Diana, wanita cantik itu, duduk dengan tenang di hadapan suami tercintanya. Atau… setidaknya terlihat tenang dari luar. Namun matanya jelas menuntut jawaban. Sementara itu, Wira—yang biasanya begitu percaya diri—kini hanya duduk menatap istrinya dengan hati yang bimbang. Ia tampak gelisah, menghembuskan napas kasar, lalu menunduk sambil memainkan jemarinya. Gerakan kecil yang hanya muncul ketika ia benar-benar tertekan. “Kenapa kau hanya diam, Suamiku? Apa yang ingin kau katakan?” Nada Diana terdengar kesal, karena ia sudah duduk di sana tiga puluh menit, menunggu suaminya membuka mulut. Tiga puluh menit hanya untuk diam. “Sayang… aku hanya ragu untuk mengatakan ini padamu,” jawab Wira akhirnya, suaranya pelan. Ia menatap istrinya dengan pandangan yang penuh keraguan. Satu kalim

