Part 6 TIDAK BERARTI

1549 Kata
#Telahdirevisi Author Pov.   Derian memaksa Aileena makan, dari Aileena bangun hingga malam hari Aileena belum makan sama sekali, bubur sum-sum yang di bawa Ibu Iva belum tersentuh sama sekali, Derian tau jika Aileena sangat menyukai bubur sum-sum buatan Papanya, Ibu Iva memang bisa membuat bubur sum-sum namun Derian yakin jika ini bubur sum-sum buatan Papa Aileena melihat Aileena menolak makan dan Aileena hanya menatap Papanya. “Makan Aileena!, ingat kamu itu lagi hamil, apa kamu akan menyiksa anakmu lagi ?!!.” Bentak Derian. Sedangkan Aileena menatap Derian sekilas, ingat, Aileena masih marah sama Derian. “Kamu kira siapa yang membuka paksa pintu kamar kamu kemarin?.” Tanya Derian balik. Sedangkan Aileena entah kenapa malah menangis. “Makan!, jika kamu ingin cepat keluar dari rumah sakit!, aku tau kamu gak nyaman di rumah sakit.” Derian langsung meninggalkan Aileena, Derian lebih memilih untuk keluar ruang rawat Aileena, jika Derian tetap di ruangan Aileena pasti mereka akan bertengkar lagi. Aileena hanya bisa menangis, dirinya saat ini tidak bisa apa apa. Entah kenapa setiap Derian bicara hanya kata k********r dan bentakan yang keluar, apa sudah tidak ada kata kata cinta lagi untuknya?. **** Lima hari Aileena di rumah sakit, tubuhnya sudah kembali sehat, namun Aileena masih suka mual muntah jika pagi hari, Dokter juga sudah menjelaskan jika itu biasa untuk ibu hamil pada trisemester pertama. Derian hanya datang di siang hari juga malam hari setelah Aileena tidur, Aileena dijaga seorang pelayan di rumahnya, Aileena tidak terlalu dekat dengan Sinta, hari ini Aileena diperbolehkan pulang, semuanya sudah siap, tinggal menunggu Derian namun sudah satu setengah jam Derian belum datang menjemputnya.  Aileena berjalan ke loby, lebih baik dia pulang dengan taxi dari pada menunggu Derian, Aileena tau Derian tidak akan datang, dia tidak ingin membuang waktunya untuk hal yang sia-sia apa lagi menggunggu Deria datang menjemputnya. “Nona Aileena, kenapa kita ke loby, Tuan Derian menyuruh kita menunggu di kamar.” Sinta bertanya pada Aileena. Aileena bukannya menjawab tapi dia malah masuk kedalam taxi yang baru menurunkan penumpangnya. “Masuk jika kamu mau pulang.” Aileena hanya berbicara seperti itu, sedangkan Sinta mau tidak mau langsung masuk ke mobil, tidak mungkin Sinta menunggu di rumah sakit sedangkan Aileena sudah pulang dengan taxi. Sesampainya di rumah Aileena langsung masuk ke kamar membaringkan tubuhnya, dia sudah cukup lelah dengan semuanya, dia butuh istirahat. Aileena terbangun dari tidurnya saat mendengar suara brisik di sekitarnya. Aileena membuka matanya memfokuskan pandangannya melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aileena duduk setelah dia cukup fokus dengan pandangannya. “Ada apa?.” Tanya Aileena pada kedua pelayannya yang sedang menata entah apa Aileena tidak tau. “Maaf mengganggu istirahat Anda Nona, kami hanya ingin membereskan barang barang anda.” Ucap Sinta. “Maksudnya?.” Tanya Aileena bingung. “Tuan Derian menyuruh kami memindahkan barang barang Nona kekamar bawah, karena kamar atas akan dipakai Tuan Fatur dan Istrinya” Ucapan Sinta begitu menohok hati Aileena, Derian menyuruhnya pindah kekamar bawah, yang jelas jelas kamar di bawah merupakan beberapa kamar tamu, walau ukurannya memang lebih kecil dari pada semua kamar yang di atas. Dan Derian memberikan kamar ini untuk Fatur dan Elvina, apa Aileena gak salah dengar ?. Aileena langsung keluar drai kamarnya mencari keberadaan Derian, kamar Derian tidak ada, ruang kerja Derian juga tidak ada sebenarnya kemana Derian berada. Aileena turun kebawah, mencari Derian mungkin Derian ada di bawah. “Mbak Rahmi, dimana Derian?.” Tanya Aileena pada mabk Rahmi yang kebetulan berpapasan dengan Aileena. “Tuan di kolam renang Nona Aileena.” Tanpa basa basi lagi Aileena langsung menuju ke kolam renang yang beradi di samping rumah. Aileena melihat Derian sedang berenang, Aileena hanya menunggu Derian di tepi kolam. Derian menyadari ada orang di pinggir kolam langsung menepi ternyata Aileena. Derian menutuskan untuk keluar dari kolam renang. “Apa apaan kamu Derian, kenapa kamu menyuruh pelayan itu membereskan barang barangku?.” Tanya Aileena setelah Derian naik dari kolam renang. “Terserah aku mau berbuat apa, ingat ini rumahku, jadi aku bebas berbuat apa.” Ucapan Derian sungguh membuat hati Aileena sakit. “Tapi kenapa?, dulu saat kamu minta untuk pisah kamar aku turuti, tapi sekarang apa lagi hah? Kamu minta aku pindah kamar itu, dan kamar untuk mantan tunangan kamu itu?.” Aileena benar benar tidak terima dengan perlakuan Derian, dia cukup bersabar kemarin kemarin, namun saat ini Aileena sudah di penuhi emosi, hormon ibu hamil memang cepat membuat mood Aileena berubah ubah. “Derian tunggu!, kita belum selesai bicara,” Aileena mengejar Derian yang sudah berjalan, meninggalkan tepi kolam. “Apa lagi yang perlu di bicarakan, aku banyak kerjaan, kerjaanku lebih penting daripada mendengarkan omong kosongmu, dan masalah kamar itu memang kamar itu gak pantes buat kamu, hanya Elvina yang pantas menempati kamar itu,” Derian benar benar pergi meninggalkan Aileena yang masih berdiam diri di tepi kolam renang. Mencerna omongan Derian barusan. Aileena berjalan masuk ke rumah namun dia melihat sebuah cincin di meja santai yang berada di tepi kolam, Aileena tau itu cincin siapa. “Apa segitu tidak berartinya aku di hidupmu Der.” Aileena mengambil cincin itu dan membawanya masuk kedalam. Aileena masuk kekamarnya di lantai atas, namun dia keluar lagi, dia lupa jika kamarnya sudah pindah di lantai bawah Aileena turun lagi, namun di tangga dia berpapasan dengan Elvina. “Kak, apa kak Ail melihat kak Derian?.” Tanya Elvina, yang mungkin baru datang. “Aku tidak tau.” Aileena langsung melangkahkan kakinya menuruni tangga, sedangkan Elvina masih diam di tangga. Kakaknya yang dulu ramah padanya yang dulu menyayanginya kini berubah menjadi sorang kakak yang tidak perduli pada adiknya. Elvina merasa begitu asing pada kakanya itu. “Apa lagi yang terjadi diantara kalian kak? Aku bahkan sudah merelakan Derian untukmu kak, apa itu masih kurang?.” Ucap Elvina lirih. Tanpa dia tau, ucapan itu sebenarnya untuk dirinya, Meja makan sudah tertata banyak sekali makanan, malam ini orang tua Derian, orang tua Aileena datang untuk makan malam, begitu juga Elvina dan Fatur yang datang tadi sore. Aileena duduk di samping Derian hanya diam, melihat semua orang berbicara. Para laki laki membicarakan bisnis sedangkan para istri menimpali obrolan suaminya, Aileena sungguh jengah, dia dekat dengan Papanya namun untuk berbicara dengan Papanya saja dia tidak bisa, selamanya akan seperti ini?. “Aileena kekamar dulu.” Aileena berbicara namun tidak ada yang mengiyakan atau melarangnya, mereka larut dengan obrolan mereka sendiri. Aileena langsung mengganti bajunya, membersihan make upnya, itu sudah rutinitas Aileena sebelum dia tidur, beruntung kamar ini cukup luas untuk Aileena. “Sungguh hari yang melelahkan.” Ucap Aileena. Entah kenapa wajah Papanya terbayang di fikirannya, Aileena bukannya tidur tapi dia malah menangis di tempat tidur, walau tanpa suara namun air mata itu terus mengalir dengan deras. Hingga Aileena tidur dengan air mata yang menemaninya. Air matanya menjadi sahabat setia Aileena beberapa bulan ini. **** Pagi pagi Aileena sudah bolak balik kekamar mandi, tubuhnya mulai lemas lagi, jika kehamilannya akan seperti ini, Aileena dulu lebih memilih tidak menyerahkan dirinya dalam gairah bersama Derian, namun semua sudah terjadi, sekarang tidak perlu di sesali Aileena hanya perlu menjalaninya hingga Akhir, entah berakhir kesedihan ataupun berakhir kebahagiaan.  Aileena kembali tidur setelah rasa mualnya mulai reda, benar adanya Derian memindahkan kamarnya di lantai bawah, jika di lantai atas maka Aileena pasti mengganggu orang yang sedang istirahat. Semua orang sudah berada di meja makan, memang mereka semua tadi malam menginap dirumah Derian. “Dimana Aileena?,” Tanya Mama Riska. “Derian enggak tau Mah.” Jawab Derian dengan santai, seolah olah keberadaan Aileena bukan hal yang penting baginya. “Bukannya kalian tidur satu kamar kan?.” Tanya Ibu Iva pada Derian, memang Iva sudah cukup curiga dengan hubungan rumah tangga Derian dan Aileena, beberapa kali bertemu sikap acuh Derian pada Aileena membuat Iva curiga, namun dia tidak berani bertanya pada Aileena ataupun Derian. “Derian enggak pernah tidur sama Aileena.” Jawaban Derian membuat semua orang di meja makan itu menghela nafas mereka. Sebenarnya apa yang terjadi di antara Aileena dan Derian, kenapa susah sekali mereka bersama. Mama Riska langsung meninggalkan meja makan, mencari kamar Aileena, tadi malam dia tidak melihat Aileena naik ke lantai dua, berarti kamar Aileena di lantai ini. “Dimana kamar Aileena?,” Tanya Mama Riska pada Mbak Rahmi yang kebetulan sedang bersih bersih di lantai ini. “Disebelah sana Nyonya, mari saya antar,” Mbak Rahmi menunjukan kamar Aileena. “Tidak usah, selesaikan saja pekerjaanmu.” Mama Riska menolak untuk di antar kekamar Aileena. Sayup syup Mama Riska mendengar suara orang yang sedang muntah muntah, membuka pintu kamar Aileena, Mama Riska melihat Aileena yang sedang memuntahkan isi perutnya di closet. Aileena membasuh mukanya di wastafel setelah rasa mualnya sedikit tidak terasa. “Aileena?.” Tanya Mama Riska yang berada di pintu kamar mandi. “Mah, Mama kapan masuk kamar Aileena?.” Tanya Aileena, mungkin karena dia muntah muntah, makanya dia enggak menyadari kalau ada orang yang masuk kemarnya. “Apa itu menyiksamu nak?.” Tanya Mama Riska, Aileena tau pembicaraan ini mengarah kemana. Sebagai seorang ibu, memang Mama Riska pernah mengamali morning sickness, di kehamilannya.  “Aileena gak merasa sakit kok mah, ini resiko yang harus Aileena tanggung jika Aileena hamil, Aileena sudah terbiasa kok Mah.” Jawab Aileena. Aileena bukan wanita yang lemah, dia tidak ingin menunjukan kesedihannya pada siapapun, hanya dirinya yang tau semau rasa sakitnya, dan dia tidak berminat untuk membagi rasa sakitnya pada orang orang terdekatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN