Vin melangkah cepat—hampir berlari—membiarkan Ginanjar tertinggal beberapa langkah di belakang. Nafasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena kecemasan yang menusuk dadanya seperti paku panas. “Kenapa kalian baru mengatakan hal ini padaku!” Bentakan Vin memantul di sepanjang lorong mansion, membuat Ginanjar menunduk dalam-dalam. Namun Vin tidak menunggu jawaban. Ia terus melangkah, menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah dengan langkah yang semakin cepat, semakin gelisah. Di ujung lorong, beberapa pelayan berkumpul di depan pintu. Wajah mereka dipenuhi rasa takut dan ketegangan yang hampir membentuk udara berat di sekeliling mereka. Begitu melihat Vin, mereka semua membungkuk hormat. Namun Vin tidak berhenti—ia mendorong pintu itu dengan kasar, membukanya seolah takut sesu

