Hana, wanita cantik yang kini tersenyum tipis, duduk di depan piano putih. Jemarinya menari luwes di atas tuts hitam dan putih, menghadirkan alunan musik lembut yang memenuhi ruangan. Meski matanya tak mampu melihat, pandangannya terasa menembus kegelapan yang hanya bisa ia rasakan—gelap yang tak berujung, namun familiar baginya. Ia tenggelam dalam masa lalunya sendiri, seolah setiap nada yang dimainkan menjadi jembatan menuju kenangan yang ingin tetap ia simpan. Masa lalu itu pahit dan manis sekaligus; bahagia yang hanya berupa ingatan, tapi cukup hangat untuk menenangkan hatinya. “Hana, waktunya makan…” suara lembut memecah lamunannya. Jessica berdiri di ambang pintu, menatap Hana dengan mata penuh perhatian. Perhatian yang lahir dari kasih sayang seorang sahabat yang tak pernah lelah

