DARAH
Cerita kali ini Masih dipulau kalimantan. Masih ingat Masupa?
Ya tempat kejadian pembunuhan almarhum Roni beberapa puluh tahun lalu. Cerita ini juga berasal dari masupa. Masupa adalah pertambangan emas yang lumayan besar di kalimantan tengah. Disana banyak orang orang dari segala daerah,kalimantan atau bahkan yang berasal dari luar pulau kalimantan. Tapi untuk sebagian orang,mungkin tidak tau apa itu masupa dan dimana tempat itu.
Karena memang akses jalan menuju kesana sangat sulit dan tempat itu tidak pernah terekspos Oleh media.Belum lagi para perampok yang selalu menjadi ancaman orang orang yang ada disana. Sebab itulah barang makanan instan seperti mie, ikan kaleng dll menjadi langka dan walaupun ada,pasti akan sangat mahal harganya. Dan memerlukan beberapa hari untuk keluar dari Wilayah itu.
Masuk ke cerita.
"Siapa itu yang kau bawa tat?"tanya marlun pada putat yang baru datang dari desa "Ini temanku badul,dia ingin mencari kerjaan jadi kubawa saj kesini."jawab putat seraya memperkenalkan teman satu kampung dengan nya itu Badul tersenyum ramah pada marlun seraya mengulurkan tangan nya.
"Tidak usah jabat tangan,cukup tau nama saja,biar nanti enak manggilnya."ujar marlun tertawa kecil "Anak ini sepertinya tidak tau tentang tempat ini ya tat.?"tanya marlun pada putat dalam bahasa dayak ma'anyan
Putat hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan marlun. "Ayo kita pergi dul,kita temui bos dulu,sekalian perkenalan."ujar Putat menarik tangan badul meninggalkan marlun yang masih memperbaiki mesin tumbuk.
"Tat,kalau boleh tau apa yang dikatakan orang tadi.? Aku tidak paham artinya."ujar badul setelah agak jauh dari marlun "Oh itu. Bukan apa apa kok artinya."jawab putat seraya tersenyum ( Badul ini berasal dari kalimantan selatan,yang artinya badul ini menggunakan bahasa daerah Banjar.
Sudah pasti dia tidak mengerti bahasa dayak ) "Kalau ada yang bilang aneh aneh tentang aku,beritahu saja ya."ujar badul pelan "Iya dul,mana mungkin aku berbohong."ujar putat
Mereka berdua akhirnya sampai disebuah rumah kayu yang cukup besar. "Ini rumah yang akan kita tinggali selama bekerja disini dul,biasanya bos 2 minggu sekali akan datang untuk mengambil emas2 yang sudah dibersihkan."ujar putat menjelaskan.
"Lalu tempat kita bekerja dimana.?"tanya badul "2 kilometer dari sini,dan kami bergantian menjaga lubang agar tidak dicuri."jawab putat seraya membuka pintu rumah itu "Tapi ingat ya dul,disini jangan macam macam,maksudku jangan berteman dengam sembarang orang.
Karena kamu tau kan disini orang orangnya tidak hanya berasal dari satu daerah saja."ujar putat tersenyum Badul mengangguk. "Dan apa kamu tau,dulu digunung yang kita lewati kemarin, disana pernah terjadi pembunuhan.
Aku sengaja tidak memberitahu kamu,karna aku yakin kau pasti akan takut."ujar Putat lagi seraya tertawa kecil "Ah,yang benar?!"ujar badul setengah tidak percaya "Iya, nanti kalau kita lewat rumah kosong bekas calon istrinya tinggal dulu,aku akan memberitahukan padamu. "balas putat seraya menaruh tasnya ".
Tapi tenang saja,kejadian itu sudah lumayan lama,"ujar putat lagi seraya menepuk pundak temannya yang mulai ketakutan tersebut "Sudah ah, jangan cerita itu lagi. "ujar badul "Asal kamu tau ya, disini itu bukan hanya orang baik, tapi disini juga ada beberapa buronan polisi.
Makanya aku melarangmu untuk sembarangan berteman ya."ujar putat serius Dengan cepat badul mengangguk. "Bagus,semoga kamu ingat.ayo sekarang kita menemui bos dulu."ajak putat.
"Apa polisi tidak dicari sampai kesini.?"tanya badul "Kamu lihat jalanan kesini kan.? Terlalu Sulit. lagi pula daerah ini sudah dianggap tidak ada, ya mungkin karena memang jalan menuju kesini yang sangat sulit dilewati"ujar putat sedikit tertawa Saat hendak berjalan keluar.
Mereka berpapasan dengan seorang laki laki berusia sekitar 30 tahunan. Putat berbicara dengan lelaki itu dalam bahasa dayak ma'anyan, Si laki laki itu tidak tersenyum sedikitpun dengan badul. Lalu putat menghentikan percakapan itu dan melanjutkan langkah nya.
"Apa yang kalian katakan tat.? Orang itu sepertinya tidak suka padaku ya."tanya badul pelan Sebelum menjawab pertanyaan teman nya itu putat menoleh kiri dan kanan nya terlebih dulu. "Dia itu buronan,namanya iwan.
Katanya sih dari kelayan dan dia perantau juga lama tinggal bersama orang-rang dayak maanyaan. Makanya bahasa dayaknya lancar, bahkan hampir lupa bahasa banjar. "ujar putat "Apa dia itu kumpul satu kerjaan dengan kita nantinya?"tanya badul khawatir "Iya, tapi tenang saja.
Selama dia tinggal disini,dia tidak pernah berulah lagi."ujar Putat menjelaskan Badul mengangguk.
"Nah itu bos,yang punya tanah dan lubang yang kita kerjakan nanti."ujar putat menunjuk kearah seorang laki laki kurus dan tinggi yang berada sekitar 10 meteran dari mereka berdua.
"Ayo dul,"ajak putat seraya menarik tangan teman nya itu "Permisi bos, ini teman saya yang ingin ikut kerja disini"ujar putat memperkenalkan badul setelah dekat dengan lelaki itu Dengan sopan badul menganggul seraya tersenyum.
"Kelihatan nya temanmu ini lembek."ujar lelaki itu sambil menatap badul dari ujung rambut hingga kaki.
"Tapi itu tidak apa apa, dia aku terima bekerja disini."lanjut lelaki itu tersenyum "Alhamdulilah."ucap badul dengan wajah bahagia "Terima kasih pak bos,terima kasih."ujar badul seraya mencium tangan lelaki itu.
"Hahahha..sama sama. Oh iya namanya siapa?"ujar lelaki itu diiringi suara tawanya "Amat Badul pak bos."jawab badul "Saya Ibuh, panggil saja bos ibuh. "ujar lelaki itu memperkenalkan dirinya.
"Baik bos,"ujar badul kembali membungkuk "Ya sudah, kamu hari ini tidak usah masuk kerja dulu, lebih baik kamu istirahat saja dirumah.sudah tahukan rumah tempat tinggal kalian dimana?"ujar bos ibuh.
"Iya bos,saya sudah tahu. "jawab badul "Kalau begitu saya juga istirahat kan Bos?"tanya putat "Kalau kamu jangan, masih ada kerjaanmu yang belum selesai itu. "jawab bos ibuh Putat menghela nafas,lalu putat pamit pulang mengganti bajunya.
"Bos kita itu suka dipuji,apalagi dengan sikapmu yang seperti itu tadi."ujar putat seraya menepuk pundak badul.
Lalu mereka pun sampai dirumah kayu berukuran cukup besar itu. "Ini tempat tidur mu,dan disebelah sini tempat tidurku.kita disini tidak punya kamar,jadi barang barangmu di taruh di lemari ini, kuncinya kamu bawa saja.
Aku mau berangkat kerja dulu dul."ujar putat seraya pamit kerja. "Terima kasih ya tat". ujar badul Putat yang sudah ada didepan pintu itu pun mengangguk sambil tersenyum.
Singkat cerita,setelah 4 bulan bekerja disana badul menjadi sangat akrab dengan Marlun dan iwan. Kadang kadang mereka menonton layar tancap atau pergi ke pasar yang cukup jauh dari tempat mereka bekerja itu.
"Dul,malam ini ada layar tancap lagi dilapangan.kita nonton yuk."ujar iwan seraya berbaring di tempat tidur badul "Oke."ujar badul seraya mengacungkan jempolnya "Sekalian aku ngutang dulu ya dul,soalnya uangku habis gara2 makan di warung dekat lapangan sana."ujar iwan pelan.
"Iya,tidak masalah,aku masih punya uang lebih."ujar badul seraya membuka dompetnya dan menyerahkan sejumlah uang pada iwan. "Terima kasih ya,nanti kalau aku ada uang,aku pasti langsung bayar."ujar iwan tersenyum Badul mengangguk dengan senyum yang masih menghias bibirnya.
"Kamu terlihat agak berbeda hari ini dul."ujar iwan seraya melihat wajah sahabatnya itu "Berbeda apanya.?"tanya badul "Kulitmu yang biasanya hitam,kok hari terlihat kuning langsat ya."tanya iwan "Ah,mana mungkin begitu,kulitku masih sama seperti biasanya kok.
Mungkin itu hanya perasaanmu saja wan."ujar badul Iwan terdiam sejenak,lalu kemudia mengangguk. "Nah kalau begitu kau kembali ketempat tidurmu sana,aku mau tidur dulu."ujar badul seraya mendorong tubuh sahabatnya itu
"Iya iya,aku mau ngopi diwarung dulu ah."ujar iwan seraya berlalu pergi Setelah iwan pergi,tiba tiba datang seorang lelaki muda berusia sekitar 19 tahunan. "Assalamualaikum,ka badul.."ujar suara itu dari luar. "Waalaikumsalam."jawab badul seraya membuka pintu.
"Oh,kamu kip. Ada apa ya.?"tanya badul setelah tau siapa tamu itu "Begini ka badul,saya ingin menjual celana jeans keluaran terbaru ini pada kaka."ujar pemuda yang dipanggil ikip itu seraya menunjukan celana jeans itu "Tapi aku sudah punya celana seperti ini kip."ujar badul.
"Tolong ka,belilah celana ini,uangnya untuk ibuku beli beras ka."ujar ikip seraya memasang wajah memelas Badul menghela nafas,lalu mengangguk dan membayar harga celana jeans itu. "Terima kasih ya ka."ucap ikip sebelum berlari meninggalkan rumah itu.
"Luamayan harga murah tapi barangnya masih bagus begini,bisa dipakai nanti malam."batin badul seraya menaruh celana itu kedalam lemarinya.
(Siapa yang tau maksud baik Badul itu akhirnya berujung fatal.)
Dia pun kembali ketempat tidurnya. Sore harinya dia dibangunkan oleh putat yang baru pulang dari rumah pacarnya. "Sudah sore dul,bangun."ujar putat seraya melempar buah jambu kearah badul. "Kamu lihat iwan gak tat.?"tanya badul sambil mengucek matanya "Iwan?.
Aku sama sekali Gak lihat itu orang."jawab putat seraya mengambil handuk dan bersiap siap untuk pergi kesungai "Kamu ikut gak malam ini nonton layar tancap dilapangan.?"tanya badul "Gak deh dul,hari ini aku capek sekali."jawab putat seraya tersenyum.
Setelah putat keluar rumah,badul pun mengambil handuk lalu keluar menyusul putat kesungai. Air sungai yang dingin ditambah cuaca sore itu membuat tubuh badul menggigil kedinginan. "Aku duluan tat."ujar badul seraya berjalan meninggalkan putat yang masih berendam disungai itu.
Sesampainya dirumah,ternyata sudah ada iwan yang duduk didekat tempat tidurnya sambil merokok. "Baru datang kamu wan.?"tanya badul "Iya,mau rokok.?"ujar iwan seraya melempar sebungkus rokok pada badul "Gak wan."jawab badul seraya berpakaian "Wah,celana baru dul.?"tanya iwan
Badul mengangguk dengan senyuman yang masih melekat dibibirnya. "Kita berangkat jam berapa.?"tanya badul duduk disebelah iwan "Jam 8 malam nanti saja dul."jawab iwan Singkat cerita,malam itu mereka berdua pun berangkat kelapangan untuk melihat film layar tancap.
Semakin malam,orang orang semakin banyak berdatangan untuk melihat pertunjukan layar tancap malam itu. Saat film nya dimulai,orang orang mulai asyik menonton,termasuk iwan dan badul. "Aduh dul,perutku tiba tiba sakit.aku mau kesungai dulu ya."ujar iwan seraya menepuk perutnya
"Iya."ujar badul sambil tersenyum "Aduh,baru jam segini aku sudah mengantuk."batin badul "Maaf,nanti kalau ada teman saya datang nyari kesini tolong kasih tau kalau saya pulang duluan ya."ujar badul pada salah seorang yang duduk didepan nya itu.
Lelaki dengan wajah sangar itu menatap badul dari ujung kepala hingga kekaki. Sesaat kemudian lelaki itu berbisik pada teman nya yang duduk disampingnya,entah apa yang dibisikan lelaki bermuka sangar itu,tiba tiba teman nya tadi berjalan keluar lapangan.
"Iya nanti saya sampaikan."ujar lelaki itu kemudian dengan nada suara dingin "Terima kasih.kalau begitu saya pulang dulu,"ujar badul seraya tersenyum ramah
Lelaki itu diam saja. "Woy,dul.kenapa pulang.?"tanya iwan seraya berlari menghampiri badul yang sedang berjalan menyusuri jalanan gelap itu. "Eh,kamu wan.entah kenapa mataku terasa sangat mengantuk wan,makanya aku pulang saja."jawab badul tersenyum "Sama,aku juga mengantuk.
Aku ikut pulang juga lah."ujar iwan Tiba tiba dijalanan yang gelap jauh dari lapangan,ada dua orang yang menghadang mereka. "Ternyata kamu adalah pencuri pakaian2 baru disini ya.!"bentak salah seorang lelaki yang menghadang mereka itu.
"Sialan.! Apa apaan maksud kalian ini ?!"tanya iwan agak kesal "Temanmu yang lembek itu sudah mencuri celana jeans ku yang baru kubeli.!"jawab lelaki itu lagi "Benar yang mereka katakan itu dul.?"tanya iwan tidak percaya Badul menggeleng. "Aku tidak tau celana apa yang
Dia katakan itu."ujar badul Tiba tiba lelaki yang cuma berdiam diri tadi itu berjalan kearah iwan dan memasungnya. "Eh,,apa apaan ini.?! Kalian jangan bodoh.mungkin kalian itu salah orang.!"bentak iwan berusaha melepaskan tangan nya yang dipasung kebelakang itu.
Dan lelaki yang menyebut badul pencuri celana itupun mengeluarkan sebilah pisau dapur dan menusukkan nya keperut badul tanpa rasa kasihan.
Badul berteriak,mengerang kesakitan. "b*****t kalian,bangsat..!"teriak iwan seraya menendang kaki lelaki yang memasungnya itu. "Ayo kita kabur.!"ujar lelaki yang menusuk badul itu seraya berlari menjuah meninggalkan badul yang tergeletak dengan usus terburai itu.
"Astaga badul..!!"jerit iwan tak kuasa menahan air matanya "Tolooooong toloooong.."teriak iwan.
Badul sudah tak sadarkan diri,karena jalanan yang sangat sunyi.akhirnya iwan pun memutuskan untuk membawanya pulang dengan cara digendong. "Bertahanlah dul,semoga kamu masih bisa selamat."isak iwan seraya menggendong tubuh sahabatnya itu.
Darah segar dari luka luka ditubuh badul bertetesan disepanjang jalan dan membasahi baju iwan. "Toloooong.."teriak iwan setelah dekat dengan rumah tempat tinggal mereka. Putat yang sedang tidur kaget mendengar suara teriakan teriakan bercampur tangisan itupun langsung keluar rumah.
Dan melihat dua sahabat baiknya itu dipenuhi darah. "Ya tuhan.! Ada apa ini.!"teriak putat seraya berlari kearah dua sahabatnya itu "Ada apa.?ada apa.?"teriak marlun yang baru pulang bekerja dan segera berlari kearah teman teman nya itu
"Badul,ditusuk orang lun."isak iwan "Orang.? Siapa.?"tanya marlun seraya mencabut parang nya. "Aku tidak tau. Mereka tiba tiba menghadang kami dan menuduh badul sebagai pencuri celana."ujar iwan terisak "Kurang ajar,berani sekali mereka menuduh dan berbuat seperti ini.!"
Bentak marlun seraya berlari kearah jalanan yang menuju ke lapangan sembari membawa parangnya. "Kita harus bagaimana wan.?"tanya putat gemetar Tiba tiba jari jari badul bergerak pelan. Darah pada lukanya sudah berhenti menetes. "Aku tidak tau,aku tidak tau.!"ujar iwan
Terisak. "Aku akan panggil orang orang wan,kamu tunggu disini dulu.jaga badul."ujar putat seraya berlari kearah bawah menuju rumah rumah penduduk.
Beberap saat kemudian orang orang mulai berdatangan,namun tak ada satupun yang berani menyentuh badul. "Badul sudah meninggal."ujar ketua kampung setelah memeriksa tubuh badul "Innalilahi.."ucap orang orang yang ada disitu "Aku sudah mencari orang orang itu wan,
Mereka langsung kabur meninggalkan kampung ini."ujar marlun --- Keesokan harinya jenazah badul dimakamkan dipemakaman umum yang ada disitu. Sementara iwan menjadi seorang pemurung setelah kejadian malam itu. Malam berdarah yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Malam dimana sahabat baiknya dibunuh hanya karena masalah sepele.
----SELESAI-----