RAPUH

903 Kata

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan vila mewah yang berdiri megah di puncak Bogor. Lampu-lampu taman menyinari fasad putih bangunan itu, memantulkan dinginnya malam. Pintu mobil terbuka, dan Vin turun pelan, seolah setiap langkahnya membawa beban dua minggu penuh keraguan dan penundaan. Ia menarik napas panjang—napas yang terdengar lebih seperti keluhan lirih daripada usaha menenangkan diri—lalu melangkah menuju pintu utama vila. Tangannya membuka daun pintu besar berwarna putih itu. “Tu–tuan…” sapa seorang pelayan yang muncul dari balik ruang tamu. Pelayan yang dibayar Vin untuk memastikan Hana tidak kekurangan apa pun. “Bagaimana keadaannya?” suara Vin terdengar rendah, nyaris tak berjiwa. “Ny—nyonya sejak semalam demam, Tuan. Sampai sekarang belum membaik,” jawab pelayan itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN