Brukk
“Awwhh,” ringis Ghea terhuyung ke belakang.
“Tuan, saya minta maaf karena sedang terburu buru,” ucap Ghea yang mengatupkan telapak tangannya dan memohon.
“Harusnya Nona lebih berhati-hati saat melewati jalanan umum, lihat karena perbuatan Nona, Tuan besar saya hampir terjatuh,” ucap pria gagah sambil menatap Ghea dengan tajam, yang tak lain adalah Asisten Kevin.
“Saya mohon Tuan, maafkan saya, tadi saya sedang terburu-buru untuk menjenguk Ibu saya,” ucap Ghea dengan mata berkaca-kaca.
“Sudahlah Vin, aku juga baik-baik saja, aku sudah memaafkan mu, jadi kau tidak perlu menangis lagi,” ucap Tuan Leo beralih menatap Ghea.
“Terima kasih Tuan, kalau begitu saya permisi dulu Tuan,” ucap Ghea sambil menunduk dan segera pergi dari hadapan Tuan Leo.
‘Kasihan sekali gadis itu, sepertinya dia sedang mengalami kesulitan,’ batin Tuan Leo yang menatap punggung Ghea yang semakin menjauh.
“Tuan besar, apa sebaiknya kita segera pergi dari sini, Tuan harus segera beristirahat,” ucap Asisten Kevin yang membuyarkan lamunan Tuan Leo.
“Tunggu sebentar, aku harus memastikan sesuatu terlebih dahuu,” ucap Tuan Leo sambil melangkahkan kakinya ke arah di mana Ghea pergi.
“Baik, Tuan besar,” ucap Asisten Kevin yang mengikuti langkah Tuan Leo.
Di sisi lain, seorang wanita yang baru saja datang menghampiri remaja cantik dengan mata yang sembab karena banyak menangis, Ghea langsung menghampiri adik kecilnya, Rara yang mengetahui kedatangan sang kakak langsung menghambur ke pelukan sang kakak, tangisan mereka pun pecah seakan saling menguatkan.
“Ra, bagaimana keadaan Ibu?” tanya Ghea melepaskan pelukannya dan menatap lekat sang adik.
“Ibu masih di tangani Dokter kak, aku juga belum tahu keadaan Ibu, kak gimana kalau terjadi sesuatu sama Ibu? Aku tidak punya siapa-siapa lagi kak,” tangis Rara pecah seketika.
“Sssstt, jangan bicara seperti itu, Ibu pasti akan baik-baik saja, yang penting kita berdoa untuk keselamatan Ibu, dan jangan pernah mengatakan lagi bahwa kau tidak punya siapapun lagi, karena kakak akan selalu bersama mu, jangan menangis lagi ya!” yang di angguki oleh Rara dan langsung menghambur dalam pelukan sang kakak.
“Apa kakak akan tetap bersamaku walau tanpa Ibu?” pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut sang adik.
“Tentu saja, kau adalah adik kakak, kita tetap akan terus bersama, dan jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, karena Ibu akan selalu baik-baik saja,” ucap Ghea yang di jawab anggukan oleh Rara.
Setelah saling berpelukan dan menangis, kini keduanya telah duduk menunggu Dokter keluar membawa kabar yang mereka inginkan.
Klekk!
Seorang pria berjubah putih muncul dari balik pintu, dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Melihat pria berjubah putih tersebut yang keluar dari ruangan di mana sang Ibu di periksa, sontak membuat Ghea Dan Rara bangkit berdiri dan menghampiri sang Doker dengan perasaan yang sangat cemas.
“Dokter, bagaimana keadaan Ibu saya Dok?” tanya Ghea panik.
“Hhhaaah, Ibu anda masih beruntung bisa segera di selamatkan, jika telat di bawa ke Rumah Sakit, entah apa yang akan terjadi,” ucap sang Dokter yang membuat dua orang wanita tersebut kembali meneteskan air matanya.
“Lalu bagaimana keadaannya sekarang Dok?” tanya Ghea sambil terisak karena tak bisa membendung air matanya lagi.
“Kondisi Ibu anda mengalami penurunan yang sangat drastis, apa Ibu anda pernah telat cek ke Dokter?” tanya sang Dokter yang di jawab gelengan tanda tidak tahu.
‘Apa Ibu telat cek ke Dokter, ah ya, minggu kemarin aku juga belum dapat uang, Ibu maafkan aku karena ketidak mampuan diriku, Ibu jadi begini,’ batin Ghea yang merasa bersalah karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk sang Ibu.
“Ibu anda harus segera melakukan tindakan operasi bypas, karena kondisi jantungnya mulai melemah,” ucap sang Dokter yang merasa ikut sedih melihat dua orang wanita yang ada di hadapannya kembali menangis sesenggukan.
“Lakukan yang terbaik untuk Ibu saya Dok, sembuhkan Ibu saya, saya mohon Dok,” pintanya pada sang Dokter, sedangkan Rara menangis tersedu sedu.
“Saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien saya, kalau begitu anda silahkan urus biaya administrasinya,” ucap sang Dokter lalu pergi meninggalkan dua orang wanita yang tengah menangis tersebut.
“Kak, aku takut,” ucap Rara memeluk Ghea sambil menangis.
“Jangan takut sayang, ada kakak yang selalu bersama denganmu, Ibu pasti akan baik-baik saja, jadi kau harus tenang ya!” ucap sang kakak mengelus punggung sang adik berusaha menenangkannya.
“Kita dapat uang dari mana kak, aku tahu kakak belum ada uang saat ini,” tanya Rara mendongak untuk melihat sang kakak.
“Kamu tenang saja, kakak akan berusaha untukmu dan juga untuk Ibu, jadi kau tidak perlu khawatir, kita akan melalui ini bersama, ya sudah sekarang kakak mau mengurus biaya administrasi dulu, tunggu kakak di sini dan jangan pergi kemana-mana,” ucap Ghea mencium pucuk kepala Rara dengan sayang, melepaskan pelukan Rara dan segera pergi menuju bagian administrasi.
Sesampainya di bagian administrasi ...
“Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang wanita tersebut.
“Sus, berapa biaya administrasi pasien atas nama Ibu Maria?” tanya Ghea.
“Sebentar ya Nona, saya periksa dulu pasien yang bernama Ibu Maria,” yang di jawab sebuah anggukan oleh Ghea.
“Total biayanya adalah 150 juta Nona, itu total keseluruhan operasi juga Nona,” Ghea melotot seakan tak percaya dengan apa yang di sampaikan oleh wanita tersebut.
“Apa! Apa ada keringanan” tanya Ghea penuh harap.
“Besok adalah hari Ibu menjalani Operasi, Nona di bisa di beri keringanan sampai tiga hari kedepan untuk membayar administrasinya, dan untuk biayanya akan bertambah selama beberapa hari Ibu di rawat pasca Operasi,” ucap wanita tersebut membuat Ghea merasa sangat frustasi.
‘Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu tiga hari, sedangkan tabungan ku hanya cukup untuk makan beberapa hari saja, apa yang harus aku lakukan, kemana aku harus mencari,’ batin Ghea frustasi dengan masalah hidup yang tak pernah kunjung usai menerpa kehidupannya.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi,” pergi menuju sang adik.
“Kak, bagaimana?” tanya Rara hanya untuk meyakinkan.
“Kau tidak usah khawatir, yang perlu kau lakukan hanya berdoa untuk kesembuhan Ibu, kau hanya perlu belajar yang rajin agar Ibu sembuh dan kau membuatnya bangga padamu,” ucap Ghea sambil mengelus kepala Rara dengan sayang.
“Baik kak, aku akan berusaha untuk Ibu, aku sayang padamu kak,” kembali memeluk sang kakak.
“Aku juga sangat menyayangimu, sekarang waktu sudah sore dan mulai gelap, sebaiknya kau cepat pulang sebelum malam,” ucap Ghea yang tak akan membiarkan adiknya kelelahan.
“Aku gak mau pulang kak, aku mau menemani kakak menunggu Ibu,” membuat Ghea menghela napas panjang sebelum membujuk adiknya yang keras kepala ini.