Chapter 1 Jejak
"Selamatkan dirimu," ungkap seorang wanita pada seorang anak laki-laki.
Anak laki-laki itu terus saja menangis dan wanita itu mengengam erat tangannya.
"Kamu harus hidup demi ibu," pintanya dengan derai air mata yang terus saja mengalir.
Anak itu terus saja mengelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apa-apa.
"Kamu harus pergi dari sini!" serunya dengan nada tinggi.
Tempat ini sudah penuh dengan api semuanya terbakar. Benar-benar tak ada jalan keluar.
"Ibu ... ibu ...." anak laki-laki itu terus saja memanggil ibunya.
"Kamu harus selamat nak," guman ibunya dan seketika bangunan yang ada di atasnya pun runtuh.
Seketika Shaka pun bangun. "Ibu," teriaknya dengan air mata yang berderai dan keringat dingin yang menyelimutinya.
Shaka terus saja menangis tersedu-sedu sampai seseorang membuyarkan lamunan.
Laki-laki itu pun buru-buru menghapus air matanya dan seseorang masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu mimpi itu lagi?" tanyanya.
Shaka menghembuskan napas panjang. "Maafkan aku om," ucap Shaka menundukan kepalanya.
"Tak apa-apa, wajar kok mimpi itu selalu menghantui mu."
Pria paruh baya itu pun beranjak bangun. "Sudah sekarang kamu bersiap," lanjut pria tersebut.
Shaka tersenyum.
"Om Sega," panggil Shaka.
Pria itu pun menoleh.
"Terima kasih," ucap Shaka.
Pria itu pun mendekati Shaka. "Kamu itu keluargaku satu-satunya yang tersisa jadi kamu harus terus hidup," ungkapnya sembari mengacak-acak rambut Shaka.
Shaka menganggukan kepalanya dan segara bergegaslah dan pria itu pun beranjak dari tempat tidur Shaka dan meninggalkannya.
Shaka menghembuskan napas panjang setelah melihat kalender di mejanya.
"Sudah 18 tahun ibu," gumamnya.
Shaka bergegas memakai kaos putih dan kemeja kotak-kotak juga dipadupadankan dengan jens hitam dan sepatu putih.
Tessa dan Abra pun langsung berpaling begitu melihat Shaka menuruni anak tangga.
"Shaka, kamu tak sarapan dulu?" tanya Sega.
"Tidak om, aku buru-buru," tolaknya segera bergegas meninggalkan rumah itu.
"Aku tidak percaya dia terlihat baik-baik saja setelah mematahkan tangan putraku," gerutu Tessa kesal begitu melihat Shaka pergi.
"Dia memang kurang ajar ibu," tambah Abra melihat dirinya sendiri yang diperban di bagian lengan dan kepalanya.
"Kamu harus mengusir nya Mas," pinta Tessa lagi.
Sega terdiam dan melihat putranya sendiri.
"Kamu selalu saja membela keponakanmu dari pada putramu sendiri."
"Apa yang dilakukan Shaka benar kok," timpal Sega lagi sembari melanjutkan makan.
"Benar apanya?" Tessa emosi mendengar jawaban itu.
"Kamu tak mengatakan yang sebenarnya pada ibumu Abra?"
Seketika Abra pun terkejut mendengar pertanyaan dari ayahnya.
"Memangnya apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Tessa sembari mengusap lembut rambut.
Abra terdiam karena ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Jika kamu ingin selamat jauhi makam kramat itu!" seru Sega beranjak bangun meninggalkan ibu dan putranya.
Abra tak mengatakan apa-apa karena ia benar-benar takut pada ibunya.
***
Secara tiba-tiba Shaka pun memberhentikan mobilnya.
"Kenapa kamu mengikutiku sampai ke sini?" tanya Shaka sembari menoleh ke arah belakang.
Sesosok arwah penasaran dengan wujud yang samar dan wajahnya hancur menyisakan satu matanya saja.
"Aku ingin kamu mencari bagian tubuhku?" ucapnya.
"Aku tak mau!" tolak Shaka lagi.
"Kalau begitu aku akan merasuki saudaramu lagi," ancamnya.
"Kamu mengancam ku!"
"Iya."
"Pergi, aku tak mau berurusan denganmu."
"Ayolah bantu aku kali ini saja?"
"Tak mau!"
Arwah itu pun mulai mendekati Shaka bahkan akan mencekik lehernya.
"Kamu tak akan pernah bisa menemukan bagian tubuhmu!" seru Shaka tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyanya duduk di depan Shaka membuatnya terkejut karena laki-laki itu melihat secara jelas wajahnya rusak dengan darah terus saja mengalir.
"Bagian tubuhmu sudah dimakan anjing liar karena itu kamu tak akan pernah bisa menemukan bagian tubuhmu," jawab Shaka berpaling.
Seketika arwah itu pun berpindah ke luar kaca mobil Shaka sekali lagi Shaka menutup matanya merasa jantungnya berdegup kencang dari biasanya.
"Kamu jangan bohong!" serunya.
"Kamu cari tau sendiri kalau kamu ganggu aku lagi aku akan benar-benar akan memusnahkan mu," gerutu Shaka menundukan kepalanya dengan mata yang ia pejamkan.
Seketika arwah itu pun menghilang dari pandangan Shaka.
Suara ketukan di luar jendela membuyarkan lamunan Shaka dan buru-buru membuka matanya.
"Meishara," panggilnya sembari menurunkan kaca mobilnya.
"Kamu sedang apa di sini?" tanyanya.
Shaka melihat sekitar dan menghembus napas panjang. Wanita yang berseragam polisi itu pun masuk ke dalam mobil Shaka.
"Sekarang kita pergi ke Apartemen Melati," seru Meishara.
"Kenapa ke sana, bukankah kita akan ke kantor dulu?" tanya Shaka sambil menyetir.
"Aku sudah memeriksa kasusnya kemarin," jawabnya sembari membolak-balik beberapa berkas yang ia bawa.
"Kamu sedang apa di depan apartemenku?" tanya Meishara lagi tanpa melihat ke arah Shaka.
"Aku di depan apartemen mu?" tanyanya Shaka bingung karena ia berhenti secara random saja.
"Jangan katakan kamu melihat arwah lagi?"
Shaka tak menjawab ia terus saja menyetir sampai ia sampai di depan Apartemen Melati.
Seketika Shaka pun merasa sangat kepanasan dan begitu sesak.
"Kita harus ke sini?" tanya Shaka lagi.
"Iya," jawab Meishara sembari turun dari mobil Shaka yang mengikutinya turun dari mobil.
Shaka melihat sekitar begitu banyak arwah penasaran di sini membuat Shaka merasa lelah.
"Shaka, ayo," panggil Meishara sudah berjalan sampai pintu masuk apartemen itu.
Shaka menghembuskan napas panjang dan berlari mengikuti Meishara.
Shaka melihat sekitar semuanya sudah tak terawat lagi.
"Kamu yakin, masih ada yang tinggal di tempat ini?" tanya Shaka masih memperlihatkan sekitar karena di sini lebih banyak arwah dari pada manusia.
"Ada beberapa masih tinggal di sini karena berbagai hal," jawab Meishara terus menaiki anak tangga.
"Di lantai berapa sih?" tanya Shaka karena sedari tadi ia tak sampai-sampai.
"Lif di sini sudah tak berfungsi setelah tragedi kebakaran itu karena itu kita harus menaiki anak tangga," jawab Meishara merasa kelelahan.
"Kita sampai," ucapnya setelah keduanya sampai di lantai 16 apartemen ini.
Shaka melihat seorang wanita yang bukan manusia berdiri di depan pintu.
"Korbannya seorang wanita?" tanya Shaka lagi.
"Iya, kamu selalu tau sebelum aku memberitahunya," jawab Meishara.
Shaka melihat arwah wanita itu yang menatapnya dan seketika roh Shaka pun tertarik masuk ke dalam lorong waktu di mana ia melihat kejadian yang sebenarnya.
"Kamu selingkuh!" seru seorang laki-laki bertubuh kurus pada wanita yang ada di depannya sembari mengikat lehernya ikat pinggang.
Wanita itu mengelengkan kepalanya. "Enggak aku, enggak selingkuh," jawabnya terbata-bata sembari berusaha melepaskan diri.
"Kamu bohong!" seru laki-laki itu dengan mata yang merah dan terus menarik ikat pinggang itu dengan begitu kuat sampai wanita itu benar-benar kehabisan napas.
Seketika laki-laki itu pun terkejut saat melihat wanita itu sudah tak sadarkan diri.
Seseorang membisikan sesuatu pada laki-laki itu.
"Wanita itu pantas mati, karena dia mengkhianatimu, bisiknya.
Laki-laki itu tersenyum lebar dan menoleh ke arah Shaka yang sedang melihat masa lalu.
"Aku menemukanmu," ucapnya.
Seketika Shaka pun ambruk tak sadarkan diri.