Part 7 ITU DULU, BUKAN SEKARANG

1357 Kata
#Telahdirevisi Author pov.   Mereka semua melakukan sarapan yang tertunda karena Mama Riska yang pergi ke kamar Aileena, sekarang semua sudah lengkap mereka duduk dengan pasangan mereka, walau Aileena memang tak biasa sarapan dia ikut duduk hanya ada s**u untuk ibu hamil juga dua lembar roti tawar yang sudah di panggang, sedangkan yang lain menikmati sarapan mereka dengan pancake, nasi goreng, dan makanan berat lainnya. “Ehmm, maaf mengganggu waktu makan kalian semua.” Semua yang berada di meja makan menatap Elvina. “Pagi hari ini, aku ingin memberi kabar bahagia untuk kalian semua.” Elvina dan Fatur saling pandang membuat orang yang berada di meja makan menatap mereka berdua. “Elvina sedang hamil, tadi pagi dia sudah mengecek dengan tespack, setelah ini mungkin kami akan kerumah sakit.” Jelas Fatur. Semua orang di meja makan mengucapkan selamat pada Fatur dan Elvina kecuali Aileena dan Derian. Mereka hanya diam dengan fikiran mereka masing masing, sebenarnya apa yang terjadi disini, kenapa takdir seolah olah mempermainkan mereka berdua. Derian langsung berdiri, melangkah meninggalkan meja makan, sedangkan Aileena masih duduk di tempatnya menghabiskan susunya yang masih tersisa, semua orang belum menyadari jika Derian telah pergi. Begitu menghabikan susunya Aileena juga pergi dari ruang makan. Aileena berada di taman belakang, dia memilih untuk menyendiri, semua keluarganya sedang bersuka cita menyambut calon cucu yang di kandung Elvina, beda dengan Aileena saat dirinya awal mengandung dan memberi tahu kedua orang tuanya, Papanya bukan tersenyum seperti tadi malah memarahi dirinya bahkan mengusirnya dari rumah. Tanpa sadari air mata Aileena kembali merembes turun. Tanpa Aileena sadari, ada seorang yang berdiri di belang tempat duduk Aileena, walau lumayan jauh namun orang itu tau jika Aileena sedang menangis. Orang itu juga merasakan sakit dengan apa yang dirasakan Aileena. Ikatan mereka begitu kuat walau hubungan mereka saat ini sedang tidak baik. Aileena cukup lama berada di taman hingga matahari yang awalnya hangat di tubuhnya sekarang sudah menyengat tubuhnya. Aileena memutuskan untuk masuk kedalam rumah, keadaan sudah sepi, mereka mungkin sudah kembali. “Mbak, jangan buat makan siang, jika aku lapar aku akan masak sendiri.” Ucap Aileena saat berpapasan dengan Mbak Rahmi. “Iya Nona.” Ucap Mbak Rahmi namun dapat di pastikan jika itu hanya di dengar Mbak Rahmi karena sebelum Mbak Rahmi menjawab Aileena sudah pergi melangkah kekamarnya. Mbak Rahmi melangkah kedapur memberi tau yang lain jika Aileena akan masak sendiri jika dia lapar. “Kenapa Tuan Derian dan Nona Aileena seperti ini ya?.” Tanya Sinta. “Keadaan yang membuat mereka seperti ini.” Jawab Mbak Rahmi. Mereka memang memiliki waktu senggang jika pekerjaan mereka sudah selesai. “Tapi kenapa, bukannya Tuan Derian mencintai Nona Elvina tapi Nona Aileena merusak hubungan mereka berdua?.” Memang Sinta dan Diah dipekerjakan di rumah Derian setelah Derian menikah dengan Aileena. “Huss, kamu salah Sinta, dulu Nona dan Tuan pasangan yang sangat serasi, namun mereka sibuk satu sama lain. Nona sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit, Tuan sibuk dengan perusahaan yang Tuan rintis, hingga Nona Elvina pulang dari tempat kuliahnya dan sejak saat itu Tuan Derian dekat dengan Nona Elvina karena mereka di jodohkan. Tanpa sepengetahuan Nona Aileena, dan puncaknya Tuan Derian dan Nona Elvina tunangan, disitu baru Nona Aileena tau jika Tuan Derian selama ini sudah mengkhianatinya, apa lagi setelah tunangan tidak lama mereka berdua akan menikah.” “Dan tak lama aku mendengar jika Nona Aileena hamil, dan meminta tanggung jawab Tuan Derian, semua keluarga tau jika Tuan Derian tunangan Nona Elvina, hingga membuat Nona Aileena di usir dari rumah, namun Tuan Derian tetap menikahi Nona Aileena karena Nona Aileena jelas jelas hamil anak Tuan Derian.” Jelas Mbak Rahmi. Jadi selama ini mereka berdua sudah salah menilai Aileena sebagai perusak hubungan Adik dan kekasihnya. “Jadi selama ini kita salah menilai ya?.” Diah malah melontarkan pertanyaan. “Makanya lebih baik bertanya dan meminta penjelasan se jelas jelasnya sebelum mulut kamu di robek orang karena salah menilai mereka.” Mbak Rahmi malah menakuti mereka berdua. “Ihhh, Mbak Rahmi mah gitu, terus terus Mbak, kok bisa Nona Elvina bisa nikah sama Tuan Fatur?.” Tanya Diah pada Mbak Rahmi. “Kalau itu aku gak tau, Tanya aja sendiri.” Mbak rahmi memang tak tau hubungan Elvina dan Fatur daripada dia salah mending dia tak mengatakan apapun. Mbak Rahmi meninggalkan mereka berdua, di dapur walau pekerjaannya telah selesai namun dia mencari kesibukan agar tak bosan. Aileena keluar dari kamarnya sudah rapi dengan baju casualnya. Hari ini jadwalnya chek up ke dokter kandungan. Aileena tak melihat para pelayannya sama sekali, ya sudah dia langsung keluar, toh Aileena hanya kerumah sakit sebentar. “Nona Aileena anda ingin pergi kemana?.” Tanya supir Aileena. “Berikan kunci mobilnya, aku ingin menyetir sendiri,” Pinta Aileena, karena Aileena cukup trauma jika dirinya di tinggal lagi. “Maaf Nona, saya tak bisa menyerahkan kunci mobilnya, jika Nona ingin pergi saya yang akan mengantar Nona Aileena.” Jelas sang supir, dia juga tidak mau Derian marah padanya. “Gak, aku enggak mau kamu meninggalkan aku lagi, sudah cukup dua kali kamu meninggalkanku, pertama kamu meninggalkan saya di supermarket, yang kedua kamu meninggalkan ku di taman, apa sekarang kamu akan meninggalkan ku di rumah sakit?.” Aileena sudah tak bisa membendung amarahanya lagi pada supirnya. Maklumin aja efek ibu hamil juga kekesalan Aileena. “Mana kunci mobilnya.” Aileena meminta sekali lagi, namun sang supir bukannya memberikan kunci mobil malah membukakan pintu untuk Aileena. Cukup sudah, hari ini entah kenapa Aileena sangat sangat kesal, ia ingin sekali meluapkan kemarahannya yang ia tahan dari tadi pagi. Aileena bukannya masuk kedalam mobil, dia malah berjalan kaki menuju gerbang utama, namun langkahnya terhenti ketika melihat mobil yang masuk. Namun Aileena meneruskan jalannya kembali. Aileena hampir sampai gerbang,  “Mau kemana?.” Tanya orang yang berada di belakang Aileena. Aileena terpaksa menghentikan langkahnya. “Aku mau pergi sebentar.” Jawab Aileena tanpa membalikan badannya. Aileena tau itu suara Derian, sebenarnya Aileena sedang malas ribut dengan Derian, makanya dia lebih memilih jalan sendiri. “Apa kamu sudah lupa jika kamu tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa seizin aku, sekarang kamu mau pergi tanpa supir?.” Tanya Derian. “Aku hanya sebentar, enggak akan lama,” Balas Aileena.  “Supir akan mengantarmu.” Derian tidak tau Aileena ingin pergi kemana tapi melihat Aileena malam itu yang hampir di perkosa Derian tidak bisa membiarkan Aileena pergi sendirian. “Masuk jika kamu benar benar ingin keluar!!.” Ucapan Derian hanya di anggap lalu oleh Aileena, Aileena sudah cukup muak dengan supirnya, yang seenaknya meninggalkan Aileena. “Aileena aku bilang masuk kemobil!!.” Mungkin Derian benar benar marah dengan Aileena hingga dia membentak Aileena. “Kalian jangan bukakan gerbang untuk Aileena tanpa seizinku.” Perintah Derian pada dua satpam yang berjaga di depan. Mereka hanya mengangguk tidak berani membantah omongan Derian. “Dengar Aileena, aku tidak akan mengizinkan kamu keluar dari rumah ini, mau kamu jalan kaki, mau kamu menggunakan supir aku tetap tidak mengizinkanmu.” Setelah mengucapkan kata kata itu Derian langsung meninggalkan Aileena yang masih berdiri di jalan.  Sedangkan mobil yang berada disamping Aileena sudah berjalan kembali ke garasi. Entah kenapa air mata Aileena mengalir dengan sendirinya, Aileena ingin marah namun dia tidak tau dia ingin marah pada siapa, takdir begitu mempermainkannya.  Aileena masuk kembali ke dalam rumah, niatnya untuk keluar sudah pupus, bahkan sebelum Aileena keluar dari gerbang rumah ini. Deringan ponsel yang berada di tasnya membuat Aileena berhenti melangkah. Aileena menjawab telfonnya. “Hal,..” Aileena belum menyelesaikan ucapannya namun orang yang menelfonnya sudah memotong ucapannya. “Heh, ibu hamil, sebenarnya kamu ini dimana, aku sudah setengah jam menunggu kamu di parkiran rumah sakit, tapi kamu belum datang datang, tau gitu aku chek up sendiri.” Orang itu mengomel pada Aileena. “Maaf De, aku gak bisa keluar dari rumah, Derian enggak mengizinkan ku pergi.” Jelas Aileena pada orang yang berada di seberang sana.. “Sialan, suami kamu memang keterlaluan, kamu juga ngapain sih kamu minta tanggung jawab sama laki laki gila itu, harusnya kamu benar benar pergi aja waktu itu.” Aileena hanya menghela nafas kasar, sahabatnya akan terus mengomel jika sambungan telfon ini masih terhubung. Aileena mematikan ponselnya, memasukan kembali ponselnya, lalu melangkah menuju kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN