Sudah kukatakan, mencintai itu bukan perkara mudah. Bukan seperti memutus sambungan telepon atau memotong seutas tali dengan sebilah belati—sekadar tindakan yang selesai dalam sekejap. Mencintai menuntut lebih dari sekadar keberanian; ia menuntut hati untuk terbuka, sekaligus siap tersakiti berkali-kali. Mencintai itu tentang rasa yang menancap jauh ke dalam, merobek, dan membakar tanpa ampun. Ia bukan sekadar kata yang manis terdengar, atau senyum yang menenangkan sesaat. Bahkan mencintai tak semeringan menarik napas dari hidungmu; setiap tarikan dan hembusan bisa terasa berat, seperti menanggung dunia yang tidak mau bersahabat. Kadang, mencintai berarti rela menahan tangis di tengah tawa, menahan diri untuk tidak pergi meski seluruh tubuh memintamu lari, menelan luka demi luka agar ora

