BAB 4

2602 Kata
NANA POV  Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan terburu-buru, alasannya karena semalam aku lagi-lagi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hantu wanita yang sepertinya berasal dari lukisan, kembali berulah. Dia kembali memainkan piano meski tidak bernyanyi seperti kemarin malam.  Rachel masih menginap di Apartemen ini karena dia tahu aku masih belum berani tinggal sendirian. Aku heran kenapa hanya aku yang bisa mendengar alunan piano yang dimainkannya, Rachel tak mendengar apapun ketika aku bertanya padanya. Karena itulah, dia bisa tidur dengan nyenyak semalam. Bertolak belakang denganku yang nyaris tak bisa terpejam semalaman.  Aku baru tertidur tepat pukul 4 dini hari, akibatnya ... sekarang aku bangun kesiangan dan nyaris terlambat ke kantor. Naasnya Rachel pun ikut bangun kesiangan sama sepertiku.  “Aku temani kamu ke kantor ya. Nanti aku bantu kamu jelasin ke Araya alasan kamu telat,” tawar Rachel berbaik hati ingin membantuku. “Emangnya kamu mau bilang ke Araya alasan aku terlambat karena bangun kesiangan? Terus yang buat aku bangun kesiangan karena semalaman gak bisa tidur gara-gara aku denger hantu yang lagi mainin piano gitu?” tanyaku seraya dengan cepat memoleskan bedak tipis di wajahku.  “Iya, emang gitu kan alasannya?” “Emangnya orang seperti Araya bakalan percaya hal mistis begitu? Yang ada nanti dia malah mikir kita lagi bohongin dia.” “Hmm, tapi kan seenggaknya aku bisa bantu kamu supaya dia gak marah sama kamu.” Rachel masih tetap bersi keras untuk membantuku menjelaskan keterlambatanku ini. Tapi menurutku jika dia membantuku justru akan semakin memperburuk keadaan.  “Gak perlu, Ra. Kamu kan udah ngerekomendasiin aku di perusahaannya. Jangan membantuku lagi, nanti malah bikin dia tambah marah. Biar aku urus sendiri ya. Semoga aja dia masih mau maafin aku. Ya udah aku berangkat dulu.” Aku menyambar tasku dan berjalan cepat meninggalkan kamarku.  “Tapi, Na. Araya itu serem lho kalau lagi marah. Kalau aku yang ngomong, dia pasti gak bakalan marahin kamu.” Aku menoleh ke arahnya tanpa menghentikan langkahku yang sudah mencapai ruang tengah.  “Aku bakalan makin telat kalau harus ikut kamu. Berapa lama aku harus nunggu kamu mandi sama dandan?” Rachel menatap ke arah tubuhnya sendiri begitu mendengar ucapanku. Dia cengengesan ketika menyadari kebenaran dari perkataanku. Penampilannya memang kusut layaknya seseorang yang baru bangun tidur. Rambut acak-acakan, wajah sayu dan polos serta piyama tidur yang masih melekat di tubuhnya.  “OK deh kalau gitu. Tapi langsung bilang ke aku ya kalau Araya marah-marah sama kamu!” Teriaknya, karena aku sudah membuka pintu Apartemen bersiap melesat pergi. “Siap!!” Balasku berteriak.  Lalu setengah berlari aku menuju lift yang akan mengantarkanku ke lantai dasar. 15 menit lagi tepat pukul 8, sudah dipastikan aku pasti akan datang terlambat di kantor. Ku hela napas panjang membayangkan bagaimana reaksi Araya nanti, melihat di hari pertama aku sudah datang terlambat padahal kemarin dia sudah mewanti-wantiku agar tidak terlambat masuk kerja. Dia sangat benci pada orang yang tidak disiplin bukan? Matilah aku... di hari pertamaku, aku sudah melakukan kesalahan fatal.  Setibanya di kantor, aku tersenyum sekilas pada beberapa karyawan yang melempar senyum padaku. Aku sudah berkenalan dengan mereka ketika Rachel menemaniku berkeliling kantor kemarin.  “Nana!!”  Aku berhenti melangkah ketika suara seseorang memanggil namaku tertangkap indera pendengaranku. Rina... sang resepsionislah yang sepertinya memanggilku. Aku pun bergegas menghampirinya.  “Kenapa, Rin?” Tanyaku, tanpa basa-basi mengucapkan sapaan selamat pagi. Tidak tahukah dia aku sedang terburu-buru? “Pak Araya, dia nungguin kamu di ruangannya.” Dan aku merasa jantungku berhenti berdetak untuk sesaat ketika mendengar jawabannya. Sepertinya aku memang telah membuat bosku marah di hari pertamaku bekerja. Jangan katakan, di hari pertamaku bekerja sekaligus akan menjadi hari terakhirku bekerja disini.  “Cepet deh kamu temui dia, dia udah nunggu dari tadi.” Kata-kata Rina kembali menyadarkan pikiranku yang sempat melayang entah kemana. Aku mengangguk dan tanpa kata bergegas masuk ke dalam lift yang akan mengantarkanku ke lantai 10, tempat ruanganku dan bosku berada. Tubuhku bergetar hebat dan terlalu berlebihan memang jika ku katakan aku merasa darahku berhenti mengalir ke otakku ketika kini aku sudah berdiri di depan pintu ruangan Araya. Memang segugup itulah aku saat ini. Kegugupanku seketika berubah menjadi rasa takut ketika mengingat kata-kata Rachel tadi. Sahabatku itu bilang, saudara sepupunya yang baru menjadi bosku ini akan sangat menyeramkan jika sedang marah. Tuhan selamatkanlah aku. Hanya doa ini yang ku panjatkan di dalam hati.  Akhirnya setelah mengumpulkan seluruh keberanian yang ku punya, aku mengetuk pintu itu.  “Masuk!”  Aku tahu itu suara Araya yang mengizinkanku untuk membuka pintu di depanku. Meski baru bertemu kemarin, tapi suara beratnya masih ku kenali dengan jelas. Lagipula siapa lagi selain dia yang akan memberikan izinnya untukku masuk ke dalam, toh ruangan ini memang miliknya. Tentu hanya dia yang saat ini sedang berada di dalam ruangan di balik pintu ini.  Namun rupanya pemikiranku salah besar. Setelah ku buka pintu itu, tidak hanya Araya yang ku lihat disana. Melainkan dia sedang bersama seorang wanita.  Sebagai sesama wanita, aku merasa iri melihat penampilannya. Semua bentuk keindahan seolah-olah melekat di tubuhnya. Wajahnya sangat cantik dengan iris mata birunya, pertanda dia keturunan blasteran. Kulit wajahnya putih mulus tanpa noda sedikit pun. Hidungnya mancung dengan bibir tebalnya yang seksi. Alisnya juga tebal dengan bulu matanya yang lentik. Bibir merah ranumnya terbingkai sempurna oleh rahangnya yang halus. Dagunya pun tampak lancip. Tubuhnya ramping layaknya para model yang sering ku lihat bertengger di majalah-majalah fashion. Siapakah wanita ini? Dia sedang duduk anggun di atas sofa sedangkan Araya sedang duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan tajamnya padaku.  “S-Selamat pagi, Pak. M-Maaf saya datang terlambat.” Kata-kata pertama yang kuucapkan ketika aku berdiri tepat di depan meja kerjanya. “Sepertinya kau lupa apa yang saya katakan kemarin?” Tanyanya dengan dingin. Kuteguk saliva dengan tatapanku menunduk tak berani menatap ke arahnya. “Saya masih ingat, Pak. Bapak tidak suka karyawan yang tidak disiplin. Saya tahu saya salah, Pak. Tapi mohon berikan saya kesempatan kedua. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini,” pintaku sendu. Aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilangan pekerjaan yang baru saja aku dapatkan.  “Sudahlah, Honey. Maafkan dia.” Aku terenyak ketika suara merdu mengalun di telingaku, suara yang ku yakini berasal dari wanita tadi.  Wanita itu bangun dari duduknya, dia berjalan anggun menghampiri Araya. Dia pun berhenti melangkah ketika tepat berdiri di samping kursi Araya. Aku memberanikan diri untuk mendongak dan menatap ke arah wanita itu. Dia sedang menatap intens ke arahku, dan entah kenapa... aku merasakan aura yang berbeda menguar dari tubuhnya. Terutama tatapannya itu, aku seolah terpaku di tempatku berdiri hanya karena menatap kedua matanya. Sebenarnya siapa wanita ini?  “Namaku, Mikayla Giovanni Addison, aku istri Araya,” jawabnya, seolah dia mengetahui isi pikiranku.  Mikayla... jadi wanita inilah yang harus ku selidiki atas permintaan Rachel. Karena wanita ini pula aku bisa pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan ini.  Aku menatapnya dengan seksama, Rachel curiga wanita ini dirasuki oleh makhluk halus. Tapi, meski aku merasakan aura yang berbeda darinya, aku sama sekali tidak melihat sosok lain yang berada di dalam tubuhnya. Ya, aku yakin sekali, tidak ada hantu di dalam tubuhnya. Jadi mungkinkah kecurigaan Rachel memang salah?  “Namamu, Nana, bukan?” Aku kembali terenyak ketika suaranya menyadarkanku kembali dari lamunan panjangku. “I-Iya, Bu,” sahutku. Kurasa panggilan ibu adalah panggilan yang paling cocok untuknya. Dia istri bosku bukan? Sudah seharusnya aku menghormatinya.  Dia tersenyum padaku, menunjukan lesung di pipinya yang semakin mempertegas paras cantiknya.  “Aku dengar kau mulai hari ini bekerja sebagai sekretaris pribadi suamiku. Aku sengaja datang kesini untuk menemuimu.” Entah untuk keberapa kalinya kata-katanya sukses membuatku terenyak kaget. Jadi alasannya datang ke kantor ini karena ingin bertemu denganku. Fakta ini sungguh mengejutkanku.  “Dan aku menyukaimu. Sepertinya kau orang yang tepat untuk menjadi sekretaris pribadi suamiku. Jadi mohon bantuannya untuk selalu membantu suamiku dalam pekerjaannya.” Aku tertegun, entah jawaban apa yang harus ku berikan untuknya. Butuh 15 detik bagiku untuk mengangguk pada akhirnya.  “Honey, maafkan dia untuk keterlambatannya tadi. Ini permintaanku,” ucapnya lagi seraya mengelus lembut rahang suaminya. Kenapa aku harus melihat kemesraan mereka seperti ini? Entah kenapa aku tidak nyaman melihatnya? Atau mungkin kata canggung lebih tepat.  “Baiklah, saya memaafkan untuk kesalahan ini. Tapi nona Nana, lain kali tolong jangan terlambat lagi.” Aku mengembuskan napas lega ketika kata-kata yang kutunggu-tunggu itu akhirnya terucap dari mulut Araya. “Baik, Pak. Terima kasih,” sahutku cepat seraya mengangguk. “Kau sudah bisa pergi ke ruanganmu.” “Baik, Pak. Permisi.” Aku hendak melangkah mundur, namun aku teringat keberadaan Mikayla di ruangan ini. Aku pun menatap ke arahnya, sama halnya dengan dia yang saat ini sedang menatap ke arahku juga.  “Saya permisi, Bu. Terima kasih.” Dia tidak menyahut tapi kembali tersenyum padaku. Ku rasa dia wanita yang ramah. Jadi memang sepertinya Rachel terlalu berlebihan berpikir tentangnya.  Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku pergi menuju ruanganku.  Sudah banyak dokumen yang bertumpuk di meja kerjaku. Dokumen yang harus ku periksa tentunya. Aku segera duduk di kursi dan menyalakan komputer di depanku. Bukan pertama kalinya aku bekerja sebagai sekretaris, jadi meski di hari pertamaku, aku sudah tahu persis apa yang harus ku kerjakan sekarang.  Kuputuskan untuk memeriksa tumpukan dokumen terlebih dahulu. Berjam-jam ku pelajari isi di dalam dokumen itu. Aku menemukan beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh Araya sebagai CEO di perusahaan ini.  Aku sudah beranjak bangun dari kursiku, hendak pergi menuju ruangan Araya. Saat itulah sebuah kesalahan fatal telah ku lakukan. Tidak seharusnya aku menoleh ke samping, tepatnya ke arah ruangan Araya yang hanya terhalang oleh dinding kaca dengan ruanganku. Aku bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di ruangan bosku itu.  Bola mataku terbelalak ketika memergoki Mikayla dan Araya sedang bermesraan. Mikayla sedang duduk di pangkuan Araya, lalu mereka... dari jarak jauh pun aku tahu mereka sedang berciuman dengan mesranya. Cepat-cepat aku memalingkan wajahku, akan sangat memalukan jika mereka sampai menyadari aku melihat perbuatan mereka. Memang wajar saja mereka melakukan itu, mereka sepasang suami istri. Hanya saja menurutku tidak seharusnya mereka melakukan itu di kantor, terlebih disaat mungkin saja ada orang lain yang bisa memergoki mereka.  Aku memutuskan untuk menunda sejenak niatku untuk pergi ke ruangan Araya dan meminta tanda tangannya. Aku juga tak berani lagi menatap ke arah samping karena itu aku lebih memilih memusatkan atensiku pada layar komputer di depanku.   ***    Di jam istirahat siang ini, awalnya aku berniat pergi ke kantin yang terletak di lantai dasar. Aku akan makan seorang diri disana karena aku belum memiliki teman disini. Memang benar aku sudah berkenalan dengan beberapa karyawan disini, tapi kepribadianku yang memang tidak pandai bergaul, membuatku sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama untuk memiliki seorang teman.  “Nana!” Kuhentikan langkah menuju lift ketika mendengar suara seseorang memanggil namaku.  Kulihat dua orang wanita sedang duduk bersama. Seingatku mereka adalah Tina dan Siska. Ruangan mereka memang berada di lantai 10 ini.  “Nana, kamu mau istirahat?” Tanya Siska, yang langsung kuangguki. “Ke sini, makan bareng kami, yuk. Kami bawa bekal lho. Lumayan banyak.” Tina ikut menimpali.  Dengan enggan aku pun menghampiri mereka. Ku lihat meja di depan mereka memang sudah penuh dengan makanan.  “Kalian makan di sini? Tidak makan di kantin?” Tanyaku heran. Bukankah ini ruangan kerja? Jadi kenapa mereka tidak makan di kantin saja yang jelas-jelas diperuntukan untuk tempat karyawan perusahaan ini makan?  “Iya, tapi di kantin ramai, mendingan makan di sini. Kita bisa ngobrol sepuasnya, nggak perlu takut orang lain denger. Lagian kita juga bawa makanan sendiri. Ayo sini duduk, gabung sama kita berdua.” Siska kembali menawarkan seraya menggeser salah satu kursi untuk aku duduki. Merasa tidak enak jika menolak tawaran baik mereka, akhirnya ku putuskan untuk menerima tawarannya dan ikut bergabung dengan mereka.  “Tapi beneran nggak apa-apa, aku ikut makan sama kalian?” Harus kupastikan hal ini karena rasanya tak nyaman di saat aku harus ikut menyantap makanan milik orang lain. “Iyalah, gak apa-apa. Udah deh gak usah canggung gitu. Kita kan rekan kerja, mudah-mudahan aja kita bisa jadi teman dekat nantinya. Ayo, ayo jangan sungkan, makan aja.” Tina menyahuti. Begitupun dengan Siska yang mengangguk menyetujui. Aku tersenyum tulus kepada mereka. Aku senang di hari pertamaku bekerja, aku diperlakukan dengan baik oleh mereka berdua. Masih dengan perasaan enggan, aku pun mulai ikut menyantap makanan di atas meja.  Di sini banyak jenis gorengan yang hanya melihatnya saja sudah menggiurkan bagiku. Aku memang pecinta gorengan. Ada pula beberapa kue seperti donat dan kue bolu. Kue kering pun ada. Nasi goreng juga ikut tersaji, lalu nasi dan beberapa lauk pauk. Aku jadi heran, mereka bisa-bisanya membawa makanan sebanyak ini.  “Jangan heran gitu, kita berdua sengaja bawa banyak makanan. Biasanya di sini rame, anak-anak dari lantai bawah pada nimbrung di sini. Cuma hari ini beda, pasti karena ada Bu Mikayla, jadi mereka gak berani naik ke lantai ini dan memilih makan di kantin.” Aku mengernyitkan dahiku mendengar penuturan Siska. Memangnya kenapa jika ada Mikayla di sini, bukankah dia itu wanita yang ramah? Kira-kira pertanyaan ini yang sedang memenuhi kepalaku saat ini.  “Emangnya kenapa? Bu Mikayla sepertinya baik dan ramah.” Tanyaku tak sanggup menahan rasa penasaranku. “Wajar aja kalau kamu belum tahu, soalnya kamu masih baru di sini. Kamu harus hati-hati sama Bu Mikayla. Dari luar dia emang kayak baik dan ramah. Tapi, sebenarnya dia penuh misteri,” jawab Siska, semakin membuatku tak mengerti.  “Husshh... kamu jangan ngomong sembarangan, Sis.” Tina mengingatkan namun tampaknya tak dituruti Siska karena dia kembali melanjutkan ceritanya yang berkaitan dengan istri bos kami.  “Aku kasih tahu kamu supaya kamu hati-hati sama dia. Dia itu pencemburu, dia sering datang ke kantor ini cuma buat mastiin suaminya gak lagi selingkuh. Kamu tahu gak, sebelum kamu kerja disini, Pak Araya punya sekretaris pribadi? Namanya Cintya, dia cantik, udah gitu seksi lagi. Dia udah lama kerja di sini, semenjak perusahaan ini diresmikan. Tapi denger-denger, Cintya jatuh cinta sama Pak Araya.” Aku terenyak mendengarnya hingga kedua mataku membulat sempurna. Sedangkan Tina sedang menggeleng-gelengkan kepalanya saat ini, seolah dia melarang Siska melanjutkan perkataannya.  “Bukan rahasia lagi kalau Cintya sering menggoda Pak Araya di luar jam kerja. Apalagi saat Bu Mikayla masih koma dan belum resmi menjadi istrinya. Untung aja Pak Araya tipe cowok setia, jadi dia gak kegoda. Tapi yang namanya cowok tetap aja cowok kan? Mana ada sih cowok yang tahan kalau terus digodain cewek cantik nan seksi kayak Cintya?”  “E-Emangnya Pak Araya akhirnya tergoda terus selingkuh gitu sama Cintya?” Tanyaku, mulai tertarik dengan cerita ini. “Udah, udah. Mendingan jangan bahas ini deh. Bahas yang lain aja,” sanggah Tina, dia terlihat mulai kesal karena kami masih saja membicarakan tentang bos kami dan juga istrinya. Namun, lagi-lagi Siska mengabaikan perkataan Tina. Dia kembali meneruskan ucapannya yang jujur saja cukup berhasil menarik atensiku.  “Pak Araya tergoda. Dia nggak bisa nolak saat Cintya menciumnya, di ruangannya sepulang kerja.” Aku membekap mulutku tak percaya. “Tapi naasnya kegiatan mereka kepergok Bu Mikayla. Terus kamu tahu gak apa yang dilakuin Bu Mikayla?” Aku menggeleng cepat, tak sanggup membayangkan apa yang pastinya dilakukan Mikayla setelah memergoki suaminya yang sedang berselingkuh.  “Kalau kita jadi dia, pasti kita marah dong. Mungkin aja udah kita pecat tuh Cintya. Tapi Bu Mikayla gak gitu. Dia sama sekali gak marah, dia malah tersenyum sama Cintya lalu membawa suaminya pergi gitu aja. Nah, kejadian serem itu, terjadi setelahnya ....” Siska menjeda ucapannya, membuatku harus menahan rasa jengkelku karena aku ingin mengetahui kelanjutan ceritanya. Kenapa aku jadi senang bergosip seperti ini?  “Besoknya, Cintya ditemukan meninggal di Apartemennya. Kondisinya mengenaskan. Tulang-tulang di tubuh dia hancur, remuk jadi serpihan kecil. Padahal gak ada bekas pukulan atau kekerasan di tubuh dia. Polisi aja heran.” Aku kembali membekap mulutku tak percaya. Bagaimana mungkin ada kematian seaneh itu?  “Semua orang percaya, kematiannya ada hubungannya dengan Bu Mikayla. Soalnya bukan hanya Cintya yang meninggal tragis setelah menggoda Pak Araya. Dulu, ada teman wanita Pak Araya yang meninggal tragis juga setelah Bu Mikayla memergoki mereka sedang mengobrol berdua. Padahal Cuma ngobrol lho, tapi hubungan mereka emang deket banget kayaknya. Intinya Bu Mikayla itu pencemburu, jadi kamu harus hati-hati. Jangan terlalu dekat sama Pak Araya kalau kamu gak mau bernasib sama kayak Cintya dan temannya pak Araya itu. kamu ....”  Siska menjeda perkataannya dan menatap heran ke arah Tina yang menepuk-nepuk bahunya kencang.  “Kenapa sih, Tin?” Tanya Siska heran dengan tingkah laku Tina. Namun, Tina tak menyahut. Kedua bola matanya membulat dan tercetak jelas ketakutan mendominasi raut wajahnya. Dia menatap lurus ke depan. Aku dan Siska pun mengikuti arah yang ditatapnya.  Dan saat itu, aku berani bersumpah, Siska gemetaran saking takutnya. Dia bahkan bergegas bangun dari duduknya ketika melihat di depan sana ... Mikayla sedang menatap ke arah kami dengan tatapan tajamnya seolah kapan pun dia siap menerkam kami bertiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN