraya menghamburkan dirinya dalam pelukanku. “Takut kenapa, Ra?” “Ayo ikut aku, Na!” Ajaknya seraya menarik tanganku agar mengikuti langkahnya.  Dia membawaku ke lantai dimana Apartemen kami berada. Membuka pintunya begitu saja, rupanya Rachel pergi tanpa mengunci pintu Apartemennya terlebih dahulu, membuatku menggelengkan kepalaku tak percaya. Betapa cerobohnya sahabatku ini, bagaimana jika ada orang asing masuk ke dalam, di saat tak ada siapa pun di dalamnya?  “Ra, kamu gak kunci pintunya dulu ya tadi?” Tanyaku, namun diabaikan olehnya.  Dia terdiam bagaikan patung dengan tatapannya yang lurus ke arah depan begitu kami sudah masuk ke dalam. Aku mengernyitkan dahiku melihat sikap anehnya ini.  “Ra, kamu kenapa sih?” Tanyaku, mulai jengkel dengan kediamannya. Dia tidak menyahut, tapi mengangkat satu tangannya dan dengan jari telunjuknya, dia menunjuk ke suatu arah. Aku pun bergegas melihat ke arah yang ditunjuknya tersebut. Saat itu juga aku terbelalak sempurna, lukisan yang kemarin dibawa pergi oleh petugas yang dikirm pengelola Apartemen ini, kini kembali bertengger dengan manisnya di dinding. Lukisan yang kami ketahui dihuni hantu wanita.  “Lukisan itu kok ada di sini lagi? Kemarin kan udah dibawa pergi?” Tanyaku, meminta penjelasan pada Rachel. “Itu masalahnya, Na. Aku juga gak ngerti. Tadi waktu aku lagi nonton film favorit aku, tiba-tiba ada yang gedor-gedor pintu. Kenceng banget.” Kedua mata Rachel berkaca-kaca di tengah ceritanya ini. Aku semakin penasaran apa yang telah menimpa sahabat baikku ini hingga membuat dia terlihat ketakutan seperti ini.  “Aku buka pintunya tapi ternyata gak ada siapa-siapa. Terus pas aku balik badan, lukisan itu udah ada di sana, Na. Tiba-tiba lukisannya terpasang di dinding lagi. Sumpah, Na, aku merinding banget. Aku takut makanya langsung keluar dan telepon kamu.” Kini aku yang tertegun mendengar cerita Rachel. Aku tahu dia tidak mungkin berbohong. Lukisan itu, kenapa bisa kembali lagi ke rumah ini?  Aku melangkah mendekati lukisan untuk memeriksanya, Rachel ikut melangkah di sampingku seraya sepasang tangannya yang memeluk lenganku erat. Mataku bergulir menatap ke sekeliling ruangan, sosok hantu yang menghuni lukisan itu belum menunjukan dirinya. Tapi aku yakin dia ada di sini karena aku masih bisa merasakan auranya.  Begitu tiba di depan lukisan, aku mengulurkan tangan kananku ke depan, bermaksud untuk menyentuh lukisan itu.  Kejadian mengerikan pun terjadi setelah itu. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah kekuatan luar biasa mendorong dadaku dan menghempaskan tubuhku hingga aku dan Rachel terlempar jauh dari tempat kami berdiri.  Pantat kami mendarat dengan tidak elitnya di lantai yang keras, tapi bukan rasa sakit pada pantatku yang menjadi atensiku sekarang, melainkan sosok hantu wanita itu yang keluar dari dalam lukisan. Tubuhnya tidak keluar sepenuhnya, hanya sebagian saja sampai perutnya. Sedangkan dari pinggang ke bawahnya sama sekali tak tampak.  Kedua matanya melotot marah padaku dan Rachel. Sepertinya tindakan kami yang mengeluarkan lukisan itu dari Apartemen ini merupakan sebuah kesalahan fatal. Kami telah membuat hantu wanita itu murka dan siap meluapkan amarahnya pada kami.  “Pergi dari sini!!”  Teriaknya diiringi suara desisan menyeramkan. Aku tahu hanya aku yang mendengar suara teriakannya. Namun, dia menunjukan terornya juga di ruangan ini. Tiba-tiba saja kami merasakan ruangan ini berguncang hebat seolah tengah terjadi gempa berkekuatan tinggi saat ini.  Rachel tak hentinya berteriak seraya memegangi tanganku untuk mempertahankan tubuh kami agar tidak terjatuh karena guncangan hebat ini. Lampu-lampu berkedip, menyala lalu mati dengan sendirinya. Benda-benda seperti sofa, meja, televisi dan benda lainnya yang berada di dalam ruangan ini bergerak-gerak, berpindah posisi dari tempat asalnya.  “Kita harus pergi dari sini, Na. Sekarang!!” Teriak Rachel, dan aku setuju dengan ucapannya.  Dengan susah payah, kami mencoba melawan guncangan ini. Kami berdiri dan berjalan dengan tertatih-tatih. Berulang kali kami terjatuh, berulang kali pula kami berusaha untuk kembali berdiri. Sambil berpegangan tangan, kami melangkah sedikit demi sedikit mendekati pintu keluar. Suara tawa sang hantu menjadi pengiring perjalanan kami. Dia tampak puas karena berpikir dia telah berhasil mengusir kami dari Apartemen ini.  Perlahan namun pasti, akhirnya kami berhasil meraih pintu. Beruntung hantu itu tidak mengurung kami di dalam ruangan, dengan mudah kami bisa membuka pintu dan melangkah keluar.  Begitu kaki kami menapak lantai di luar, seketika pintu itu tertutup dengan sendirinya. Menggebrak kencang sehingga suaranya sukses membuat kami berjengit kaget.  “Na, yang barusan itu apa? Serem banget,” ucap Rachel, masih setia memeluk lenganku. “Hantu itu tidak suka melihat kita tinggal di Apartemen ini. Selain itu, dia juga marah karena kita mengeluarkan lukisannya kemarin.” “Terus gimana?” “Satu-satunya cara, kita harus selidiki asal lukisan itu. Kenapa bisa ada hantu yang menghuninya?” Rachel mengangguk menyetujui pemikiranku. “Nanti akan aku tanyakan pada papa, dimana dia membeli lukisan ini. Sekarang kita pergi ke rumahku aja. Kamu nginap di rumahku aja ya, Na?” “Tapi, aku gak enak ngerepotin ortu kamu, Ra,” jawabku, aku memang merasa sungkan menginap di rumah Rachel. Orangtua Rachel sangat baik dan ramah. Dulu sewaktu masih SMA, aku pernah bertemu dengan mereka. Akan tetapi, untuk menginap rasanya aku enggan melakukannya. Sudah cukup Rachel membantuku selama ini, aku tidak ingin merepotkan keluarganya juga.  “Aku nyari kost-an aja di dekat kantor, Ra. Aku gak mau ngerepotin kamu lagi,” ucapku menolaknya secara halus. “Kamu gak ngerepotin, Na. Lagian aku yang udah maksa kamu supaya pindah ke Jakarta.” Rachel bersi keras mengajakku tinggal di rumahnya. “Tapi kamu udah bantuin aku dapet kerjaan di perusahaannya Araya. Kamu juga udah ngizinin aku tinggal di Apartemen kamu. Aku gak mau ngerepotin keluarga kamu juga.” “Tapi, Na ....” “Aku mau nyari kost-an aja supaya aku bisa bayar pake uang gaji aku. Please Ra, beneran... aku gak mau ngerepotin kamu lagi. Lagian rumah kamu juga jauh dari kantor,” pintaku seraya kugenggam ke dua tangannya erat. Dia mengembuskan napas lemah, tampak kecewa.  “OK, nanti aku temenin kamu nyari kost-an di dekat kantor kamu. Tapi untuk malam ini, kamu nginap di rumah aku aja ya.” Akhirnya aku menyetujui keinginannya ini. Lagi pula sebentar lagi langit mulai menghitam pertanda malam akan segera tiba, tak ada pilihan lain selain menginap di rumah Rachel.  Kami melangkah hendak menuju lift, namun terhenti ketika aku mengingat sesuatu yang nyaris aku lupakan.  “Ra, kayaknya aku harus masuk lagi ke dalam deh. Koper sama baju aku kan masih ada di kamar.” Rachel kembali mengembuskan napas lemah. Lalu tiba-tiba dia tersenyum manis padaku.  “Gak usah dipikirin, kita bisa beli baju baru buat kamu atau sementara pinjem baju aku juga gak masalah,” sahutnya enteng, jelas aku tak bisa menerima usulannya ini. Padahal aku belum mendapatkan gaji pertamaku, aku juga tidak memiliki cukup uang untuk membeli banyak pakaian. Terlebih pakaian untuk bekerja.  “Udah, soal baju gak usah dijadiin masalah. Aku bakalan bantu kamu. Di dalam itu bahaya, kamu gak boleh masuk. Pokoknya kita pergi ke rumahku sekarang. Eh, tapi temenin aku ke ruang pengelola dulu ya, aku mau pinjem kunci ke mereka. Kita harus kunci Apartemennya, kunci punyaku ketinggalan di dalam,” ucapnya seraya terkekeh. Sepertinya memang tak ada pilihan lain bagiku saat ini, selain mengikuti keinginan Rachel. Aku mengangguk, kami pun melanjutkan langkah kami menuju lift.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN