'Bukan hanya itu yang menyebabkan luka dihatiku, namun sikapmu yang seperti terlihat mencintainya lah yang membuatku semakin terluka.' * * * Gedoran pintu serta suara Fahri yang meneriaki namanya tidak lagi terdengar oleh pendengarannya, bertepatan itu pula adzan isya berkumandang dari masjid dekat rumah. Aira menyeka air matanya, wanita itu mengambil sajadah serta mukena yang berada didalam lemari. Untunglah dulu ia menaruh mukena didalam kamar tamu ini, jika tidak ia harus keluar dan bertemu dengan Fahri. Ia belum siap menatap wajah pria yang memberikan luka karena sikap yang kelewat tidak peka, apalagi kenyataan bahwa bukan ia yang ada dihati suaminya. Setelah melaksanakan shalat isya, Aira memilih membaca Al-Qur'an digital dari layar ponselnya. Tak terasa sudah dua jam ia bermura't

