#Telahdirevisi
Author Pov.
Para pelayan yang katanya kembali ke rumah nanti sore, tapi pagi ini ada lima pelayan dan dua koki yang sudah berada di rumah Derian. Aileena bersyukur karena hari ini ada orang dirumah, seenggaknya ada pelayan di rumah ini, daripada dia sendirian di rumah, jangan tanya dimana Derian, Derian punya apartemen dan Aileena tau akan hal itu, jadi Aileena tidak akan kaget jika Derian tidak pulang ke rumahnya.
Ada yang aneh di meja makan pagi ini, ada beberapa hidangan sarapan yang di siapakan koki mmebuat Aileena penasaran. Aileena memang tidak biasa makan pagi, dan jika dia terpaksa makan pagi pasti hanya satu tangkai roti tawar yang di panggang dan s**u pastinya.
“Kenapa masak hari ini?.” Tanya Aileena pada pelayan yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.
“Tuan Derian yang menyuruh kami masak Nona.” setelah tau jawabannya Aileena melangkah ke dapur, Aileena melihat Mbak Rahmi sedang memanggang Roti, Aileena memilih untuk membuat s**u untuknya, dia tak mempercayakan pelayan yang membuat susunya, Aileena lebih memilih membuat sendiri, entah kenapa rasanya berbeda walau Aileena pernah memberitahu pelayan tentang takaran segelas s**u tapi tetap saja rasanya berbeda.
Selesai membuat s**u Aileena kembali ke meja makan, disana sudah ada Derian yang sedang membaca berita di Ipadnya, Aileena cukup tau kebiasaan Derian, jadi Aileena tak akan menebak nebak ataupun bertanya.
“Non, ini rotinya mau pake selai apa?.” Tanya Mbak Rahmi di samping Aileena.
“Nanti aja Mbak, aku kasih sendiri.” Aileena memang lagi malas makan, namun harus nasi goreng yang berada di meja makan membuatnya berselera makan, namun Aileena berfikir lagi, jika dia makan pagi pasti mual mual, namun jika dia tak makan dia bingung mau makan apa, perutnya minta makan nasi goreng namun logikanya mengatakan tidak,, ahhh Aileena pusing.
Aileena melihat Derian yang sudah memakan nasi goreng di piringnya membuatnya menelan ludah berkali kali, kenapa rasanya sangat enak, fikirnya. Derian yang merasa di perhatikan menoleh pada Aileena.
“Kenapa?,” Tanya Derian.
“Ah,, enggak papa kok.” Aileena buru buru mengambil s**u yang di meja meminumnya, untung s**u itu sudah dia campur dengan sedikit air dingin coba kalau tidak, sudah melepuh lidahnya.
Akhirnya setelah Aileena dengan pertentangan batinnya dia mengambil nasi goreng di piring besar, walau hanya sepucuk centong nasi, nasi goreng itu berada di piringnya, walau hanya beberapa suap tapi Aileena yakin dia tidak akan nyidam nasi goreng itu lagi.
Derian telah selesai menikmati sarapannya begitu juga Aileena, Derian langsung melangkahkan kakinya menuju pintu depan, sedangkan Aileena hanya menatap Derian dari tempat duduknya.
****
Entah kenapa Aileena ingin sekali jalan jalan, siang siang gini pergi ke Mall kayaknya enak, Aileena mengganti baju dan bersiap siap.
Sesampainya di Mall Aileena memang langsung pergi ke foodcourt namun ada sesuatu yang mengganggu pandangannya, dua orang yang duduk tidak jauh dari tempat duduk Aileena. Tega sekali mereka, benar benar tega, Aileena langsung keluar dari foodcourt, tak lupa menaruh uang di mejanya.
Tanpa Aileena tau ada seoranng laki laki yang menghampiri meja dua orang itu, Fatur suami Elvina, memang tadi mereka makan siang bertiga namun Fatur ada panggilan alam jadi dia harus pergi ke toilet.
“Kenapa kak kok natap kesana.” Tanya Elvina, yang heran kenapa suaminya memandangi pelayan yang kebingungan menemukan uang di meja yang sudah kosong.
“Kayaknya tadi aku melihat Aileena deh, aku kira tadi dia melihat kalian berdua.” Ucapan Fatur barusan membuat Derian menatap nyalang ke meja kosong, dan juga pelayan yang kebingungan mencari pelanggannya.
“kak Aileena disini?, pasti kak Aileena salah faham deh, kak Derian, kejar kak Ail mumpung belum jauh.” Elvina tau, kakaknya itu pasti cemburu, bahkan dulu kakaknya sempat bunuh diri saat Derian memutuskannya hanya untuk berpaling padanya, namun itu hanya Devia dan Elvina yang tau karena Elvina tak sengaja datang ke Apartemen Aileena dan menyaksikan kakaknya mengiris pergelangan tanggannya sendiri. Namun dia tak mungkin membantu karena ada Devia yang berada di sana.
“Biar saja, toh dia tau konsekuansinya seperti apa.” Derian tau Aileena seperti apa, jadi Derian akan membiarkan Aileena.
***
Aileena benar benar mengurung diri di kamarnya, menangis hingga dia tertidur, bangun dan menangis lagi, tanpa memperdulikan perutnya yang kelaparan ataupun calon buah hatinya. Hatinya terlalu sakit untuk melihat dua orang itu, saat ini Aileena baru menyesal meminta pertanggung jawaban Derian, seandainya dia memilih pergi dari sini dan menata hidupnya di tempat lain dia tak akan melihat mereka berduaan.
“Kenapa kalian berdiri di depan pintu kamar Aileena?.” Tanya Derian pada Mbak Rahmi dan seorang pelayan yang namanya Diah.
“Begini Tuan Derian, Nona Aileena belum keluar dari kamar dari tadi siang, tadi siang memang Nona Aileena keluar, namun tidak lama Nona pulang dengan keadaan kacau, saya takut Nona Aileena kenapa-napa.” Jelas Mbak Rahmi, berarti benar apa yang di lihat Fatur tadi benar Aileena tapi bias juga tidak.
“Mana kunci cadangannya?.” Tanya Derian pada Mbak Rahmi.
“Tidak ada Tuan, beberapa minggu yang lalu Nona meminta semua kunci di kamar ini.” Jelas Mbak Rahmi, sambil menunduk, dia takut kena amukan Derian.
“Minggir kalian.” Derian memerintahkan pelayannya untuk minggir dari sisi pintu.
Derian langsung berancang ancang mendobrak pintu, dobrakan ke tiga pintu berhasil terbuka, Derian langsung masuk di ikuti Mbak Rahmi dan Diah. Di ranjang Derian melihat Aileena, wajah Aileena sungguh berantakan, mata sembab, hidung merah, rambut berantakan, pokoknya khas orang depresi deh.
“Panggil dokter sekarang!.” Derian cukup sadar apa yang akan terjadi jika dia tidak memanggil dokter.
Tidak butuh waktu lama dokter keluarga Fauzi datang, setelah memeriksa keadaan Aileena, perkataan dokter sedikit memukul Derian, sebagai suami dia tidak bisa menjaga anak dan istrinya dengan baik, Derian duduk di pinggir ranjang menemani Aileena, memegang tangannya.
Derian merasa ada sebuah bekas luka di tangan kiri Aileena, namun Derian hanya membiarkan, mungkin Aileena pernah terluka tanpa sepengetahuannya. Semalaman Derian menunggui Aileena, hingga dia tertidur di sebelah Aileena.
****
Aileena yang terbangun di pagi hari bukannya terbangun namun dia malah merasakan kenyamanan berada di pelukan Derian. Aileena tidak sepenuhnya sadar jika dia sedang memeluk Derian. Begitu juga Derian yang makin terlelap, memeluk Aileena. Mulut mereka bisa saja menyangkal saat mereka sadar namun mereka tidak menyadari jika tubuhnya mengingkinkan hal yang sama, kenyamanan.
Derian terbangun lebih dulu, dia baru menyadari jika dia tidur di kamar Aileena, Derian perlahan mencoba melepas pelukan Aileena. Derian langsung meninggalkan kamar Aileena, dia tidak mungkin di kamar Aileena lebih lama, Derian memang menerima Aileena sebagai istrinya, Derian juga telah menerima jika Elvina sebagai adik iparnya, namun sekarang ini dia tidak ingin memainkan perasaannya lebih dalam, dia tau Aileena bagaimana, sekali Aileena di beri kesempatan untuk masuk ke hatinya lagi maka susah jika dia akan melepaskan Aileena, karena hatinya juga menginginkan Aileena tanpa ia sadari.
Diah salah satu pelayan di rumah ini masuk ke kamar Aileena, mencoba membangunkan Aileena, ini sudah cukup siang Aileena tak bangun.
“Nona Aileena.” Diah mencoba membangunkan Aileena, memanggil Aileena dengan pelan.
“Engghhh,” Aileena terbangun dari tidurnya, dia belum menyadari jika dia sedang di infus.
“Nona, anda ingin mandi terlebih dulu atau anda mau makan?.” Tanya Diah.
“Aku mandi dulu.” Aileena ingin melangkah namun Diah mencegahnya.
“Nona, itu infusnya jangan sampai dilepas ya.” Diah mengingatkan Aileena. Aileen baru menyadari jika tangannya sedang terpasang infus. Apa mungkin semalam dia pingsan. Entahlah Aileena tak terlalu memikirkan kenapa dia bisa di infus mungkin ada pelayan yang masuk dan tau jika dirinya pingsan.