Aira tersenyum ketika dia tiba didepan kampus dimana suaminya mengajar, sambil menggendong Faisya dan tangan kanan yang menenteng rantang Aira dengan penuh keceriaan berjalan menyusuri lorong-lorong kampus. Dia dapat melihat tatapan-tatapan kagum dari mahasiswa karena kecantikannya serta tatapan heran dari semuanya, mungkin mereka masing asing dengan Aira karena wanita itu memang sangat jarang sekali pergi kesini. Hanya beberapa orang saja yang bisa mengenalinya, itupun mungkin orangnya sudah lulus karena mereka yang sepantaran dengan Asa. Wanita itu mengetuk pintu ruangan suaminya namun tidak ada juga jawaban, bahkan untuk yang kesekian kalinya. Membuat Aira heran, apakah suaminya itu tidak mendengar ketukan pintu? Lantas Aira membuka pintu itu dengan perlahan. Matanya mencari-cari kesudu

