Aku mencintainya—dengan hati. Aku mencintainya dengan seluruh hatiku, tanpa sisa sedikit pun. Aku menghentikan ciuman kami perlahan, membiarkan napas yang masih tersengal di antara kami mereda. Lalu kutatap wajahnya… rona merah tersebar lembut di pipinya, membuatnya tampak semakin rapuh dan menyentuh. “Kinara Mandala…” Namanya keluar dari bibirku dengan suara serak yang tak bisa kusembunyikan. Sejujurnya, seluruh diriku ingin menariknya lebih dekat, ingin menyentuhnya, ingin merasakan kehadirannya sepenuhnya. Namun aku ingat—dia tidak boleh kelelahan. Di dalam rahimnya kini tumbuh hidup kecil… anak kami. Masih berupa segumpal darah, namun sudah menjadi bagian dari kami berdua. “Vin…” Suara lembutnya menggetarkan hatiku. Ia menundukkan wajah, menghindar dari tatapanku. “Tatap a

