#Telahdirevisi
Author Pov.
Aileena terbangun dengan kepala pusing, juga mual mual, Aileena berjalan tertatih tatih ke kamar mandi, Aileena langsung menuju closet memuntahkan semua yang ingin keluar namun hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya, sungguh ini sangat sakit perutnya seperti di remas-remas, dia ingin muntah namun hanya cairan bening yang keluar, apa dia mengalami morning sickness? Sungguh ini sangat menyiksa.
Aileena bahkan tidak punya tenaga untuk bangun, Aileena bersandar di closet. Hingga Aileena mendengar suara Elvina, Aileena bahkan tidak tau kalau Elvina sudah berada di kamar mandi.
Aileena tidak terlalu sadar saat seorang mengangkatnya, Aileena berasa ingin muntah lagi, jadi dia minta di turunkan, lagi lagi Aileena muntah namun hanya cairan bening, sungguh dia ingin sekali menangis, kenapa rasanya sesakit ini. Perutnya sakit dan kepalanya sakit, hingga Aileena kehilangan kesadarannya.
“Bagaimana keadaan kakak saya dok?.” Tanya Elvina, saat ini mereka sedang di rumah sakit, Aileena tadi pingsan. Derian langsung membawa Aileena kerumah sakit.
“Kondisinya cukup baik, untuk saat ini biarkan Nyonya Aileena istirahat, tolong jangan membuat pasien stress, dan banyak fikiran, kandungannya saat ini masih lemah jadi, saya mohon jaga baik baik nyonya Aileena.” Jawab Dokter.
“Kalau dia baik baik saja, kenapa dia bisa sampai muntah muntah tadi pagi Dok?.” Tanya Fatur, memang tadi pagi Fatur sempat melihat Aileena muntah muntah.
“Itu biasa untuk orang hamil, Morning sickness biasanya terjadi pada trimester pertama namun ada juga yang mengalami morning sickness hingga trisemester ketiga.” Jelas Dokter. Setelah menjelaskan tentang morning sickness dan beberapa hal yang mungkin terjadi pada Aileena. Dokter pergi dan Aileena di pindahkan ke ruang rawat. Jangan tanya dimana Derian, karena Derian tidak akan datang, dia hanya mengantar Aileena kerumah sakit lalu pergi meninggalkannya.
Elvina dan Fatur masuk keruangan Aileena, disana Aileena sedang terbaring, matanya tertutup, Elvina pernah melihat yang seperti ini, ini hampir sama saat kakaknya mencoba bunuh diri, dan itu semua salahnya.
Elvina menunggui Aileena namun hingga siang Aileena tidak bangun bangun, akhirnya mereka pergi untuk mencari makan. Perut mereka juga ingin di isi, karena pagi mereka bahkan tidak sarapan sama sekali.
***
Aileena membuka matanya, dia menatap sekelilingnya, ini bukan kamarnya, mencium bau obat obatan dia yakin jika saat ini dia di rumah sakit, Aileena melihat di sekitarnya tidak ada satupun orang di ruangan ini. Aileena menekan tombol emergency tidak lama seorang suster masuk.
“Maaf anda sudah bangun, saya akan panggilkan Dokter dulu.” Perawat langsung keluar. Padahal Aileena ingin sekali minum tenggorokannya sangat kering. Akhirnya Dokter masuk kedalam ruang rawat Aileena, juag suster yang tadi.
Dokter bertanya seputar keadaan Aileena namun Aileena hanya mengangguk dan menggeleng, sedari tadi Aileena menatap susuter sambil melirik matanya pada gelas di meja samping tempat tidurnya namun suster dan Dokter itu malah keluar dari kamar rawat Aileena.
Aileena mencoba bangun dan meraih gelas itu, namun tangannya terasa lemas, bahkan gelas yang di meja sekarang sudah berceceran di lantai, Aileena menjatuhkan gelasnya. Aileena ingin menangis kenapa susah sekali hanya ingin minum, tanpa dia sadari air matanya mentes membasahi pipinya sebegitu tidak berdayanya ia, sampai memegang gelaspun ia tidak bisa.
Pintu kamar Aileena di buka paksa, Derian langsung menghampiri tempat tidur Aileena, dia melihat pecahan gelas di lantai juga Aileena yang menangis.
Derian mengambil botol air mineral di meja, Derian berjalan mengitari tempat tidur Aileena, karena sisi kanan tempat tidur banyak pecahan gelas, Derian membangunkan Aileena dan menyangganya dengan bantal di punggungnya, membuka botol minum lalu mendekatkan botol minum itu kemulut Aileena, sedikit demi sedikit Aileena meminum Air mineral itu, tenggorokannya tidak lumayan sakit setelah air minum masuk ketenggorokannya.
Derian hanya duduk di kursi samping tempat tidur Aileena, mereka saling diam satu sama lain, entah apa yang sedang mereka fikirkan, sebenarnya Aileena sangat bosan, dia lihat lihat di sekelilingnya mencari ponselnya namun tidak ada, dia baru ingat ponselnya di mobil.
“Nyari apa?.” Tanya Derian, Derian memang diam, namun dia mengamati gerak gerik Aileena.
“Ponsel.” Aileena hanya bicara sekilas, dia masih sakit hati dengan omongan Derian kemarin. Derian menyerahkan ponsel Aileena, Aileena langsung mengambilnya, membuka beberapa aplikasi yang bisa membuat dirinya hilang dari rasa bosan, dan itu berhasil, Aileena bahkan mengabaikan Derian yang duduk di samping tempat tidurnya.
Derian sudah duduk di sofa yang berada di pojok ruangan, Aileena masih sibuk dengan ponselnya, namun tiba tiba pintu Ruangan Aileena terbuka, Aileena langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya, Aileena sebisa mungkin tersenyum pada orang yang baru masuk ke ruangan Aileana.
“Bagaimana keadaanmu nak?.” Tanya seorang wanita paruh baya.
“Lumayan, sudah membaik kok,” Jawab Aileena seadanya,
“Ibu, sama Papa langsung kesini setelah Elvina ngasih tau kalau kamu sakit.” Ucap perempuan yang mengenalkan diri sebagai Ibu, memang dia Ibu Aileena, namun itu bukan Ibu kandung Aileena, Mama Aileena meninggal beberapa tahun yang lalu kecelakaan pesawat, dua tahun kemudian Papanya menikah dengan Ibu Iva, Ibunya Elvina.
Aileena menatap Papanya yang duduk di sofa berhadapan dengan Derian, mereka malah membicarakan bisnis, sebenarnya Aileena merindukan Papanya setelah dia menikah dengan Derian memang baru kali ini dia bertemu dengan Papanya. Aileena tau Papanya sangat kecewa padanya yang tidak bisa menjaga dirinya, tapi mau di apakan lagi jika semua telah terjadi.
“Aileena sudah makan?.” Tanya Ibu Iva, Ibunya itu tau jika Aileena merindukan Papanya, namun mau gimana lagi, mereka berdua sama sama keras, bahkan terkadang Ibunya tidak bisa melerai Aileena dan Papanya saat bertengkar..
“Belum.” Aileena yang tidak dekat dengan Ibu tirinya hanya menjawab seadanya ketika di tanya.
“Ibu bawa bubur sum-sum, Aileena mau makan?.” Tanya Ibu Iva lagi.
“Iya.” Aileena bangun, mencoba duduk walau badannya masih terasa lemas. Aileena melihat bubur sum-sum yang di tempat makan, Aileena langsung kembali baring. Aileena tau jika itu bukan bubur sum sum buatan Ibu Iva, itu pasti buatan Papanya, tapi kenapa, saat Papanya mendiaminya seperti ini, Papanya masih memeprhatikannya, itu malah membuat hati Aileena semakin sakit.
“Aileena kok baring lagi nak?.” Tanya Ibu Iva, dia tentu saja bingung dengan Aileena.
“Aileena mau kekamar mandi Bu,” Aileena mencoba bangun lagi, Ibu Iva mengambil infusnya yang tergantung di tiang, namun saat dia turun dari tempat tidur dia baru merasa jika kakinya sangat lemas, hingga Aileena jatuh karena tidak kuat menopang berat tubuhnya.
“Astaga Aileena,, kamu enggak papa nak?..” Bu Iva Nampak sangat khawatir.
Derian langsung menghampiri Aileena, Derian membawa Aileena kekamar mandi, Ibu Iva membawa infus di belakangnya, sedangkan Papanya hanya diam di tempat duduk, Aileena menatap papanya dengan pandangan sayu, Aileena sangat rindu pada Papanya, Aileena ingin memeluk Papanya namun apa daya, Aileena hanya bisa diam, Papanya masih sangat marah padanya.
Derian mendudukan Aileena di closet, Ibu iva langsung menaruh tiang infus di samping Aileena.
“Tinggalin aku sendiri” Derian dan Ibu Iva hanya saling tatap, namun mereka segera keluar. Setelah mereka keluar Aileena hanya duduk di closet, tanpa Aileena sadari air matanya keluar, bukannya berhenti namun air mata Aileena makin banyak, closet lumayan dekat dengan wastafel, Aileena mencoba bangun untuk cuci muka namun tanpa sadar Aileena malah terpleset.
Tidak lama setelah Aileena jatuh, pintu langsung dibuka, Derian menatap Aileena tanpa kata, Derian langsung bergegas masuk setelah mendengar bunyi di kamar mandi. langsung mengangkat Aileena kembali ke tempat tidurnya, namun Aileena menggeleng.
“Aku mau cuci muka dulu” Aileena tidak mungkin keluar dengan mata yang sembab, akhirnya derian menurunkan Aileena di depan wastafel, jika dilihat dari belakang derian seperti memeluk aileena namun Derian hanya menyangga tubuh Aileena agar tubuhnya tidak jatuh, setelah di rasa cukup Derian menggendong Aileena kembali ke tempat tidur, sepi, ternyata hanya mereka berdua, kemana Papa dan Ibu, apa mereka udah pulang? pertanyaan yang hanya terucap di dalam hati.