[‘Ibu, Ayah… aku ingin menikahi Hana.’ Ucapan itu lahir lirih namun tegas dari seorang pria muda yang berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Vin Mandala—dengan jas rapi dan wajah yang penuh tekad—menggenggam tangan seorang wanita di sampingnya. Wanita itu adalah Hana, yang kini menunduk, jemarinya gemetar dalam genggaman Vin. ‘TIDAK!’ Teriakan itu memecahkan udara. Nyonya Mandala bangkit dari sofa dengan mata membelalak penuh amarah—amarah yang selama ini ia pendam dan kini meledak tanpa kendali. ‘KAU TIDAK AKAN PERNAH menikah dengannya, Vin Mandala!’ Tatapannya langsung menusuk ke arah tangan Vin dan Hana yang saling berpegangan. Tatapan itu bagai pisau panas yang siap menguliti. ‘Kau!’ Ia menunjuk Hana dengan jari yang bergetar marah. ‘Karena dirimu, putriku menanggung malu!

