Siska menggerutu di meja kerjanya, dia kesal karena hari ini harus lembur. Pekerjaannya masih cukup banyak sedangkan tugas itu harus segera diselesaikannya. Dia melirik ke kanan dan kirinya, memastikan berapa rekannya yang masih ada disana. Dia mendesah ketika melihat satu persatu dari mereka beranjak bangun dari kursi dan hendak pergi.
Dia membalas senyuman beberapa rekannya yang berpamitan padanya. wajahnya terlihat ramah namun tidak dengan hatinya. Padahal dia berharap ada beberapa rekannya yang menemaninya lembur, tapi sepertinya untuk hari ini tidak ada rekan yang selantai dengannya, lembur juga sepertinya.
“Sis, kamu jadi lembur?” Tanya Tina, dia berdiri tepat di depan meja Siska.
“Iya nih, kerjaan aku masih banyak mana besok udah harus selesai lagi. Kamu mau pulang?” Tina mengangguk, lagi-lagi Siska hanya mampu mendesah melihatnya. Jika Tina pergi, maka dia benar-benar ditinggalkan sendirian.
“Ya udah ya, aku pulang dulu,” pamitnya namun baru beberapa langkah, Siska kembali memanggil namanya. Tina pun kembali menghentikan niatnya untuk pergi.
“Kenapa lagi, Sis?”
“Kamu lagi ada acara ya? Kayaknya buru-buru banget.”
“Gak juga sih. Aku gak ada acara apa pun kok.” Tina tertegun ketika menyadari Siska sedang menatap penuh harap padanya. Dia merasa bisa menebak apa arti tatapannya itu.
“Kamu mau minta aku temenin kamu lembur ya?” Tanyanya, seketika membuat Siska mengangguk berulang kali penuh semangat.
“Please, aku takut nih kalau di kantor sendirian,” jawabnya, memelas.
“Tapi kan di lantai lain banyak juga yang lagi lembur.
“Ya, sayangnya di lantai 10 ini cuma aku yang lembur. Please... please... temenin ya.”
“Yeee ... enak aja, nggak ah. Males. Ngapain ampe malem di kantor?”
“Isshhh ... kamu jahat banget deh.” Siska memberengut kesal, dia mengerucutkan bibirnya tak ayal membuat Tina terkikik geli melihatnya.
“Iya deh iya, aku temenin. Aku juga ada beberapa tugas yang belum beres. Niatnya mau dikerjain besok. Tapi ya udahlah sekalian aja aku kerjain sekarang.” Wajah cemberut Siska seketika berubah sumringah. Dia bangkit dari duduknya dan tanpa aba-aba menerjang Tina dengan pelukannya.
“Kamu emang temen baik aku deh di kantor. Thanks ya, nanti aku traktir deh.”
“Janji ya, awas kalau bohong!” Siska membentuk kata OK dengan jari-jari tangannya seraya memperlihatkan cengiran andalannya. Tina menggeleng sesaat, lalu melangkah menuju meja kerjanya yang terhalangi dua meja di depan meja kerja Siska.
Setelah itu, mereka berdua pun mengerjakan tugas mereka dengan hening. Tak ada yang berbicara, hanya suara jari-jari mereka yang menari di atas keyboard komputer yang terdengar.
Hampir 2 jam berlalu masih dalam keheningan, Siska terenyak ketika melihat Tina yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
“Ah, kamu ngagetin aja. Kenapa? Jangan bilang tugasnya udah beres terus kamu ngasih tahu mau pulang?” Terka Siska memicingkan kedua matanya tampak tak suka.
“Iya nih, tugasku udah beres.”
“Yaah ... tapi jangan pulang dulu dong. Please ... temenin bentar lagi.”
“Tugasnya masih banyak gak?” tanya Tina, dia mengintip ke arah layar komputer Siska.
“Lumayan, paling 2 jam-an lagi beres.”
“Gila, masih lama dong.” Siska tak menyahut, dia kembali memperlihatkan tatapan memelasnya agar Tina merasa iba padanya. Dia sungguh tidak ingin ditinggalkan sendirian di kantor. Terutama setelah kejadian yang menimpanya tadi siang.
Mikayla memergokinya yang tengah membicarakannya. Dia takut, tentu saja. Meskipun Mikayla tampak tak marah sedikit pun, dia justru tersenyum manis padanya. Atau mungkin Mikayla memang tidak mendengar apa yang dikatakan Siska tentangnya. Dia berdiri disana hanya untuk menyapa karyawan suaminya. Entahlah... yang pasti tak terlihat raut marah di wajahnya meskipun memergoki karyawan suaminya sedang membicarakan masalah yang menyangkut tentangnya. Bahkan yang dibicarakan itu bukan sesuatu yang baik tentangnya.
Kendati demikian, Siska tetap takut sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya setelah kejadian tadi siang.
“Please ... Tin, temenin aku bentar lagi. Aku takut ditinggal sendirian di sini. Aku takut nasibku sama kayak Cintya dan juga temennya Pak Araya.” Tina mengernyitkan dahi, dia tak mengerti kenapa Siska mengatakan hal tersebut.
“Maksudnya?” Tanyanya, meminta penjelasan.
“Kamu gak lupa kan tadi siang Bu Mikayla memergoki kita lagi ngomongin dia? Gimana kalau dia marah, terus dia datang kesini buat bunuh aku?” Siska melotot dalam ucapannya, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Sesekali tatapannya bergulir ke sekeliling ruangan di lantai 10, tampak mengawasi sesuatu.
“Husshhh, kamu jangan ngomong sembarangan gitu. Lagian kenapa sih kamu negatif thinking mulu sama Bu Mikayla? Dia baik dan ramah gitu, mana mungkin dia bisa bunuh orang.” Sanggah Tina, dia tak sependapat dengan Siska. Menurutnya Mikayla sosok wanita yang sempurna. Selain cantik, dia juga sangat baik dan ramah pada karyawan suaminya. Membuatnya berpikir pantas saja Araya memilihnya sebagai istri.
“Tapi, Tin, dari tadi aku ngerasa ada yang ngawasin aku gitu. Kayak ada yang lagi merhatiin aku. Tapi pas aku lihat sekeliling, gak ada siapa pun selain kita berdua.” Siska berbisik di dekat telinga Tina dan entah mengapa membuat Tina ikut menggulirkan bola matanya menatap ke sekelilingnya. Dia juga merasa bulu kuduknya mulai merinding. Namun seperti halnya Siska, dia pun tak menemukan sosok apa pun di dalam ruangan.
“Udah deh, itu cuma perasaan kamu aja. Gak ada apa-apa kok disini. Lagian Bu Mikayla juga gak marah kok sama kamu. Jadi gak usah mikir yang aneh-aneh lagi. Satu lagi, berhenti nuduh Bu Mikayla yang bunuh Cintya sama temennya Pak Araya. Gak baik tahu nuduh orang tanpa bukti, bisa jadi fitnah.” Nasihatnya, dia memang terlihat kesal karena Siska selalu berpikiran buruk tentang Mikayla.
“Aku kan cuma denger gosif aja tentang dia. Tapi OK, aku janji gak bakalan ngomongin dia lagi.”
“Siip!” Tina membenarkan letak tasnya yang dia sampirkan di bahu, namun gerakannya terhenti ketika kedua tangan Siska menggenggam tangannya erat.
“Tapi, Tin. Please ... temenin aku. Bentar lagi aja. Ya, ya ....” Tina berdecak, temannya itu begitu manja. Dia ingin pergi, lagipula waktu sudah menunjukan hampir pukul 7 malam, dia malas berlama-lama di kantor. Jujur dia ingin segera pulang ke rumahnya dan berendam air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang terasa pegal-pegal karena terlalu banyak duduk dan menatap layar komputer.
“Tina... Please... aku mohon temenin bentar lagi.” Akan tetapi, dia juga iba melihat wajah memelas teman dekatnya di kantor ini, akhirnya dia menghela napas panjang, mungkin memilih untuk menyerah dan menerima permintaan Siska.
“Ya udah, aku temenin. Tapi aku ke bawah bentar ya beli makanan sama minuman dulu buat kita, laper nih.” Siska melepaskan genggaman tangannya pada Tina, dia tersenyum riang, tampak senang karena Tina bersedia memenuhi keinginannya.
“Thanks, Tina. Kamu emang teman terbaik aku.” Tina menghela napas lagi melihat tingkah laku Siska yang kekanakan menurutnya.
“Terus kamu mau makan apa?”
“Apa aja boleh, nanti aku yang bayar deh. Tapi pake uang kamu dulu ya, nanti aku ganti,” ucap Siska seraya menunjukan cengirannya.
“Terserah.” Tina melangkah meninggalkan Siska, dia hendak menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai dasar.
“Tina, jangan lama-lama ya!!!” Teriak Siska mengingatkan namun diabaikan oleh Tina, gadis lajang berusia 24 tahun itu hanya menggelengkan kepalanya. Lalu dia pun masuk ke dalam lift ketika pintunya telah terbuka.
Siska merasa dirinya semakin merinding, terbukti dari kedua tangannya yang kembali memeluk dirinya sendiri. Dengan ketakutan yang kentara memenuhi raut wajahnya, dia mencoba sekali lagi menatap ke sekelilingnya. Mungkin dia belum bisa merasa tenang sebelum memastikan tak ada siapa pun yang sedang mengawasinya saat ini.
Dia teguk salivanya susah payah ketika tak menyadari keberadaan siapa pun, akan tetapi hawa dingin yang membuat bulu kuduknya merinding masih amat jelas dirasakannya.
Dia mendudukan dirinya kembali di kursi dengan tatapan matanya tertuju pada layar komputernya. Dia berpikir lebih baik segera melanjutkan pekerjaannya agar bisa cepat selesai. Dia sudah tidak tahan lebih lama lagi berada di ruangan itu.
Meskipun jantungnya berdetak cepat dan perasaannya begitu tidak nyaman, tapi dia mencoba untuk fokus pada pekerjaannya. Jari-jari tangannya menari dengan begitu cepat di atas keyboard komputernya.
Lalu, tiba-tiba dia menghentikan sejenak kegiatan mengetiknya, ekor matanya menangkap sosok seseorang sedang duduk di depannya. Lebih tepatnya di meja kerja Tina ada seseorang yang sedang mendudukan diri disana. Dengan was-was, Siska mengintip dari balik komputernya ke arah meja depan.
Benar dugaannya, ada seorang wanita sedang duduk disana. Dari pakaian yang dikenakannya dan gaya rambutnya, Siska tahu siapa wanita itu. Dia Tina, temannya yang beberapa menit yang lalu baru saja meminta izin turun ke bawah untuk membeli makanan. Menurutnya terlalu cepat dia kembali karena seingatnya temannya itu baru saja pergi sekitar 10 menit yang lalu.
“Tina, kamu udah beli makanannya?” Tanyanya. Namun, Tina yang duduk di kursinya sama sekali tak terdengar menyahut, sekadar menoleh pun tidak.
“Tina,” panggilnya sekali lagi, dan kembali diacuhkan. Siska heran, dia mengendikan bahunya memilih tak peduli. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Dia pikir mungkin Tina sedang mengerjakan sesuatu, karena itu dia diabaikan. Yang terpenting bagi Siska, dia tidak sendirian lagi di dalam ruangan ini. Setidaknya mengetahui hal itu membuatnya lega dan tidak takut lagi. Dia juga bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Selama mengerjakan tugasnya, sesekali Siska melirik ke arah Tina, memastikan gadis itu masih duduk di tempat. Senyuman tipis tersungging di bibirnya untuk kesekian kalinya ketika didapatinya Tina masih setia menemaninya, meskipun entah mengapa gadis itu tiba-tiba menjadi pendiam.
“Tina, kamu lagi apa sih? Diem aja dari tadi. Kamu lagi ngerjain tugas juga ya?” Siska kembali mengajak Tina bicara, matanya memicing menatap lekat ke arah Tina yang terus saja mengabaikan pertanyaannya sejak gadis itu kembali dari lantai bawah.
Awalnya Siska hendak menghampiri Tina, memastikan apa yang sedang dikerjakan temannya itu sehingga membuat dirinya diabaikan. Tapi niat itu diurungkannya ketika dia melihat Tina mengangguk. Siska pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Drrrttt ... Drrrrttt ... Drrrrtt ...
Siska berhenti sejenak, dia mengambil ponselnya yang dia letakan di dekat komputernya. Rupanya ada satu pesan w******p masuk. Tanpa ragu dia pun membacanya, khawatir pesan itu cukup penting.
Sis... sorry ya, aku harus pulang. Barusan kakak aku telepon, katanya ibu aku sakit di rumah.
Itulah isi pesan tersebut, Siska menyipitkan matanya dengan dahi berkerut ketika disadarinya pesan itu dikirimkan oleh Tina. Lalu dia menatap ke arah depan memastikan sosok Tina masih duduk di kursinya, dan ya ... gadis itu masih duduk setia disana.
“Tin, ibu kamu sakit? Ya udah, pulang aja nggak apa-apa. Kerjaan aku dikit lagi beres kok, bentar lagi aku juga pulang,” ucapnya sedikit mengeraskan volume suaranya. Namun entah untuk keberapa kalinya, Tina mengabaikannya lagi.
“Tina!” Panggilnya lebih mengencangkan volume suaranya. Siska nyaris melemparkan ponselnya ketika dia kembali merasakan ponselnya bergetar dalam genggamannya. Rupanya ada telepon masuk kali ini. Kedua mata Siska membulat ketika melihat nama peneleponnya yang tertera di layar ponselnya.
Tina Calling...
Namun anehnya, sosok Tina yang duduk di kursi depan sama sekali tidak sedang memegang ponsel ataupun menempelkan ponselnya di depan telinganya, sesuatu yang seharusnya dilakukan seseorang ketika sedang menelepon.
Siska mulai panik dan ketakutan setengah mati, jantungnya berpacu cepat seolah hendak keluar dari rongga dadanya. Peluh sudah bercucuran dari pelipisnya. Bulu kuduknya meremang sempurna dan dia pun merasakan hawa di dalam ruangan terasa lebih dingin dari sebelumnya. Dengan tangan kanannya yang bergetar hebat, Siska memutuskan untuk menerima telepon itu.
“Ha-Hallo,” ucapnya memulai pembicaraan, sedangkan tatapannya masih fokus ke arah sosok Tina yang masih duduk tenang di kursinya.
“Sis, kok pesan aku gak dibales, udah gitu lama banget angkat teleponnya? Segitu banyaknya ya kerjaan kamu ampe pesan aku dicuekin?” Diseberang sana, suara Tina terdengar merajuk.
“T-Tina, kamu lagi dimana? Bukannya kamu lagi duduk di kursi kamu ya?” Tanya Siska, kini air matanya sudah mulai berjatuhan saking takutnya.
“Kamu ngomong apaan sih, tadi kan aku turun ke bawah buat beli makanan, masa kamu lupa? Oh iya, sorry... aku gak bisa nemenin kamu lagi. Aku harus pulang, kakak aku telepon barusan, katanya ibu aku sakit. Sorry ya... kamu jangan marah. Lain kali kalau kamu lembur lagi, aku temenin lagi deh.” Siska memelotot, kini dia sadar seseorang yang sedang duduk di kursi Tina serta berpenampilan menyerupai Tina itu bukanlah Tina yang asli. Lalu siapa dia? Siska takut sekaligus penasaran.
“Sis, kamu dengar kan apa yang aku bilang?” Sedangkan Tina disebrang sana mulai geram dengan keanehan sikap Siska yang terus mengabaikannya.
“Tin, kamu percaya gak kalau aku bilang, di sini aku gak lagi sendirian? Ada seseorang di sini.”
“Haah? Emangnya ada siapa di sana? Ya, bagus dong kalau ada orang di sana, berarti kamu gak sendirian lagi. Jadi kamu gak usah takut lagi.”
“Tapi... d-dia mirip kamu, Tin. Dia juga lagi duduk di kursi kerja kamu.”
“Hahaha... masa sih? Kok bisa ada orang yang mirip aku, kamu salah lihat kali.” Tina terkekeh geli disebrang sana, dia merasa Siska hanya sedang membohonginya saat ini. Mungkin temannya itu sedang membuat sebuah lelucon karena kesal padanya yang pergi meninggalkannya begitu saja.
“Aku serius, Tin. Dia mirip banget sama kamu. Ya udah, aku lihat dulu, sebenarnya dia siapa.” Siska memutus sepihak sambungan teleponnya.
Dengan ragu-ragu serta rasa takut yang semakin membuncah, dia bangkit berdiri dari duduknya. Dia memutuskan untuk mencari tahu siapa gerangan seseorang yang berpenampilan begitu mirip dengan Tina itu. Dengan gontai dia menghampiri sosok itu.
“H-Hei, kamu bukan Tina, kan? Kamu siapa?” Tanyanya, ketika kini dia sudah berdiri tepat di belakang sosok itu.
Siska mengulurkan satu tangannya ke depan hendak menyentuh bahu sosok itu. Dia ingin melihat wajah sosok yang sempat dia kira sebagai Tina.
Tangan kanannya sudah berada di bahu sosok itu, terasa begitu dingin padahal dia tidak menyentuh kulitnya langsung. Siska meneguk saliva keringnya, ketika dilihatnya dengan perlahan... amat perlahan... sosok itu mulai memutar kepalanya.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”
Hanya teriakan Siska yang terdengar setelah itu.
Siska terperanjat kaget dengan kedua mata terbelalak sempurna ketika dilihatnya sosok di depannya yang awalnya dia kira Tina, kini tengah memutar kepalanya perlahan. Kepala itu berputar namun tidak dengan tubuhnya. Tubuhnya masih duduk dengan tegak di kursinya, sama sekali tak berubah posisi. Kepala itu berputar amat perlahan hingga suara derak tulang lehernya terdengar jelas di telinga Siska.
Kini kepala itu sudah berputar 180 derajat dan berhadapan dengannya. Napas Siska tercekat dengan bola mata yang semakin membulat lebar nyaris melompat dari kelopaknya. Wajah sosok itu sangat menyeramkan. Dia tidak memiliki bola mata, hanya kelopak berwarna hitam pekat yang tak hentinya meneteskan darah kental. Wajahnya penuh dengan bekas sayatan pisau sehingga wajahnya sulit dikenali. Bibirnya hancur dan membengkak sehingga bibir itu terlihat lebih tebal dan besar dibanding bibir manusia normal. Rambutnya acak-acakan dan terlihat beberapa belatung tengah menggeliat-geliat di dalam rambutnya. Sangat menjijikan ditambah aroma bau amis dan anyir yang menusuk hidung Siska, nyaris membuatnya tak sanggup menahan mual.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” Teriak Siska, tak sanggup lagi menahan rasa takutnya.
Dia melangkah mundur dengan air mata yang mulai turun dari kedua matanya. Mungkin terlalu takut hingga tanpa sengaja kaki kanannya menginjak kaki kirinya, akibatnya dia pun jatuh terduduk. Sedangkan sosok di depannya, mulai bangkit dari duduknya. Tubuhnya berputar perlahan hingga kini sudah sejajar dengan kepalanya yang menghadap ke arah Siska.
“Jangan mendekat!!” Siska kembali berteriak histeris ketika dilihatnya sosok itu mulai melangkah mendekatinya. Siska merangkak mundur dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Dia begitu ketakutan, dia tahu sedang berada dalam bahaya. Sosok di depannya sepertinya berniat menyerangnya.
Kedua tangan sosok itu terulur ke depan seraya kedua kakinya yang melangkah semakin mendekati Siska. Siska tahu apa yang akan dilakukan sosok itu padanya, lehernya... dia harus melindungi lehernya dari cengkraman kedua tangan sosok yang semakin mendekatinya.
Siska terus merangkak ke belakang, dia pun berusaha untuk bangkit berdiri. Namun... belum sempurna dia berdiri tegak, dia merasakan kedua kakinya tertarik seolah ada seseorang yang sedang menariknya. Siska menoleh ke arah kakinya, anehnya tak ada siapa pun yang menarik kakinya. Dia tidak berhalusinasi, tapi sangat jelas dia merasakan kakinya ditarik sebuah kekuatan luar biasa yang membuatnya sulit melakukan perlawanan.
Siska menghentak-hentakan kakinya untuk membebaskan diri. Ketika dirasa berhasil dan kedua kakinya kembali bebas. Dia pun berlari sekencang yang dia bisa menjauhi sosok wanita yang masih berdiri di tempatnya tadi. Lift merupakan tempat yang dituju Siska saat ini.
Dia terus berlari, mengabaikan napasnya yang mulai terengah serta tubuhnya yang tak hentinya gemetaran.
“Tolong!!!” Teriaknya, kencang sekali sehingga suara teriakannya menggema di sekitar ruangan. Dia berharap ada seseorang yang mendengar suara teriakannya dan akan datang untuk menolongnya. Bukankah di lantai bawah ada beberapa karyawan yang sedang lembur sepertinya? Setidaknya dia berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya itu.
Dia sudah tiba di depan lift, dia tekan berulang kali tombol untuk membuka pintu lift. Dia tekan tombol ke bawah agar lift bisa segera membawanya ke lantai dasar. Namun naasnya, meski berulang kali dia menekan tombol, pintu lift tidak kunjung terbuka.
“Ayolah, kenapa gak mau buka juga pintu liftnya?” Gerutunya dengan tangannya yang masih sibuk menekan-nekan tombol. Sesekali tatapannya menelisik ke arah belakang guna mencari keberadaan sosok yang tadi nyaris mencekiknya.
Kedua bola matanya bergulir kesana kemari, sosok wanita itu tak dilihatnya dimana pun, bahkan di tempatnya tadi berdiri pun, tidak ada.
“Kemana dia? Apa dia sudah pergi?” Gumamnya pada dirinya sendiri. Dia melangkah sejenak menjauhi lift yang masih juga belum terbuka. Dia ingin memastikan, benarkah sosok wanita misterius itu telah pergi? Dia bersyukur jika sosok itu benar-benar sudah pergi, artinya dia selamat.
Langkahnya semakin membawanya menjauhi lift, dia sudah kembali mendekat ke ruangan kerjanya. Sosok itu rupanya memang sudah hilang, tak ada dimana pun. Diam-diam Siska mengusap-usap dadanya seraya mengembuskan napas lega. Dia bersyukur sekaligus lega sekali karena sepertinya dia selamat dari entah sosok apa pun yang berniat menyakitinya. Senyuman tersungging di bibirnya, dia bisa pulang dengan tenang dan tak perlu lagi merasa takut.
Dia pun berbalik hendak kembali menuju lift. Akan tetapi... betapa terkejutnya dia hingga tersentak ketika sosok wanita tersebut sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” Teriaknya untuk yang kesekian kalinya.
Dia berlari membuat jarak sejauh mungkin dengannya, namun lagi-lagi seperti halnya tadi, dia merasakan ada kekuatan dahsyat yang menarik tubuhnya. Dia jatuh terjerembab dikala tubuhnya tak sanggup lagi menahan tarikan pada kakinya. Dia tengkurap di lantai, berusaha kembali berdiri. Tetapi kejadian tak terduga kembali terjadi. Tarikan pada kakinya terasa semakin kuat, dia diseret hingga tubuhnya bergesekan dengan lantai.
Tak ada siapa pun yang menyeretnya seolah tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Tak cukup disitu siksaan yang didapatkannya, karena kini kekuatan tak kasat mata yang menyakitinya, melemparkan tubuhnya hingga membentur dinding. Siska meringis kesakitan, tulangnya yang berbenturan dengan kerasnya dinding berdenyut nyeri dan ngilu. Ada memar-memar juga di tubuhnya serta tubuh bagian depannya yang lecet karena bergesekan dengan lantai ketika diseret tadi.
Dengan gontai, Siska berusaha untuk kembali berdiri. Dia berjalan tertatih-tatih mendekati lift. Sedangkan sosok itu, kini sudah tak ada di tempatnya berdiri. Entah kemana perginya, Siska sudah tak peduli lagi. Satu-satu hal yang dipikirkan Siska sekarang hanyalah pergi secepat mungkin dari sana.
Pintu lift yang sejak tadi tertutup akhirnya terbuka, mengundang senyuman lega di bibir Siska. Dia bergegas masuk ke dalam lift, di tekannya tombol menuju lantai dasar.
Selama berada di dalam lift, jantungnya berdentum begitu cepatnya. Dia nyaris mati barusan, sosok itu memang berniat untuk menyakitinya bahkan mungkin membunuhnya. Tapi kenapa? Kenapa sosok itu ingin membunuhnya? Banyak pertanyaan yang berkelebat di pikiran Siska, namun dia tahu saat ini yang terpenting, dia harus memastikan keselamatannya terlebih dahulu.
Di tengah-tengah kegelisahannya menunggu lift mengantarnya ke lantai dasar, tiba-tiba saja sesuatu yang tidak diharapkan kembali terjadi. Lift yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti bergerak, padahal dia baru mencapai lantai 8, masih sangat jauh dari lantai dasar yang menjadi tujuannya.
Siska menekan sekali lagi tombol menuju lantai dasar, namun tak berpengaruh apa pun, lift itu masih berhenti. Lalu dia berinisiatif menekan tombol darurat, dia berharap ada seseorang yang menyadari bahwa dirinya sedang terjebak di dalam lift. Dia sangat membutuhkan pertolongan saat ini.
Kegelisahaannya berubah menjadi ketakutan yang tiada tara ketika lampu di dalam lift kini berkedip-kedip layaknya lampu disko. Lampu itu menyala, lalu mati dengan sendirinya. Terus seperti itu hingga cukup menyakitkan penglihatan Siska. Jantungnya pun semakin berdetak cepat, peluh sudah membasahi sekujur tubuhnya. Napasnya pun mulai sesak karena pengapnya terjebak di dalam lift yang sempit.
Dia semakin panik, napasnya semakin sulit untuk diatur. Terlebih ketika tanpa sengaja tatapannya menangkap sosok wanita misterius tadi sedang berdiri di belakangnya. Tangan sosok itu melingkar di perutnya, lalu sedikit demi sedikit mulai naik ke dadanya. Air mata meluncur dengan sendirinya dari kedua mata Siska. Dia sudah diambang batas rasa takutnya. Bulu kuduknya meremang, hembusan napas sosok yang berdiri di belakangnya menerpa kulit lehernya dan dia merasa semakin tak nyaman karenanya. Tubuhnya gemetaran ketika sepasang tangan sosok itu kini naik ke lehernya, siap mencekiknya kapan pun sosok itu kehendaki.
“Tolong jangan bunuh aku,” pinta Siska lirih, dia ingin melarikan diri dari sana, namun entah mengapa tubuhnya terasa membeku. Jangankan untuk melarikan diri, sekadar untuk bergerak pun, Siska seolah lupa caranya. Tubuhnya diluar kendalinya, dia tak bisa melakukan apa pun selain menangis dan terus berdoa di dalam hatinya agar dia selamat dari makhluk yang kini bersiap untuk mencekiknya.
Siska memejamkan kedua matanya ketika sosok itu mencekik lehernya. Cengkraman tangannya sangat kuat di leher Siska, gadis malang itu mulai kesulitan bernapas. Sedikit demi sedikit tubuhnya pun terangkat ke udara, pertanda sosok yang mencekiknya memiliki kekuatan yang luar biasa hingga mampu mengangkat tubuh Siska dengan mudahnya.
Kedua kaki Siska meronta-ronta, menendang apa pun yang ada di dekatnya. Kedua tangannya yang sudah bisa digerakannya, ikut tak tinggal diam. Tangannya memukul-mukul cengkraman di lehernya. Siska sudah melakukan perlawanan sekuat tenaganya namun tangan itu enggan untuk melepaskan atau sekadar mengendurkan cengkramannya.
Di saat Siska berpikir mungkin ajalnya sudah tiba dan mulai pasrah menerima takdirnya karena dia pun sudah berhenti melakukan pemberontakan, cengkraman pada lehernya justru mengendur dan terlepas begitu saja.
Siska jatuh terduduk di lantai lift, dia terbatuk berulang kali. Dia menghirup napas panjang guna mengisi kembali pasokan udara di dalam paru-parunya yang nyaris terputus tadi.
Kemudian Siska menoleh ke arah belakangnya, memastikan keberadaan sang makhluk misterius. Rupanya dia sudah tidak ada di belakang Siska. Siska beralih menatap ke arah atap lift, mengantisipasi jika makhluk itu mungkin sedang merayap di atas, dia hembuskan napas lega ketika tak ada apa pun di atap lift begitu pun di setiap sudut lift. Tak ada siapa pun disana. Hanya ada dia seorang di dalam lift.
Siska perlahan merangkak karena dirasa tubuhnya masih begitu lemas, dia berpegangan pada dinding lift, berniat untuk kembali berdiri. Dia tidak pantang menyerah, terus menyangga tubuhnya pada dinding lift agar bisa berdiri dengan tegak. Di tengah-tengah upayanya untuk berdiri, tiba-tiba lift kembali bergerak tak ayal membuat Siska kembali mengembangkan senyum lega.
“Aku selamat, syukurlah,” gumamnya, bersyukur dalam hati.
Akan tetapi, rupanya apa yang dipikirkannya sangat keliru. Sosok misterius belum cukup menyiksanya atau mungkin sosok itu memang berniat untuk membunuhnya.
Lantai lift yang dipijak Siska tiba-tiba terbuka dengan sendiri, sesuatu yang mustahil terjadi tapi naasnya memang itulah yang terjadi pada Siska. Lantai lift terbuka, sontak membuat Siska meluncur jatuh ke bawah.
“TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!”
Teriakan kencang Siska seolah tertelan kerasnya suara lift yang ikut meluncur turun ke bawah seolah kehilangan kendalinya. Tubuh tak berdaya Siska jatuh membentur lantai, seketika membuat beberapa tulang punggungnya patah. Siska masih hidup meski jatuh dari lantai 8, matanya masih terbuka menatap ke arah depannya. Kedua matanya melotot ketika melihat lift yang ditumpanginya tadi kini meluncur ke arahnya, hendak menindihnya.
Mulut Siska terbuka lebar namun suara jeritannya sama sekali tak keluar seolah pita suaranya putus karena teriakan terakhirnya tadi. Dan ... dalam sekejap, tubuh Siska hancur ketika lift menghantam keras, menghimpit tubuhnya tanpa cela. Hanya genangan darah yang tersisa dari potongan tubuh Siska yang telah hancur.