Hana dan Vin duduk berdampingan di kamar mereka—kamar luas dengan tirai putih yang berayun pelan tertiup angin AC, cahaya pagi yang lembut menembus jendela besar. Di antara senyum dan candaan kecil, ada tawa yang mengisi ruang itu… tawa hangat yang tak pernah terdengar di tempat lain dalam rumah itu. “Kau ingin pergi ke taman?” tanya Vin sambil mengelus rambut Hana. Hana tersenyum, tetapi senyumnya mengandung getir yang samar. “Tidak… aku memalukan jika pergi ke sana bersamamu. Biarkan aku di dalam rumah saja. Aku tak ingin orang-orang membicarakanmu… hanya karena aku.” Nada suaranya berubah pelan. Ada luka yang masih menganga di balik tutur halusnya. Senyap sejenak menggantung. Hana menunduk—dan tanpa bisa dicegah, kenangan itu menyeretnya kembali ke masa lalu. Bayangan gelap itu

