Sore mulai meredup, langit jingga berangsur berubah ungu gelap, bayangan bukit memanjang menelan kami. Angin malam menggigit kulit, tapi tubuh Vin menempel erat di dadaku, menyalurkan panas yang menahan dingin yang menyelimuti. Rambutku beterbangan liar, dan jemarinya menelusuri punggungku, pinggang, menelusuri lekuk tubuhku dengan perlahan, sensual, membakar hasrat yang telah lama tertahan. Vin bersandar di bahuku, napasnya hangat menyapu leherku. Aku membalasnya, menelusuri rahangnya, lehernya, d**a yang menempel padaku. Mata kami bertemu—dan dalam tatapan itu ada penyesalan, gairah, dan janji yang tak bisa diucapkan kata. Kami memejamkan mata, dan ciuman itu datang. Awalnya lembut, lalu menuntut, panas, dan menguasai. Lidahnya menari di mulutku, menuntut jawaban, menandai ritme yang l

