Kinara baru saja keluar dari kamar mandi kamarnya. Wanita itu bersandar pada ambang pintu, napasnya terengah pelan. Perutnya masih bergejolak—ia baru saja muntah untuk kesekian kali hari itu. Tubuhnya terasa ringan namun berat pada saat yang sama, seperti seluruh energinya telah terkuras habis. Wajahnya memucat, bibirnya kering, dan keringat dingin menempel di pelipisnya. Sudah seminggu ini kondisi itu terus berulang. Makan tak teratur, tidur tak tenang, dan pikiran yang tak pernah berhenti membuatnya benar-benar kehilangan daya. “Nyonya, Anda baik-baik saja?” Suara Amora terdengar cemas. Pelayan itu buru-buru menghampiri saat melihat langkah Nyonya mudanya limbung. Kinara mengangguk lemah. “Aku… aku baik-baik saja.” Amora menggeleng pelan, tak percaya. “Seharusnya Anda pergi ke

