Aku terperanjat bangun dari tidurku, napasku terasa memburu seolah aku baru saja berlari. Padahal aku hanya sedang tidur barusan dan aku bermimpi sangat buruk. Bukan buruk tapi mimpi yang sangat menyeramkan. Mimpi yang tidak ingin ku ingat lagi. Aku melirik ke arah jam yang terpasang manis di dinding kamar, pukul 5 pagi tepatnya saat ini.
“Na, kamu kenapa?” Tanya Rachel yang tidur di sampingku, dia terbangun mungkin karena merasakan pergerakanku barusan.
“Kok kamu keringetan gitu, udah gitu napas kamu juga kayak orang yang abis lari aja?” tambahnya memasang wajah kebingungan.
“Gak apa-apa, aku hanya mimpi buruk barusan,” jawabku singkat, aku tak berminat sedikit pun menceritakan mimpiku barusan pada Rachel. Sebuah mimpi dimana aku menyaksikan rekan kerjaku terbunuh, Siska. Aku heran kenapa bisa-bisanya aku bermimpi seperti itu? mimpi yang begitu terasa nyata.
“Masih pagi, Na. Mendingan kita tidur lagi aja. Gak usah dipikirin mimpi buruknya. Itu cuma mimpi kok.” Ingin rasanya aku menyanggah kata-kata Rachel, mengatakan padanya bahwa mimpi itu terasa begitu nyata bagiku. Namun tak ada gunanya, benar yang dikatakan Rachel, apa yang ku lihat barusan hanyalah sebuah mimpi, tak mungkin menjadi kenyataan.
“Kamu tidur lagi aja, Ra. Aku mau siapin sarapan aja. Takut kesiangan kayak kemarin kalau aku tidur lagi.” jawabku, lalu bergegas turun dari ranjang dan meninggalkan kamar. Semalam Rachel memang menemaniku tidur, dia khawatir aku tidak bisa tidur lagi seperti kemarin malam. Rachel pun masih berbaik hati menemaniku tinggal di Apartemen ini.
Seperti niat awalku tadi, aku menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Menyantapnya sebentar, lalu bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor.
Aku berangkat tepat pukul 7, waktu yang tepat untuk berangkat ke kantor menurutku, mengingat jarak antara kantor dan Apartemen ini tidak terlalu jauh.
Setibanya di kantor, banyak orang yang sedang berkerumun. Aku juga melihat banyak mobil polisi terparkir di depan kantor tempatku bekerja. Entah apa yang terjadi disini?
Aku melihat Rina, sang resepsionis di kantor ini sedang ikut berkerumun. Cepat-cepat aku berjalan menghampirinya.
“Rin, ada apa? Kok rame gini, banyak mobil polisi lagi?” Tanyaku penasaran. Aku semakin penasaran ketika melihat raut sedih terpancar di wajah Rina. Seperti dia sedang menahan tangisannya.
“Rin, kamu kenapa?”
“Siska... Siska, Na,” jawabnya terbata-bata, membuatku seketika merasakan sebuah firasat buruk.
“Siska, emangnya kenapa dengan Siska?”
“Dia meninggal, Na. Tubuhnya hancur tertimpa lift. Sepertinya ini kecelakaan.” Kurasakan lututku lemas setelah mendengar jawaban Rina. Mimpi buruk semalam benar-benar menjadi kenyataan.
Benarkah mimpiku menjadi kenyataan atau ini hanya sebuah kebetulan? Aku tidak tahu jawaban mana yang benar, membuatku pusing memikirkannya.
Suasana di kantor juga tidak kondusif untuk melakukan pekerjaan. Polisi masih sibuk melakukan pemeriksaan di TKP. Mereka menanyai beberapa orang yang katanya lembur tadi malam. Meskipun mereka lembur di lantai yang berbeda dengan Siska. Semalam Siska hanya lembur sendirian di lantai 10, membuatku semakin merasa apa yang terjadi dengannya benar-benar sama persis dengan mimpiku.
Aku memang dianugerahi kemampuan untuk melihat makhluk halus sejak aku dilahirkan, tapi inilah pertama kalinya aku mengalami peristiwa seperti ini. Peristiwa dimana mimpiku menjadi kenyataan, meskipun ada kemungkinan semua yang terjadi ini hanya sebuah kebetulan semata.
Saat ini, aku dan semua karyawan sedang berada di lantai dasar, polisi yang menyuruh kami untuk berkumpul disini. Mereka sedang memeriksa lantai 10 yang menjadi tempat terakhir Siska berada sebelum kematiannya. Bosku... Araya juga sedang berada disini, dia sedang duduk seorang diri di sofa seraya sibuk memainkan ponselnya. Tidak ada seorang pun yang menemaninya, sesuatu yang wajar mengingat dia itu bos kami. Seseorang yang dihormati oleh seluruh karyawan di perusahaan ini.
Banyak orang yang sedang berkumpul disini, namun entah kenapa tatapanku selalu tertuju pada Araya. Tanpa kehendakku, kedua mataku terus mengikuti apa pun yang sedang dia lakukan. Ada sesuatu yang aneh padaku sejak bertemu dengannya, sesuatu yang tidak pernah ku alami sebelumnya. Ada apa denganku? aku pasti sudah tidak waras karena terus memperhatikan pria yang sudah beristri, terlebih dia itu bosku.
Aku menepuk-nepuk pipiku dengan tanganku sendiri berharap aku segera sadar dari ketidakwarasanku ini.
“Nana, kamu kenapa?” Tanya Rina yang duduk di sebelahku. Mungkin dia heran karena melihat tingkahlakuku yang menepuk-nepuk pipiku sendiri. Aku tersenyum kecil menyadari tingkah bodohku disadari orang lain.
“Aku gak apa-apa kok,” jawabku seraya terkekeh.
“Aku heran kenapa lift itu bisa jatuh dan menindih tubuh Siska ya. Menurutku kecelakaan ini sangat aneh.” Rina mengutarakan kecurigaannya sambil menopang dagunya seolah dia sedang memutar otaknya untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya tadi.
“Namanya juga kecelakaan, apa pun bisa terjadi, kan?” Rina menoleh ke arahku, dia mengangguk sekilas. Lalu kembali ke posisi semula, menopang dagunya dengan tatapan lurus ke arah para polisi yang hilir mudik di depan kami.
“Kalau Siska ada di dalam lift, harusnya kan tubuh dia masih ada di dalam lift meskipun lift itu jatuh. Tapi anehnya, tubuh Siska ada di bawah lift, tubuhnya hancur tertindih lift. Kayak lantai liftnya kebuka terus dia jatuh ke bawah. Iya gak sih?” Kata-kata Rina ini kembali mengingatkanku pada mimpiku semalam. Di dalam mimpiku, lantai lift memang terbuka sehingga Siska jatuh ke bawah dan akhirnya tertindih lift.
“Hei, gimana menurut kamu?” Aku terenyak dan semua lamunanku buyar seketika, Rina kembali bertanya padaku.
“Hmm, entahlah. Mungkin kamu benar. Aku juga sependapat sama kamu. Tapi kita tunggu aja kabar dari polisi, biar mereka yang menyelidiki kasus ini.”
“Ya sih, kepala aku malah jadi pusing mikirin kasus ini. Cuma aku kasihan aja sama Siska, nasibnya tragis banget.” Aku lagi-lagi hanya menanggapinya dengan senyuman tipisku. Aku juga kasihan pada Siska, namun lebih dari apa pun aku semakin penasaran dengan kematian Siska, benarkah hanya sebuah kecelakaan? Atau kejadian yang menimpanya sama persis dengan yang ku lihat di mimpiku?
“Nana... Nana...” Aku mendengar Rina memanggil-manggil namaku seraya bahunya yang menyenggol bahuku. Aku mengernyit heran ke arahnya, namun bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Cepat-cepat aku menatap ke arah depan, ke arah yang dimaksud Rina barusan.
Tanpa sadar tubuhku berdiri dari posisi dudukku ketika ku lihat Araya sedang berjalan menghampiriku. Ku teguk saliva keringku ketika kini dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Rina pun ikut berdiri dari duduknya.
“Sepertinya hari ini kita tidak bisa aktif bekerja, banyak karyawan yang sedang diinterogasi polisi. Jadi tolong sampaikan pada semua karyawan untuk pulang saja kalau urusan mereka dengan polisi sudah selesai.” Aku dan Rina mengangguk bersamaan, kami terdiam menunggu Araya melanjutkan kembali ucapannya.
“Saya ada urusan lain di luar dan saya juga sudah menjawab semua pertanyaan polisi. Jadi kalau ada yang menanyakan saya, tolong katakan saya sedang ada urusan di luar. Telepon saja jika ada urusan penting.”
“Baik, Pak.” Aku dan Rina kembali menyahut serempak layaknya paduan suara.
Setelah itu, dia melangkah pergi meninggalkan kami. Seperti biasa tanpa kehendakku, tatapan mataku tertuju pada punggung tegapnya yang semakin menjauh. Namun, tatapanku teralihkan ketika tanpa sengaja aku melihat Tina melintas. Aku bergegas berlari untuk menghampirinya, mengabaikan panggilan Rina yang mungkin heran karena tiba-tiba melihatku berlari.
“Tina!!” Teriakku, memanggil nama Tina ketika dia hendak menuju pintu keluar. Tina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Penampilannya sangat berantakan, air mata membanjiri wajahnya dan kedua matanya tampak sembab mungkin efek karena dia terlalu banyak menangis.
“Tina, kamu mau kemana?” Tanyaku, setelah kini aku berdiri tepat di hadapannya.
“Aku mau pulang, aku udah jawab semua pertanyaan polisi tadi. Aku gak tahan lama-lama di sini.”
“Aku ngerti perasaan kamu. Kamu pasti kaget banget padahal kemarin siang kita masih makan bersama tapi tiba-tiba semalam ....” Aku menghentikan ucapanku ketika Tina mengangkat telapak tanganku, memberiku isyarat agar aku berhenti bicara.
“Aku gak mau ngebahas ini sekarang. Sorry... aku pulang dulu,” katanya seraya bergegas pergi meninggalkanku.
Sikap Tina sangat aneh seolah dia sedang ketakutan. Tapi kenapa dia harus bereaksi seperti itu? Entahlah, apa yang terjadi saat ini membuatku semakin pusing dan bingung.
Polisi sempat bertanya juga padaku, mungkin karena aku tidak berada di kantor saat tragedi itu terjadi, polisi pun mengizinkanku untuk pulang.
Setelah menyampaikan pesan dari Araya pada karyawan lain, akhirnya ku putuskan untuk pulang saja ke Apartemen.
Di Apartemen, kulihat Rachel sedang bersantai di ruang tengah sambil menonton acara televisi favoritnya. Aku menghampirinya dan mendudukan diriku di sampingnya.
“Lho Na, kok tumben udah pulang?” Tanyanya, tampak heran melihatku jam 11 sudah pulang ke Apartemen.
“Hari ini kantor diliburkan, ada salah seorang karyawan yang meninggal semalam. Dia kecelakaan, tubuhnya tertindih lift di kantor.” Rachel membekap mulutnya tak percaya dengan kedua matanya yang membulat sempurna.
“Ya ampun, kok bisa sih? Ngeri banget. Terus gimana?”
“Ya, nggak gimana-gimana, cuma banyak polisi di kantor. Terus kami juga diinterogasi. Pokoknya hari ini aku capek banget.” Kusenderkan punggungku pada sandaran sofa seraya meluruskan kedua kakiku yang terasa pegal karena terlalu banyak duduk di kantor.
“Araya pasti syok banget, dalam waktu sebulan ada dua karyawannya yang meninggal secara tragis. Padahal kantor Araya itu baru dibangun lho, kok bisa liftnya jatuh? Kasihan banget karyawan itu,” gumam Rachel.
“Oh iya, Na, semalam kamu mimpi apa sih? Aku penasaran soalnya kamu ampe teriak-teriak gitu? Serem banget ya mimpinya?” Aku menimbang-nimbang dalam pikiranku, haruskah aku menceritakan padanya bahwa apa yang menimpa Siska sama persis dengan yang ku lihat di dalam mimpiku semalam?
“Hmm ... sebenarnya ...” Awalnya kupikir lebih baik kuceritakan saja pada Rachel, aku juga tidak ingin berbohong padanya. Namun, kuurungkan niatku ini karena mungkin saja yang menimpa Siska hanya kebetulan mirip dengan mimpiku. Belum terbukti bahwa apa yang terjadi padanya memang sama persis dengan kejadian di mimpiku. Aku pun diam seribu bahasa, sama sekali tak berniat melanjutkan ucapanku.
“Apa, Na? Barusan kamu mau ngomong apa?” Tanya Rachel, dia pasti penasaran karena aku tiba-tiba berhenti bicara.
“A-Aku udah ketemu Mikayla,” jawabku, mengalihkan pembicaraan kami.
“Apaaa?! Kamu udah ketemu dia? Kok bisa?!” Tanyanya histeris, reaksi terkejutnya berlebihan menurutku.
“Ssstt... gak usah teriak-teriak gitu kan, Ra.”
“Ooppss... maaf... maaf, aku cuma kaget aja kamu udah ketemu dia. Dimana kamu ketemu sama dia?” Dia begitu antusias menunggu jawabanku. Kemarin sore, aku memang belum sempat menceritakan pertemuanku dengan Mikayla padanya.
“Dia datang ke kantor.”
“Terus gimana menurut kamu tentang dia?”
“Menurutku dia baik kok. Dia malah bantuin aku. Berkat dia Araya mau maafin aku pas telat kemarin. Kalau gak ada dia, Araya pasti udah marah-marah sama aku.” Rachel terdiam, meneguk air putih yang ada di atas meja. Lalu kembali menatap intens ke arahku setelahnya.
“Maksud aku gimana kecurigaan aku? Dia beneran kerasukan atau nggak?” Aku menggaruk tengkukku, menyadari jawabanku tidak sesuai dengan jawaban yang diharapkan Rachel.
“Hmm... aku gak lihat ada makhluk halus di tubuh Mikayla. Jadi menurut aku, dia sama sekali gak kerasukan.”
“Jadi kecurigaan aku salah ya?” Aku mengangguk perlahan, Rachel mengembuskan napas panjang sebelum dia tabrakan punggungnya cukup keras ke sandaran sofa.
“Jadi pemikiran aku memang berlebihan ya. tapi baguslah kalau dia gak kerasukan. Berarti kita gak perlu nyelidikin dia. Mungkin dia emang trauma makanya kepribadiannya jadi berubah.” Aku kembali mengangguk menyetujui.
“Tapi kamu betah kan kerja di perusahaan Araya? Kamu jangan balik lagi ke Bandung ya. Udah kamu kerja aja di kantornya Araya. Kamu tuh cerdas, Na. Kamu pantesnya emang kerja di kantoran. Daripada kerjaan kamu di Bandung itu, menurut aku sama sekali gak cocok buat kamu. Jadi please... kamu tetep di Jakarta ya.”
“Aku kan baru dua hari kerja di perusahaan Araya jadi belum tahu betah atau nggaknya. Yang pasti aku bakalan tetep disini soalnya aku gak enak sama kamu yang udah rekomendasiin aku jadi sekretaris pribadinya Araya. Kamu tenang aja, aku gak bakalan balik ke Bandung kok.” Rachel tampak senang mendengar jawabanku terbukti dari dirinya yang langsung memelukku erat. Wajahnya penuh dengan senyuman, aku senang karena memiliki sahabat yang begitu peduli padaku seperti Rachel dan Diana.
“Haah... baguslah kalau gitu. Ya udah, aku mandi dulu ya,” ujarnya seraya bangkit berdiri.
“Kamu belum mandi dari pagi tadi?” Dia menjulurkan lidahnya sambil terkekeh, sedangkan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat betapa malasnya sahabatku ini. Untung orangtuanya kaya raya jadi dia tidak perlu repot pergi bekrja di perusahaan orang lain, sepertiku.
“Ra, butik kamu kapan resmi dibuka?” Tanyaku, seketika membuat Rachel yang hendak pergi ke kamar, menghentikan langkahnya.
“Hmm... minggu depan kayaknya, belum beres semua persiapannya. Oh iya Na, tadi aku udah minta pengelola Apartemen buat pindahin lukisan itu ke ruang penyimpanan gedung Apartemen ini,” sahutnya seraya menunjuk dengan dagunya ke arah lukisan yang bertengger manis di dinding, lukisan seorang wanita cantik yang ternyata dihuni oleh hantu wanita.
“Kamu serius mau pindahin lukisan ini, lukisannya kan pemberian papa kamu?”
“Gak masalah, nanti aku ceritain alasannya ke papa. Lagian ngeri kan kita tetep pajang lukisan berhantu di Apartemen kita.” Aku mengangguk, tak punya pilihan lain karena sepertinya memang inilah satu-satunya jalan terbaik agar hantu di dalam lukisan itu pergi dan tidak mengganggu lagi. Rachel pun kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
Tak lama kemudian, petugas yang dikirim pengelola Apartemen yang akan memindahkan lukisan itu benar-benar datang ke Apartemen kami. Mereka membawa pergi lukisan wanita cantik yang berukuran cukup besar itu. Ku harap dengan begini, Apartemen ini akan bebas dari gangguan makhluk gaib karena lukisan berhantu itu sudah disingkirkan. Satu lagi harapanku, semoga kedepannya aku bisa tidur dengan nyenyak setiap malam dan tak ada lagi satu pun hantu yang akan menggangguku.
***
Berbeda dengan kemarin, hari ini kantor tampak normal seperti sedia kala meski ada beberapa polisi yang masih memeriksa TKP, tapi keberadaan mereka sama sekali tidak mengganggu pekerjaan kami.
Semuanya kembali berjalan normal, semua karyawan di perusahaan ini kembali berkutat dengan tugas-tugas mereka. Begitu pun denganku. Saat ini, aku sedang sibuk memeriksa dokumen di ruang kerjaku. Sesekali aku melirik ke ruangan sebelah, ruangan bosku berada. Dia juga tampak sedang sibuk. Sejak jam kerja dimulai, dia tak beranjak sedetik pun dari kursinya. Tatapannya menunduk ke arah tumpukan dokumen yang ada di atas mejanya.
Lalu tiba-tiba dia mendongak, membuat tatapan kami saling bertemu. Aku terenyak kaget, sepertinya aku tertangkap basah sedang memperhatikannya. Cepat-cepat aku memalingkan wajahku, memutus kontak mata di antara kami. Betapa bodohnya aku, sampai kapan aku akan melakukan tindakan konyol seperti ini? Memperhatikan bosku secara diam-diam dari kejauhan, tamatlah riwayatku jika bosku sampai mengetahuinya.
Aku terperanjat kaget seraya mengelus dadaku yang berdegup kencang karena tiba-tiba telepon di meja kerjaku berbunyi, mengeluarkan suara nyaring yang nyaris membuatku jantungan. Ku angkat telepon itu dan suara seseorang di sebrang telepon sana kembali membuatku terperanjat kaget. Aku sangat hafal suara berat ini, Aku pun melirik ke arah ruangan di sampingku. Dan benar saja, memang Araya lah yang meneleponku karena dia pun sedang memegang gagang telepon sama sepertiku.
“Ya, Pak,” sahutku sedikit gugup, jangan katakan dia akan memarahiku karena memergokiku yang sedang memperhatikannya tadi?
“Bisa ke ruangan saya sekarang?” Titahnya tegas, membuatku semakin gugup dibuatnya.
“Baik, Pak. Saya segera ke sana.” Telepon pun langsung ditutupnya.
Aku beranjak bangun dan melangkah cepat menuju ruangan Araya, sepertinya benar dugaanku, dia akan memarahiku karena tadi dia memergokiku yang sedang memperhatikannya. Jadi alasan apa yang harus ku berikan padanya nanti jika dia bertanya kenapa aku terus memperhatikannya?
Aku berdeham untuk menetralkan tenggorokanku yang tiba-tiba terasa kering sebelum ku ketuk pintu ruangan Araya. Setelah terdengar suaranya mengizinkanku masuk, aku pun bergegas membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangannya.
“Ada apa Bapak memanggil saya?” Tanyaku dengan tatapanku menunduk ke bawah, tak berani menatap ke arahnya.
“Duduklah,” titahnya, yang langsung kuturuti. Kini aku duduk berhadap-hadapan dengannya. Hanya meja kerjanya yang memisahkan kami.
Perlahan namun pasti aku mendongak untuk menatap wajahnya, dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati dia sedang menatap tajam ke arahku. Aku bergegas menunduk lagi, tak sanggup semakin lama beradu pandang dengannya.
“Kau ini senang sekali ya menunduk, jika sedang bicara dengan orang lain seharusnya kau perhatikan lawan bicaramu,” ucapnya tegas, seketika aku pun menengadah kembali bertatapan dengannya.
“Maaf, Pak,” timpalku, teramat pelan. Bodoh sekali aku ini, pasti dia menilaiku sangat buruk sekarang. Tapi bagaimana lagi, aku tak mungkin membohongi perasaanku, aku merasa terintimidasi hanya karena tatapan tajamnya. Dan sungguh sebisa mungkin aku ingin menghindari tatapannya itu.
“Tidak perlu takut, saya tidak akan menggigitmu. Jadi bersikaplah normal di depan saya. Tidak perlu gugup, panik apalagi takut.”
“I-Iya, Pak. Saya tidak takut kok sama Bapak.” Dan sepertinya aku melakukan kesalahan lagi karena dia kini mencuramkan kedua alis tebalnya sehingga wajahnya terlihat sedikit menyeramkan menurutku.
“Kau ini kan sekretaris pribadi saya, jadi bersikaplah biasa. Saya tidak akan memarahimu jika kau tidak melakukan kesalahan atau melanggar peraturan perusahaan.”
“Iya, Pak. Maaf. Mungkin saya belum terbiasa saja,” jawabku cepat.
“Ya, saya paham kok. Kau kan masih baru di sini. Tapi semoga kedepannya kau bisa terbiasa.”
“Iya, Pak.” Suasana hening sesaat, kami berdua sama-sama terdiam membuat suasana menjadi canggung di antara kami berdua. Sebenarnya apa maksudnya memanggilku kemari, mungkinkah hanya untuk mengatakan kata-kata tadi saja?
“Saya memanggilmu kemari hanya ingin memberitahukan, tiga hari lagi saya akan pergi ke luar kota untuk mengikuti pertemuan penting. Jadi tolong kau periksa dokumen-dokumen ini. Laporkan pada saya jika kau menemukan kesalahan sekecil apa pun,” ujarnya seraya dia ulurkan beberapa dokumen padaku. Aku pun segera menerimanya.
“Baik, Pak. Akan saya periksa seteliti mungkin.”
“Kau masih baru bekerja di perusahaan ini, jadi nanti tidak perlu ikut dengan saya ke luar kota. Tapi lain kali, kau harus siap jika kita harus mendadak pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Kau ini sekretaris pribadi saya jadi kau harus ikut kemana pun saya pergi jika menyangkut pekerjaan. Saya harap kau sudah paham tugas-tugasmu.” Aku meneguk saliva keringku mendengarnya. Aku sama sekali tidak terkejut, aku tahu sebagai sekretaris pribadi seorang CEO, mengharuskanku untuk selalu siap mengikuti kemana pun sang CEO melakukan perjalanan bisnis. Aku tidak memiliki kuasa untuk menolak karena memang inilah tugasku sebagai seorang sekretaris pribadi.
“Saya paham, Pak.”
“Bagus, sekarang kau boleh kembali ke ruanganmu.” Aku hendak bangun dari dudukku, namun gerakanku terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu. Seseorang masuk ke dalam ruangan setelah Araya mengizinkan orang tersebut untuk masuk. Tina, rupanya dialah yang mengetuk pintu dan sekarang dia sudah berdiri di sampingku.
Aku berdiri dan mempersilakan Tina untuk duduk di kursi yang tadi aku duduki.
“Pak, saya ingin menyerahkan ini,” katanya, seraya mengulurkan sebuah amplop. Aku dan Araya menatap heran ke arah Tina. Entah apa isi dari amplop itu?
“Apa ini?” Tanya Araya.
“Surat pengunduran diri, Pak. Mohon maaf, saya tidak bisa bekerja lagi di perusahaan Bapak.” Sungguh aku terbelalak mendengar penuturan Tina. Dia ingin mengundurkan diri, tapi kenapa? Selain itu, aku menangkap raut gelisah di wajahnya seolah dia ingin segera pergi dari ruangan ini.
“Kenapa kau ingin berhenti bekerja? Padahal kau sudah cukup lama bekerja di sini.” Araya kembali meminta penjelasan pada Tina karena sejak tadi Tina tidak menyebutkan alasannya mengundurkan diri.
“Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan pekerjaan saya, Pak. Hanya saja saya merasa tidak bisa lagi terus bekerja di perusahaan ini.”
“Kenapa? Apa ada karyawan di sini yang mengganggumu?” Tina menggeleng membuat Araya semakin heran karena kini dia sedang mengernyit bingung.
“Terus kenapa kau ingin berhenti bekerja kalau tidak ada masalah di kantor?” Tina bangun dari duduknya dengan terburu-buru, gerakannya yang terlalu cepat sontak membuatku dan Araya terenyak kaget karenanya.
“Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak berani terus bekerja di perusahaan Bapak. Hmm ... saya juga ingin minta maaf pada Bapak dan Bu Mikayla. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Bu Mikayla.”
“Kenapa kau minta maaf pada istri saya?” Tanya Araya, sedikit meninggikan suaranya, sepertinya dia mulai kesal dengan tingkahlaku Tina yang bagiku juga memang terlihat aneh.
“S-Sebenarnya, dua hari yang lalu Bu Mikayla memergoki kami sedang membicarakannya. Walaupun sebenarnya hanya Siska yang membicarakannya. Tapi saya juga ada di sana, jadi saya takut Bu Mikayla salah paham. Jadi Pak, tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Bu Mikayla. Itu saja yang ingin saya sampaikan, saya mohon undur diri. Permisi,” ucap Tina dan langsung pergi begitu saja.
“Pak, saya juga permisi,” timpalku pada Araya yang masih memasang raut bingung di wajahnya. Tanpa menunggu responnya, aku pergi mengejar Tina.
Dia berjalan sangat cepat dan terburu-buru, membuatku harus berlari agar bisa mengejarnya.
“Tina, tunggu!” Ucapku seraya kucekal satu tangannya agar dia mau berhenti.
“Kamu kenapa tiba-tiba berhenti kerja?” Tanyaku, setelah usahaku berhasil menghentikannya.
“Aku takut, Na. Aku takut nasibku sama kayak Siska kalau aku masih kerja di sini.”
“Kenapa kamu ngomong gitu? Siska kan cuma kecelakaan.” Tina menggeleng cepat seolah dia menampik kata-kataku barusan.
“Aku yakin banget Siska meninggal bukan karena kecelakaan tapi dia dibunuh.” Kedua mataku membulat sempurna dengan bibirku yang sedikit terbuka. Aku benar-benar terkejut mendengarnya.
“Kemarin malam, sebenarnya aku sempat nemenin Siska lembur. Tapi aku turun ke bawah untuk beli makanan. Pas aku mau balik ke kantor, kakakku telepon, ngasih tahu ibu aku sakit jadi aku telepon Siska ngasih tahu dia, aku gak bisa nemenin dia lagi.” Tina menjeda ucapannya, dia menghela napas panjang lalu dihembuskannya dengan perlahan.
“Waktu aku bicara di telepon sama dia, dia bilang ada cewek yang nemenin dia, penampilannya mirip sama aku. Aku yakin cewek itu yang bunuh Siska. Aku juga yakin banget cewek itu Bu Mikayla.” Kini aku membekap mulutku, tak sanggup lagi menahan rasa terkejutku.
“Kok kamu bisa mikir kayak gitu?”
“Na, kamu inget kan, Bu Mikayla mergokin kita waktu Siska lagi ngomongin dia? Dia pasti marah terus bunuh Siska.” Kedua mata Tina memerah dan berkaca-kaca, sepertinya dia sedang menahan tangisannya agar tidak jatuh.
“Coba deh kamu pikir, siangnya Bu mikayla mergokin kita terus malamnya Siska meninggal. Bu Mikayla pasti yang bunuh dia. Aku gak mau bernasib sama kayak Siska. Aku takut, Na. Aku gak mau mati.” Tina tiba-tiba histeris, dia ketakutan hingga tubuhnya gemetaran. Ku pegang bahunya, mengguncangkannya agar dia kembali sadar dari sikap histerisnya.
“Kamu gak bisa nyalahin Bu Mikayla, lagian gak ada bukti kalau Bu Mikayla yang bunuh Siska, kan?”
“Kamu lihat aja rekaman CCTV di ruang security, aku udah lihat. Udah lihat rekaman itu, aku percaya kalau Siska gak bohong waktu dia bilang ada seseorang yang nemenin dia. Kamu juga mendingan lihat aja rekaman CCTV-nya,” katanya seraya menepis tanganku yang masih memegang bahunya. Lalu dia melanjutkan langkahnya, tapi tiba-tiba terhenti dan dia kembali menatapku.
“Na, kamu juga harus hati-hati. Bu Mikayla lihat kita bertiga lagi ngumpul, kamu juga dalam bahaya, Na. Inget pesen dari aku sama Siska waktu itu, kamu jangan terlalu deket sama Pak Araya, terutama sama Bu Mikayla.” Itulah kata-kata terakhir yang dikatakan Tina, sebelum dia semakin menjauh hingga menghilang dari pandanganku.
Apa yang dikatakan Tina barusan sama persis dengan yang ku lihat di mimpiku. Sepertinya harus ku turuti saran dari Tina, aku harus melihat rekaman CCTV di lantai 10 ini ketika tragedi itu terjadi.