Satu tahun kemudian

1071 Kata
Satu tahun kemudian,,, Hari berganti hari, bulan berganti bulan sudah Ghea lalui dengan penuh perjuangan dan drama yang di buat oleh Gavin Dan Sekertaris Sam, demi kelangsungan hidup Ibu dan adiknya Ghea mengerjakan itu semua dengan semangat. Sakit sang Ibu yang perlahan mulai kambuh membuatnya harus tetap bertahan untuk mencari penghasilan yang banyak, biaya sekolah adiknya membutuhkan biaya yang tak sedikit jumlah membuat kepala Ghea seakan mau meladak saat memikirkan hal itu. Biaya untuk kelulusan sang adik yang mulai membengkak, karena beberapa bulan ini menunggak membuat sang kakak hampir frustasi, karena uang yang di dapat dari gajinya yang lumayan besar di gunakan sang Ibu untuk berobat, tapi Ghea tak putus asa. Ibu dan adiknya adalah semangat hidupnya, ia akan melakukan apapun untuk mereka, tapi Ghea bingung, masalah yang mana dulu yang harus ia selesaikan, sedangkan semuanya mempunyai waktu yang sangat dekat dengan kedua masalah itu. Tabungan yang ia punya sudah sangat menipis, menunggu uang gajian pun masih sangat lama, meskipun sudah ada, itu tidak akan cukup. Tak hanya itu, Ghea sedang di landa kebimbangan dengan hatinya, sudah satu tahun ini tak ada tanda bahwa ada kabar dari sang kekasih, haruskah ia tetap menunggu sang kekasih yang tak pasti kedatangannya. Namun, walaupun begitu ia akan tetap menunggu sang kekasih sampai datang untuk melamarnya, ia yakin suatu hari nanti sang kekasih datang dan menepati janjinya. Selama satu tahun ini juga, Ghea selalu menutup rapat hatinya untuk pria manapun, termasuk Gavin yang sering memberikan perhatian kecilnya pada Ghea, namun Ghea tetap teguh pada pendiriannya yang akan menunggu sang kekasih, dan akan tetap mencintai sang kekasih walau terhalang jarak dan waktu, ia akan tetap setia. Pada saat jam makan siang, sepertia biasa Ghea akan ikut bersama Gavin dan Sekertaris Sam karena ancaman mematikan yang di keluarkan oleh mulut Gavin. Trinnng triiingg triiing Bunyi dering ponsel yang ada di dalam tas Ghea, panggilan dari sang adik bernama Rara yang terpampang pada layar ponsel tersebut. “Halo,” jawab Ghea “Kak, Ibu pingsan, aku menemukannya saat baru tiba di rumah sepulang sekolah!” ucap Rara panik di sebrang sana. “Apa!” Gavin dan sekertaris Sam terlonjak kaget mendengar pekikan suara Ghea. “Tapi Ibu sudah di bawa ke rumah sakit terdekat kak, kakak datang saja kesini, aku sendirian di sini, Pak Dodi yang membawa Kesini sudah pulang kak, aku takut kak,” suara Rara tercekat karena menangis dan itu membuat Ghea semakin khawatir. “Baiklah, kakak akan segera ke sana, kamu jangan kemana-mana dan tetap di sana, kakak akan segera ke sana,” ucap Ghea panik dan segera mematikan sambungan teleponnya. “Tuan, maaf saya harus segera pulang, ada urusan mendadak, jika Tuan keberatan, saya akan tetap pergi,” beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi meninggalkan dua orang Pria yang masih melongo dan masih mencerna setiap ucapan Ghea. “Sam, kita susul Ghea sekarang!” ucap Gavin beranjak dari tempat duduknya, namun Sekertaris Sam segera mencegah Tuan mudanya tersebut. “Tuan, hari ini anda tidak bisa pergi, karena setelah makan siang ini, kita ada pertemuan dengan klien penting,” Gavin menghentikan langkah kakinya dan segera kembali ke tempat. “Damnn it!!” umpat Gavin yang di landa kebimbangan. Flashback on,,, Sebelum jam makan siang, tampak seorang pria tampan yang fokus pada komputernya, keheningan dalam ruangan tersebut memang sudah biasa bagi seorang CEO Xander’Corp, hingga bunyi dering ponsel milik Gavin yang berada di atas meja kerjanya memecah keheningan dan memecahkan konsentrasi Gavin. Triiiingg triiing triiing Bunyi ponsel milik Gavin dengan nama Ayah yang tertera dalam layar ponselnya, tak menunggu lama, Gavin segera mengambil ponsel tersebut dan menerima panggilan dari sang Ayah. “Halo Yah,” “Apa kau sudah lupa bahwa kau masih mempunyai seorang Ayah?” tanya Tuan Leo bersungut sungut di sebrang sana. “Mana mungkin aku bisa lupa sama Ayahku yang paling gagah dan tampan ini,” jawab Gavin asal sambil terkekeh. “Ayah sedang tidak ingin bercanda Vin!” sang Ayah mulai mengeluarkan tanduknya di sebrang sana dan Gavin segera menghentikan kekehannya. “Ehmm, baiklah, apa kabar Ayah?” tanya Gavin sekedar basa basi padahal dirinya selalu memantau sang Ayah dari kejauhan. “Cih! Bahkan kau tidak tahu keadaan Ayahmu sendiri,” ucap Tuan Leo sarkas. “Langsung saja pada intinya Yah, aku tahu Ayah selama ini tidak suka berbasa basi,” ucap Gavin yang mengalihkan topik. “Ternyata kau cukup cerdas, kapan kau akan menepati janjimu pada Ayah?” tanya Tuan Leo sarkas sambil terkekeh dan membuat Gavin kesal. “Ayah, aku belum mau menikah, lagi pula, aku belum memiliki kekasih,” ucap Gavin frustasi. “Setidaknya kau usahakan untuk Ayahmu atau keberlangsungan perusahaan, jika kau tidak ingin berhubungan dengan wanita, ingat nak, kau harus melanjutkan hidupmu, Ayah tidak mau kau terus seperti ini, jangan kau samakan wanita lain dengan Ibumu, mungkin memang nasib cinta Ayah tak seberuntung yang lain, jangan kau samakan Ayah dengan dirimu, perjalananmu masih panjang Nak,” ucap Tuan Leo yang tak tahan dengan putranya yang sangat keras kepala itu. “Justru aku seperti ini karena tidak ingin seperti Ayah, aku ingin berbeda dengan Ayah, maka dari itu aku memutuskan untuk tida pernah berhubungan dengan wanita manapun, karena bagiku semua wanita sama saja, hanya harta dan tahta yang mereka cari dan bukan cinta yang mereka miliki, banyaknya wanita yang ingin mendekatiku hanya karena aku seorang pengusaha, hanya karena aku banyak uang, mereka yang mendekatiku tidak pernah tulus padaku, apalagi dengan sikapku,” ucap Gavin mengeluarkan semua isi hati dan pikirannya, dengan air mata yang lolos begitu saja dari mata elang yang biasa ia gunakan untuk menatap tajam kini menjatuhkan air matanya. “Maafkan Ayah Nak, Ayah gak bisa jadi orang tua yang sempurna untukmu, jika kau tetap bersikeras pada pendirian mu, maka dengan terpaksa Ayah harus mencari wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu!” ucap Tuan Leo langsung mematikan sambungan telepon karena tidak mau mendengar alasan dari putranya lagi. “Oh, damn it!,” umpat Gavin frustasi. Setelah sambungan telepon terputus, Tuan Leo merasakan sesak di dadanya, tak butuh waktu lama, kevin sang Asisten Tuan Leo segera membawanya ke Rumah Sakit terdekat, agar bisa lebih cepat di tangani, tapi Tuan Leo tidak mau memberi Tahu keadaannya pada Gavin karena tidak mau membuat Gavin merasa cemas. Flashback off,,, Seorang wanita berlari karena terburu-buru menuju ruangan sang Ibu, tanpa memikirkan apapun. ia terus berlari hingga menabrak seorang Pria paruh baya dengan satu pengawal yang ada di belakang pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan di usianya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN