“Jelaskan mengapa kau membenci Hana.” Suara Vin terdengar datar, tapi tidak ada ketenangan di baliknya. Ada retakan halus, getaran yang menahan sesuatu agar tidak runtuh. Seperti seseorang yang sudah bertahan terlalu lama dan tahu bahwa satu kebenaran kecil saja bisa membuat semuanya pecah. Julian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Vin, lama, hingga udara di antara mereka terasa mengeras. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat lebih gelap, lebih lelah—seolah ia sedang berdiri tepat di depan kuburan yang tidak pernah ia tinggalkan. Ketika Julian mulai membuka suara, nada itu turun… dalam… penuh beban yang tak bisa disembunyikan. “Kevin Perez,” katanya perlahan. Nama itu hampir tidak lolos dari tenggorokannya. “Adikku. Bocah ceria yang bahkan dalam tubuh lumpuhnya masih bisa

