“Kau harus pulang, kau juga harus belajar, besok kau akan pergi sekolah, di sini biar kakak saja yang menemani Ibu, besok sebelum pergi ke sekolah, pagi-pagi kau boleh mampir kesini agar tidak kesiangan,” terpaksa Ghea harus membujuk seperti itu, jika tidak, maka Rara akan sulit di tangani.
“Baiklah kak, aku akan ke sini lagi besok pagi, kakak jaga diri ya,” Ghea hanya mengangguk mendengar pertanyaan adiknya itu.
“Baiklah, kakak akan pesankan taksi online saja, supaya kau aman sampai ke rumah,”
“Baik, kak”
Beberapa saat kemudian, datang sebuah taksi online yang Ghea pesan tadi.
“Hati-hati di jalan,” ucap Ghea melambaikan tangan pada sang adik yang kian menjauh dengan taksi online itu.
Tanpa Ghea sadari ada dua orang pria yang dari tadi mengikuti gerak geriknya, pria yang mengikuti dari awal sampai akhir karena sebuah rasa penasaran semata, sedangkan Ghea kembali menuju ruangan sang Ibu di rawat.
Tanpa mempedulikan orang yang berlalu lalang, Ghea kembali menumpahkan air mata yang dari tadi ia bendung di hadapan sang adik, karena ia tidak mau Rara ikut memikirkan hal yang tak perlu ia pikirkan.
“Hikss hikss hikss,” tangisnya pecah di luar ruangan sang Ibu.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan, sekarang aku benar-benar merasa tidak berguna, Ibu, Rara, maafkan aku,” Ghea tertunduk sambil memeluk kedua lututnya.
Hingga tanpa ia sadari, ada seorang pria paruh baya yang sudah ada di hadapannya dan memperhatikan Ghea dengan perasaan iba.
“Apa kau baik-baik saja,” Ghea mendongak untuk melihat seorang pria itu dengan mata yang sembab dan hidung yang sudah memerah.
“Tuan, apa yang Tuan lakukan di sini?” beranjak duduk ke kursi dan mengusap air matanya.
“Siapa nama mu nak?” tanya pria itu karena belum sempat berkenalan.
“Ghe-Ghea, Tuan,” jawab Ghea gugup.
“Saya tadi sempat mendengar permasalahan mu, maaf jika saya lancang, saya Leo,” ucap Tuan Leo jujur.
“Apa kau sedang butuh bantuan?” tanya pria paruh baya tersebut, dengan ragu di jawab anggukan oleh Ghea.
“Aku punya tawaran yang bagus untukmu,” ucap pria paruh baya tersebut, sedangkan sang Asisten masih berdiri di belakang tanpa bergeming sedikit pun.
“Maksud Tuan apa?” tanya Ghea yang masih belum mencerna ucapan pria yang ada di hadapannya itu.
“Aku akan membantumu!” membuat Ghea berbinar seakan tak percaya.
“Benarkah Tuan?” tanya Ghea yang penuh harap.
“Benar, tapi hanya dengan satu syarat!” ucapan pria itu seakan membuat Ghea terhempaskan lagi, apa yang sebenarnya Tuan ini inginkan, pikir Ghea.
“Syarat?” yang di jawab anggukan oleh pria itu.
“Benar, jika kau memenuhi syarat yang aku ajukan, maka semua biaya Rumah sakit Ibumu akan aku lunasi sepenuhnya, termasuk biaya pendidikan adikmu hingga jenjang perguruan Tinggi, kau juga tidak perlu khawatir, aku akan membantu ekonomi keluargamu,” tawaran yang sangat menggiurkan bagi Ghea, tapi apa syarat yang harus ia lakukan untuk itu, apa untuk di jadikan sugar baby, pikiran Ghea yang selalu saja negative.
“Tapi apa syaratnya Tuan, saya akan melakukan apapun untuk itu,” ucap Ghea yang tak punya pilihan lain di saat kondisi seperti ini.
“Menikahlah dengan putraku!” sontak membuat Ghea membulatkan matanya, bagaimana ia akan menikah dengan pria asing, sedangkan hatinya sudah memiliki pria yang sangat ia cintai.
‘Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau mengkhianatinya, aku sudah berjanji akan tetap setia dan akan tetap menunggunya hingga ia datang, tapi Ibu? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, mereka adalah hidupku, tap Dia? Dia adalah jiwaku, sayang, maafkan aku yang tak punya pilihan lain lagi, aku harap kau tidak akan membenciku, aku mencintaimu, untuk saat ini dan sampai nanti,’ batin Ghea yang memutuskan untuk berkorban untuk keluarga yang saat ini ia miliki.
“Apa Tuan tidak bercanda?” tanya Ghea hanya untuk meyakinkan, semoga saja hanya salah ucap, pikir Ghea.
“Tentu saja, jika kau setuju, maka aku akan menyiapkan hari pernikahan mu tiga hari lagi, sesuai dengan waktu yang di berikan Suster itu padamu,” terkejut, itu yang Ghea rasakan, Ghea hanya melongo mendengar pernikahan di mana waktunya sesuai yang pihak rumah sakit berikan padanya, apa Tuan ini cenayang yang bisa tahu apa saja, pikir Ghea.
“Bukankah itu terlalu cepat Tuan?” Ghea berusaha bernegoisasi.
“Lebih cepat lebih baik,” ucap Tuan Leo mutlak.
“Tapi, apakah putra Tuan sudah setuju?” tanya Ghea yang tak mau berjuang sendiri dalam rumah tangganya.
“Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengurus putraku,” ucap Tuan Leo berbohong, sudah pasti ia harus mempunyai seribu alasan untuk membujuk putranya yang sangat keras kepala itu.
“Tapi saya belum mengenal putra Tuan,” masih mencari cari alasan.
“Besok adalah hari di mana Ibumu akan menjalani operasi, nanti malam kau harus datang ke Restuarn Foodstar, jika kau setuju, maka besok aku akan membayar semua yang telah janjikan padamu,” ucap Tuan Leo yang membuat Ghea semakin terpojokan dengan keadaan.
“Baik Tuan, saya setuju, jam berapa saya harus kesana Tuan?”
“Jam 19:00 malam kau harus tepat waktu, karena dia sangat tidak suka menunggu,” ucap Tuan Leo datar.
“Baiklah, akan saya usahakan tepat waktu,” jawab Ghea ragu dan sedikit bimbang dengan jalan yang ia ambil saat ini.
‘Tidak! Aku harus menerima tawaran ini demi Ibu dan Rara, aku tidak boleh egois, apakah pria yang aku nikahi sudah tua? Tapi Ayahnya saja tampan, ah itu tidak menjamin, hey, kenapa aku malah memikirkan hal bodoh seperti itu, haisss,’ batin Ghea sambil geleng kepala.
“Apa kepala mu sakit?” tanya Tuan Leo yang membuat Ghea salah tingkah karena kebodohannya.
“Ah, tidak Tuan,” tersenyum kikuk.
“Kalau begitu aku permisi, jangan lupa untuk datang nanti malam!” beranjak dari tempat duduk yang di ikuti oleh Ghea
“Baik Tuan,” ucap Ghea singkat, Tuan Leo dan sang Asisten kevin segera pergi meninggalkan Ghea seorang diri dan rasa sakit di hatinya.
Setelah kepergian Tuan Leo dan Asisten kaku itu, Ghea bingung harus bersiap seperti apa, karena wanita itu tidak ada persiapan sedikitpun, dengan keadaan yang sedikit berantakan dan wajah yang sudah sangat menyedihkan dengan mata sembab dan hidung yang merah, seperti badut sudah kini penampilannya yang jauh dari kata baik.
Dengan sedikit membenarkan pakaiannya agar tidak terlalu berantakan dan segera memcuci wajahnya agar terlihat segar meskipun tidak mengurangi mata sembabnya dan hidung merahnya.
Dengan perlahan ia membuka pintu ruangan di mana sang Ibu sedang terbaring lemah dengan sebuah arat bantu pernapasan, hatinya terasa sangat sakit melihat hal, dengan tekat yang yang kuat ia segera pergi dari sana setelah menitipkan sang Ibu pada suster yang berjaga di ruangan sang Ibu.